Kembali ke Kartu Skor Batin

Apakah kita lebih memilih untuk menjadi kekasih paling hebat di dunia meski orang-orang berpikir bahwa kita kekasih terburuk? Atau kita lebih memilih untuk menjadi kekasih terburuk tetapi di mata orang lain kita adalah kekasih terbaik?

Ketika memberikan kuliah tentang kesuksesan bisnis, Warren Buffett—seorang ikon sukses dunia—justru memberikan nasihat yang tidak berkaitan dengan bisnis. Ia justru menganjurkan anak-anak muda untuk berupaya menjadi orang baik sebab menjadi orang baik dapat membawa seseorang pada kesuksesan bisnis. Kesuksesan bisnis hanya dapat dicapai jika kita dapat menjalani kehidupan dengan baik, memiliki pola hidup yang sehat baik dalam aspek fisik dan psikologis.

Continue reading “Kembali ke Kartu Skor Batin”

Sebuah Kehidupan yang Mengarah Ke Ketiadaan

Banyak manusia menginginkan kebebasan. Tapi, ke mana kebebasan itu mengantar manusia?

Malam itu seseorang bertanya kepadaku, apakah aku tidak ingin bertanya tentang perubahan-perubahan yang ada dalam dirinya, tentang keputusan-keputusan yang dia ambil. Falsafah Jawa mengenal istilah, “Ojo Gumunan, Ojo Kagetan, Ojo Dumeh“.

Aku katakan padanya, “Jika kau ingin bercerita, bercerita saja. Aku tidak sebegitu ingin tahu karena aku menghargai kehidupanmu dan kemampuanmu untuk mengambil pilihan-pilihan”

Dan aku tak pernah heran. Segala yang ada di dunia ini dapat terbaca. Apa yang tampak mata, biasanya dapat kita hubungkan titik-titik penyusunnya. Apa yang terjadi di masa lalu dan segala akumulasinya mengantarkan kita ke masa kini. Tapi, kalau untuk membaca masa depan, itu soal lain dan manusia lebih banyak salahnya.

(Tapi, yang selalu aku heran dan kagumi adalah betapa dunia ini begitu berpola. Betapa satu hal dapat menjadi penyebab bagi lainnya. Membentuk kepastian-kepastian dalam keacakan kejadian)

Selain itu, aku belajar untuk tidak terlalu ingin tahu tentang urusan lain. Entah sejak kapan. Mungkin itu juga terjadi seiring dengan aku yang lebih fokus pada kehidupanku sendiri. Aku ingin memiliki sebuah pemikiran dan pertimbangan yang bebas dari orang-orang kebanyakan. Aku ingin memilih sumber nilaiku sendiri.

Aku selalu kagum dengan orang-orang yang punya pemikirannya sendiri. Mereka yang berani mengambil tindakan karena punya alasan-alasan dan prinsip. Aku selalu menghargai mereka lebih daripada orang-orang yang hanya mengikuti arus belaka.

Tapi, sampai di suatu titik, aku berhenti mengagumi orang-orang ini. Itu adalah titik ketika mereka telah terhanyut dalam pemikirannya sendiri, egonya sendiri, tanpa sadar ke mana pemikiran mereka bermuara.

Meskipun aku berhenti mengagumi kemerdekaan berpikir mereka, bukan berarti aku merasa lebih hebat dari mereka. Aku hanya merasa lebih beruntung.

Dari keberuntungan itu, masih tersisa sedikit pilu. Kepiluan karena belum dapat menjadi apa yang seharusnya. Tapi, setidaknya aku tahu harus ke mana dan mencari ke mana.

Banyak orang berpikir untuk mengambil keputusan sebatas karena penasaran, karena berpikir bahwa hidup hanya sekali dan tak boleh disia-siakan. Andai saja kita mau berpikir lebih jauh lagi,  sebelum memutuskan sesuatu tentu kita akan pikirkan konsekuensi apa saja yang ia bawa di kemudian hari, atau di akhirat nanti.

Dan dengan itu, kita seharusnya rela menjadi pribadi yang lebih baik, meskipun itu berarti melepaskan hal-hal berharga yang selama ini kita pertahankan hidup-hidupan.

