Jalan di Mana Adam Kelelahan

Pagi itu saya baru sampai di kos, baru solat subuh. Akan tidur, tiba-tiba ibu saya menelepon. Tiba-tiba saja menyuruh saya untuk rajin berolah raga, supaya seimbang. Berkata bahwa sebenarnya ada juga orang-orang yang beban hidupnya sangat/jauh lebih berat, tapi sehat-sehat saja.

Lalu dimulailah sebuah obrolan yang cukup panjang. Menilik dan mengingatkan lagi bagaimana perjuangan seorang ibu. Terkadang perjuangan setiap manusia itu begitu unik sehingga orang lain tak dapat memahami betul kondisi manusia lainnya.

Sama seperti saya, meskipun talkative, ibu saya juga termasuk orang yang jarang suka menceritakan apa yang dirasakan kepada orang lain. Karena rasanya tidak perlu dan tidak penting juga untuk dicerita-ceritakan. Mungkin yang diceritakan cuman orang-orang dekat, tapi itu pun bukan keseluruhan cerita.

Saya sendiri termasuk orang yang kurang suka tiap kali ada orang yang mengatakan “Lo sih gak ngerasain” atau “You weren’t there” dan lain-lain yang secara tidak langsung saya artikan sebagai upaya mengeluhkan tentang hidup. Sebenarnya bukan tentang kata-katanya, tapi lebih ke nadanya, atau rasa yang tersampaikan dari situ yang saya tidak suka.

Saya pernah dengar bahwa seorang ulama/wali menolak mendoakan orang yang merasa hidupnya menderita. Karena sesulit apapun, kehidupan seharusnya disyukuri, selalu ada cara untuk bersyukur.

Saya  sendiri bukan tidak pernah mengeluhkan tentang hidup. Saya tak jarang juga cerita ke beberapa teman tentang apa yang saya alami. Mereka juga kadang bosan dengan curhatan saya. Tapi, sebenarnya saya meyakini bahwa semua ada maksudnya. Dan teman yang saya ceritakan juga tak jarang bilang ada hikmahnya. Dan, memang saya cerita itu semua untuk mencari validasi. Bahwa saya meyakini itu ada hikmahnya. Dan kalau orang lain dari sudut pandang ketiga mengiyakan, itu akan memperkuat belief ini.

Kalau sedang terasa berat, ada kalanya juga saya berpikir: enak ya kalau punya significant other yang bisa jadi tempat cerita semuanya. Tapi, di sisi lain, saya juga terbiasa sendiri.

Tak jarang saya ingin galau. Tapi, kalau ingat bahwa kehidupan ini sudah diatur, rasanya percuma untuk galau. Apa yang mesti digalaukan? Tuhan sudah menakar semuanya. Segala “penderitaan” yang kita alami, tentunya punya makna. Dan memang kita akan sanggup untuk melewatinya.

Kehidupan itu sudah selesai. Blueprint-nya sudah ada sejak jaman azali. Tak perlu dipusingkan. Cukup dijalani dengan bersyukur aja.

Kalau ada yang bingung dan perlu di figure out, sebenarnya tinggal cari di kitab suci, manualnya kehidupan. Dan kalau kita patuh, mau itu hal yang kelihatan buruk sekalipun sebenarnya merupakan cara Tuhan mengajari kita.

Saya pernah mendengar bahwa alasan kenapa manusia punya hawa nafsu adalah supaya perjalanan menuju Tuhan jadi berarti. Kalau ada jarak antara manusia dengan Tuhan, jarak itu berwujud hawa nafsu. Segala potensi kejelekan yang dipunya manusia adalah medan tempat perjalanan spiritual ditempuh.

Saya sendiri merasa begitu banyak proses yang masih harus dilalui. Tapi, saya berusaha berbaik sangka saja dengan Tuhan.

Perjalanan ini berat. Saking beratnya saya pernah ingin menyerah. Dan memang kata seorang Guru pun, andaikan orang tahu bahwa perjalanan ini begitu berat, niscaya tak ada yang mau masuk ke jalan kecil ini.

Kalau kata ibu saya, ya kita sudah memilih jalan yang kecil ini, seberapa berat itu, harus kita jalani. Karena tanpa menjalaninya, hidup juga lebih sia-sia lagi.

Dan di titik ini, saya jadi menyadari bahwa segala kebaikan yang saya pernah perbuat di dunia ini hanyalah karena saya mendapat petunjuk dari Tuhan. Hanya menjadi alat-Nya.

Sebaliknya kejahatan yang saya lakukan adalah karena kebodohan saya sendiri dalam menyikapi takdir. Sudah diberi yang namanya an-najdain, pilihan jalan yang baik dan buruk, tapi sering memilih jalan yang mengotori kebersihan jiwa ketimbang menyucikannya.

Kenapa begitu? Kenapa kalo baik diserahkan Tuhan, kalau buruk yang disalahkan diri sendiri? Memang begitu adab seorang makhluk kepada Tuhan-Nya. Bukan urusan fair atau tidak menurut ukuran manusia, tapi sudah begitu hukumnya.

Hukum Tuhan itu di atas hukum alam. Hukum alam saja tak dapat kita lawan. Gelas yang dilepaskan dari udara pasti akan jatuh. Mau kita pikir itu tidak adil, dianya akan tetap terjadi.

Dan begitulah hukum perjalanan spiritual. Memang kita harus diuji. Mau tidak mau kita akan diuji. Tidak bisa minta tidak diuji.

Lalu, saya teringat sebuah kutipan. Saya meminta ibu saya mengirimkannya kalau masih ada. Lantas, saya cari di google. Ada beberapa versi sih. Tapi cukuplah salah satunya menjadi penutup tulisan ini:

“Jalan menuju Allah adalah jalan dimana … Adam kelelahan, Nuh mengeluh, Ibrahim dilempar ke dalam api, Ismail dibentangkan untuk disembelih, Yusuf dijual dengan harga murah & dipenjara selama beberapa tahun, Zakaria digergaji, Yahya disembelih, Ayub menderita penyakit, Daud menangis melebihi kadar semestinya, Isa berjalan sendirian, dan Muhammad shallallahu alaihi wasallam mendapatkan kefakiran & berbagai gangguan. Sementara kalian ingin menempuhnya dengan bersantai ria & bermain-main? Demi Allah takkan pernah bisa terjadi.” (Ibnul Qayyum al-Jauziyah)

Djournal GI. 21 April 2019, 22.23

Meriang

Sejak tadi sore saya meriang. Saya sudah membayangkan sih suatu saat badan ini nggak kuat. Karena emang diforsir terus-terusan.

Meriang. Di kantor. Ditemani suara tukang yang lagi garap studio.

Saya mesti bilang bahwa hari-hari ke belakang yang saya lalui adalah sangat tough. Saya nggak punya yang namanya hari libur. Weekend, dan public holiday pun masuk. Saya baru ambil day off jumat lalu. Itu pun bukan untuk beristirahat.

Saat orang-orang mungkin berbahagia bersama keluarganya di hari sabtu atau minggu atau berkumpul dengan anak istrinya di malam hari, saya ada di suatu tempat. Mungkin sedang menelepon. Mungkin sedang meeting. Mungkin sedang berkontemplasi mengonsep sesuatu.

Pulang larut malam. Atau tinggal di kantor tapi malam-malam masih harus mengerjakan sesuatu atau berbincang dengan investor. Paginya sudah harus jaga kantor supaya orang dateng. Ini pun berhari-hari saya nggak bisa melakukan banyak hal, karena ada orang garap studio di kantor. Tersiksa? Ya, sebenernya cukup tersiksa.

Mungkin mudah bagi orang-orang untuk bilang ini itu. Kenapa saya nggak sarapan lah apa lah. Karena ya mereka tidak menjalani kehidupan yang saya jalani. Kadang mau sarapan juga beban. Sedangkan saya juga butuh tidur cukup karena semua hal masih bergantung pada saya.

Banyak yang tidak bisa didelegasikan. Atau mungkin saya nggak cukup tega mendelegasikan karena sepertinya orang-orang lain pun sudah ada di batasnya. Saya sih terkadang mengartikan itu sebagai sebuah mindset entrepreneurship yang berbeda-beda. Atau ya memang circumstances-nya aja yang demikian.

Mungkin juga ini terjadi karena orang tua saya juga dulu berjibaku gila-gilaan dalam berdagang. Jadi ya memang saya tahu konsekuensi dari yang saya jalani.

Saya perhatikan juga, banyak orang tidak memahami hukum alam. Orang-orang yang pintar sekalipun, terkadang tidak bisa melihat situasi dan memahami what exactly they signed up for. Keinginan tidak dibarengi dengan usaha.

Sebenernya hari ini pun ada beberapa hal yang harusnya saya kerjakan. Tapi, otak saya nggak kuat dan butuh curhat.

Satu hal yang saya pelajari juga dari berinteraksi dengan banyak orang, bagi manusia adalah gampang untuk merasa bahwa dirinya paling menderita. Sepertinya fokusnya hanya ada pada dirinya. Orang seperti ini biasanya paling mudah sensian dan sensitif. Baper. Ada hal dikit yang gak sesuai dengan keinginannya, dia merasa tersakiti dan menuduh orang lain tidak punya empati.

Lalu, atas semua ini, saya juga terkadang merenung. Memang inilah jalan hidup yang saya pilih, meskipun sudah ada yang ngetawain saya ketika melihat situasi yang saya alami. Saya cek dengan mentor saya yang lain pun, dia bilang, jangan expect kondisi akan berubah dalam setahun ke depan. Kata dia seharusnya tidak ngaruh. But trust me, ada situasi-situasi yang membuat saya begitu frustrasi selama setahun ke belakang.

Tapi, saya anggap bahwa itu yang akan menguatkan saya. Saya percaya kok, Tuhan nggak ngasih ujian melebihi kemampuan kita. Saya dikasih beban kayak gini, ya karena saya yang kuat. Bukan orang lain. Orang lain punya bebannya sendiri dan tak perlu dipikirkan.

Teman saya yang beberapa kali fail startup pun memahami juga apa yang saya rasakan ini. Apalagi kalau melihat situasi yang saya alami secara spesifik. Beberapa teman menyarankan saya untuk mengambil tindakan tertentu. Ibu saya pun bilang, saya punya pilihan: mau ikhlas atau melakukan sesuatu.

Saya memilih untuk ikhlas. Di-ikhlas-ikhlasin.

Karena kalau dipikir-pikir, saya adalah orang yang paling total dan menghabiskan virtually hampir seluruh waktu saya kecuali waktu standar manusia (makan, tidur, ibadah, telepon ortu, sedikit refreshing, ngobrol sama teman) untuk si company. Karena memang saya tidak punya hal lain di bawah tanggung jawab penuh saya kecuali si company. Cinta orang lain mungkin ada untuk anak istrinya. Saya tidak demikian.

