The Inescapeable

Ada beberapa kata-kata ketika HHMM tiba yang mungkin bisa sedikit membasuh luka. Salah satunya adalaha artikel yang saya baca di komunitas YC. Cuplikan kalimatnya begini:

Actively treat your cofounder as your greatest ally.

Dan ini

But if you take that fear and unconsciously inject it into your relationships by communicating that you don’t trust the others who are in the best position to help you succeed, it will push them away along with their creativity, motivation, dedication, and ability to help.

Pada akhirnya setiap orang memang punya mental capacity dan emotional maturity level yang berbeda-beda.. kecerdasan, ketekunan, dan kepekaan.. serta level pemahaman terhadap diri sendiri yang berbeda-beda.

Dan ketika menjadi sebuah tim, hal-hal tertentu akan tidak match. Sering bikin frustrasi. Tapi again, sebagai top dog, pasti dibilang harus mengerti dan harus ini itu. Tidak boleh menyalahkan dll dsb.

Building a startup is f-in hard.

Dan akan ada momen ketika saya membenci dan ingin marah dengan banyak manusia. Tingkat pressure fisik dan mental membawa ke arah situ terus-menerus. Ya kadang kata-kata seperti di atas lah yang menyelamatkan.

Something, at the end of the day better than nothing.

Oiya, di saat-saat seperti ini saya menyadari bahwa 2 karakter terpenting dari manusia dalam urusan bekerja sama dengan orang lain adalah:

  1. Kerendahan hati: orang harus rendah hati dan jujur pada diri sendiri untuk bisa bekerja sama dengan orang lain. Kalau tidak, dia akan membantu menaikkan resultan vektor dari tim. Iya-iya saja terkadang tidak menyelesaikan masalah.
  2. Empati: orang harus bisa punya empati yang benar-benar empati. Empati ini ternyata berbeda dengan sebatas kasihan-kasihan-an. Empati ini ternyata lebih luas dan dalam, dan tercermin dari hal-hal yang kecil.. dan terkadang tidak dikatakan.

Dan terkadang buat saya, susah berempati kepada orang lain. Kalau mentor saya bilang: harusnya saya lebih bisa berdamai dengan orang lain karena saya terlahir sedikit berbeda. Harusnya saya tidak menuntut orang lain sama seperti saya.

 

Stitching a company

has always been hard.

I just had this seminar with a senior in college who told a story how did his company get fucked up and what are the 4 most important takeaways.

I can relate to his experience. All of it. The psychological burden that he took. The toll on his family. Everything seems familiar.

I know, everyone suffers differently. The pain incurred with different amount of numbers might be the same for two people’s psyches.

Yet, if I have to compare. I feel luckier. My 2019 seemed like his journey from 2017-2018. The scale in terms of numbers. The fucked-up-ness in terms of dysfunctional team. Weak leadership. Misunderstanding of business. Scaling too early (Yet it was mandatory due to the type of business). Lay-offs. Not-so-effective yet hardworking team.

Yet, mine was involving investors already.

Maybe the difference lies in the coping mechanism and the psychological toll. I was psychologically fucked-up even until this point. And how I constantly battle every moment of frustration since 2018, wanting to quit only to find myself doing this adrenaline things.

Maybe, it was some portion of reality distortion field that I have in mind.

I always thought VCs who rejected me and my company are stupid. I always thought it’s either you are with me or you lose. I always thought it was their lost if they don’t want to work with people with such a rare talent like me. You don’t get to see a prodigy like who’s been parched and drenched in life with lot of failures to make him humble enough and doubting his ability from time to time despite of high intelligence and perfectionism he had.

I do believe, God bestowed upon me a special gift that not many people are blessed with. I’m a quick learner by nature.

I can be better at doing anything if I were given enough time and focus.

Yet, startup is beyond humane. We just can’t take all the mantles at once.

And I started to not give a fuck. To not reply to every email. To not answer every call. To disappoint someone. To be blatant.

To let the fire burn from time to time.

I know I’ll fight tooth and nail. But I know at the same time, startup is not my life.

And that happens after a long way of fighting myself, trying to not die.

And that’s how an independent thinker suffers in order to enjoy life.

I don’t want to be like those bastards who at the end of the day sucked up into the money and fame game. Putting up masks. Lying. Lying with statistics. Lying with numbers. Engineering a post-truth construct. In order to win.

I don’t want to be that guy. I just want to be a bastard who stand for noble principles (at least for something generally perceived as it) while stitching a company where too many things are broken.

And that’s how an independent thinker suffers in order to enjoy life.

Image

*Ditulis, lagi-lagi ketika merasa harusnya sesuatu bisa diraih, namun realitasnya tidak. Dan di momen ini selalu inget dengan kata-kata orang lain seputar target vs kemampuan sebuah organisasi. Cuman ya tetep disyukuri sih, at the end of the day something is better than nothing.. dan everyone has to start somewhere..

Being grateful doesn’t mean that we have to be complacent.

Mudah-mudahan saya tetap jujur

Semalam saya mendapatkan lagi info tentang kebohongan. Selama ini saya hanya mendengar dari cerita orang tentang orang lain. Tapi semalam mendengarnya langsung dari orang yang terlibat di dalamnya.

Saya juga kadang bingung ya. Ada orang, IQ-nya tinggi. Prestasi dan karirnya gemilang. Latar belakang pendidikannya sudah yang terbaik di dunia. Kenapa pula harus menggunakan cara-cara yang tidak jujur?

Kalau belajar dari film seri SUITS, tentu saja itu semua adalah bom waktu. Suatu saat, yang namanya kebohongan, pasti akan memetik hasilnya. Entah di dunia entah di akhirat.

Tapi, memang banyak sekali ya orang-orang itu berbohong. Berbohong itu sikap. Kebiasaan. Tidak pandang bulu. Saya jadi berdoa, mudah-mudahan saya dilindungi dari ego dan hawa nafsu yang membuat saya menghalalkan segala cara yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang saya yakini.

Ya, miris sih. Orang-orang yang berbohong kadang tuh diberikan panggung yang luar biasa. Dari kalangan bawah hingga atas, tertipu semua. Dan orang-orang seperti itu tak jarang bisa mengeruk keuntungan yang luar biasa, baik secara material, maupun sosial.

Dan, dari waktu ke waktu, akan ada contoh kebohongan besar di dunia yang terkuak. Kasus yang sudah sangat santer di dunia startup adalah Theranos:

 

Ya, saya sebenarnya benci dengan kebohongan seperti ini. Apalagi kalau sedikit banyak mempengaruhi apa yang saya kerjakan.

Tapi, semalam waktu dengar itu kayak jadi biasa aja gitu. Flat. Yaudah.

Yaudah, mereka nipu-nipu orang. So what?

Pada akhirnya hidup orang ya masing-masing aja. Saya punya kehidupan dan misi yang dijalankan.

Dan contoh ini hanya pengingat betapa nafsu bisa membuat orang buta. Siapapun itu. Dan kita jadi banyak berdoa supaya diberi kekuatan. Meskipun kita jujur dan sakit, dan harus bersusah paya. Yang penting jujur.

Sekali lagi saya jadi ingat sebuah kutipan: Tuhan tidak akan bertanya mengapa kamu menang atau kalah, yang Tuhan akan tanya adalah caramu berjuang.

Thanks, Readers!

I would like to thank the readers of my blog for all your kind comments. Saya mungkin jarang approve dan balas. Jangankan approve dan balas, kalau pikiran lagi penuh, yang namanya whatsapp superpenting aja saya kacangin, whatsapp dari salah orang-orang yang sangat terpandang, hartawan, lagi dermawan aja saya skip bales, dan bahkan whatsapp dari keluarga pun saya kacangin.

Ya, itu adalah pilihan yang harus saya buat demi kenyamanan dan kesehatan mental. Harga yang harus dibayar untuk sebuah perjuangan (yang kadang saya juga mempertanyakan apakah worth it).

Tapi, tentunya keluarga dekat saya paham tentang hal itu. Dan itu yang penting buat saya. Karena, meski bagaimanapun, saya masih percaya tentang restu ibu (meskipun sepertinya, konsep hubungan saya dan ibu saya agak lain dengan manusia-manusia lain). Andaikata ibu saya menyuruh saya berhenti dari pekerjaan, mungkin saya akan nurut (walaupun ibu saya sih jarang nyuruh-nyuruh, atau hampir nggak pernah? saya selalu dibebaskan memilih— ibu hanya memberikan kerangka untuk memilih). Karena somehow saya percaya ibu saya adalah ibu yang bijaksana, bisa jadi ibu rohani juga, bukan karena beliau-nya, tapi lebih karena yang ada di belakang beliau. Dan kalau dirunut lagi ya sebenarnya sudah takdir Tuhan aja. Dan itu fasilitas yang saya syukuri sekali.

Sebenernya kadang saya bingung juga, kenapa orang yang membaca tulisan saya segitu terbawanya dengan emosi dari tulisan saya.

Because, I am fine. I am totally fine. I am in control. Dan secara umum saya bahagia. Memang yang namanya hidup itu pasti ada senang dan sedihnya, itu bisa ekstrem. Seperti ombak.

Tapi, hati kita itu lautan. Kalau dilihat dalamnya, dalamnya itu tenang.

Atau andai kata analoginya kurang pas, ada analogi lain: berselancar. Saya sedang berselancar di lautan emosi. Kadang ombak gede, kadang kehantam ombak. Tapi, poinnya adalah, saya masih di papan selancar.

Itu yang saya syukuri. Sebab, beberapa orang terkadang kehilangan papan-nya.

Memang, tulisan-tulisan saya baik di wordpress maupun di tumblr adalah simbol mekanisme koping saya terhadap stress. Sebuah refleksi. Sebuah meditasi.

Dan, menjadikan menulis sebagai saran terapi diri adalah sesuatu yang bermula di tahun 2008. Sebelumnya saya memang sudah mulai menulis, tapi tidak by purpose untuk kesehatan mental dan emosi. Awalnya lebih karena terpengaruh Raditya Dika, jadi lebih untuk seru-seru-an atau galau-galauan biasa.