Dan, sebuah visi hidup yang melampaui dunia dan akhirat dalam bingkai integritas adalah suatu hal yang langka di zaman ini. Termasuk pada hal-hal yang luarannya dibungkus-bungkus agama.

Rasanya perjalanan menuju pribadi yang ber-integritas itu tak mudah. Tapi, bukankah hidup yang bermakna ini memang perlu diperjuangkan? Ketimbang ia mengarah begitu saja pada kesia-siaan tanpa kita menyadarinya karena kita pikir hidup ini indah-indah dan gampang-gampang saja.

Pria Di Ujung Kebun dan Gadis Kopi

Pada meja kayu di sebuah warung kopi tempat mereka singgah. Tak hanya dua cangkir, tapi dua hati sedang beradu. Dua pribadi keras kepala sedang berbincang. Masing-masing berbincang dengan dirinya sendiri. Yang satu sedang bermasalah dengan kekasihnya. Yang satu lagi bermasalah dengan banyak hal.

Pria itu sedang berada dalam ketidakstabilan. Gadis itu juga. Gadis itu benar-benar tidak stabil. Dan dia tahu bahwa dirinya tidak stabil. Selayaknya spekulasi tentang kesadaran, ia harus selalu melawan pikiran-pikiran di kepalanya. Apakah suara itu adalah dirinya?

Sementara gadis itu berjuang untuk menjalani hidup dengan kesadaran, pria itu entah ada di mana. Terlalu lama ia tenggelam dalam dunianya sendiri. Dia adalah alien di dunia yang begitu familiar. Dia adalah sendiri dalam segala perbincangan seru yang ia perbuat bersama puluhan manusia dalam setiap bulannya. Di berbagai kota. Di berbagai topik.

Soal cinta. Keduanya masih sama-sama punya.

Kekecewaan masing-masing mereka terhadap hidup atau ketidakpuasan pada diri sendiri tak menghalangi mereka untuk memiliki cinta.

Meski keduanya punya penyikapan berbeda.

Gadis itu ingin memperjuangkan cinta. Ia ingin memperjuangkan manusia lain untuk menjadi rumah tempat ia ingin pulang. Tempat ia merindukan penawar atas rasa keterpisahan. Sekalipun ia tahu bahwa tak mudah bagi orang sepertinya untuk menjalin hubungan jangka panjang.

Pria itu? Dia tak tahu lagi soal cinta. Mungkin juga ada perasaan yang membuat ia mau berada di situ. Dengan segala kepeningan yang ia bawa. Demi memandang paras gadis itu untuk kali pertama.

Dari dekat. Menatap mata. Mengamati setiap geriknya.

Lamunannya buyar seketika. Gadis itu mengingatkannya akan sebuah cerita yang pernah diceritakan oleh seseorang yang pernah ia suka. Seseorang yang dulu paling disuka meski sekarang nomor teleponnya sudah dihapus.

Pernah orang itu mengirimkan sebuah pesan singkat padanya. Mengapa pria itu tega menghapus nama orang itu dari daftar kontaknya?

Pria itu ingin sekali menjawab, kau pun tega benar menikah dengan orang lain. Tapi ia hanya diam. Mencintai orang itu selalu menjadi urusannya. Demikian pula segala patah hatinya. Demikian pula segala rasa sepat yang diperolehnya pada saat ia ingin membahagiakan orang itu namun orang itu hanya berkata, I am happy.

Gadis itu bercerita tentang pria di ujung kebun. Pria yang senantiasa mencari kembang yang lebih manis. Melewatkan semua yang manis. Hingga ia tak sadar bahwa dirinya sudah ada di ujung kebun. Tak ada bunga lagi di sana.

Gadis itu menyuruhnya untuk segera memetik bunga itu. Sebelum habis jalan setapak di kebun.

Tapi, pria itu sedang hilang dari dirinya yang duduk di kursi itu. Entah ke mana ia melayang.

Saat malam larut dan peningnya telah meraja, ia putuskan untuk mengantarkan gadis itu pulang. Mungkin untuk tidak bertemu lagi.

Berhari kemudian ia tersadar. Gadis itulah bunga yang sedang ada di hadapannya. Tapi, apa mau dikata? Dia adalah dia. Dan dia adalah dia. Dan mereka tak akan bersama.