Saya juga kadang sedih. Orang-orang bisa dengan mudah bertemu dengan orang tuanya. Sedangkan saya, boro-boro. Orang tua sakit pun tidak bisa pergi. Karena ini itu. Tapi, ya sudah jadi tanggung jawab ketika kita menerima investor.

Kalau orang pikir jaga kantor itu enak. Jadi single. Merantau. Nope. Sungguh nope.

Kalau dipikir dapet duit investor itu enak. Nope, itu amanah. Dan menggunakan duit dari investor pun nggak mudah. Banyak orang gak paham konsekuensi itu dan gelap mata hanya karena nominal.

Belakangan juga kerjaan saya bolak balik jakarta-bogor. Dan jalan sana-sini. Padahal saya paling ga suka jalan-jalan sebenernya, kecuali untuk perjalanan-perjalanan spiritual yang saya anggap penting.

Saya pikir, saya melakukan ini semua bukan karena kemuliaan, atau materi sih ya. Bahkan kasarnya, kalau saya harus melepaskan ini pun saya tidak masalah. Yang penting saya melakukan sesuatu yang berguna. Make a dent in the universe.

Bagi saya, tidak ada yang harus diperjuangkan mati-matian di dunia ini.

Entah kenapa pas habis solat maghrib tadi saya jadi berpikir. Sebenernya di saat sekarang ini, saya berpikir bahwa tidak ada yang bisa menggantikan saya di company. Tapi, itu tidak sepenuhnya benar. Andaikan pun ternyata tiba-tiba saya tidak ada di company, pasti si company ini juga akan mencari cara untuk survive.

Sekalipun memang sampai di titik ini, yang menjadi interface utama dari si company adalah saya. Saya adalah company. De facto-nya seperti itu, at least bagi investor dan penonton.

Entah kenapa, saya merasa ya memang hati saya di sini. Tidak terbagi. Berbeda dengan mereka yang lain. Mungkin juga karena posisi saya CEO yang memang setiap hari harus memikirkan super banyak hal. Membuat keputusan itu hal yang nggak mudah.

Cuman memang terkadang orang merasa seolah itu hal yang gampang, sampai akhirnya mereka yang harus membuatnya. Dan pada saat mereka merasakannnya, mereka seolah amnesia dengan kata-katanya sendiri. Tapi ya bagus, artinya mereka belajar.

Saya super lelah, tersiksa, tapi senang sekali karena akhirnya ada hal yang bisa membuat saya merasa demikian. Tidak jadi orang yang pemalas lagi. Saya masih ingat, betapa shock-nya teman-teman saya semasa PhD yang tau betapa malasnya saya ketika melihat saya yang sekarang dan berani mengatakan orang lain sebagai liability.

Tapi, di satu sisi saya juga mempertanyakan terus, haruskah saya tetap di sini. Go thru all the way di startup game. Permainan ini begitu mengasyikkan. Saya tidak ingin terhanyut.

Stasiunnya Para Kekasih

Dulu waktu di Singapura, waktu-waktu di perjalanan banyak saya habiskan dengan menulis. Entah itu di wordpress, di path. Hari-hari rasanya ada inspirasi baru. Ada misteri baru di kehidupan ini yang tersibak.

Sekarang ini kalau di kereta biasanya udah sulit buat mikir. Sudah terlalu lelah. Masa-masa setaun ke belakang ini ketika berjibaku merintis startup dan mencoba memecahkan problem ayam dan telor adalah masa yang begitu menguras fisik, mental, emosi, dan juga intelektual.

Sebagai orang yang masih jomblo dan perantau di antara para pendiri yang lain, tentuny saya jadi yang jaga kantor. Jadi yang kudu siap weekend-weekend masih kerja atau ketemuan sama orang. Dan karena tinggal sendiri, otomatis pikiran saya benar-benar terkonsumsi oleh si startup ini. Mungkin hanya ada beberapa periode singkat ketika saya punya distraksi lain.

Pergolakan mental yang saya alami selama setahun ke belakang ini cukup banyak. Dan saya berekspektasi beberapa tahun ke depan masih akan bertambah. Tapi, tentuny senjatanya harusnya semakin canggih sih.

Kadang saya selalu refleksi dan melihat lagi, dulu ketika memutuskan untuk pulang, apa sih yang saya cari? Salah satunya mungkin ingin bersama orang tua dulu. Mempertebal iman takwa dulu, karena saya tahu bahwa saya lemah di situ.

Tapi, namanya manusia tidak tahu bersyukur. Ada saja keluhannya. Dan tiba-tiba saya membangun startup ini dengan tekanan yang tinggi. Hampir beberapa hari sekali saya berpikir untuk berhenti. Terlalu berat. Dan terkadang terlalu menyiksa mental saya. Saya benar-benar dipaksa untuk keluar dari diri sendiri. Melakukan hal-hal yang tidak saya sukai.

Memang di situ mungkin seninya bersyukur. Salah satu alasan saya quit PhD adalah karena merasa saya gagal bersyukur dan bersuka cita di dunia akademik.

Dan di masa-masa kegamangan itu tentunya saya banyak berbincang dengan ibu saya. Ibu saya suatu ketika pernah membagikan berita tentang Kang Emil yang bilang kalo ibunya adalah mentornya. Ibu saya bilang kalo dia pengen jadi kayak gitu buat anak-anaknya.

Saya mungkin harus bersyukur. Ibu saya bisa jadi mentor dalam banyak bidang. Mentor bisnis. Mentor agama. Mentor hubungan interpersonal. Bahkan mentor cinta. Hanya mentor akademik dan teknologi aja yang blank.

Ibu saya lebih dari khatam untuk urusan membangun dan menutup perusahaan. Saya belajar banyak sekali dari obrolan demi obrolan itu. Termasuk soal membangun kultur.

Sebab rupanya ada value-value yang halus/subtle tapi dapat membuat perbedaan. Saya diceritakan juga masa ketika ibu saya merelakan orang-orang yang sudah bekerja bertahun-tahun bersama-sama untuk mencari tempat baru karena perusahaannya sedang kolaps. Menariknya, biarpun sudah lama sejak perusahaan itu tutup, orang-orang yang pernah berkarya di sana justru membentuk perkumpulannya sendiri. Itu yang begitu berkesan bagi ibu saya.

Saya pun berpikir, mungkin memang yang harus diabadikan adalah kebaikan. Friendship. Kekeluargaan. Kalau lihat film-film luar pun, mau sebengis apa ceritanya, mau sekapitalis apa, ujung-ujungnya tokoh-tokohnya menganggap diri mereka keluarga bukan sekedar rekan kerja.

Oh iya ngomong-ngomong suka dukanya jadi founder yang perantau, ya otomatis ga bisa segampang itu ketemu ortu. Karena ya udah pilihan hidup juga ya, jadi ceo yang punya peran begitu sentral di startup yang baru lahir. Ada yang bilang si company ini ya di-define ceo nya. Karena ceo yang jadi interface antara semua stakeholder.

Kalo buat saya, suka dan duka itu sudah berpadu ya. Suka adalah duka. Duka adalah suka. Sukanya jadi ceo adalah dukanya juga. Duka harus ketemu beragam orang di kala weekend. Menghabiskan waktu di luar jam ngantor untuk menyendiri dan mikirin company. Experience-nya tentu lebih kaya. Termasuk knowledge dan wisdom yang didapet juga lebih broad. Tapi ya itu bayarannya. Kesendirian. Kelelahan. Pikiran yang jalan terus. Pekerjaan yang tidak habis. Tekanan dari sana sini. Dari atas dan bawah. Dan keharusan untuk memahami sana sini.

Tapi, sering sekali saya menimbang dan berkontemplasi. Entah itu di malam hari setelah meeting dengan orang. Atau dini hari sehabis syuting atau diskusi dengan orang. Apa sebenarnya yang saya kerjakan dan kejar? Apa yang dicari? Bukankah saya nggak melakukan ini semua dengan harta dan untuk jadi kaya? Tapi, nature dari dunia bisnis adalah maximizing profit.

Dan itu semua selalu dibenturkan satu sama lain. Ada banyak nilai yang ditempurkan. Mana yang jadi prioritas.

Nah, rasanya cukup panjang ngalor ngidulnya. Saya mau kembali ke judul tulisan ini. Sudah beberapa minggu ke belakang ibu saya sakit. Sakit satu sembuh, eh rupanya sakit yang lain. Tadinya juga saya rencana cuti. Eh, malah sekarang salah satu cofounder saya sakit. Dan ada beberapa hal yang memang masih saya sentris. Masih dalam proses untuk bisa dilegasikan.

Maka saya pun akhirnya hanya bisa telepon-teleponan dengan ibu saya. Yang lucu adalah kemarin atau 2 hari lalu ya (sekarang ini ingatan saya soal waktu kadang terdistorsi, waktu berlalu sangat cepat sekali)

Jadi, adik saya cuti untuk pulang. Kata mama, dengan sedihnya adik saya menceritakan betapa dia dihantui terus oleh kematian. Betapa kematian rasanya mengintai dan begitu dekat. Memaksa dia untuk jadi orang baik. Terpaksa harus ikhlas ketika dijahatin orang. Dan kadang dia merasa bahwa kematian itu lebih baik, daripada tersiksa di dunia.

Tapi, alih-alih ibu saya sedih karena adik saya cerita seperti itu, ibu saya malah ketawa. Adik saya jadi ikut ketawa juga. Masa iya, udah dibela2in cuti. Ngomong gini juga susah, takut mamanya sedih. Eh, mamabya malah ketawa.

Saya juga mungkin akan ketawa sih kalau lihat adik saya cerita kayak gitu. Walaupun bukan berarti tidak respek ya dengan hal itu. Karena kebalikannya, bagi seorang anak manusia untuk bisa berpikir seperti itu adalah sebuah anugerah.

Bapak yang merupakan panutan zahiriyah kami juga bilang bahwa mindset seperti itu adalah mindset para kekasih. Setiap orang punya caranya dan masanya untuk berpikir seperti itu. Beda-beda karena cara Tuhan mengajarkan memang spesial. Mungkin kesannya aneh, kok ada manusia capek dengan dunia dan pengen “disegerakan” aja (tapi in a good way). Cuman sih, selama kerjaan beres, ya bagus kan. Ketika fasenya lewat, dan keinginan untuk disegerakan sudah tiada, tapi mindsetnya bahwa dunia ini sementara tetap tinggal, hasilnya adalah takwa.