Tapi, ketika di tahun 2008 saya yang  hampir 16 tahun, saya sempat bertemu psikolog di ITB waktu mau memilih jurusan. Begini cuplikannya

Setelah bagian IQ, pembahasan kita beralih ke masalah EQ. Satu-satunya variabel dari diriku yang berada di bawah rata-rata adalah kepekaan. Selain itu, produktivitasku mencapai skala 5 dari 5. Daya tahan, serta keteraturan dan perencanaanku berada di atas rata-rata. Aku agak lupa nilai dari variabel-variabelnya. Yang jelas Ibu Psikolog mengatakan bahwa seharusnya aku orangnya asyik dan tidak ada masalah. Yang harus ditingkatkan adalah keinginan untuk berprestasi. Alasan kenapa IPku 3,22 pun ditelusuri. Yah, intinya aku harus menemukan motivasi untuk bisa mengoptimalkan potensiku. Karena perasaan dan emosikulah yang akan mengendalikan kecerdasanku.

 

Dari situ, psikolog menyarankan saya untuk rajin menulis dan mengungkapkan perasaan saya sembari merefleksikan perasaan orang lain juga. Ya, saya sangat sangat sangat bersyukur karena waktu itu saya diberitahu bahwa kepekaan saya rendah. Tapi, justru karena itulah saya jadi terus aware.

Dan bahkan, 3 tahun kemudian, saya justru dipercaya menjadi trainer Emotional Intelligence untuk mahasiswa baru di ITB.

Fast forward, 12 tahun kemudian, dengan segala tambahan ilmu yang saya dapatkan mengenai neuroscience, psikologi, dan spiritualitas, dari berbagai sumber; saya jadi menyadari hikmah itu semua. Karena begitu banyak manusia-manusia yang terlahir dengan talenta, tapi punya sisi-sisi yang kurang yang berpotensi menghambat tumbuh kembangnya dalam memaksimalkan potensi yang dia punya.

Sebab yang namanya aspek kecerdasan itu ya macem-macem. Tapi, yang paling sulit diubah justru sebenarnya hal yang sangat menentukan bagaimana kecerdasan itu bisa digunakan.

Aspek itu adalah belief, mindset, dan attitude. Ini bukanlah skill yang bisa diomongin, atau dibaca. Ini lebih ke praktek dan pola pikir, alias kebiasaan hidup.

Dari situlah saya bersyukur karena atas berbagai kegagalan yang saya alami meski sudah ada ekspektasi selangit dari banyak orang.

Saya belajar merelakan hal-hal yang pahit. Melewatkan kesempatan-kesempatan emas. Mengambil pilihan yang tidak populer. Cuek terhadap perasaan orang lain.

Dari segala kepahitan itu, justru saya menemukan spirit yang tiada tara. Yang membuat saya, meskipun menderita dan terkadang merasa ingin mampus atau menghilang dari muka bumi saja, tetap punya semangat juang. Biar badan sudah lelah. Biarpun ketika melakukan pekerjaan rasanya super-kesal dengan situasi.

Dan saya, menerima ini semua. Saya menerima segala kemungkinan yang akan terjadi, baik atau buruk, sehingga itu tidak sampai berpengaruh signifikan terhadap produktivitas.

Saya tidak suka membenci orang. Tapi, saya lebih sering membenci situasi. Terkadang situasi yang saya benci itu terkait situasi orang lain. Dan, saya hanya bisa mengeluh ke teman-teman terdekat saya (yang jumlahnya superdikit, sebelah jari) dan ibu saya.

Karena mungkin di antara manusia-manusia di bumi ini, merekalah yang mengerti cara saya melampiaskan emosi dan memandang sesuatu. Saya hanya butuh mereka untuk membantu saya menertawakan situasi.

Ya, memang sih ya, kalau berbincang soal gejala depresi. Saya aware bahwa ada banyak gejala itu. Teman-teman saya yang psikolog pu Tidn mengiyakan. Dan, itu sudah terjadi dari dulu. Bukan sekali dua kali saya mengalami.

Yang namanya burn out? Selama 2 tahun ke belakang bikin startup, sudah tak terhitung berapa kali rasanya mau mampus. Tapi, ya setiap kali saya merasakan bahwa apa yang saya lakukan mengubah hidup orang. Membuat orang jadi lebih bersyukur. Membuat orang dapet pengetahuan baru. Membuat orang merasa tercerahkan. Itu selalu menghilangkan segala rasa sakit yang saya alami.

Sehingga, dengannya, bertahanlah saya sampai sekarang. Walaupun ya tak jarang itu semua ditemani air mata.

Persis sebelum saya mendapatkan pengumuman bahwa saya harus ke US, saya menangis dan bilang kepada Tuhan, “Tuhan, aku sudah nggak kuat.”

Dari mana saya belajar seperti itu? Dari Ibu saya. Saya merasa makin ke sini bahwa di dunia ini mungkin orang paling menyebalkan adalah ibu saya. Karena ibu saya terlalu positif. Saya kesal sekali. Saya bermaksud memuntahkan semua negativitas, tapi ibu saya malah menanggapi dengan positif.

Ibu saya sering memberikan nasihat-nasihat aneh. Dan saya sering kesal karena beliau lebih sering mengarang bebas. Murni pikiran kreatif dan imajinatif, tidak ada dasar sains yang kuat. Dan sebagai a man of science saya kesal. Lebih kesal lagi ketika tahu bahwa nasihat itu ternyata benar, dan kelak menemukan penjelasan ilmiahnya.

Menurut saya, Ibu saya ini memang dapat anugerah dari Tuhan berbagai hal yang nggak diberikan kepada manusia umum. Kalau saya jadi punya pengetahuan, itu kayaknya lebih wajar dan masuk akal. Karena saya memang punya belajar sampai ke luar negeri, banyak baca, banyak teman dari berbagai bidang yang top-top. Ya, kadang salah juga sih. Tapi, ada beberapa nasihat out of the box, yang sekarang ini saya pegang teguh:

  • Kerjakan sekarang apa yang bisa dikerjakan sekarang, kerjakan besok apa yang dikerjakan besok.
  • Bersiaplah jadi orang paling hina

Itu adalah dua hal yang tadinya tidak bisa saya terima, tapi sekarang saya terima.

Sampai detik ini, masih banyak hal atau ajaran yang belum saya terima. Contohnya, tentang keyakinan bahwa manusia bisa berubah.

Saya benci dengan kebodohan (Menurut saya kebodohan itu tidak biner, bukan 1 atau 0, dia adalah spektrum dan banyak aspeknya. Orang bisa pintar di satu hal, bodoh di hal lain. Level kebodohannya juga beragam). Benci banget. Kebodohan dalam diri sendiri pun saya nggak suka. Dan ini terkadang jadi dilema ketika sebuah kebodohan melekat pada seseorang. Dan lebih dilema lagi ketika orang tersebut tidak menyadari kekurangannya tersebut. Clueless.

Dan saya terkadang lelah mengupayakan perubahan-perubahan. Salah seorang teman yang juga mentor saya pernah bilang: you get to pick your own battle, you have to decide.

Ya gimana ya, yang namanya kita ngomong berulang-ulang dan ada pola-pola tertentu, pastinya kita jadi agak trauma. Trauma berkomunikasi dan mengungkapkan pendapat kepada orang yang seharusnya mendengarkan kita. Ada trauma semacam itu? Ada

Dan saya tidak bisa menyalahkan orang-orang tersebut. Karena saya paham posisi mereka. Saya paham latar belakang mereka.

Dan tentunya latar belakang itu jauh berbeda dengan latar belakang yang saya alami. Background keluarga. Apa yang dialami keluarga. Bagaimana ekspektasi orang lain terhadap kita. Bagaimana kita mengecap berbagai kegagalan major.

Melihat hal-hal ini saya jadi semakin bersyukur mengenal tarikat (meskipun bukan murid yang baik). Dan di sini saya ingin mengutip seorang YM Ustadz yang begitu arif:

Kita memang mesti mencicipi kegagalan, merasakan penolakan, merasakan apa yang dirasakan para pembantu dan penjual kerupuk di jalanan, merasakan kesulitan anak2 yatim.

Entah bagaimana caranya, kita mesti merasakannya.

Dan sepahit2nya merasakan hal2 tsb, jauh lebih pahit hidup dibuai kesombongan; ia akan mengantarkan kita pada sulit jodoh, sulit rezeki dan sulit masuk surga.

Ya, saya tentunya bukan manusia yang sempurna. Apalagi kalau soal agama, saya di masa-masa sekarang ini sebatas pengagum agama sebagai ilmu, kebenaran, dan jalan hidup, bukan pelaku. Banyak sekali kebodohan yang saya punya. Kesombongan pun masih banyak.

Tapi, kembali lagi, karena itu semua spektrum, saya jadi bisa membayangkan seperti apa orang yang pada aspek tertentu lebih bodoh dari saya, lebih sombong dari saya. Karena saya tahu rasanya di sana seperti apa.

Dan, terkadang, saya merasa percuma orang seperti itu dikasih tau. Karena memang ada hal-hal yang membuat dia belum bisa melihat itu.

Saya misalnya, pelajaran terbesar dari bertarikat dan S3 (dan saya di keduanya masih merupakan murid gagal, hahaha), adalah tentang berguru. Ini juga yang saya sekarang ingat, pernah dilontarkan Almarhum Om Saya yang paling bisa berdiskusi intelektual dengan saya, ketika dulu belum seperguruan:

Kuncinya adalah temukan guru. Kalau sudah dapet guru, dekat-dekat sama gurumu.

Ya betul lah. Manusia yang bodoh, bisa apa kalau tidak ada yang mengajarkan. Makanya, saya super bersyukur sekali mendapatkan mentor-mentor yang super di startup ini.