Grand Menteng (depan lift di lantai 6), 11 April 2017 (1:39) 

Menghela

Pusaran gelombang kehidupan mengantarkan pada sebuah labirin jiwa. Di sana dijumpai lagi dan lagi, kesalahan yang sama. Serta ketidakmampuan untuk memetik makna atas segala petualangan dan pertempuran yang dilaksanakan. Makna pada letaknya sebagai keduanya: contemplativa dan activa.

Diam sejenak menjadi obat penawar. Meski hanya sesaat. Meski tak pernah benar ia mengobat. Meski tak kunjung bahagia didapat.

Hanyalah hikmah yang mesti ditambat. Dalam momen-momen merasuknya rasa tobat. Pada setiap jengkal penderitaan dan helaan rasa sakit yang entah mengapa terus ditarik dan tak ingin dilepaskan. Supaya berlepas dari segala rasa kuat dan ilusi manusia akan kekuasaan. Kekuasaan untuk mengatur nasib. Dan untuk menjadi langit.

Di tengah pusaran itu terdapat sebuah tenang. Pusat masa labirin yang menjadi labuhan tatkala manusia menemukan jati dirinya. Manusia-manusia yang menemukan makna atas segala penderitaannya. Serta manusia-manusia yang paham akan hakikat kehidupannya.

Tak ada anugerah. Tak ada musibah.

Yang ada hanyalah tantangan. Sebagaimana telah diperjanjikan dan dipersaksikan.

Manusia harus terus jalan. Seraya bersembah, bersujud, untuk memohon penguatan.

Tapi ke mana? Bukankah itu yang Tuhan pertanyakan?

Dan barang tentu Ia selalu punya jawaban

 

Apa yang Saya Inginkan?

Ada seorang teman yang baru saya kenal beberapa bulan lalu, sering mempertanyakan keotentikan perkataan saya. Apakah saya sedang menjadi diri sendiri? Apakah saya jujur kepada diri saya sendiri? Kata dia kombinasi antara apa yang saya katakan itu aneh. Perkataan dan tindakan saya juga banyak tidak sejalan.

Percakapan dengan orang asing

Kalau sedang suntuk sekali dan butuh cermin baru, saya biasanya berbincang dengan orang yang tidak terlalu dekat atau bahkan asing. Terkadang, kita bisa dapat perspektif baru. Berbicara dengan orang asing, memang terkadang menyakitkan. Mungkin akan ada ruang privat kita yang terusik. Sebab, itulah tugas dari percakapan antara manusia. Mencoba meruntuhkan tembok keterasingan. Dan satu-satunya jalan adalah dengan menerobos pagar-pagar privasi yang ada. Hanya dengan terus menerobos jarak antara dua individu, akan muncul suatu kedekatan pribadi. Dari situ orang asing menjadi teman, sahabat, atau sepasang kekasih.

Namun, berbincang dengan orang asing juga memberikan suatu keluguan atau netralitas. Sebab, si orang asing ini sedang mencoba menerka dan menilai-nilai kepribadian kita. Tidak seperti teman-teman yang sudah kita kenal lama yang umumnya sudah memiliki impresi dan penilaian tertentu tentang identitas kita.

Teman saya ini bilang kalau setiap mengenali seseorang, dia akan mencoba mencari motif si orang ini. Kata dia motif saya tidak dapat ditebak.

Keinginan secara sadar

Kalau ditanya secara sadar, keinginan saya sekarang hanya satu: ingin jadi orang beriman, ingin dapat rahmat Tuhan. Itu saja. Sudah terlalu banyak tanda-tanda di sekeliling bahwa kematian tidak mengingat umur. Terlalu banyak tanda bahwa kehidupan di dunia ini hanya permainan belaka. Dan segala dinamika hidup ini hanya keujian keimanan.

Guru saya mengatakan bahwa tujuan hidup ini sebenarnya satu: hanya mencari ridho ilahi. Tidak ada yang lainnya. Bukan untuk mencari kekayaan, terkenal, kemuliaan, atau hal-hal lainnya. Tapi rupanya kita diberikan permainan di kehidupan dunia ini. Kita diberikan dinamika kehidupan yang sebenarnya merupakan alat untuk meraih ridho Tuhan itu tadi. Kehidupan di dunia ini untuk mencari bekal.