Siapa yang tidak ingin seperti itu? Bukankah itu adalah impian bagi mereka yang beriman. Dapat memainkan dunia dengan permainan tingkat tinggi tapi hati tak terbeli dan selalu ingat mati.

 

*ditulis di KRL Bogor Jakarta meski sempat terinterupsi obrolan dengan teman yang sedang nego2an/cocok-cocokan buat bisa join

Menemukan Kebaikan Tuhan dari Kemarahan Orang

Baru-baru ini ada yang mengusik pikiran saya yang membuat saya begitu gundah. Fokus pada pekerjaan begitu sulit, padahal saya ada di sana. Tapi pikiran ke mana-mana, hati tercabik-cabik.

Mungkin saya kecewa kepada orang lain. Yang pasti, saya juga kecewa pada diri sendiri. Tapi saya selalu yakin, dan refleksi yang saya tuliskan selama ini di blog ini adalah bekal yang sudah saya siapkan untuk menghadapi hari-hari ini. Hari ketika rasanya saya ingin enyah dari dunia ini. Ingin pergi menyepi entah di mana, tanpa ada seorang pun yang menemui. Saya pun sempat menutup blog ini. Karena merasa agak gimana dengan diri sendiri.

Tapi ya itu tadi, saya tau saat seperti ini akan datang. Meski untuk menjalaninya tetap tidak mudah.

Saat ketika saya harus menghadapi kemunafikan diri sendiri.

Triggernya adalah dia, seorang teman. Seorang teman yang membuat saya pernah ada pasa kebahagiaan dan impian yang begitu menggelora. Cinta kepada wanita? Saya pernah, tapi tak sedalam ini. Dicintai wanita? Tidak kalah sering, tapi tak ada yang [pernah] sedalam dia dalam [pada suatu ketika] mencintai saya. Dia yang membuat saya berpikir, mungkin akan ada orang yang bisa memahami jalan pikiran saya dan bisa diajak berjalan bersama. Dia yang membuat saya ingin sesuatu yang lebih dari sekedar kesendirian.

Dia adalah wanita pertama non-keluarga yang memberikan saya mushaf al-Quran dengan sengaja. Dia adalah wanita pertama yang ingin mendengarkan saya mengaji. Dia wanita pertama yang pernah berkata ingin menunggu saya, menjadikan saya Imam, dan lain-lain.

Tapi benar kata Bapak, hidup adalah misteri. Dan sudah seharusnya kita bersama Yang Maha Misterius. Benar kata Bapak, harusnya saya mulai mendekat, memperbaiki hubungan dengan Tuhan, menjalankan PR sesuai dengan porsinya. Sebab, tanpa itu semua, biji-biji takdir tak akan mekar jadi bunga, meski dia ada di sana, di pekarangan rumah sendiri.

Dan selayaknya kisah-kisah yang penuh hikmah, penyesalan datang di belakang. “Andai saja aku mematuhi hukum Tuhan, mungkin aku sudah bahagia.

Hari ini saya membaca-baca lagi mushaf pemberian dia, buku pemberian dia. Begitu menohok.

Saya masih ingat betapa larutnya saya dalam perasaan bahagia karena menjadi orang yang dia sayang. Setelah tahun demi tahun interaksi yang timbul tenggelam namun selalu ada. Setelah ucapan perpisahan demi perpisahan yang terus diungkapkan namun berujung pertemuan kembali. Setelah menunggu berbulan-bulan untuk menanti sebuah jawaban namun akhirnya mendapatkan “tidak“.

Lalu hingga suatu ketika takdir membawa kami pada sebuah situasi oksimoron. Dan keesokan harinya Tuhan menakdirkan dia untuk menyayangi saya, meski dengan segala keraguan menjadi fondasinya. Saya masih ingat sebuah malam, ketika di sebuah kafe, saya berusaha meyakinkan dia untuk mencoba ini. Hipotesisnya adalah: hanya karena sebuah lagu harus berakhir, bukan berarti kita tak bisa menikmatinya. Dia yang ragu bahwa dua pikiran yang kompleks bisa bersatu, sedangkan saya yang masih merasa dia adalah salah satu orang yang paling nyambung dengan saya. 

Pada akhirnya kami saling berkata pada satu sama lain, mungkin kelak salah satu dari kami akan mematahkan hati yang lain. Tapi, siapa yang bisa mematahkan hati kita selain diri sendiri. Mengapa tidak profesional saja? Perasaan masing-masing urusan masing-masing. Tapi, mari kita coba saja, berdua jadi teman berbincang yang lebih akrab untuk saling mengenal dan saling mengingatkan.

Begitu rencananya. Eskpektasi masing-masing silahkan dikelola. Jodoh urusan Tuhan, tapi bukan berarti tidak diusahakan. Kita boleh bikin rencana.

Lagu itu pun terputar. Musiknya begitu kaya. Ada suka yang begitu menggelora. Disertai palung-palung duka yang bergelombang. Di situlah saya memahami bahwa saya telah larut, persis seperti lagu Dewa 19 yang pernah saya nyanyikan untuknya.

Hari demi hari pun penuh dengan beragam pelajaran hidup. Petualangan bersamanya membuka cakrawala. Ada saja hal-hal kecil yang bisa diperas jadi kebijaksanaan besar. Tentang banyak hal. Dari yang sempit hingga yang luas. Dan memang itulah yang sudah saya rasakan dari sekitar 5 tahun lalu ketika pertama mengenal dia. Itulah yang membuat saya masih ingin tahu hidupnya, dan sesekali mengobrol meski tidak selalu intens.

Tapi, seperti hipotesis saya, lagu yang begitu intens itu pada akhirnya harus berakhir juga. Rasa manusia bukan miliknya. Segala bincang-bincang yang membawa suka harus berakhir. Saya yang begitu dingin sudah meleleh. Tapi dia justru membeku.

Saat ketika hari-hari berlalu tanpa ada berbincang dan kabar darinya membuat saya merasa lagu yang diputar adalah Love of My Life. Dia adalah teman. Dia adalah cinta. Tapi dia sudah pergi. Tak sama lagi.

Dan upaya-upaya setelahnya, ketika dilihat ke belakang, adalah pemaksaan yang saya lakukan. Memaksa minyak untuk bersatu dengan air.

(Atau lebih ekstremnya, sudah berubah menjadi nafsu untuk menyayangi. Atau nafsu untuk disayangi? Entahlah. Sepertinya lebih ke yang pertama.)

Tapi, itu karena saya pikir kami sejenis. Sebab di saat-saat kelarutan itu pun saya sering berpikir? Benarkah kami sefrekuensi. Apakah perbincangan begitu panjang itu bisa terjadi jika kami bermasa jenis yang beda?

Saya ingat titik-titik keyakinan itu. Ketika kami melalui banyak dinamika berdua dan seolah dengan kelemahan yang kami punya, kami masih berharap semoga Tuhan melihat upaya keras kami. Semoga Tuhan senang atas momen-momen perjuangan kami. Di titik itu, seolah kami berbeda nol derajat.

Di titik itu rasanya semua konflik yang ada di antara kami hanya saling menguatkan persahabatan yang kami punya. Semakin memahami satu sama lain. Atau memahami bagian-bagian yang tidak kami pahami dari satu sama lain? Yang jelas kami menghargai persahabatan yang kami punya dan berupaya mengisinya dengan nilai-nilai positif. Meskipun pada akhirnya selalu ada noda. Memang tak ada hubungan yang sempurna, lancar-lancar saja kan?

p_20190110_211148

Dulu saya selalu mencari hubungan yang sempurna. Tapi itu tak pernah ada, kata teman saya. Maka saya pun berusaha mempertahankan persahabatan yang (ketika hangat) begitu hangat ini.

Lalu tibalah hari itu. Hari ketika dia, wanita yang mengajari saya untuk bersyukur, bekerja keras, dan tidak perlu mengutuk diri sendiri dalam kemunafikan yang saya punya sebagai role model.. mengatakan bahwa saya munafik dan double standard atas sesuatu yang saya perbuat.

Dia tidak salah.

Ya, saya munafik, bukankah itu yang selama ini saya akui. Tapi kalau saya munafik di sini, bukan berarti saya harus munafik di sana kan? Saya pikir begitu sih. Kesalahan harus diakui, tapi tak boleh diekstensifikasi. Namun, bisa jadi porsi saya melampaui batas jadi lupa diri? [mungkin saya sedang bersekutu dengan malaikat jadi lupa kalau bersekutu dengan setan kalau bahasa ibu saya seperti yang ada di bawah]

Entahlah, ketika dia berkata seperti itu, saya jadi bercermin pada diri sendiri. Saya percaya semua sudah diatur. Apa yang saya lakukan telah dituliskan 50.000 tahun sebelum alam semesta diciptakan.

Dan pastinya Ada yang menggerakkannya berkata demikian. Siapa lagi kalau bukan Tuhan?

Saya jadi memahami sudut pandangnya. Tentunya dia benar dalam sudut pandangnya. Saya pun merasa benar dalam sudut pandang saya. Tapi dua kebenaran pun belum tentu bisa sejalan, terkadang. Masing-masing punya jalannya.

Mungkin benar, saya telah digerogoti ego karena ketidakikhlasan dan rasa takut kehilangan. Terlampau nafsu untuk mencintai sampai-sampai lupa diri dan tergesa-gesa.

p_20190110_210858

Tapi tidak salah juga upaya untuk menyampaikan kebaikan bukan? Sebab saya pikir, saya hanya melakukan apa yang dia pernah pesankan kepada saya. Cara yang dia harapkan tentang bagaimana saya menempatkan diri dari terhadapnya.

Saya pun tersadar. Mungkin orang yang mengatakan itu sudah tertinggal di masa lalu. Jadi saja, saya gagal menempatkan diri, menempatkan rasa, dari apa yang orang di masa kini inginkan.

Padahal, niat saya semata-mata sih kayak di lagu Queen:

Why don’t we give love one more chance?
Love’s such an old-fashioned word
And love dares you to care for
The people on the edge of the night
And love dares you to change our way of caring about ourselves

(Tidakkah kita sadar bahwa kita adalah kita yang sekarang, detik ini, bukan sedetik lalu dan bukan sedetik ke depan?)

Kalau ibu saya:

[3:26 AM, 1/9/2019] Dunia ini ada 3 macam…
Yang 100 % buruk itu setan….
Yang 100 % baik itu malaikat
Yang antara buruk dan baik itulah manusia…..

Karena kadang manusia bisa bersekutu dg setan…tp kadang mendengarkan bisikan malaikat…

Payahnya…ketika seorang anak manusia ini sedang mendengarkan bisikan malaikat…kadang lupa bahwa ia pun pernah bersekutu dg setan…..
[3:31 AM, 1/9/2019] Nek di judulkan gini….