Dan, di dunia bisnis ini, saya berusaha menempatkan diri saya layaknya seorang salik di hadapan mursyid (walaupun lucunya, kalau soal bertarikat justru saya tidak melakukannya—meskipun idenya didapat dari tarikat). Mentor bilang apa saya nurut. Kalau mentor bilang kita jelek, kita basic, ya harus dihayati dan cari cara untuk action, untuk memperbaikinya. Kalau dikasih perintah dikerjakan, sekuat tenaga. Sebisanya.

Dan saya merasa kemampuan saya untuk menerima agitasi mental itu lebih kuat dari orang lain. Ini juga yang membuat saya ragu dengan kapasitas orang lain untuk saya perlakukan sama. Karena ya itu tadi, masing-masing berangkat dari posisi yang berbeda.

Dalam tarikat itu, kita harus pandai bermuhasabah diri. Tahu diri. Sadar posisi diri. Ilmu ini rupanya sangat mahal. Karena tidak ada mekanisme pendidikan formal yang bisa mengantarkan manusia ke titik ini.

Kebanyakan manusia yang ada di tahap ini, yang saya kenal, yang punya intrapersonal skill yang dalam adalah orang-orang yang mendapatkan tempaan hidup. Dengan satu atau dua hal. Dia dapat tantangan yang besar dalam hidupnya, tapi dia survive. Dia bertahan.

Karena satu-satunya yang membuat dia bisa bertahan adalah kemampuannya untuk menyadari kelemahan diri dan memperbaikinya, tahu batasnya di mana, apa yang mesti dilakukan, dan lebih penting dari itu semua, tahu apa tujuan hidupnya.

“He who has a why can bear almost any how.”

Yang bisa membuat saya tahan meeting 7+ jam dengan segala beban psikologis yang ada. Masih disuruh berpikir jernih. Yang membuat saya sudah begitu hancurnya perjalanan jakarta-singapore-jakarta, masih langsung kasih seminar buat sesuatu yang penting.  Yang bikin saya, sudah lelah-lelah dihajar sana-sini. Ditolak sana-sini. Ide ke atas ditolak. Ke bawah ditolak. Pokoknya kerasa stuck all the time. Seolah-olah tidak punya pilihan. Dan itu semua, kalau dirasa-rasain, itu badan hancur semua. Kalau dirasa-rasain, hati udah hancur semua.

Dan apa-apa yang saya rasa-rasakan itulah yang biasa saya tulis. Biar lega. Biar lepas. Karena saya percaya semuanya bagian dari pendewasaan. Segala tangis. Segala tawa. Segala kejadian di hidup kita. Baik dan buruknya. Benar dan salahnya. Pasti semuanya ada rencana Tuhan di sana. Ada greater purpose of everything.

Saya bukan orang yang patuh pada Tuhan, tapi kalau dalam hati saya percaya 100%. Dan saya tidak bisa tidak percaya lagi dengan Tuhan sekarang-sekarang ini. Itu setelah melalui proses pergulatan yang panjang. Dan saya percaya kita semua bergerak atas izin-Nya, meskipun izin-Nya belum tentu ridho-Nya. Dan untuk itulah saya hidup.

Dalam dinamika ber-startup ini, ada begitu banyak pelajaran yang bisa diambil tentang hidup. Dan ini membuat saya makin mengenal diri sendiri. Salah satu yang ironis adalah, makin ke sini saya merasa makin banyak kemiripan dengan ibu saya.

Hal-hal yang waktu saya kecil kelihatan nggak make sense dari ibu saya mulai saya pahami. Dimulai dari hobi tidur tapi gila kerja, yang kalau sudah passion dan semangat itu kayak dapat energi Super Saiya.

Orang kalau waktunya gak pas, mungkin lihat saya kayak slacker. Pemalas. Tapi, kalau lihat waktu saya kerja. Saya jamin orang itu akan kaget. Karena saya sendiri juga heran. Misalnya ngetik ini aja udah 2000-an kata nonstop dari berapa jam. Padahal di sini jam 5 pagi dan saya belum tidur. Kayaknya dari jam 3 atau jam 4. (Ingat, produktivitas saya 5 dari skala 5 menurut psikotes).

Terus juga sifat saya yang penyendiri dan tak ambil hati. Cuek. Gak dibawa perasaan. Nggak peduli kalo orang lain ngata-ngatain saya sombong. Hal-hal seperti ini yang sangat membantu membuat saya baik-baik saja terlepas dari segala tekanan yang ada di sana-sini.

Sejujurnya terkadang semua tekanan di dunia startup ini bikin saya nggak kuat. Saya orang yang tahu batas saya. Saya tahu bagaimana sistem saya bekerja.

Puncaknya, kemarin saya bilang ke teman-teman saya bahwa pokoknya 2020 ini terakhir deh saya jadi CEO. Jadi apapun saya terima (sebenernya saya juga merasa bahwa saya sanggup menjadi bawahan yang baik. Dan saya tahu, siapapun CEO-nya, pasti butuh di-support dengan maksimal dari bawah.) Kalau disuruh ngajar doang, ya jauh lebih baik lagi.

Jangankan gitu, disuruh ngoding pun saya yakin bisa melakukannya lebih baik. Entah kenapa dengan talenta yang saya punya, kematangan emosi (jangan salah, orang kadang berpikir hanya karena saya ekspresif, saya jadi meledak-ledak itu berarti tidak stabil padahal sebaliknya itu adalah bukti bahwa saya tau cara menjaga kestabilan emosi saya—saya tahu bagaimana dan kapan harus merasa), serta kemampuan untuk mempelajari sesuatu.. saya yakin saya akan bisa melakukan dengan baik pekerjaan apapun. Kecuali.. sesuatu yang berhubungan dengan manusia.

Menurut saya, terkadang berhubungan dengan manusia lain itu sulit. Karena harus menyamakan visi. Menyamakan isi. Menyamakan nilai-nilai. Yang kadang tidak setara.

Dan menurut saya, itu semua murni pilihan.

Tapi ya, entah kenapa dengan ngeset target bahwa tahun ini adalah tahun terakhir saya jadi CEO, beban kayak keangkat satu. Apalagi pas bilang sama orang lain.

Sebenernya sih sepanjang perjalanan 2 tahun ke belakang juga saya sering mengucap pada diri saya begini: habis ini kelar, saya nggak mau jadi CEO lagi.  Tapi, setiap ini-nya kelar, malah semangat lagi. Gitu keulang terus.

Ya, sebegitulah rasa tersiksa-nya jadi CEO Startup yang dianggap jenius. Yang dipercaya orang-orang yang menurut saya hebat. Karena yang percaya orang hebat, ekspektasinya super tinggi gila. Yang paling tertekan adalah ketika semua beban itu benar-benar dilimpahkan ke saya.

“Your company is unique. Your company is mostly about you.”

“.. that’s because you are the CEO”

“You are the company.”

Tapi kenyataannya, apakah CEO berkuasa atas organisasinya. Terkadang tidak juga. Namanya manusia, banyak variable-nya. Apalagi di startup yang bener-bener dikatrol ya. Apa yang diraih orang atau perusahaan lain dalam 1 dekade, mau dikejar dalam setahun. Ya gila. Ya mencret. Tapi, ya gitu startup game.

Dan saya ada di sini karena tahu what I signed up for. Karena memang saya ingin menang besar, lebih dari kalah dikit. Entah kenapa, mungkin karena ada sense tanggung jawab dan kepercayaan bahwa saya dianugerahi talenta yang tidak banyak dimiliki orang (meskipun bisa jadi talenta adalah kutukan yang bisa bikin orang kesepian, bahkan terpisah jauh dari orang-orang yang secara konsep harusnya bisa berjalan berdampingan). Mungkin karena orang percaya saya jenius. Entah apa motifnya, yang jelas saya suka bertaruh tinggi.

Simpel sih kadang logikanya. Hanya dengan menang banyak. Kita bisa memberi lebih banyak. Sama kayak doa-nya Nabi Sulaiman yang minta diberikan kerajaan dan kekayaan, kekuasaan yang tidak ada tandingannya.

Apakah itu demi mengejar fame? Seorang Nabi seperti Nabi Sulaiman mau fame kayak gimana lagi coba?

Dan, itu yang saya rasakan. Salah satu yang membuat saya bertahan terkadang saya pikir adalah passion dan kepentingan untuk berbuat kebaikan yang besar. Sungguh, kalau orang kenal saya, saya nggak peduli dan bahkan nggak suka sama yang namanya jadi terkenal atau dimuliakan orang. Saya nggak suka kemewahan nggak suka uang.

Makanya saya cuek-cuek aja dengan segala ketidakadaan uang dari startup ini. Saya cuek aja kalau nggak bales DM orang. Saya sudah cuek dengan reputasi. Seperti kata ibu saya, siaplah jadi orang paling hina.

Uang? Apalagi itu. Kalau ibu saya, dapet dari gurunya, uang itu anggap “tai kucing” aja lah kasarannya. Masa-masa startup ini adalah masa-masanya saya paling prihatin dalam hal finansial dari sepanjang saya lulus kuliah dari ITB. Sungguh. Kadang manusiawinya juga keluar sih, mengukur dari uang. Tapi, yang terpatri di diri ini adalah konsep bahwa:

Kita nggak tahu umur kita kapan.

Dan kalau lihat sejarah para sahabat, mereka pun yang ada berlomba membayarkan uangnya di jalan Tuhan. Karena mungkin hal-hal itu yang bisa membantu menyucikan jiwa kita. Dan saya tahu betul, jiwa saya ini sangat kotor.

Makanya, segala yang saya lakukan di startup ini, uang yang ada di tabungan saya. Saya nggak pernah merasa itu perbuatan atau milik saya. Segala ilmu dan inspirasi yang saya bagikan itu pun bukan dari saya.

Boro-boro kalo inspirasi dan motivasi itu dari saya. Setiap hari aja saya nangis-nangis dalam hati. Berusaha betul untuk bisa bekerja dan menyelesaikan to do list satu per-satu. Nabung energi mental sampe cukup.