Sekarang, pertanyaannya tinggal bagaimana kita mengarahkan kehidupan kita supaya dapat membawa manfaat bagi semesta alam, sehingga ridho Tuhan itu turun? Bagaimana supaya dalam permainan ini, kita bisa menundukkan ego sehingga kita mematuhi Tuhan? Bagaimana supaya dalam dinamika ini, setiap pergerakan kita mengantarkan diri kita pada kedekatan dengan yang kita tuju, Tuhan itu sendiri.

Realitas fisik

Oke, tentunya dengan sedikit ilmu dan perenungan saja mungkin saya bisa setuju. Saya secara sadar bisa bersepakat bahwa hidup ini untuk mengejar ridho Tuhan sehingga segala aktivitas harusnya berpedoman dan mengarah ke sana. Namun, bagaimana di alam bawah sadar saya? Sudahkah saya mencerminkan semangat itu dalam kehidupan yang saya jalani?

Belum. Saya masih seorang pembangkang. Itulah mengapa tindakan dan perbuatan saya terkadang tidak sejalan. Karena saya masih proses, berhijrah secara spiritual. (Tapi kok rasanya perjalanannya panjang banget ya, bolak-balik terus. haha)

Terkadang saya sedih juga, mengapa dengan segala bekal dan fasilitas yang diberikan Tuhan, saya masih menjadi orang yang lalai. Namun, saya balikkan lagi logika saya. Dengan segala bekal dan fasilitas saja saya masih lalai, bagaimana kalau tidak diberi? Pada akhirnya yang tersisa hanyalah rasa syukur karena saya masih menyadari apa yang salah dalam hidup saya.

Ketika saya galau menghadapi kehidupan, saya memang sedih, dan stres. Tapi, saya selalu sadar bahwa ini semua adalah bagian dari ujian kehidupan. Akan ada rahmat yang turun kalau kita bisa melewati ujian tersebut.

Aneh mungkin, tapi terkadang saya senang kalau hidup saya sedang penuh dinamika. Meskipun terkadang bentuk dinamikanya adalah tidak adanya dinamika itu sendiri. Seperti sekarang-sekarang, saya sedang tidak memiliki motivasi. Saya ingin, tapi saya belum bisa bergerak. Semacam gejala depresi.

Tapi saya senang, karena pengalaman seperti ini adalah bagian dari proses kehidupan yang akan mendewasakan saya. Memberikan saya perspektif baru. Dari ‘penderitaan’ itu akan bertambah pula pengetahuan saya. Mungkin bertambah pula teman saya. Bertambah lagi kebijaksanaan hidup saya.

Saya selalu teringat bahwa seorang sufi lebih menyukai hidup yang penuh cobaan ketimbang hidup yang mapan dan nyaman. Hidup yang mapan dan nyaman akan melenakan. Sementara hidup yang penuh kesulitan akan selalu membuat kita mencari apa yang salah, waspada. Jangankan hidup yang nyaman, terkadang di tengah kesulitan hidup pun masih sangat sulit bagi kita untuk mengingat Tuhan. Padahal kita selalu tahu bahwa hanya Tuhan yang bisa menyelamatkan kita.

Dan lagi-lagi sebenarnya ini semua adalah tentang ujian keimanan, seberapa tangguh dan tidak menyerah kita untuk mencari tali Tuhan, memegangnya erat-erat, meraihnya lagi ketika kita ia lepas. Terus menerus. Kalau hari ini gagal besok coba lagi. Coba terus. Jangan menyerah. Ketika kereta kita keluar dari rel, kembalikan lagi. Itulah perjuangan paling sulit di dunia ini: untuk senantiasa berhampir dengan Tuhan. Itulah jihad.

 

Bagaimana dengan kehidupan PhD saya? Apakah saya menginginkan gelar?

Saya mungkin terlihat atau merasa depresi karena suka merenung di sosmed. Orang-orang mungkin memberikan beragam saran sesuai dengan cara mereka mengukur. Bagi saya, kehidupan PhD pun tidak lain adalah bagian dari dinamika itu. Ini semua bukan lagi soal gelar, uang, atau waktu, melainkan soal pertempuran nilai.

Di sini saya melepaskan segala ambisi-ambisi akan kedigdayaan dan kepercayaan bahwa diri ini berdaya. Ya, mungkin terdengar menyedihkan atau lemah kalau diukur dari omongan motivator atau kebijaksanaan barat. Tapi dari kacamata tauhid, inilah yang benar. Hanya Tuhan yang dapat memampukan kita!