Saat bersekutu dg malaikat kadang jadi lupa jika pernah bersekutu dg setan…..

Maafkan aku,jika mencintaimu dengan cara yg bukan seperti yang kau mau….he he….
[3:37 AM, 1/9/2019]belajar menahlukkan ego itu mmg tidak mudah…perlu terbentur suatu peristiwa demi peristiwa utk sampe pada sebuah kesadaran bahwa masih ada ego yg harus di kendalikan…dan ada kemunafikan yg perlu di luruskan…..

Tapi yg penting kita ada dlm posisi paham bahwa diri kita di jalan yg salah,yg bahaya adl jika kita ‘tidak paham’ bahwa diri kita salah….

Ukuran benar-salah tentu lah bukan nilai2 manusia,tp nilai2 Tuhan yg rujukan nya ada pada Qur’an…..

Yang jelas, kembali lagi. Pasti ada hikmah dibalik semua. Karena orang itu marah dan membenci kita sekalipun, pasti ada pesan Tuhan di sana. Ada izin dari-Nya.

Dan sejujurnya, ketika untuk pertama kalinya saya melihat dia marah. Saya hanya bisa terdiam. Banyak terdiam.

p_20190110_211043

Buat saya, hikmahnya adalah saya jadi lebih terbuka lagi dengan orang tua saya. Orang tua saya bisa menasihati saya. Saya bisa lebih fokus pada diri sendiri, lebih ditampar lagi bahwa memperbaiki akhlak itu harus disegerakan (walaupun ya saya sendiri masih belajar dan merasa stuck, tapi katanya kita harus berprasangka baik pada Tuhan).

Dan kita yang manusia berlumur dosa ini memang perlu menilik kembali betapa kita telah melampaui batas.

No! [But] indeed, man transgresses

Apa-apa yang dia siratkan seolah mengingatkan saya pada apa-apa yang Tuhan katakan. Dan sebenarnya hal-hal ini yang membuat saya galau.

Begitu banyak yang bisa dikaji dari sebuah kejadian. Dari banyak sisi. Dari tema A sampai tema Z.

Dan ini begitu pas sekali untuk mengingat lagi bahwa tak ada manusia yang sempurna dan bebas dari salah sebagaimana difirmankan:

O you who have believed, do not follow the footsteps of Satan. And whoever follows the footsteps of Satan – indeed, he enjoins immorality and wrongdoing. And if not for the favor of Allah upon you and His mercy, not one of you would have been pure, ever, but Allah purifies whom He wills, and Allah is Hearing and Knowing.

24:21

Ini mengingatkan saya lagi tentang cinta yang tak boleh melalaikan.

Say, [O Muhammad], “If your fathers, your sons, your brothers, your wives, your relatives, wealth which you have obtained, commerce wherein you fear decline, and dwellings with which you are pleased are more beloved to you than Allah and His Messenger and jihad in His cause, then wait until Allah executes His command. And Allah does not guide the defiantly disobedient people.”

9:24

Ini mengingatkan saya lagi tentang kemunafikan-kemunafikan yang perlu diluruskan.

And when it is said to them, “Do not cause corruption on the earth,” they say, “We are but reformers.”

Unquestionably, it is they who are the corrupters, but they perceive [it] not.

2:11-12

Mengingatkan juga bahwa sebenarnya kita akan dipertemukan dengan orang-orang yang sejenis.

Evil words are for evil men, and evil men are [subjected] to evil words. And good words are for good men, and good men are [an object] of good words. Those [good people] are declared innocent of what the slanderers say. For them is forgiveness and noble provision.

24:26

Makanya semua indah ketika kita jadi orang baik. Sekeliling kita akan jadi baik.

Begitu pula sebaliknya, kalau ingin jadi orang baik, kita harus mengelilingi diri dengan orang baik, sebab katanya Nabi Ibrahim saja berdoa demikian

Bahkan Ibrahim ‘alaihissalaam tahu, manusia membutuhkan manusia lain untuk mendapatkan dukungan. Anda tidak bisa menggenggam iman Anda sendirian. Anda butuh orang lain untuk mendapat dukungan. Dan dia berdoa kepada Allah, “Ya Allah berikan aku teman orang-orang yang baik.” (26:83)
*kutipan diambil somewhere over the internet

Dan orang-orang yang tidak sejenis pun akan berpisah juga pada akhirnya.

Manusia disatukan/pisahkan oleh nilai2 yg dianut nya. Apa yg terjadi adalah sekedar sebab, itu sekedar dinamika nya sj, akhir nya manusia akan mengelompok dgn yg sejenis… Tdk usah membuang waktu dgn berupaya menyampur minyak dgn air. Wasting time. Air akan tetap air, minyak akan tetap minyak. Air dn minyak bahkan memiliki ” kebenaran nya ” sendiri.

Apa yg terjadi sdh lah pasti terjadi, hanya alasan nya apa dn waktu nya kapan.

Oleh sebab itu tdk perlu ada kebencian antara minyak dan air, gagak dan rajawali, ayam dan merpati, mereka memang sdh pasti begitu..

Penjelasan pun tiada guna krna bukan masalah penjelasan, tetapi ini masalAh jenis…

Kita bersyukur disatukan dgn yg sejenis disinilah Kita merasa nyaman. Demikian pula orang2 lain yg bersyukur bersatu dgn jenis nya..

Siapa yg lebih baik ? Tdk ada yg lebih baik… Bagi Tikus yg terbaik adalah Tikus, bagi marmut yg terbaik adalah marmut

Tikus tdk ingin menikah dgn gadis marmut sekalipun… Demikian sebalik nya

Kita memahami Kita dan Kita memahami […….], tanpa merasa bhw Kita lbh baik… Kita sllu memohon petunjuk dn perlindungan Allah Swt.. Tidaklah layak Kita mrs lebih baik…

Kita terkadang membuang waktu supaya bs bersatu, tdk mungkin itu. Semangka berdaun sirih hanya ada pada lagu.. Atau pada lukisan

Bukan soal kalah menang, soal baik buruk, ini soal jenis… Biarlah Tuhan yg menilai…

Memahami ini penting, agar Kita jernih dan memiliki rasa hormat kepada siapa saja, tdk mrs lebih baik dari siapa saja. Agar Kita juga bertekad kuat menjadi lbh baik dari hari kehari…

Semoga Allah Swt menolong Kita

Tiap hari Kita harus bertanya am I happy dan apakah aku dijalan yg benar ?

Semua konflik terjadi dilakukan oleh orang2 yg merasa benar.. Firaun pun ketika berhadapan dgn Nabi Musa merasa benar… Kita perlu berhati hati benarkah Kita bukan Firaun ? Semoga Allah Swt memberi petunjuk

Iya, air lbh paham pada diri nya, jg minyak lbh paham pd diri nya.

Allahu A’lam

Kita bersyukur dikelilingi orang2 yg kita cintai dn Kita pergi ketempat dimana Kita dicintai…

Jose Mourinho, aku pergi ketempat dimana orang2 menyintai ku… Chelsea..

Ada orang tidak yakin dgn [………….], memang keyakinan tdk bs dipaksakan. Keyakinan adalah dirasakan.. Jd tdk apa apa tdk sepakat dgn [….], tidak berdosa, apalagi salah adab…

Kesimpulan: mari bersyukur, karena Allah Swt telah memberikan yg terbaik dan tetap tawaduk karena hanya dgn rahmat Nya lah Kita bs selamat… Aamiin…
Kutipan fatwa dari guru saya YM Abu yang beberapa objeknya saya hilangkan demi menjaga konteks/relevansi dan substansi

Dan semua ini mengingatkan kembali saya, pada ilham yang saya peroleh pada suatu ketika. Bahwa semua pasti ada maksudnya. Pasti Tuhan sedang mengedel-edel hidup kita supaya dirajutkan yang lebih baik. Supaya kita menjadi lebih baik dan dipertemukan dengan orang-orang yang bisa mengantat kita jadi lebih baik.

Bisa saja jasad-jasadnya sama. Bisa juga tidak sama. Yang penting isinya, dari mana datangnya. Kalau ada kebaikan, sudah pasti datang dari Tuhan. Meski datangnya lewat amarah sekalipun, jika mendatangkan kebaikan, pasti datangnya dari Tuhan.

Meski yang bilang manusia, bisa jadi ada firman Tuhan di dalamnya.

Dia yang dulu ingin diperjuangkan, pada akhirnya ingin dilepaskan. Memang benar segala perasaan, sepatutnya dikembalikan pada Sang Tuhan. Akhirnya masing-masing pribadi harus kembali mencari penyelamatan.

Namun, pada akhirnya saya bersyukur dan meyakini segala pertemuan pasti ada maksudnya. Kalau tidak, tentu malam ini saya tidak bisa mengaji ayat-ayat ini bukan, di al-Quran yang dibelikan olehnya.

p_20190110_211025

*ditulis kemarin malam, waktu blog ini saya buka lagi ke public.

**atas apa yang terjadi, saya sudah meminta maaf dan dia pun memaafkan.

 

Perziarahan Ke Silicon Valley

Saya adalah seseorang yang sangat jarang melakukan perjalanan untuk sekedar berlibur. Kebanyakan dari perjalanan yang saya lakukan bersifat perziarahan ataupun untuk hal-hal yang penting.

Memang, beberapa kali orang-orang juga menyuruh saya berlibur atau sekedar jalan-jalan ke tempat baru. Katanya sih, refreshing itu perlu. Beberapa orang ingin berkeliling dunia, berpetualang. Dulu saya pernah juga sih untuk saat yang singkat, ingin berpetualang. Tapi, lebih ke mencicipi tinggal dan berkarya di berbagai negara, bukan sekedar mengunjungi tempat-tempat wisata. Hanya saja, pada akhirnya saya merasa bahwa petualangan saya adalah petualangan yang lain. Beberapa bilang ke saya bahwa ini terjadi karena saya belum merasakan asyiknya berjalan-jalan.

Nah, beberapa waktu lalu saya mendapatkan kabar bahwa saya harus bepergian ke Amerika Serikat, tepatnya di negara bagian California, di daerah Mountain View. Ketika memberi tahu teman saya, mereka bilang ini keren, kenapa saya nggak excited?

Saya bersyukur dan sangat bersemangat tentang acara yang akan saya jalani. Bahkan, saya berharap banyak. Tapi, kalau boleh jujur, soal perjalanannya sendiri memang tidak terlalu membawa excitement. Mungkin ya karena saya bukan orang yang doyan traveling? Mungkin juga karena ada banyak hal yang terus dipikirkan.