Kalo Elon Musk bilang, misalnya kita butuh motivasi untuk mengerjakan startup, lebih baik nggak usah ngerjakan startup. Wah dahsyat sekali, itu benar adanya. Sampai di titik tertentu startup itu cuman tentang memerangi kemalasan, mencoba disiplin sebisa-bisanya, dibisa-bisain. Just get things done.

But, things are never done in startup. Startup itu hancur, karena konsepnya memang bisnis yang dikarbit duit dengan pemain yang tak jarang karbitan. Most of the things are broken in many ways, but a good startup do the right things in its most significant bits. Dan dari waktu ke waktu, terlepas dari segala stress yang kita jalani (stress itu sudah dijalani doang, sudah bukan dihadapi, atau alami—stress is a way of life); dari segala lelah fisik dan mental, dan segala demand pihak luar terhadap waktu kita (mulai dari employee, investor, calon investor, publik), seorang CEO harus terus mencari hal terbaik apa yang bisa dia lakukan yang akan menyelamatkan dan memastikan perusahaan bisa survive.

Dan itu semua harus terus menerus dilakukan meskipun CEO juga kadang nggak tau harus ke mana.

Pada akhirnya begitu ya, kalau kata seorang Investment Banker di Indonesia tempat teman saya bekerja. Startup itu seperti perundian. Kalau sudah invest di startup tinggal doa aja.

Dan dengan mengerti semua game startup ini, serta memiliki filosofi hidup pribadi. Saya jadi bertahan. So far, belum sampai mengalami gangguan kejiwaan terlepas dari segala beban hidup yang saya alami.

Ya, sering terlintas, dan bahkan terucap bahwa saya tidak sanggup. Saya ingin berhenti. Tapi kadang saya merasa saya tidak bisa berhenti. Ada juga pikiran seperti itu yang saya tidak tahu benar atau salahnya.

Karena bahkan salah satu orang terpenting di perusahaan ini (dan menurut pandangan saya pribadi, justru kalau ada 2 orang pertama di startup ini, dia adalah salah satunya), dia bilang: you have a choice. you can always walk away.

Walaupun dia juga yang selalu membuat saya merasa bahwa saya masih bisa bertahan. Tapi, his assurance bahwa saya bisa walk away itu juga melegakan sih. Karena ya memang gitu.

Terkadang terlintas, bahwa buat saya Pahamify ini hanya titipan. Jadi harusnya ga masalah kalau saya walk away aja. Secara konsep detachment begitu.

Tapi, kalau dipikir-pikir, Pahamify ini kan golden chance juga. Ladang amal juga. Karena faktor-faktor kebetulannya sudah superbanyak hingga sampai di titik ini. Udah bisa dipercaya banyak investor yang top (ada yang top di indonesia, southeast asia, ada yang top di dunia). Meskipun umur masih muda tapi bisa bikin produk bagus. Bisa eksis di tengah gempuran perusahaan yang sudah lebih lama, lebih banyak funding, dengan founders yang lebih terkenal.

Dan itu semua terjadi meski ada begitu banyak ketidakpuasan. Dan berada di amerika dan melihat bagaimana perusahaan-perusahaan yang mengubah dunia juga dimulai dengan berdarah-darah seperti ini; itu selalu membuat saya punya harapan. Inilah ladang beramal saya.

Di tahap awal bikin startup, memang saya berpikir bahwa saya nggak tau mau ngapain kalau nggak melakukan startup ini. This is where I belong. Tapi, makin ke sini pikiran saya juga makin terbuka. Saya bisa cabut kok.

Hidup ini banyak pilihannya.

Dan, saya cenderung melihat semuanya dari berbagai sisi. Termasuk sisi jeleknya.

Kadang saya ngelihat dunia startup ini punya game-nya sendiri yang tidak adil. Orang yang lulusan uni top di US, gampang banget dapat duit meski eksekusinya tidak lebih baik dari lulusan lokal. Dan keselnya, ada beberapa perusahaan yang dapet duit banyak meskipun menggunakan cara-cara yang tidak sesuai nilai-nilai yang saya punya. Dan orang seperti ini terkenal, berpengaruh, terlepas dari background-nya seperti apa.

Banyak deh. Dan itu yang kadang mengecilkan dan membuat hati saya dilema.

Sehabis makan di restoran lantai puluhan yang saya juga tidak begitu enjoy, tapi anehnya begitu beres jadi laper. Saya selalu mempertanyakan terus makna kapitalisme ini. Benar-benar simbolisasi greediness manusia. Ketamakan.

Makanya, saya suka dengan teman saya yang saking tingginya self-awareness alias intrapersonal skillnya bilang:

“Sebenernya ini jadi masalah karena gw greedy. Coba gw nggak greedy, mungkin ini gak bikin pusing.”

Dan di situlah ujung-ujungnya pertempuran nilai. Tapi, sampai detik ini sih saya masih mencoba sebisa mungkin untuk tidak keluar dari jalur ya. Teringat film Hacksaw Ridge yang direkomendasikan guru saya. Film ini bercerita tentang orang yang pengen perang, tapi nggak mau megang senjata. Maunya jadi medik aja. Tok til. Padahal medik pun harusnya pegang senjata.

Dan inilah ke-stress-an yang paling berat tentang ber-startup. Ketika nilai demi nilai yang saya punya seolah digerus.

Cuman balik lagi soal keyakinan ya. Kalau memang niatnya baik, niatkan mematuhi Tuhan, masa iya Tuhan nggak bantu? Kayak di film itu.

Kadang orang bilang: masa iya sih lo nggak ada mainin data. Semua startup juga manipulasi data to some extent.

Kalau kita memang enggak, mau apa. Mungkin agak naif, tapi terkadang saya berpikir, lebih baik startupnya mati gak sih daripada tipu-tipu.

Tapi ada kutipan menarik yang begitu mengena dari film tersebut. Ketika si tokoh ingin menyelamatkan orang dari tempat yang begitu sulit dijangkau, dia selalu berdoa:

“Please Lord, help me get one more.”

Dan, seperti itulah yang saya rasakan di Pahamify setiap harinya. Memohon supaya diberi kesempatan untuk membantu lebih banyak orang. Somehow. Someway.

Karena kalo mau dipakein perasaan dan logika. Semua ini udah ga masuk akal dan cuman bikin makan hati doang sih. Bikin produk bagus. Niat mendidik. Tapi ya untuk survive seberat itu loh. Dan orang cuman suka gratisan. Memang masalah di Indonesia begitu. But, this is the very reason we want to do something in Indonesia. Tapi ya kadang rasanya pengen realistis aja.

Cuman nggak tahu ya, dengan segala rasa insecure, dan perasaan ketidakmampuan ini (yang kalau dilihat dari sudut pandang spiritualitas sangatlah bagus) saya tuh entah kenapa selalu punya keyakinan bahwa “Alam Semesta” (ya kehendak Tuhan sih sebenernya) akan berpihak pada saya.

Bukan saya pribadi. Tapi misi saya. Visi saya. Ide saya. Selama itu baik dan bukan dari ego pribadi.

Karena ya banyak ide-ide yang meskipun lambat sekali, akhirnya diterima juga oleh teman-teman. Investor yang akhirnya mau nge-backing kita, beberapa ada yang udah pernah nolak sebelumnya.

Seperti itulah mungkin kalau ada doa dari leluhur dan orang soleh, entah kenapa Tuhan kasih jalan.

Dan, sebenernya, ironisnya, meskipun salah satu bayarannya berstartup ini adalah saya jadi makin jarang ke surau, makin tidak patuh kepada Tuhan, tapi di situlah saya jadi semakin memahami makna bertarikat.

Saya jadi mengerti betapa manusia itu sebenernya nggak ada yang mau jadi Nabi, atau Wali, atau Khalifatullah, Ga usah gitu deh, khalifah guru aja.. Itu mana ada manusia waras yang secara ego mau.

Saya aja, ga pernah mau jadi CEO sebenernya. Tapi, yang membuat saya bertahan ya, karena saya tahu ini amanah. Dan saat ini cuman saya yang dipasrahi untuk bisa menjalankan.

Dan saya, tetap menajalani ini semua sebaik-baiknya yang saya bisa. Keluarga saya bukan tanpa masalah. Masalah yang dialami keluarga saya, kalo orang tahu juga bisa terkaget-kaget. Tapi, beruntung saya punya keluarga yang pengertian. Saya merasa tidak sendiri ya karena keluarga saya ini

Ya keluarga saya yang saya begitu jauh darinya. Dan kalau di saat-saat paling stress juga rasanya saya ingin menghilang dan memulai hidup baru. Ganti identitas. Pergi entah ke mana. Lepas dari keterikatan dengan keluarga. Karena di konsep kehidupan saya. Keluarga pun hanya titipan. Tidak ada attachment yang berlebihan.

Walaupun setelah ke sini dan karena beberapa hal, saya jadi mengert bahwa mungkin saya akan sulit merasakan kehidupan yang biasa-biasa aja. Kadang saya nggak ngerti pikiran orang-orang yang tidak mengerti pikiran saya. Dan kalau dipikir-pikir, saya tidak mau jadi orang seperti mereka. Saya bersyukur dengan kehidupan saya dengan segala plus dan minusnya.

Dan balik lagi, jadi CEO aja berat kayak gini. Harus menginspirasi orang lain. Memimpin orang lain meski sulit diatur. Diminta pertanggung jawaban dari atas. Kalau yang bawah yang salah, kita juga yang tanggung jawab. Padahal kehidupan pribadi kita saja juga bukan tanpa masalah.

Saya udah bener-bener loss kalau untuk manajemen diri. Banyak kemunduran malah. Karena, boleh dibilang, hidup saya bener-bener manage-less. Saya jadi kadang sering lupa hal-hal remeh untuk masalah pribadi. Kayak ibu saya. (makin mirip ibu saya kecuali soal positive thinking dan spiritualitas)

Apalagi jadi Guru Mursyid. Wah minta ampun itu beratnya nanggung umat. Dapet tugas mentarbiyah jiwa pula. Muridnya ngaco-ngaco pula.

