Meriang

Sejak tadi sore saya meriang. Saya sudah membayangkan sih suatu saat badan ini nggak kuat. Karena emang diforsir terus-terusan.

Meriang. Di kantor. Ditemani suara tukang yang lagi garap studio.

Saya mesti bilang bahwa hari-hari ke belakang yang saya lalui adalah sangat tough. Saya nggak punya yang namanya hari libur. Weekend, dan public holiday pun masuk. Saya baru ambil day off jumat lalu. Itu pun bukan untuk beristirahat.

Saat orang-orang mungkin berbahagia bersama keluarganya di hari sabtu atau minggu atau berkumpul dengan anak istrinya di malam hari, saya ada di suatu tempat. Mungkin sedang menelepon. Mungkin sedang meeting. Mungkin sedang berkontemplasi mengonsep sesuatu.

Pulang larut malam. Atau tinggal di kantor tapi malam-malam masih harus mengerjakan sesuatu atau berbincang dengan investor. Paginya sudah harus jaga kantor supaya orang dateng. Ini pun berhari-hari saya nggak bisa melakukan banyak hal, karena ada orang garap studio di kantor. Tersiksa? Ya, sebenernya cukup tersiksa.

Mungkin mudah bagi orang-orang untuk bilang ini itu. Kenapa saya nggak sarapan lah apa lah. Karena ya mereka tidak menjalani kehidupan yang saya jalani. Kadang mau sarapan juga beban. Sedangkan saya juga butuh tidur cukup karena semua hal masih bergantung pada saya.

Banyak yang tidak bisa didelegasikan. Atau mungkin saya nggak cukup tega mendelegasikan karena sepertinya orang-orang lain pun sudah ada di batasnya. Saya sih terkadang mengartikan itu sebagai sebuah mindset entrepreneurship yang berbeda-beda. Atau ya memang circumstances-nya aja yang demikian.

Mungkin juga ini terjadi karena orang tua saya juga dulu berjibaku gila-gilaan dalam berdagang. Jadi ya memang saya tahu konsekuensi dari yang saya jalani.

Saya perhatikan juga, banyak orang tidak memahami hukum alam. Orang-orang yang pintar sekalipun, terkadang tidak bisa melihat situasi dan memahami what exactly they signed up for. Keinginan tidak dibarengi dengan usaha.

Sebenernya hari ini pun ada beberapa hal yang harusnya saya kerjakan. Tapi, otak saya nggak kuat dan butuh curhat.

Satu hal yang saya pelajari juga dari berinteraksi dengan banyak orang, bagi manusia adalah gampang untuk merasa bahwa dirinya paling menderita. Sepertinya fokusnya hanya ada pada dirinya. Orang seperti ini biasanya paling mudah sensian dan sensitif. Baper. Ada hal dikit yang gak sesuai dengan keinginannya, dia merasa tersakiti dan menuduh orang lain tidak punya empati.

Lalu, atas semua ini, saya juga terkadang merenung. Memang inilah jalan hidup yang saya pilih, meskipun sudah ada yang ngetawain saya ketika melihat situasi yang saya alami. Saya cek dengan mentor saya yang lain pun, dia bilang, jangan expect kondisi akan berubah dalam setahun ke depan. Kata dia seharusnya tidak ngaruh. But trust me, ada situasi-situasi yang membuat saya begitu frustrasi selama setahun ke belakang.

Tapi, saya anggap bahwa itu yang akan menguatkan saya. Saya percaya kok, Tuhan nggak ngasih ujian melebihi kemampuan kita. Saya dikasih beban kayak gini, ya karena saya yang kuat. Bukan orang lain. Orang lain punya bebannya sendiri dan tak perlu dipikirkan.

Teman saya yang beberapa kali fail startup pun memahami juga apa yang saya rasakan ini. Apalagi kalau melihat situasi yang saya alami secara spesifik. Beberapa teman menyarankan saya untuk mengambil tindakan tertentu. Ibu saya pun bilang, saya punya pilihan: mau ikhlas atau melakukan sesuatu.

Saya memilih untuk ikhlas. Di-ikhlas-ikhlasin.

Karena kalau dipikir-pikir, saya adalah orang yang paling total dan menghabiskan virtually hampir seluruh waktu saya kecuali waktu standar manusia (makan, tidur, ibadah, telepon ortu, sedikit refreshing, ngobrol sama teman) untuk si company. Karena memang saya tidak punya hal lain di bawah tanggung jawab penuh saya kecuali si company. Cinta orang lain mungkin ada untuk anak istrinya. Saya tidak demikian.

Saya juga kadang sedih. Orang-orang bisa dengan mudah bertemu dengan orang tuanya. Sedangkan saya, boro-boro. Orang tua sakit pun tidak bisa pergi. Karena ini itu. Tapi, ya sudah jadi tanggung jawab ketika kita menerima investor.

Kalau orang pikir jaga kantor itu enak. Jadi single. Merantau. Nope. Sungguh nope.

Kalau dipikir dapet duit investor itu enak. Nope, itu amanah. Dan menggunakan duit dari investor pun nggak mudah. Banyak orang gak paham konsekuensi itu dan gelap mata hanya karena nominal.

Belakangan juga kerjaan saya bolak balik jakarta-bogor. Dan jalan sana-sini. Padahal saya paling ga suka jalan-jalan sebenernya, kecuali untuk perjalanan-perjalanan spiritual yang saya anggap penting.

Saya pikir, saya melakukan ini semua bukan karena kemuliaan, atau materi sih ya. Bahkan kasarnya, kalau saya harus melepaskan ini pun saya tidak masalah. Yang penting saya melakukan sesuatu yang berguna. Make a dent in the universe.

Bagi saya, tidak ada yang harus diperjuangkan mati-matian di dunia ini.

Entah kenapa pas habis solat maghrib tadi saya jadi berpikir. Sebenernya di saat sekarang ini, saya berpikir bahwa tidak ada yang bisa menggantikan saya di company. Tapi, itu tidak sepenuhnya benar. Andaikan pun ternyata tiba-tiba saya tidak ada di company, pasti si company ini juga akan mencari cara untuk survive.

Sekalipun memang sampai di titik ini, yang menjadi interface utama dari si company adalah saya. Saya adalah company. De facto-nya seperti itu, at least bagi investor dan penonton.

Entah kenapa, saya merasa ya memang hati saya di sini. Tidak terbagi. Berbeda dengan mereka yang lain. Mungkin juga karena posisi saya CEO yang memang setiap hari harus memikirkan super banyak hal. Membuat keputusan itu hal yang nggak mudah.

Cuman memang terkadang orang merasa seolah itu hal yang gampang, sampai akhirnya mereka yang harus membuatnya. Dan pada saat mereka merasakannnya, mereka seolah amnesia dengan kata-katanya sendiri. Tapi ya bagus, artinya mereka belajar.

Saya super lelah, tersiksa, tapi senang sekali karena akhirnya ada hal yang bisa membuat saya merasa demikian. Tidak jadi orang yang pemalas lagi. Saya masih ingat, betapa shock-nya teman-teman saya semasa PhD yang tau betapa malasnya saya ketika melihat saya yang sekarang dan berani mengatakan orang lain sebagai liability.

Tapi, di satu sisi saya juga mempertanyakan terus, haruskah saya tetap di sini. Go thru all the way di startup game. Permainan ini begitu mengasyikkan. Saya tidak ingin terhanyut.