Dan, beberapa orang melihat dari sisi kerennya atau tampilan seolah-oleh suksesnya. Saya sendiri lebih merasa ini adalah bagian dari keprihatinan dalam menjalankan misi hidup, yakni membuat startup edukasi yang sedang saya jalani.

Saya percaya semua sudah ditakdirkan. Semua sudah digariskan. Tuhan punya rencana. Kita miskin papa, tapi Tuhan Maha Kaya. Saya sendiri mengisi hari-hari saya bergelut supaya iman bisa nggak tipis-tipis amat. Karena katanya, untuk memperbaiki hidup, kita harus memperbaiki hubungan dengan Tuhan terlebih dahulu.

Beberapa orang mungkin merasa: loh harusnya kita ikhtiar dulu kan baru tawakal? Tapi di titik tertentu dalam perjalanan hidup seseorang, akan ada masa di mana dia tahu bahwa nilai ikhtiarnya itu tidak ada apa-apanya sebenarnya. Sebab daya untuk berikhtiar pun sebenarnya dari Tuhan. Dan daya untuk bertawakkal pun begitu.

Beberapa minggu sebelum hari keberangkatan ke US adalah masa yang hectic buat saya. Untungnya visa sudah terurus (oiya ngurus visanya cukup ribet, tapi alhamdulillah dapat visa setelah harus menjelaskan tentang startup kita/pitching ke pewawancara). Selain banyak urusan personal dan profesjonal, saya juga harus berziarah sekaligus bertakziah ke Medan.

Adalah sebuah kesedihan, yang hingga kini masih saja membawa air mata. Sebab seseorang yang membuat saya tidak bisa tidak percaya lagi pada Tuhan dan agama, telah berlindung. Adalah suatu kesedihan yang sampai sekarang berobati karena saya belum dapat menjadi murid yang shiddiq. Semua orang kalau ditanya, tentu ingin berbakti dan membantu guru spiritualnya, Ulama-ulama pewaris Nabi. Sementara sebenarnya, menjalankan PR saja sulit sekali. Kata seorang Syekh, kalau kita bisa ngerjain PR kita saja, sebenarnya sudah sangat meringankan mereka.

Saya pun dalam masa ini merasa menjalani kehidupan startup itu sangat menantang. Berat, kalau mau realistis. Apalagi jadi seorang CEO. Padahal startup ini masih kecil. Apalagi jadi seorang pewaris tugas para Nabi. Tak terbayang seperti apa beratnya. Tak heran, di Al-Quran pun disebutkan demikian.

Saya adalah orang yang percaya dengan takdir dan hukum Tuhan. Bahwa ketika ada sesuatu yang tidak lancar, itu bisa terjadi karena dosa-dosa yang menghalangi kita dari rahmat. Dan ketika itu terjadi, itu adalah bagian dari ketentuan dan ketetapan yang telah digariskan.

Saya beruntung, Tuhan masih memberkati sehingga ada saja kemudahan dalam perjalanan ini.

Tapi, kalau ada satu kesimpulan dari perjalanan kali ini yang begitu membekas di benak saya bahkan sedari pertama menginjakkan kaki di San Fransisco adalah:

Di manapun kita berada, Tuhannya sama.

Saya mungkin sedang berziarah ke Silicon Valley, tempat di mana perusahaan-perusahaan teknologi pengubah dunia terlahir. Kalau dari dulu Silicon Valley itu hanya sekedar cerita-cerita belaka, atau film-film aja, atau denger-denger aja, sekarang saya udah bener-bener ngerasain udara dingin winter-nya sampai tangan jadi kering dan mengunjungi kantor Google, Apple, kampus Stanford.

Bahasanya sih haqqul yaqin ya. Dan dalam pengalaman itu benar-benar saya merasa bahwa semua ini adalah kehendak Tuhan, Tuhan yang sama di mana pun, kapan pun.

Dulu pernah waktu di Singapura, saya berkhayal untuk menjadikan Amerika Serikat sebagai persinggahan berikutnya. Sempat apply conference tapi direject. Sempat berkhayal mau postdoc di sana atau bahkan ambil MBA kalau PhD saya lulus. Dan bahkan dulu ada teman yang secara random ngajakin saya dateng info session dari GSB Stanford.

Dan akhirnya, Tuhan memberikan saya liburan, tanpa saya minta. Saya dikirimkan juga teman-teman perjalanan yang membuat saya benar-benar merasakan liburan. Bahkan termasuk berkunjung ke kamus Stanford.

Oh iya, di proses perjalanan ini saya menemukan orang-orang yang tulus sekali. Melihat ketulusan mereka saja saya sampai menangis, kenapa ada orang setulus ini? Ada kebaikan-kebaikan yang luar biasa yang dilakukan. Memang orang baik itu ada banyak betul di dunia ini. Dan lagi-lagi, itu adalah kerjanya Tuhan. Untuk menunjuki kita bahwa ada orang yang jauh lebih ringan tangan dari kita. Untuk menunjuki bahwa kita benar-benar masih jauh dari baik.

Tak lupa juga, saya merasakan jumatan di sini. Khutbah jumatnya pun luar biasa: tentang mensyukuri nikmat-nikmat dari Tuhan yang sering tidak kita sadari saking banyaknya. Dan juga tentang kezuhudan yang hakiki dari kisah Nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman memohon kepada Tuhan untuk diberikan segalanya, diberikan kerajaan yang tak tertandingi. Namun, itu tidak pernah membuatnya lupa untuk taat dan kufur nikmat. Keluhan semut-semut saja diperhatikan.

Ya, pada akhirnya kebijaksanaannya itu tadi. Di manapun di dunia ini, di pusat peradaban pun, Tuhannya sama. Hukum yang berlaku sama. Sama-sama kebaharuan yang fana. Dan dalam perziarahan kali ini lagi-lagi saya diingatkan tentang Ia Yang Satu, dan kewajiban-kewajiban yang terlupa.

Saya jadi ingat sebuah prinsip yang sudah mulai terlupa: bahwa oleh-oleh terbaik dari sebuah perjalanan adalah ketika keimanan kita bertambah. Semoga saja, perjalanan ini akan menggoreskan lagi satu garis keimanan sehingga kelak keimanan ini tak lagi dapat terhapus meski ada banyak kelalaian yang dilakukan

Mulai ditulis di pesawar, 8 Desember 6:18 -7:07 waktu San Fransisco

Di atas laut Bering, antara Gulf of Anadyr dab Norton sound

It used to be

the air that I breathe.

There were those times when I thought I would never ever stop writing. To pour all my hearts and thoughts out. To bring abstractions which collide in my head to the realm of words; to form a puzzle that would left me befuddled to understand why it had to be written that way.

How cruel is the universe of possibilities? After all, it is the quantum mechanics which triggered the Einstein to wonder whether God plays with dices.

Just like a dice rolling in our mind. Deciding whom to say hi. Or when should we offer a small kindness. Or that hesitation or inaction to say happy birthday to friends. Or when should we drop a message, the important one which gets delayed for (God knows) whatever reason.

In this digital world where everything is recorded and accessible and the imminent danger of datageddon sounds not too much of a fiction.

Yesterday was the night that I wish I had recorded a conversation with a friend. Because I think the only way to make the world understand my truest take on many things about something or someone

But, an event triggers another event. Corollaries. And before long, it would become a series of events that bring someone from a to z, from b to c.

At the balcony, facing the night and dimmed city lights, how in the world could I recall a poem. About a hesitation and an answer. Sometimes, we found an answer not in the answer. We read not between the lines, but between something I don’t have the words for. It’s something before the words. Something before the action. It’s the signal in the brain which dictates the mind.

(have I ever told you, some neuroscience research suggest that we don’t have the free will? Perhaps, reductionism camp is right. We’re just signals. )

…[but.. speaking of consciousness]..

So we move from one moment to another. To stop the time is not the question. Everything seems contiguous, in reality, but we can’t separate the border, in our mind. We experience it all at once. To accept life and all its (seemingly) randomness, which in the end will lead us into one determined path.

I used to believe that love is the foundation. Love is the answer. And Love is the reason why this universe was created. In the first place.

But, what do I truly know about it? Maybe, it’s just a piece of chauffeur knowledge. A shallow play of words.

I guess our understanding about love across many levels is evolving.

Isya Tadi

Aku baru tersadar bahwa telah lama aku tak mengingat kematian dengan sungguh-sungguh. Bahwa dunia ini hanyalah sebuah kesementaraan.

Tadi pula aku mencoba membuka lagi al-Quran. Baru mengaji 2 ayat saja, fokusku teralihkan sehingga aku menyudahi. Tapi, ayat yang ku buka adalah al-Mulk ayat 2. Tuhan menciptakan kehidupan dan kematian semata-mata demi ujian.

Memang, terkadang kita tergoda untuk menuduh Tuhan tidak adil dengan segala aturan yang dibuat-Nya. Tapi, kita mau ikut siapa?

Oh iya, aku pikir, janji kita kepada Tuhan adalah janji tertinggi dan terdini. Janji-janji lain seharusnya akan ditimpa oleh janji ini. Janji bahwa kita mau ber-Tuhan tak boleh kalah dari janji-janji kepada manusia.

Aku rasanya ingin sekali memperbaiki hubungan dengan Tuhan. Tadi pun aku kembali berbincang dengan ibu untuk membicarakan ini semua. Dan, aku ingin menulisny di sini sebagai titik awal, niatan, supaya ketika aku membuka tulisan ini, aku jadi teringat lagi. Lalai lagi, ingat lagi, terus seperti itu.

Pernah kukatakan pada sahabatku bahwa mungkin hari ini aku lelah dengan semuanya, tapi suatu saat aku akan melihat ke belakang dan mengerti serta tak akan menyesali upayaku untuk terus mencoba, lagi-dan lagi.

Semoga Tuhan berkenan memberikanku kekuatan untuk mendekat kepada-Nya dan kembali ke rengkuhan serta perlindhungan-Nya.

 

 

Longing for a Loneliness

Dalam detik-detik yang kuhabiskan bergulat dengan pikiran demi pikiran yang menerjang kepalaku, selalu banyak tanya dan reka di sana yang muncul tanpa dimau. Tentang kesulitanku untuk berkompromi dengan pikiran-pikiran dangkal orang lain meski dengan intelijensi yang tinggi, atau tentang mereka-mereka yang tak paham hakikat seni.