Setelah menjalani kehidupan sebagai CEO dan Founder Startup di posisi yang sangat spesifik, saya jadi tidak terbayang beban yang dialami oleh Guru Spiritual. Tapi, ya seperti cerita yang sudah-sudah, itu sudah perintah dari Atas, siapa pula yang berani melawan kalau memang suratan-Nya begitu.

Dan itu juga yang saya jalani di startup ini lah.

Tapi, kemarin ada juga hal menarik yang semakin membuat saya berharap semoga ada keajaiban sekali lagi. Ketika membagikan voucher gratis. Sebenernya sih itu dimulai dari seorang teman. Terus dengan konsep bahwa:

Kita nggak tahu masa depan, bisa saja ini hari terakhir kita

Serta bahwa uang hanya titipan

Dan beberapa ajaran ibu saya, yang dari gurunya bahwa berbuat baik ya berbuat baik aja. Terkadang, berbuat baik itu tanpa syarat.

Dan bahwa sebagai manusia, kita tuh punya misi juga untuk mengajarkan orang bersyukur. Seburuk apapun kondisinya.

Akhirnya saya mengundang mereka yang merasa dirinya nggak mampu, untuk cerita tentang apa yang disyukurinya dalam hidup. Dan membacakan itu semua membuat saya terharu, menangis, dan merasa senang bisa menjadi alat bagi orang lain untuk belajar bersyukur. Bayangkan, jadi alatnya Tuhan untuk ngajarin orang bersyukur. Dan itu spontan aja kepikirannya.

Ada yang SMA kena kanker dan HIV. Ibunya TKW. Bapaknya udah nikah lagi.

Ada yang bapaknya PNS tukang judi.

Ada yang yatim piatu.

Ada yang ibunya single parent.

Ada yang anak petani.

Ada yang kehilangan sosok ayah.

Dan berbagai cerita yang membuat saya semakin bersyukur dan tak jarang berkaca juga dengan keluarga sendiri. Biar bagaimanapun, banyak kebaikan orang lain yang mengantarkan saya pada titik ini di kehidupan. Dan itu termasuk lah takdir bahwa orang tua saya menjadi penyebab kelahiran saya di dunia.

Suratan itu, yang tidak bisa saya pilih, yang saya syukuri.

Saya bersyukur karena semua genetik yang saya peroleh dengan segala plus minusnya. Saya bersyukur ibu saya banyak mengajarkan hal-hal out of the box, dan mewariskan kepada saya sifat penyendiri.

Dan, saya bersyukur menemukan sosok Bapak yang secara tidak saya sadari membuat saya jadi punya inisiatif, kesel sama yang nggak gerak cepat, dan lebih peka terhadap banyak hal. Termasuk lebih menyayangi dan menghargai hal-hal kecil.

Karena sejujurnya ketidak-adaan hal-hal itulah yang sering membuat saya kesal di organisasi. Dan terkadang saya pun jadi ikut-ikutan. Tanpa disadari saya menjauh dari nilai-nilai tersebut.

Tapi, poinnya adalah saya sadar akan hal-hal tersebut. Nilai-nilai tentang pengabdian, berguru, dan banyak hal lainnya tentang kerendahan hati dan perjuangan total sekaligus kepasrahan total. Bagaimana berusaha sebaik-baiknya, tidak menggandoli harta, karena tahu semuanya hanya titipan (kalau bisa dikasihkan orang, kasihkan orang saja semua).

Dan terutama, ada banyak pesan-pesan Guru, yang kalau menoleh ke belakang, seperti mempersiapkan saya untuk ada di titik ini dan masih survive jasmani rohani.

Dan saya pun tahu ada kunci-kunci yang saya letakkan, bukan saya pergunakan.

Dan begitulah cara saya mengekspresikan dan merefleksi diri.

Menumpahkan segalanya. Mungkin ini adalah hal yang jarang dilakukan orang. Hal yang tabu pula dibicarakan sebagai founder startup. Dan ada banyak sekali alasan untuk tidak menuliskan apa yang saya tulis hari ini.

Tapi, hanya dengan begini saya bisa berekspresi. Kalau mengumpat-ngumpat dan jadi insecure, atau jadi receh dan nyampah, itu tempatnya di twitter. Tapi untuk jujur pada diri sendiri, blog inilah tempatnya.

Saya merasa blog ini adalah benteng saya yang unik. Saya tidak suka membicarakan cerita pribadi baik di depan umum maupun di lingkungan. Tapi, entah kenapa di blog ini saya selalu bisa mengungkapkan hal-hal yang mungkin cuman bisa saya ungkapkan ke ibu saya.

Mungkin karena ibu saya tidak judgmental. Dan blog ini juga waktu saya nulis nggak ada komentar apa-apa. Yang komentar paling orang-orang yang baca. Itu pun nggak banyak. Gak langsung nongol.

Dan pada akhirnya kalau ada komen-komen juga saya cuekin. Bukan tidak menghargai, tapi karena ada hal yang menurut saya lebih penting aja sih. Kadang simply kayak ga ada energi untuk sebatas klik approve komen.

Dan makanya lewat tulisan yang superpanjang yang superdalam dan superjujur dan bikin superlega karena saya belakangan sudah tidak punya waktu untuk menulis buat diri sendiri… saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada para pembaca yang sering memberi komentar dan care kepada saya: thanks, readers!

Saya memang lebih suka menjadikan hal seperti ini satu arah sejujurnya. Karena capek juga kalo bales-balesan komen. Makan waktu. Dan gamasalah juga sih kalo ada yang bilang saya sombong. I couldn’t care less. Kalo hal gitu2 dipikirin geulis tuwo.

Setiap harinya bayangin aja, ada berapa banyak komentar netizen yang masuk ke pikiran saya. Huvft.

Yah begitulah refleksi kali ini. Gak kerasa udah setengah tujuh di sini.

Semoga tulisan ini bisa menjadi berguna bagi siapapun kelak yang nyasar. Ya, tulisan yang super duper panjang ini.

Salam 4888 kata!

 

 

 

An experimental post: voice typed

 so in this blog post I’d like to try a new approach. I mean using the voice typing feature offer tie to Google Docs Burien

Screen Shot 2020-02-16 at 01.39.13

Therefore I might be able to write it down and do the edit afterwards to see whether is is going to be helpful or not.

 

What is so great about a good advisor? I think it is their ability to make everything look so simple.Whenever I feel like I got overwhelmed because of the current problem which I have Ariat. and then I talk to my advisor or my mentor I will end up feeling like I just failed to do the basic things and that’s why I got so many problems. a good man singer always makes it so easy that you don’t want to give up anymore. Even though initially you feel like giving it up because you were at the very end of the line of your capability and patience Barrett.

New line

But I think there are some things which a good Advisor could not relate 2. of course I really appreciate that a good appetizer to his many experiences could see everything from the larger picture and she or he would  what not be tracked giraffe drag into the complexity of the various and I’m in a good adviser is standing there and point of view of a wise man and he detach himself from the experience which I am getting and I think that’s very normal guess it’s never really capturing the whole reality.

 

 okay now let’s try creating a script out of nothing. I would like to tell you a story about my own PhD Journey so I started my PhD when I was just 20 years old and what is that it is because I was admitted to college when I was just 15 years old because I went to the accelerated class during senior and Junior High School so for me it only took four years while the normal people will get it done in 6 years that’s why that made it to College when I was just 15 to the top school in Indonesia and I would like to say that me starting a PhD was an accident so at the end of the year like it was my final year in college I just randomly went to a presentation from an overseas University while they are visiting Indonesia and I didn’t know that they were about to organize A test which can be a substitute for adults artificial and also GRE so I talk to myself dad you know it is a chance and there’s nothing to lose I haven’t started before I haven’t studied before but until decided to take the test the test was more like engineering mats Matt’s mast Matt mathematics Garis baru. enter Tanda tanya ya Sekarang kita akan mencoba dengan bahasa Indonesia Apakah Voice Typing dia cukup bagus untuk bahasa dia Jadi gini kalau ini buat rapat mungkin jadi keren kali ya udah sekarang pahamify kita kan pengennya bikin try out tapi gimana soal try out ini wah gila ini fitur Lumayan keren juga ya maksudnya zaman dulu tuh beberapa tahun lalu 2012 ada beberapa perusahaan dan lembaga Penelitian Indonesia ke nyoba untuk bikin aplikasi kayak gini untuk bikin notulen rapat karena tahu sendiri setiap rapat di Indonesia dan sekretaris nyatetin ngerekam pakai recorder dan sempurna dengan adanya fitur kayak gini kan enak nggak perlu ada orang yang fokusnya tak gitu karena pada saat rapat yang paling penting orang ada di rapatnya hadir di sana dan menyumbangkan pemikiran gitu instead of mencoba untuk nulis kayak gini buat curhat curhat 

Thousand Pieces – Inside

“Don’t expect things to change”

Building startup might be the most traumatic event I have ever been through. I still remember the days when I have to hop on to a random trip only for trying to hire a person. I still remember the days when I have to stay there 7+hours in many meetings even though I was tired. I still remember the days when people always gave me too much expectation and responsibility from the top.I still remember the days when I felt like I did not get the appreciation I deserved. I still remember the days when nobody was not going to hear what you say. When after all those sleepless nights and thinking, some people just making it harder for the plan to be executed. I felt like I gave everything. I felt like I was getting punched so many times. From every direction. There would be a layer in my self which will always be feeling lonely. Because everything at the end of the day is my responsibility.

I think what’s been happening changed me as a personality. I became completely isolated inside. I don’t like communicating even with my closest circle. Sometimes I wanted to cry. No, I feel like I should be crying. But no. That’s not kind of emotional release that suits me.