Pada akhirnya aku hanya dapat berpuisi, menunggu kelak tiba saatnya untukku benar-benar menyendiri. Berkawan segala sajak-sajak dan melodi di tengah pantai. Di sana aku bisa berdiskusi dengan lawan diskusi yang seimbang bagi pikiranku: pikiranku sendiri. Aku akan mengenakan beragam topi. Topi-nya Camus, topi-nya kaum Jabariyah, atau pun Neo-Atheis. Aku akan tenggelam dalam lautan abstraksi, sebuah ilmu yang menurutku paling tinggi, sebab dia bukan alat. Dia adalah murni imajinasi. Tak terkekang oleh hukum alam maupun keterbatasan alat untuk percobaan.

Aku akan menari persis seperti bagaimana jemariku mengetik tulisan ini tiada henti. Tak ada penghapusan. Tak ada jeda dalam pikiran. Semuanya mengalir bak fluida. Aku bisa tinggi tanpa harus minum yang macam-macam. Memang dari sana adanya pikiranku tercipta. Tercipta sebagai pikiran yang berada di atas rata-rata atas. Tak kenal lelah.

Kadang aku pikir upayaku untuk berdamai dengan alam pikirku telah usai. Ya, mungkin telah usai. Usai sudah kesempatan emas demi emas itu. Usai sudah segala optimisme semu. Namun kelihatannya aku masih belum dapat berdamai dengan manusia. Dengan makhluk lain. Dengan jalan-jalan yang tak pernah aku prediksi lajurnya.

Tapi ku pikir, aku adalah orang paling pesimis di dunia. Aku paling realistis. Kadang ku pikir, ada paham absurdis dalam diriku. Aku tak jarang menganggap semuanya sebagai nirmakna. Tapi, tetap saja aku bermain-main di atasnya.

Sampai hari ini aku tak lelah mencari paralelisme antara semuanya. Antara sains, filsafat, dan agama. Entah sampai kapan otak ini ada lelahnya. Karena pada hakikatnya aku hanya bermain-main dengan pikiran karena itu menyenangkan. Tak ada buku. Tak ada jurnal. Tak ada apa-apa yang berguna yang dihasilkan. Hanya kesenangan saja.

Tapi bukankah memang begitu? Hanya karena kita tidak menemukan makna, bukan tidak mungkin kita bisa menikmatinya.

Aku terkadang berpikir, dunia mungkin lebih enak kalau isinya orang sepertiku semua. Yang menanggapi perasaan dengan profesional. Sebagai riak-riak hidup belaka sebagai makhluk bernama manusia. Aku tak merasa sakit hati. Aku pikir adalah wajar bagi orang lain untuk berkata yang menyakiti. Sebab itu muncul dari kurangnya empati. Memang terkadang aku pun terbawa emosi. Tapi yasudahlah, begitu kan memang sifat manusia?

Jalani dengan profesional saja. Termasuk soal cinta. Adalah biasa jika orang tak membalas pesan kita. Aku pun tak pernah berpikir orang yang ku tanya harus menjawab. Jadi wajar saja kan kalau aku tak berpikir untuk membalas pesan-pesan.

Lagipula aku bukanlah orang yang mencari ketenaran atau pengidolaan. Aku kesal sebenarnya jika diidolakan oleh siapapun itu. Aku hanya menginginkan hubungan yang profesional sesama manusia. Profesi kita manusia. Dan jadilah manusia yang profesional. Tidak perlu bawa-bawa perasaan.

Mencintai pun harus profesional. Cinta saja tak perlu berharap kembali. Sampai detik ini aku tak berekspektasi orang harus mencintaiku. Bagiku jika kelak menikah, pasangan itu hanyalah partner, tak perlu diambil hati. Tinggal dijalani dengan kompromi saja sepanjang visi masih sama.

Sepertinya itu yang banyak kupelajari belakangan ini dari memulai sebuah company. Kompromi-kompromi dan kompromi-kompromi. Pada akhirnya yang membuat kita bertahan adalah tujuan. Dan penting dalam fasa-fasa berat itu untuk tetap bermimpi.

Dulu ku pikir kehebatan sebuah gagasan lah yang dapat mengubah dunia. Rupanya ia sederhana: komitmen dan ketekunan. Itu yang membedakan orang-orang itu dengan orang-orang ‘itu’

Tapi, tetap sih. Kadang aku rindu saja untuk bisa menyendiri. Berpuisi tanpa henti. Menyanyi. Seperti mockingbird. Tanpa ada kompromi. Hanya aku dan diri sendiri.

Hijab dan Kesenangan Sesaat

Setelah sekian lama tidak menulis tentang hal-hal yang berhubungan dengan spiritualitas, malam ini saya tergerak untuk menulis lagi. Menuliskan hal-hal yang selama ini timbul dan tenggelam di pikiran saya dalam bulan-bulan ke belakang.

Kebetulan, saya sedang mengerjakan video tentang self control untuk channel youtube Hutata. Hal yang menarik adalah, adanya kesesuaian antara penelitian ilmiah dengan nilai-nilai Islam kaffah yang saya yakini kebenarannya.

Tentu saja ini termasuk cocoklogi. Saya termasuk orang yang membeda-bedakan antara sains dan agama sesuai dengan konteks. Saya bukan orang yang percaya tentang islamisasi sains untuk sebuah Unified Theory. Untuk hal-hal yang empirik, ya manut sains lah, karena toh agama Islam juga mengajarkan kita untuk riset, untuk melakukan pengamatan a.k.a membuktikan secara empirik. Namun, jelas untuk hal yang ghaib, itu sudah di luar batas empirik. Itu soal keyakinan, bukan kecerdasan dan wawasan saintifik.

Dan, keyakinan, itu soal keberuntungan. Bukan soal daya upaya manusia.

Saya bingung memulai tulisan ini dari mana, mungkin fase awalnya adalah ketika saya tak sengaja diajak sharing ke sebuah pesantren Muhammadiyah. Di situ saya kembali melihat simbol Sang Surya, dan juga foto KH Ahmad Dahlan dan Nyai Ahmad Dahlan. Tentu saja itu adalah nostalgia, apalagi dulu saya beruntung sekali mendapatkan kelas yang dinamai kelas Ahmad Dahlan, kelas percepatan. Dan mungkin, itu adalah titik keberuntungan pertama dalam kehidupan akademik saya.

Di situ, saya mendapatkan banyak pertanyaan seputar belajar. Apa geregetnya belajar? Bagaimana cara mengejar ketertinggalan belajar? Mengapa kita harus belajar matematika?

Tapi, di situ, yang lebih menohok adalah pertanyaan yang berhubungan dengan nilai-nilai agama. Seperti, bagaimana untuk bersikap bodo amat terhadap lingkungan yang tak sesuai dengan nilai-nilai kita? Bahkan seorang ustad pun bertanya kepada saya, bagaimana untuk meyakinkan keponakannya supaya memilih kuliah jangan ngekos di kota tertentu karena takut mudharat pergaulannya? Kepala sekolahnya juga bertanya, seperti apa murid yang ideal.

Tentu saja di situ saya menceritakan hal-hal yang saya anggap benar. Bukan hal-hal yang saya jalani. (Meskipun dengan itu, saya berisiko menambah-nambah dosa: mengatakan hal yang tidak saya lakukan; saya tidak punya pilihan lain bukan? sebab menghalangi orang lain dari suatu ilmu yang bisa kita sampaikan juga merupakan dosa — memang begitu cara Tuhan untuk “membuat kita memilih secara sadar karena tidak punya pilihan” untuk menggerakkan langkah demi langkah menuju kebaikan.)

Pada ujungnya, memang hidup ini lagi-lagi pertempuran nilai. Saya ceritakan saja kisah Nabi Nuh.

Tapi, ngomong-ngomong soal lingkungan sih ya, rupanya menurut penelitian, self-control, atau kemampuan orang untuk memegang teguh nilai-nilainya itu punya batasan. Batasnya adalah lingkungan.

Orang yang lahir dari lingkungan yang baik, punya kemampuan self-control yang lebih baik. Dan jadi ya, besar kemungkinannya, orang yang terlahir dari keluarga miskin, akan berkembang menjadi orang yang tidak memikirkan manfaat jangka panjang. Mereka lebih memikirkan manfaat jangka pendek.

Saya jadi berpikir, mungkin keberanian saya untuk quit PhD juga tak lepas dari bagaimana saya dibesarkan. Dari kecil saya selalu mendapatkan pengakuan tentang kepintaran dan keluasan wawasan. Sehingga, saya merasa mengakhiri PhD saya adalah hal yang oke. Itu tidak membuat saya menjadi orang yang kurang pintar. Saya tidak mencari-cari pengakuan bahwa saya pintar dengan gelar atau apa.

Dan itu, juga rupanya hal yang harus saya syukuri. Karena nggak sedikit yang tujuannya jadi doktor, atau profesor, untuk pride. Dan dengan itu, dia jadi nggak seberapa bertanggung jawab dengan perannya. Dan mungkin, ini yang terjadi di Indonesia. Ketika sebuah professorship dianggap sebagai puncak. Karena apa? Karena di Indonesia langka. Indonesia miskin doktor, sehingga para doktornya lebih mengejar immediate gratification seperti itu. (mungkin analoginya agak nggak pas, dan saya belum bisa menjelaskan runtut saat ini, tapi di pikiran saya gitu deh, ada kaitannya)

Hal yang saya syukuri lagi adalah, kesadaran tentang nilai. Saya sempat berbincang dengan seseorang teman yang masih tinggal di Singapura Di situ barulah saya sadar lagi. Menjadi doktor bukan berarti seseorang punya attitude yang bikin orang nyaman, entah itu soal kepedulian sosial, maupun kebersihan.

Ngomong-ngomong soal kebersihan, saya juga tadinya termasuk orang yang bodo amat soal kebersihan. Kalau lagi di rumah, saya agak stress karena dituntut bersihan. Terus rada gatel kenapa sih, dikit-dikit harus dibersihin?

Tapi, semenjak tinggal di Bogor dan memulai start-up, saya jadi semakin menyadari tentang kebersihan. Kalo nggak bersih itu capek. Dan risih banget ngeliat orang-orang yang gak ngebersihin mejanya.

Karena ujung-ujungnya saya yang lebih banyak tinggal di kantor, dan saya banyak ngepel, dan saya yang lebih sering ngebuang sampah. Di situ saya jadi lebih punya sense of risih tentang ketidakbersihan. Yaaaa, walaupun dengan banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan, ujung-ujungnya saya masih harus bertahan dengan segala kekotoran ini.

Di tengah lingkungan seperti ini, saya nggak boleh menyerah. Jangan sampe saya jadi orang yang nggak peduli juga.

Seorang temen cerita (kami pernah tinggal bersama), bahwa sekarang housemates dia parah. Ignorant parah. Dengan level ketidakbersihan dan ketidakrapian saya saja, apa yang dia alami sekarang lebih parah.

Jadi nih ya, kalau di rumah (bersama keluarga), saya itu udah termasuk orang paling nggak peduli soal kebersihan dan soal segala yang terjadi di rumah. Tapi, segitu-gitunya saya, rupanya bekas housemate saya merasa dalam konteks ini, saya lebih baik daripada teman rumahnya yang sekarang. Setidaknya dulu kita ada jadwal piket mingguan, lalu saya masih sering sikat-sikat kamar mandi. Kalau mau ada tamu, saya beres-beres. Setidaknya saya masih punya malu (ah, soal malu ini pengen saya bahas lagi).

Teman saya ini bilang, karena lingkungannya kayak gitu, lama-lama dia jadi nggak tahan juga. Jadi ikut-ikutan ignorant.

Oh iya, menurut penelitian, salah satu aktivitas yang bisa membuat kita fokus pada manfaat jangka panjang daripada jangka pendek adalah dengan bersyukur. Dengan menulis gratitude journal. Dengan bersyukur juga, rupanya kita jadi lebih sabar.

Kadang saya pikir, ini adalah kebiasaan yang sudah saya tanamkan melalui blogging. Menulis di blog adalah kesempatan saya untuk merefleksikan sesuatu. Dan itu kebiasaan yang selama beberapa bulan terakhir hilang.

Rupanya memang sih, karena itu, saya jadi lebih emosian. Saya merasa saya benci segala hal dan melihat semua dari sudut pandang negatif semata. Segala isi dunia yang keliatan negatifnya aja. Kurang bersyukur, kurang sabar.

Lalu saya melihat lagi diri saya sendiri yang dulu, yang rajin menulis blog. Saya dulu memang tidak pernah ragu melakukan hal-hal yang bertentangan dengan pendapat umum, hal-hal yang aneh, karena saya paham manfaat jangka panjangnya.

Jujur saja, semenjak berhenti menulis blog, saya kehilangan militansi untuk mempertahankan nilai-nilai jangka panjang itu tadi. Padahal itu adalah investasi terbesar yang bisa dilakukan oleh seorang manusia.

Oh iya, terkadang saya merasa bersyukur, tapi terkadang merasa jemu dengan apa yang diberikan Tuhan pada hidup saya. Karea itu adalah cobaan sekaligus anugerah. Diberikan contoh kehidupan dengan standar yang tinggi.

Kadang saya lelah sekali. Lelah sekali mencoba berjuang di jalan menuju Tuhan yang seperti ini. Lelah dengan hidup. Lelah dengan standar itu.

Dalam beberapa bulan ke belakang (dasar memang bisikan setan) nggak sedikit saya berpikir bahwa saya mau berhenti saja mencoba jadi orang baik. Mau jadi orang yang b aja. Menurunkan standar. Mau jadi kayak orang kebanyakan aja yang hidupnya simpel.

Saya pernah setengah bersumpah di suatu hari. Hari itu panas. Amal dan perbuatan saya memang rendah. Niat saya juga tidak penuh. Dan ketika berjalan kaki itu, saya memupuk niat: setelah ini saya akan berhenti menapaki jalan ini. Saya ingin jadi orang duniawi, seduniawi-duniawinya saja lah.

Tapi, justru di situ tepat ketika saya datang, saya mendapatkan lagi pelajaran: buah dan tanaman saja senantiasa berdoa supaya bisa dipersembahkan kepada Allah dan kekasihnya. Di situ teringat lagi saya pada sebuah khutbah jumat ketika menjalani suluk di Makassar: bahwa seekor anjing saja merasa malu berjalan di samping Junaedi Al Baghdadi, tapi bagi Junaedi Al-Baghdadi, itu adalah pertanda bahwa untuk berjalan dengan anjing saja dia tak pantas, apalagi dengan Allah.

Dan di situ cerita berikutnya masih sejalan juga perihal perziarahan. Intinya sih sudah sekelas wali saja, masih harus dibawa oleh gurunya, untuk dapat menghadap ke gurunya gurunya. Lalu di mana tempat kita sebagai orang awam penuh dosa ini? Mau gaya-gayaan? Apa yang kita cari.

Maka di situ saya jadi paham tentang perkataan bahwa meniti jalan ini itu berat sekali. Sungguh tidak mudah. Karena kalau mudah, nggak adalah ayat yang mengatakan qalillan ma tasykuruun. Ya karena memang seperti itu hukum-Nya.

Jadinya memang yang paling penting adalah tidak menyerah untuk mencoba jadi orang baik. Walaupun terasa berat sekali. Saya selalu teringat kutipan yang menyebutkan bahwa kita tidak boleh berputus asa. Kalau lagi berbuat dosa, bisa aja itu adalah dosa terakhir yang kita lakukan. Dan, kita nggak tau itu.

Sebab, yang namanya penghindaran dari dosa memang hanya terjadi kalau rahmat Tuhan turun. Tidak ada manusia yang segitu hebatnya ga berbuat dosa, tanpa campur tangan Tuhan.

Demikian pula soal hidayah, amar maruf nahi munkar dan lain-lain. Itu bukan karena jagonya orang berdakwah. Tapi, karena memang seorang dai itu sekedar jadi “tangan” dari Tuhan. Saya baru baca-baca lagi ikhtisar Ihya’, di sana disebutkan bahwa kita memang bisa dapet anugerah kalau kita jadi jalan seseorang menemukan hidayah kalau kita melakukan apa yang kita sampaikan.

Saya beberapa bulan ke belakang sempat berpikir (ketika terasa lelah berjalan), saya ingin bilang ke teman saya, “Cuy, lo pokoknya ambil jalan ini, gw yakin 100% jalan ini benar. Biar kata gw udah nggak bersurau lagi, pokoknya lo harus ke surau”

Tapi, lucu juga sih kalo saya bener-bener seperti itu. Saya pikir kalau itu terjadi saya akan dapet pahalanya, tapi kalo berdasar ikhtisar ihya’ tadi, gak sesimpel itu juga ya. Kedua, ya gimana lah itu bakal terjadi? Mau meyakinkan orang tapi kita sendiri tidak menjalaninya?

Ini mengingatkan saya pada nasihat orang tua saya. Kalau ditanya soal keyakinan, orang akan lebih dari 100%, tapi soal ketaatan … Saya juga sering diingatkan, kalau lagi ada kesempatan berbuat baik, lakukan. Siapa tau itu yan bisa jadi penolong buat kita. Selagi ada kelapangan, selagi ada niat berbuat baik, kita lakukan. Kita nggak tahu umur kita kapan selesainya. Kita nggak tau juga amal kita mana yang jadi penolong.

Saya merasa bahwa sekeras apapun kita berusaha lari dari Tuhan, petunjuk Tuhan itu selalu saja menemukan jalan menuju kita, meski terkadang kita masih terhijab darinya. Niat hati mau ngapain, iseng-iseng, tiba-tiba ngobrol sama orang asing, nggak taunya nyambung, ujung-ujungnya ngobrolin Tuhan.

Ada saja celah untuk itu. Tapi, yang saya heran, kenapa sepertinya hidayah itu efisiensinya rendah. Mungkin karena terhijab. Konon katanya yang bikin kita nggak bisa berinteraksi dengan al-Quran itu ya karena hijab dari maksiat-maksiat. Selain itu hijab itu macem-macem, termasuk hijab pula orang yang menunggu syariatnya perfect dulu. Sibuk dengan hal sepele soal kesempurnaan wudhu tapi jadinya malah nggak solat misalnya.

Memang setan itu pinter banget sih cari celah.

Saya termasuk orang yang super cuek. Dan kadang mindset saya adalah, untuk apa saya mikirin apa kata orang. Makanya kadang saya juga gak terlalu peduli hal-hal sesimpel ramah tamah, atau bales-balesin whatsapp atau pesan dari orang.

Kadang ada celetukan dari temen:

“Lo sholat lah ke mesjid. Si X lagi menilai lo tauk”

Reaksi pertama saya adalah: buset, ngapain gw ke mesjid demi penilaian orang, picik banget pikiran lo. Gw gak akan ke mesjid cuman demi penilaian orang doang

Tapi, semakin direnung-renungkan, ada yang salah dengan pola pikir saya. Dan itu senada dengan apa yang saya peroleh dari whatsapp kiriman ortu saya (potongannya saja):

Pikiran dan Hati ku hanya Terfokus pada…,
Siapa yang Menggerakkan Lidah mereka Sehingga Mencaci-maki aku,
Siapa yang Menggerakkan Jiwa nya Sehingga Memusuhi aku,
Siapa yang Menggerakkan Hati nya Sehingga Membenci aku dan
Siapa yang Menggerakkan Pikiran nya Sehingga membuat Mulut nya Menghujat aku…”

Petruk : “Dia itu Siapa, Mo..?”

Semar : “DIA-lah GUSTI ALLAH YANG MAHA PENCIPTA.
DIA-lah SEBAGAI MAHA YANG BERKUASA Atas Segala Sesuatu Yang Sudah, Yang Belum, Yang Sedang dan Yang Akan Terjadi.

Ya Hanya DIA-lah Satu²nya yang memberi Kemampuan dan Kekuatan pada Orang² itu Sehingga…
Lidahnya bisa Mencaci-maki,
Jiwanya bisa Memusuhi,
Pikirannya bisa Membenci dan…
Bibirnya bisa Menghujat Diri ini.
Tanpa-NYA Tentu Mustahil bisa Terjadi.

Sehingga aku Beranggapan, Sebenarnya Cacian, Kebencian, Permusuhan​ dan Hujatan itu Sengaja Dihadirkan GUSTI ALLAH Agar…
Jiwaku Menjadi KUAT Melewati RINTANGAN Dan…
Hati ku Menjadi HEBAT Tatkala Menghadapi UJIAN.

Jadi, adalah SALAH BESAR jika aku Menyalahkan Orang² itu Apalagi Membalasnya. Oh… Bagiku itu tidak perlu, bahkan aku Berkeyakinan bahwa Segala Sesuatu yang Terjadi pada Kehidupan ini Tidak Mungkin Terjadi Secara Tiba², Semua Sudah Diatur Sedemikian Rupa olehNYA,

Maka Apapun Kenyataan yang aku Terima kemarin, Hari ini atau Suatu Hari nanti, Tidak ada Kata Sia², bahkan Dibalik Semua itu, pasti ada Hikmah Terbaik yang bisa merubah Kehidupanku agar menjadi Lebih Baik dari Sebelumnya.
Karena aku tahu, Sesungguhnya GUSTI ALLAH itu MAHA BAIK.

Jadi kesimpulannya, kenapa sih kita melihat bahwa itu adalah perkataan makhluk? Kenapa kita tidak melihatnya sebagai pesan/tanda dari Tuhan. Dan bukankah ke manapun wajah kita menghadap, di situ wajah Tuhan?