All I remember, I was there in front of Gondangdia station. After being beaten up, physically, mentally, intellectually for I don’t know how many. I remember the title of one GoT episode: unbent, unbowed, unbroken. But wait, how could someone be unbroken? Sansa Stark? She was too broken to be more broken. Her heart fell into infinite pieces that it was almost improbable to split into 2 infinites pieces. Seems like every bad thing and mental punch she received had been executed perfectly, ... just like Ned Stark.

At the end of the day, I realized everything is just an illusion. The dark moment then be gone for a certain period. And that period getting higher resolution day by day. The window is getting tinier. And then.. I’ll be laughing — having some little fun or jokes. A few minutes later I will be swearing — badmouthing everyone, yelling how stupid they are.

But then, all those things won’t matter. What matters is what we do. Que sera sera. So again, I will live a lonely day where I feel like I do not care about anything and everything, not even my own self. I don’t care about ownership or legacy whatsoever. If anything I have built has to turn into dust, so be it. I don’t fucking care. I don’t even fucking care about my life value or my life goal anymore. I embrace the state of living as a person. A raw person. A raw awareness—sentiency—consciousness.

Who we are as a personality, what we have been through certainly doesn’t hold as important value as our core ‘being’. And at least I tried to appreciate and enjoy life (even though the way I am enjoying it sounds more like offering myself to get burned, drenched, and parched.) At least I am still alive. The meaning of life? Who cares. Let’s get into the very core of absurdism. Our attempt to find meaning in life will fail. Let’s be with Camus.

At least, that is what I have in mind in order to cope with everything. One single mantra: don’t give no fuck for anything.

I mean like, when we threw away that jokes, I don’t really care about ownership at all. All I care is trying to be responsible until my last mental or life energy. And that’s all.

On value, I remember one of my senior who used to be touted as a competent and inspiring leader. He used to tell me that with his tendency to get influenced by his environment, it’s just hard to stay having an independent value.

I think in the last 2 year, because everything happened too much, to soon, and too fast, I have lost all my values to which I was beholden to. And what am I then? I am just a sentient being. Having so many masks to put on for many occasions, in many social roles. And that’s it. Thousand pieces. Or billions of pieces. Of contents. of Consciousness. But one me.

 

 

 

Such a lonely job it is

First of all, it’s not complaining. I am aware that people have the freedom to see things from their perspective. Impression is something I can’t control. This post is trying to serve a purpose: to dissect my own feeling—a reflective journal to help me navigating through my own consciousness while at the same time might be a future help for those who feels the same.

It is, after all, the thing most people avoid talking about. But come on, this blog has seen my ups and downs since 2008. Blogging has always been my coping mechanism—one of the healthiest among others.

At this very moment, the loneliness of the job which I chose to take chimed in again. It is a super-lonely job for even when you have partners (and I am more than grateful to have nice people to partner with), it still is a lonely job.

“Breaking down things” is just another mantra in startup. My inability to serve as an effective manager is really low due to limitation of my psychological energy.

I just realized in the recent months, that I am a human. I am not a robot. And no matter how gifted my mind is, it only has a finite amount of energy.

Stumbled upon me just a few hours ago was an article which explains the true nature of resilience. Resilience, it turned out, is not about endurance, but about recharging it is. The ability to be resilient lies on the strategic stops one deliberately makes during the long journey of building a startup.

I have been thinking that what saps my energy the most is the current state of competence people around me have. The thing is, we have been doing something which requires a set of unique skills. And maybe, I am lucky enough to collect such skills along the way.

It may sound narcissistic, but I believe I am just lucky enough that my life journey has shaped me to become somebody with a broad range of skills (in three categories: hard, soft, and life). And I know, it is not humane to expect people do things at my level.

So there would be tremendous amount required to coach people. While at the same time must I learn to figure out things I am responsible for which I have not possessed the fundamental knowledge about. While I feel frustrated due to the dilettante state of other people, I myself am a dilettante in the things I have to do. And that’s how brutal—in an afterthought—a startup life is.

*tapi ya gw bersyukur sih dibanding startuper yang lain, gw dapet banyak akses coaching premium wgwgwgwgwg.

At the end of the day, I am grateful to have people around me who keeps reminding me that I am self-aware and in control amidst this ever-chaotic situation. With them I found my recharge. With them I can share laughters of discussing stupid things. Or making fun at life.

Some people might have never been in the worst situation ever that they couldn’t even empathise the feeling like dying state which occurs regularly to me.

Some people might say A in front of us, but say B instead behind us. And that’s life.

Life and all its problems. Just like civilization and its discontents.

People who merely observe sometimes don’t know our real situation, until they see what kind of problematic state we’re in. Until they got their contact of the things they think we are complaining about.

But having said that, I am a man with self-belief. I couldn’t not recognise the signs that I was born to do something rare. And all these blade years, and me not dying nor quitting despite of everything are the battle scar etched on my skin.

That’s the suffering which will bring enlightenment.

I sincerely believe that each pain paves our way into personal betterment.

Even though the concept of psychological entropy is being revisited, I believe that the normal state of the mind is unaware.

Through anxiety, ironically, people are forced to become self-aware.

Unless they do regular mindfulness practice, be it writing a journal or meditating.

*kadang dilema sih jadi CEO startup. Gak bisa mencurhatkan masalah dengan bebas ke siapa-siapa. Wkwkwkwk. Giliran curhat ama temen-temen yang psikolog, ujung-ujungnya mah mereka cuman bilang gw self-aware aja sih.

 

Bearable Meteor Wings

“They read all the books but they can’t find the answer.” John Mayer
Real people make mistakes. Real world is imperfect. And here we go again, to tell stories about a land of broken promises and premises. A window which looks dull without all the dressings. It is a game where human’s raw motives manifest in many ways.
Beneath sugarcoated imageries lie unpleasent truth of self-unawareness. Truth can be scary, and politically incorrect sometimes.
A few people believe that I’m one of those special breeds who might be able to bear the pain of suffering in the game. I am one of a kind they rarely meet. With all my weakness and messiness, I am unique. And this uniqueness will define whatever I touch. I couldn’t be more grateful to see how much people see the talent me (a talent I never had anything to do with because I simply was born with it.)
Sometimes I got to asked them: many people said that I’m a genius, but look what have I achieved so far? Why couldn’t I do like Mozart who wrote his symphony at 8.
They only asked me back: do you know how to play the game?
In this game, a man trapped in a cage of responsibility caused by his own dreams. It might sound contra intuitive for how could a person be the prisoner of his own making. We always have a choice isn’t it?
Tapi itulah kegilaan entrepreneurship. Orang-orang yang personally percaya ke gw memberikan placebo efek yang bikin gw terus kerja meski rasanya mau mampus.
And one of the foremost important skills to own in my position is to handle my own psyche.
And lately I realized one thing which I am yet to accept is: people are not like me.
The very of consequence to be perceived as unique is to understand that we have a different set of standards compared to most people. And also to accept the loneliness which it brings.
I remember one time my xgf told me: you have to know that not many people are as smart as you are, nor could they articulate clearly and quickly what they have in mind.. (and to type quickly too).
Most of the time I asked myself, why people don’t see what I see. Why people don’t remember like I did. Or how couldn’t they adapt quick enough while facing a perpetual uncertainty.
But again, despite this brutality, I still have to own the mistake.
Tapi makin ke sini, gw belajar merelakan. I don’t want to make a rookie mistake.
Some people are not aware of their limit or their stretched limit.
Kadang yang ngerti seberapa batas kita adalah orang lain. Sama seperti talenta kita.
Sampai sekarang, saya masih merasa not good enough untuk jadi role model atau figur. Dan itu adalah another penderitaan I must bear while doing startup.
Orang lain mungkin hepi pamer prestasi, senang dipuja, senang melakukan hal bodoh selama itu membuat mereka jadi idola.
Kadang saya supersedih dan miris melihat semua kepalsuan pencitraan yang ada. Sebagai orang yang disebut sebagai heart-dominant founder, deep inside saya bisa punya kekecewaan terhadap masyarakat luas.
Tapi, balik lagi, that’s the truth I have to accept. Bahkan orang-orang di lingkaran yang masih dekat dengan saya pun tidak suka atau tidak sanggup berpikir luas, dalam, dan berat. Pada akhirnya hal-hal receh lah yang mereka sukai. Atau hal-hal yang lebih nyaman.
Lagi-lagi analogi Gua Plato matters.
I am not saying that I am perfect. I am just saying that I couldn’t blend that well in the crowds. Dan sebaliknya, kelemahan gw adalah berpikir terlalu kreatif, terlalu jauh, luas, dalam dan berat. Mungkin ga semua dalam hidup butuh digituin.
Sayangnya memang orang seperti ditakdirkan mempertanyakan apa yang salah, bertanya kemalangan diri sehingga jadi filsuf di usia muda. Karena saya baru dengar tausiyah yang bilang gitu ya. Orang yang banyak ditimpa kemalangan akan jadi filsuf.
Pada akhirnya orang-orang seperti saya harus selalu belajar memahami.
Ditulis di kereta. Ketika harus ngantor meski sudah lebih dari seminggu ga enak badan. Hanya untuk rapat bentar. Harus balik lagi dan lain-lain meski kehidupan personal gak termanage dengan baik.
Tapi ya, that’s the choice I have to make. Dalam hidup ini semuanya suffering, semua ada pengorbanannya. Kadang sesuai kadang ga sesuai ama bayarannya. Tapi, kita mesti pilih yang bearable aja. Everything sucks, pick the bearable ones.
Btw lama-kelamaan tipe tulisan di sini jadi kayak di tumblr. Udah lama juga ga ada momen nulis di kereta gini.
I think, gw tetep pada misi gw ingin memberikan sisi pahit dari apapun bagi mereka yang mencari dan mau tahu.
*meteor wings adalah jurus birdramon.

Down for a few moments

Just yesterday I met with a wife of a startup founder who happened to just start building a startup. Misery loves company. She somehow understands the pain which I feel in the process of building a startup. The growing pain which all true entrepreneur seeks. Even she suggested me the very bible of startup which I just referred to in the previous post: the hard thing about hard things.

She shared with me a few stories, including how she at some point, threw up. I told her, for me, I never reached that level of physical side effect of being stressful.

I do feel tired all the time. But, for me that’s bearable. I only eat once a day. And that’s bearable.

What I sometimes couldn’t bear is the loneliness. It’s like people I deal with in everyday life couldn’t really understand and empathize to me. But that’s fine too, I guess. I still have some people with whom I could sense the way they try to understand me. Ironically, I rarely talked to them. But they could understand all the choices that I made. They know the way I think. They care to understand my thinking process and worldview. They do not judge. They do not ask me to go for a vacation. They don’t label me as a negative person. They truly support me. They only want me to understand that I have some option but it is always OK to choose any.

And some of them are my psychologist friends.

They know that despite being in the pain. Despite all the complaints. This is the only way I could feel the high. I love challenges so much that I enjoy the process of suffering in moving beyond my comfort zone. I just need a mountain high enough to climb.

They know I wouldn’t give it up. They know, when I say something, I have a purpose in it. I am a man with purpose, I’ll be quiet if I don’t have a key message to tell. Most importantly, they know that I am a man with high ambition–which sometimes couldn’t find its match. They know that sometimes I’m just a man lost in translation.

Even when somebody else was trying to find me a girl, these people are most concerned about whether this girl could match me. They know I need an intellectual sparring partner who couldn’t get clingy because I’m very rational (quite heartless) in relationship.

One of the people who understands me (he’s not a psychologist, but I think we found some similarity in abstract thinking), told me that my ultimate problem is because I am fundamentally a social person. Unlike other “weird guy” who don’t really look for a company, I am constantly looking for somebody who could match me.

I found those people though who could match me in some particular aspect. It’s interesting how sometimes some people we rarely met could become a philosophy friend—for example (one of these people, told me that he liked to talk about me with his wife even though we only met twice for a few hours). But, I am still looking for people who could be talking to me across all subjects.

On the other hand, today, I did feel like I want to throw up. But I couldn’t.

It’s after a con-call meeting where I, again realized how people are not moving fast enough, not thinking smart enough.

My knees felt so weak when I offered friday prayer that I finally decided to sit down. It’s my 1st experience sitting down while the Imam recited a surah. I felt nauseated after the prayer. I ran to the ablution area. Couldn’t throw anything up.

I ran to the office. Quickly sneaking to the meeting room. Closed the door. Down. My battery was running low. My visa card failed for grab. I with my remaining energy, struggled to top up my OVO. And then hailed some grab car. It’s fucking expensive for a startup ceo like me (whose most of his personal spending is for meeting, forced to hop to a starbucks nearby and travel here and there). Of course, I normally use train. But shit, I just want to go home.

I thought I was gonna experience my 1st blackout moment in life. But I wasn’t

Somehow, I believe that only death can stop me. I’ll continue fighting. I’ll die if I have to win. All despite of daily thinking to give up due to “the struggle”. All these because I don’t have anything else to fight on. I’m a man on a mission. And I don’t need anything else for my personal life.

I think attachment to family, greed, etc, clouds our judgment. I don’t have such an attachment in life. For me to reach the goal is what matters. Of course, not everyone has the same feeling and thinking.

I don’t even care about my personal belongings anymore. I lost my key. I lost my ID. I didn’t take my laundry. All those were rendered unimportant to me.

I don’t have space for personal life because I value time that much. I tried to give my everything. I don’t want to regret this opportunity. It’s ONCE IN A LIFETIME opportunity I must give all my best. Extra best. 180%. 100% hard work. 80% smart work.

Some people see the negative in me. Some people see the realist in me. But the bottomline is, despite all my negative channelling—this is my way to survive— I refuse to give up. My college professor once wrote a sentence in my recommendation letter:

“He’s willing to do whatever it takes to achieve his goals.”

I’ll fight tooth and nail if I believe in my cause. That’s me. And with all the suffering and burden I must go through, there’d be some excess. I couldn’t escape the gravity. I’m a mortal.

I somehow take everything in this startup journey too personally. Last time when I told my angel investor that I might not be the best man for this, he kept supporting me. Telling me how he believes that I’m gonna be somebody in the next 20 years. Telling me how he believes in me because I went through the struggle in my phd candidacy and survived (even though that’s not really my area in his opinion).

Everything becomes personal when some people believes that you are in a genius in your 1st meeting. Everything becomes personal when people expect you to be the rare kind of startup founders. Everything becomes personal when people believe in a person.

But we couldn’t escape the gravity.

Nobody is perfect. Not much can be done by only one man—especially if he has a difficulty trying to put his head into somebody else. I think my biggest drawback is fundamentally I hate stupid people—regardless their IQ. I wish I could lend them my mind.

I wish when there is an apple in front of them, they become visionary enough to not just see an apple. They can imagine the apple juice, or kripik.

Somebody told me at this point, I need to find people who are smarter than me. But of course, it’s getting harder to meet such person—expensive too.

(Yeah, I have a very weird definition of ‘smart’).

But, in my deeper contemplation I realized, that I’m that weak in management. Every mistake these people make is my own failure. I somehow couldn’t communicate that well. Couldn’t be convincing enough. I’m a lousy manager.

The more I do this startup things, the more I believe vision is what matters. Yet, execution is the mantra. What makes Steve Jobs great is, not only his vision, but also the way he could make people do what he wanted to.

A friend told me, one of the signs of a good manager is when people he manages could feel how hard he pushes them to the point of “fuck him”.

I have not reached that level.

But at least I know where I am. I realized how stupid I am. I realized my drawback. That’s the only way we can improve.

Yet, some people don’t understand their place. Don’t understand their stupidity.

 

The Struggle is where self-doubt becomes self-hatred.

 

 

 

Realitas

Sudah lama tidak menulis. Saya ingin menulis. Saya bahkan sudah tidak menikmati lagi yang namanya menulis. Dan kalau anda mencari sesuatu yang ideal di sini saya sarankan untuk berhenti membaca. Tidak ada inspirasi di sini. Yang ada hanyalah pemikiran negatif, pesimistis, dan makian, dan keluhan. Yang tentu saja tidak baik untuk dimasukkan ke otak.

karena hanya akan jadi sampah di kepala anda.

SUNGGUH. TIDAK ADA GUNANYA MEMBACA TULISAN INI

Continue reading “Realitas”

Jalan di Mana Adam Kelelahan

Pagi itu saya baru sampai di kos, baru solat subuh. Akan tidur, tiba-tiba ibu saya menelepon. Tiba-tiba saja menyuruh saya untuk rajin berolah raga, supaya seimbang. Berkata bahwa sebenarnya ada juga orang-orang yang beban hidupnya sangat/jauh lebih berat, tapi sehat-sehat saja.

Lalu dimulailah sebuah obrolan yang cukup panjang. Menilik dan mengingatkan lagi bagaimana perjuangan seorang ibu. Terkadang perjuangan setiap manusia itu begitu unik sehingga orang lain tak dapat memahami betul kondisi manusia lainnya.

Sama seperti saya, meskipun talkative, ibu saya juga termasuk orang yang jarang suka menceritakan apa yang dirasakan kepada orang lain. Karena rasanya tidak perlu dan tidak penting juga untuk dicerita-ceritakan. Mungkin yang diceritakan cuman orang-orang dekat, tapi itu pun bukan keseluruhan cerita.

Saya sendiri termasuk orang yang kurang suka tiap kali ada orang yang mengatakan “Lo sih gak ngerasain” atau “You weren’t there” dan lain-lain yang secara tidak langsung saya artikan sebagai upaya mengeluhkan tentang hidup. Sebenarnya bukan tentang kata-katanya, tapi lebih ke nadanya, atau rasa yang tersampaikan dari situ yang saya tidak suka.

Saya pernah dengar bahwa seorang ulama/wali menolak mendoakan orang yang merasa hidupnya menderita. Karena sesulit apapun, kehidupan seharusnya disyukuri, selalu ada cara untuk bersyukur.

Saya  sendiri bukan tidak pernah mengeluhkan tentang hidup. Saya tak jarang juga cerita ke beberapa teman tentang apa yang saya alami. Mereka juga kadang bosan dengan curhatan saya. Tapi, sebenarnya saya meyakini bahwa semua ada maksudnya. Dan teman yang saya ceritakan juga tak jarang bilang ada hikmahnya. Dan, memang saya cerita itu semua untuk mencari validasi. Bahwa saya meyakini itu ada hikmahnya. Dan kalau orang lain dari sudut pandang ketiga mengiyakan, itu akan memperkuat belief ini.

Kalau sedang terasa berat, ada kalanya juga saya berpikir: enak ya kalau punya significant other yang bisa jadi tempat cerita semuanya. Tapi, di sisi lain, saya juga terbiasa sendiri.

Tak jarang saya ingin galau. Tapi, kalau ingat bahwa kehidupan ini sudah diatur, rasanya percuma untuk galau. Apa yang mesti digalaukan? Tuhan sudah menakar semuanya. Segala “penderitaan” yang kita alami, tentunya punya makna. Dan memang kita akan sanggup untuk melewatinya.

Kehidupan itu sudah selesai. Blueprint-nya sudah ada sejak jaman azali. Tak perlu dipusingkan. Cukup dijalani dengan bersyukur aja.

Kalau ada yang bingung dan perlu di figure out, sebenarnya tinggal cari di kitab suci, manualnya kehidupan. Dan kalau kita patuh, mau itu hal yang kelihatan buruk sekalipun sebenarnya merupakan cara Tuhan mengajari kita.

Saya pernah mendengar bahwa alasan kenapa manusia punya hawa nafsu adalah supaya perjalanan menuju Tuhan jadi berarti. Kalau ada jarak antara manusia dengan Tuhan, jarak itu berwujud hawa nafsu. Segala potensi kejelekan yang dipunya manusia adalah medan tempat perjalanan spiritual ditempuh.

Saya sendiri merasa begitu banyak proses yang masih harus dilalui. Tapi, saya berusaha berbaik sangka saja dengan Tuhan.