Selalu ada sisi positif yang bisa disyukuri. Dan untuk beberapa bulan ke belakang, saya lebih memandang hidup dari sudut pandang yang gelap. Hati saya isinya kebencian dan kemarahan saja terhadap orang-orang dan segala kejadian.

Padahal ada cara lain, yang lebih simpel yang lebih enak.

Dan, kalau teringat tausiyah guru saya, sebenarnya menjadi baik itu lebih simpel dan lebih enak. Nggak susah. Nggak ribet. Emang bener sih, kadang kita membuat hidup kita jadi runyam, padahal ada sudut pandang yang lebih positif dalam melihat kejadian.

Dan hal ini secara teori simpel banget, tapi aplikasinya susah sekali. Butuh keluasan hati dan kerendahan hati, untuk bisa begitu.

Untuk memandang bahwa setiap orang adalah pembawa pesan bagi kita dari Tuhan. Bahwa setiap kejadian adalah hidayah yang masih menyapa kita sebelum hayat ini pergi.

Dan, yang lebih menyedihkan dari semua ini adalah ketika kita tahu bahwa hidayah itu ada dan seolah ada jarak, ada hijab antara hidayah itu dengan diri kita sehingga belum dapat menyambutnya.

Tapi sebenernya memang di situ inti dari mujahadah. Inti dari perjuangan hidup yang sejati yang sebenar-benarnya. Perjuangan nilai. Bagaimana kita tetap bertahan di jalan yang benar meski kita menyadari ada yang salah dari diri kita. Bukan berarti kita harus berhenti. Saya pernah juga dinasihati: masa kalah sama setan?

Ngomong-ngomong soal lingkungan, sekarang ini lingkungan kita nggak cuman manusia sih isinya. Kita sering lupa bahwa internet, segala berita yang ada di sana juga merupakan “teman” atau sahabat kita. Bangun tidur aja yang dicari koneksi internet.

Dan entah ya, Tuhan memang punya cara misterius. Di tengah kegalauan saya meniti jalan ini, saya sempat berpikir lagi, kayaknya butuh nih ngobrol-ngobrol lagi sama temen saya.

Udah beberapa minggu ini, kemalasan mengalahkan tekad saya untuk pergi menyepi dan bertafakkur. Termasuk juga karena nggak janjian sama temen. Dan kadang, udah ada panggilan kedua yang tak terduga dari Tuhan pun kita lewatkan begitu saja.

Dan ini mungkin panggilan ketiga. Atau mungkin keseribu? Karena 997 panggilannya bahkan tidak saya sadari/hitung? Tiba-tiba saja sahabat saya menghubungi dan bertanya apakah weekend ini saya akan di Bogor saja atau bagaimana. Memang betul, ketika kita punya sahabat yang bisa membuat kita lebih mendekat dengan Tuhan, kita harus pegang erat-erat.

Karena ya itu tadi, berdasarkan penelitian terbaru, kita jadi tahu, bahwa efek pengendalian diri itu ga ada artinya dibanding lingkungan. Makanya lagi-lagi Tuhan bilang, besertalah bersama shadiqin, karena ya mereka yang mampu menyelamatkan kita dari lemahnya diri ini dan pandainya setan.

Step back. Step back. To be able to think forward for the long game. Itu adalah salah satu dinamika dalam ber-startup ria. Saking banyaknya kerjaan, kadang lupa untuk berpikir strategic.

Nggak heran, dibilangnya bertafakur. sejenak bisa lebih guna dari ibadah seribu tahun lamanya ya.

Hufft, akhirnya menginjak sekitar 2500 kata juga. Lumayan sih sejam nulis ini. Karena memang perlu sih biar nggak berdebu dan biar kotoran hati nggak terus-terusan mengepul.

*sebenarnya kadang saya ngerasa gak pantes nulis tema seperti ini dengan kondisi sekarang ini. tapi ya, siapa tau ini yang justru jadi penolong saya kan?

tempo hari sempet ngobrol juga sih tentang kenapa saya lama nggak nulis. dan di fase sekarang-sekarang ini, kalau lihat tulisan saya yang dulu-dulu juga saya beneran nggak ngerti sih kenapa bisa nulis kayak gitu. ya, mudah-mudahan lah ya..

We Often Forget What Brought Us Here. And Now.

Consistency is hard. It requires focus and commitment. Because we know exactly, apart from the context that in life we might need to pivot, failure to commit equals failure to start.

Before we even realize, a small misadjustment which we initially tolerated has taken its toll. As we walk further, the degree of error is increasing rapidly. When we pause to have a look at how far we are from our goal, we ask to our very self:

What’s the use of all these if we do not [insert something that should have been The Priority but was forgotten] ?

It is tough to think strategically, let alone to execute. I once read an study (but I am just too lazy to google and put the link here) about the tendency of Strategic Kids evolving into Strategic Adults. Strategic thinking is a skill that we need to nurture. And I found that it does not have anything to do with how high your IQ are or how highly educated you are.

Why strategic thinking is hard? Because human tendency is to gain immediate gratification. Will alone is never enough to bypass this wicked nature of human. We need a system. A system to execute and a system to calibrate.

A system to execute means planning. A system to calibrate means reflection. We need to calibrate our direction from time to time, to make sure we make a good investment of our limited resources. And one does not simply realize the cost when the calibration system is broken. The very system that could usher us into progress, the most fundamental part of a Control System.

I am feeling it right now. My system of execution is broken. Mine for calibration is too. I rarely write nowadays. I rarely pour my thought. I rarely crystallize what has been going on with my life, what should I do, what should be the priority.

Now that I am broken, I get back to my resort to gain back my control in life. Blogging.

I once thought that, perhaps, in this chapter of my life, I should do more. Do more and more. More and more and more and more. And no other way.

But I forgot one thing. This skill. This habit is what has been generating most precious value in me. What distinguishes me from other people. My uniquity.

I just barely talked about the Control System of Life. I am yet to discuss the content of my life itself.

But I guess, I would write it down in my book. Sometimes, traditional way to do things are better.

Kembali ke Kartu Skor Batin

Apakah kita lebih memilih untuk menjadi kekasih paling hebat di dunia meski orang-orang berpikir bahwa kita kekasih terburuk? Atau kita lebih memilih untuk menjadi kekasih terburuk tetapi di mata orang lain kita adalah kekasih terbaik?

Ketika memberikan kuliah tentang kesuksesan bisnis, Warren Buffett—seorang ikon sukses dunia—justru memberikan nasihat yang tidak berkaitan dengan bisnis. Ia justru menganjurkan anak-anak muda untuk berupaya menjadi orang baik sebab menjadi orang baik dapat membawa seseorang pada kesuksesan bisnis. Kesuksesan bisnis hanya dapat dicapai jika kita dapat menjalani kehidupan dengan baik, memiliki pola hidup yang sehat baik dalam aspek fisik dan psikologis.

Continue reading “Kembali ke Kartu Skor Batin”

Sebuah Kehidupan yang Mengarah Ke Ketiadaan

Banyak manusia menginginkan kebebasan. Tapi, ke mana kebebasan itu mengantar manusia?

Malam itu seseorang bertanya kepadaku, apakah aku tidak ingin bertanya tentang perubahan-perubahan yang ada dalam dirinya, tentang keputusan-keputusan yang dia ambil. Falsafah Jawa mengenal istilah, “Ojo Gumunan, Ojo Kagetan, Ojo Dumeh“.

Aku katakan padanya, “Jika kau ingin bercerita, bercerita saja. Aku tidak sebegitu ingin tahu karena aku menghargai kehidupanmu dan kemampuanmu untuk mengambil pilihan-pilihan”

Dan aku tak pernah heran. Segala yang ada di dunia ini dapat terbaca. Apa yang tampak mata, biasanya dapat kita hubungkan titik-titik penyusunnya. Apa yang terjadi di masa lalu dan segala akumulasinya mengantarkan kita ke masa kini. Tapi, kalau untuk membaca masa depan, itu soal lain dan manusia lebih banyak salahnya.

(Tapi, yang selalu aku heran dan kagumi adalah betapa dunia ini begitu berpola. Betapa satu hal dapat menjadi penyebab bagi lainnya. Membentuk kepastian-kepastian dalam keacakan kejadian)

Selain itu, aku belajar untuk tidak terlalu ingin tahu tentang urusan lain. Entah sejak kapan. Mungkin itu juga terjadi seiring dengan aku yang lebih fokus pada kehidupanku sendiri. Aku ingin memiliki sebuah pemikiran dan pertimbangan yang bebas dari orang-orang kebanyakan. Aku ingin memilih sumber nilaiku sendiri.

Aku selalu kagum dengan orang-orang yang punya pemikirannya sendiri. Mereka yang berani mengambil tindakan karena punya alasan-alasan dan prinsip. Aku selalu menghargai mereka lebih daripada orang-orang yang hanya mengikuti arus belaka.

Tapi, sampai di suatu titik, aku berhenti mengagumi orang-orang ini. Itu adalah titik ketika mereka telah terhanyut dalam pemikirannya sendiri, egonya sendiri, tanpa sadar ke mana pemikiran mereka bermuara.

Meskipun aku berhenti mengagumi kemerdekaan berpikir mereka, bukan berarti aku merasa lebih hebat dari mereka. Aku hanya merasa lebih beruntung.

Dari keberuntungan itu, masih tersisa sedikit pilu. Kepiluan karena belum dapat menjadi apa yang seharusnya. Tapi, setidaknya aku tahu harus ke mana dan mencari ke mana.

Banyak orang berpikir untuk mengambil keputusan sebatas karena penasaran, karena berpikir bahwa hidup hanya sekali dan tak boleh disia-siakan. Andai saja kita mau berpikir lebih jauh lagi,  sebelum memutuskan sesuatu tentu kita akan pikirkan konsekuensi apa saja yang ia bawa di kemudian hari, atau di akhirat nanti.

Dan dengan itu, kita seharusnya rela menjadi pribadi yang lebih baik, meskipun itu berarti melepaskan hal-hal berharga yang selama ini kita pertahankan hidup-hidupan.

Dan, sebuah visi hidup yang melampaui dunia dan akhirat dalam bingkai integritas adalah suatu hal yang langka di zaman ini. Termasuk pada hal-hal yang luarannya dibungkus-bungkus agama.

Rasanya perjalanan menuju pribadi yang ber-integritas itu tak mudah. Tapi, bukankah hidup yang bermakna ini memang perlu diperjuangkan? Ketimbang ia mengarah begitu saja pada kesia-siaan tanpa kita menyadarinya karena kita pikir hidup ini indah-indah dan gampang-gampang saja.