Perjalanan ini berat. Saking beratnya saya pernah ingin menyerah. Dan memang kata seorang Guru pun, andaikan orang tahu bahwa perjalanan ini begitu berat, niscaya tak ada yang mau masuk ke jalan kecil ini.

Kalau kata ibu saya, ya kita sudah memilih jalan yang kecil ini, seberapa berat itu, harus kita jalani. Karena tanpa menjalaninya, hidup juga lebih sia-sia lagi.

Dan di titik ini, saya jadi menyadari bahwa segala kebaikan yang saya pernah perbuat di dunia ini hanyalah karena saya mendapat petunjuk dari Tuhan. Hanya menjadi alat-Nya.

Sebaliknya kejahatan yang saya lakukan adalah karena kebodohan saya sendiri dalam menyikapi takdir. Sudah diberi yang namanya an-najdain, pilihan jalan yang baik dan buruk, tapi sering memilih jalan yang mengotori kebersihan jiwa ketimbang menyucikannya.

Kenapa begitu? Kenapa kalo baik diserahkan Tuhan, kalau buruk yang disalahkan diri sendiri? Memang begitu adab seorang makhluk kepada Tuhan-Nya. Bukan urusan fair atau tidak menurut ukuran manusia, tapi sudah begitu hukumnya.

Hukum Tuhan itu di atas hukum alam. Hukum alam saja tak dapat kita lawan. Gelas yang dilepaskan dari udara pasti akan jatuh. Mau kita pikir itu tidak adil, dianya akan tetap terjadi.

Dan begitulah hukum perjalanan spiritual. Memang kita harus diuji. Mau tidak mau kita akan diuji. Tidak bisa minta tidak diuji.

Lalu, saya teringat sebuah kutipan. Saya meminta ibu saya mengirimkannya kalau masih ada. Lantas, saya cari di google. Ada beberapa versi sih. Tapi cukuplah salah satunya menjadi penutup tulisan ini:

“Jalan menuju Allah adalah jalan dimana … Adam kelelahan, Nuh mengeluh, Ibrahim dilempar ke dalam api, Ismail dibentangkan untuk disembelih, Yusuf dijual dengan harga murah & dipenjara selama beberapa tahun, Zakaria digergaji, Yahya disembelih, Ayub menderita penyakit, Daud menangis melebihi kadar semestinya, Isa berjalan sendirian, dan Muhammad shallallahu alaihi wasallam mendapatkan kefakiran & berbagai gangguan. Sementara kalian ingin menempuhnya dengan bersantai ria & bermain-main? Demi Allah takkan pernah bisa terjadi.” (Ibnul Qayyum al-Jauziyah)

Djournal GI. 21 April 2019, 22.23

Meriang

Sejak tadi sore saya meriang. Saya sudah membayangkan sih suatu saat badan ini nggak kuat. Karena emang diforsir terus-terusan.

Meriang. Di kantor. Ditemani suara tukang yang lagi garap studio.

Saya mesti bilang bahwa hari-hari ke belakang yang saya lalui adalah sangat tough. Saya nggak punya yang namanya hari libur. Weekend, dan public holiday pun masuk. Saya baru ambil day off jumat lalu. Itu pun bukan untuk beristirahat.

Saat orang-orang mungkin berbahagia bersama keluarganya di hari sabtu atau minggu atau berkumpul dengan anak istrinya di malam hari, saya ada di suatu tempat. Mungkin sedang menelepon. Mungkin sedang meeting. Mungkin sedang berkontemplasi mengonsep sesuatu.

Pulang larut malam. Atau tinggal di kantor tapi malam-malam masih harus mengerjakan sesuatu atau berbincang dengan investor. Paginya sudah harus jaga kantor supaya orang dateng. Ini pun berhari-hari saya nggak bisa melakukan banyak hal, karena ada orang garap studio di kantor. Tersiksa? Ya, sebenernya cukup tersiksa.

Mungkin mudah bagi orang-orang untuk bilang ini itu. Kenapa saya nggak sarapan lah apa lah. Karena ya mereka tidak menjalani kehidupan yang saya jalani. Kadang mau sarapan juga beban. Sedangkan saya juga butuh tidur cukup karena semua hal masih bergantung pada saya.

Banyak yang tidak bisa didelegasikan. Atau mungkin saya nggak cukup tega mendelegasikan karena sepertinya orang-orang lain pun sudah ada di batasnya. Saya sih terkadang mengartikan itu sebagai sebuah mindset entrepreneurship yang berbeda-beda. Atau ya memang circumstances-nya aja yang demikian.

Mungkin juga ini terjadi karena orang tua saya juga dulu berjibaku gila-gilaan dalam berdagang. Jadi ya memang saya tahu konsekuensi dari yang saya jalani.

Saya perhatikan juga, banyak orang tidak memahami hukum alam. Orang-orang yang pintar sekalipun, terkadang tidak bisa melihat situasi dan memahami what exactly they signed up for. Keinginan tidak dibarengi dengan usaha.

Sebenernya hari ini pun ada beberapa hal yang harusnya saya kerjakan. Tapi, otak saya nggak kuat dan butuh curhat.

Satu hal yang saya pelajari juga dari berinteraksi dengan banyak orang, bagi manusia adalah gampang untuk merasa bahwa dirinya paling menderita. Sepertinya fokusnya hanya ada pada dirinya. Orang seperti ini biasanya paling mudah sensian dan sensitif. Baper. Ada hal dikit yang gak sesuai dengan keinginannya, dia merasa tersakiti dan menuduh orang lain tidak punya empati.

Lalu, atas semua ini, saya juga terkadang merenung. Memang inilah jalan hidup yang saya pilih, meskipun sudah ada yang ngetawain saya ketika melihat situasi yang saya alami. Saya cek dengan mentor saya yang lain pun, dia bilang, jangan expect kondisi akan berubah dalam setahun ke depan. Kata dia seharusnya tidak ngaruh. But trust me, ada situasi-situasi yang membuat saya begitu frustrasi selama setahun ke belakang.

Tapi, saya anggap bahwa itu yang akan menguatkan saya. Saya percaya kok, Tuhan nggak ngasih ujian melebihi kemampuan kita. Saya dikasih beban kayak gini, ya karena saya yang kuat. Bukan orang lain. Orang lain punya bebannya sendiri dan tak perlu dipikirkan.

Teman saya yang beberapa kali fail startup pun memahami juga apa yang saya rasakan ini. Apalagi kalau melihat situasi yang saya alami secara spesifik. Beberapa teman menyarankan saya untuk mengambil tindakan tertentu. Ibu saya pun bilang, saya punya pilihan: mau ikhlas atau melakukan sesuatu.

Saya memilih untuk ikhlas. Di-ikhlas-ikhlasin.

Karena kalau dipikir-pikir, saya adalah orang yang paling total dan menghabiskan virtually hampir seluruh waktu saya kecuali waktu standar manusia (makan, tidur, ibadah, telepon ortu, sedikit refreshing, ngobrol sama teman) untuk si company. Karena memang saya tidak punya hal lain di bawah tanggung jawab penuh saya kecuali si company. Cinta orang lain mungkin ada untuk anak istrinya. Saya tidak demikian.

Saya juga kadang sedih. Orang-orang bisa dengan mudah bertemu dengan orang tuanya. Sedangkan saya, boro-boro. Orang tua sakit pun tidak bisa pergi. Karena ini itu. Tapi, ya sudah jadi tanggung jawab ketika kita menerima investor.

Kalau orang pikir jaga kantor itu enak. Jadi single. Merantau. Nope. Sungguh nope.

Kalau dipikir dapet duit investor itu enak. Nope, itu amanah. Dan menggunakan duit dari investor pun nggak mudah. Banyak orang gak paham konsekuensi itu dan gelap mata hanya karena nominal.

Belakangan juga kerjaan saya bolak balik jakarta-bogor. Dan jalan sana-sini. Padahal saya paling ga suka jalan-jalan sebenernya, kecuali untuk perjalanan-perjalanan spiritual yang saya anggap penting.

Saya pikir, saya melakukan ini semua bukan karena kemuliaan, atau materi sih ya. Bahkan kasarnya, kalau saya harus melepaskan ini pun saya tidak masalah. Yang penting saya melakukan sesuatu yang berguna. Make a dent in the universe.

Bagi saya, tidak ada yang harus diperjuangkan mati-matian di dunia ini.

Entah kenapa pas habis solat maghrib tadi saya jadi berpikir. Sebenernya di saat sekarang ini, saya berpikir bahwa tidak ada yang bisa menggantikan saya di company. Tapi, itu tidak sepenuhnya benar. Andaikan pun ternyata tiba-tiba saya tidak ada di company, pasti si company ini juga akan mencari cara untuk survive.

Sekalipun memang sampai di titik ini, yang menjadi interface utama dari si company adalah saya. Saya adalah company. De facto-nya seperti itu, at least bagi investor dan penonton.

Entah kenapa, saya merasa ya memang hati saya di sini. Tidak terbagi. Berbeda dengan mereka yang lain. Mungkin juga karena posisi saya CEO yang memang setiap hari harus memikirkan super banyak hal. Membuat keputusan itu hal yang nggak mudah.

Cuman memang terkadang orang merasa seolah itu hal yang gampang, sampai akhirnya mereka yang harus membuatnya. Dan pada saat mereka merasakannnya, mereka seolah amnesia dengan kata-katanya sendiri. Tapi ya bagus, artinya mereka belajar.

Saya super lelah, tersiksa, tapi senang sekali karena akhirnya ada hal yang bisa membuat saya merasa demikian. Tidak jadi orang yang pemalas lagi. Saya masih ingat, betapa shock-nya teman-teman saya semasa PhD yang tau betapa malasnya saya ketika melihat saya yang sekarang dan berani mengatakan orang lain sebagai liability.

Tapi, di satu sisi saya juga mempertanyakan terus, haruskah saya tetap di sini. Go thru all the way di startup game. Permainan ini begitu mengasyikkan. Saya tidak ingin terhanyut.