Saya bisa saja quit begitu saja, tapi saya mau ngapain itu nggak jelas. Saya belum minat cari kerja. Kalau quit PhD belum jelas mau ngapain. Mungkin akan ada uang cukup banyak yang bisa dialihkan dari biaya kuliah, tapi nanti akan habis juga. Dan, meskipun sekarang saya sedang berada dalam kondisi tidak punya gairah dan motivasi dan cenderung tidak peduli, dalam pikiran sadar saya, saya masih ingin memberikan diri ini kesempatan.

Sebab, saya sadar bahwa dalam permainan duniawi ini ada manfaat lebih yang bisa diberikan ke orang-orang jika saya berhasil meraih gelar PhD. Tapi tentunya saya tidak tahu apa takdir saya nanti akan dapat PhD atau enggak.

Memang untuk berhenti dari PhD itu butuh keberanian. Tapi, butuh keberanian juga untuk tetap lanjut meskipun tidak ada kepastian akan selesai atau tidak.

 

Tapi, kembali lagi. Lebih luas dari itu, ini soal attitude. Soal pembenahan karakter. Tentunya saya tetap bersyukur dengan apa yang saya peroleh selama 4,5 tahun ke belakang. Begitu banyak pelajaran hidup yang begitu berharga, jauh lebih berharga dari gelar. Sehingga bagi saya, kalau toh saya tidak mendapat gelar PhD, saya sudah siap. Tidak seperti orang-orang yang mendewakan gelar, selama 4,5 tahun ini saya tahu persis bahwa gelar bukan segalanya. Dan, tanpa gelar pun, rupanya masih banyak yang bisa kita lakukan. Dan orang-orang pun tetap percaya dengan potensi dan kapabilitas saya. Masih ada yang mau ngajak bisnis dan lain-lain (meskipun ya ujung-ujungnya belum menjadi, karena tidak semua opportunity mesti diambil). Gelar itu simbol kompetensi. Kita bisa saja punya kompetensi tanpa gelar. Dan kalau orang tahu itu, ya tidak masalah lagi kan gelar-nya apa?

Dan, semangat untuk menata diri itulah yang penting. Sebab, kalau saya mampu menata diri, mungkin saya akan bisa mendapat gelar PhD dan menjadi siap untuk menyongsong tanggung jawab dengan amanah yang baru itu. Bagaimana saya menjadi orang yang lebih rajin dan lebih persisten, tidak malas-malasan (Oiya, nantinya saya ingin menulis postingan tentang Islam kaffah yang rupanya bertentangan dengan malas-malasan). Kalau saya mengundurkan diri dari studi PhD dengan karakter acak adut, itu lebih tidak enak ketimbang saya berupaya mati-matian sampai akhir, sampai mentok meski tidak dapat gelar PhD. 

Sebab, karakter itulah tujuan utama kita, bukan?

Takdir yang pasti datang

Sementara takdir saya akan PhD atau enggak itu belum tentu. Yang sudah pasti datang takdirnya kelak itu kematian. Rasanya setiap harinya ada saja berita duka. Bahwa mati nggak nunggu tua, dan macem-macem jalannya. Di situlah yang harus benar-benar kita persiapkan.

Kemarin saya diberi tahu, cara gampang mengukur kita di surga atau neraka. Hitung saja waktu kita untuk mengerjakan mana yang wajib, sunnah, makruh, dan haram. Kalau banyak yang haram ya neraka. Simpel.

Di situlah saya jadi merinding. Sementara waktu ini lebih banyak untuk hal-hal haram atau melalaikan wajib. Seram sekali.

Dan di sinilah perjuangan betul, untuk menyelaraskan karakter kita dengan karakter yang dimau Tuhan. Dan, dalam proses itu tentu ada gap antara perkataan dan perbuatan. Kalau tidak ada gap, tentu saya sudah jadi insan kamil.

Supaya kelak ketika rohani ini kembali, dia bisa kembali ke jalan yang benar. Sebab akal ini akan mati dan menjadi tanah. Tak bisa kita berdialektika dengan malaikat.

Sebenarnya masih ada satu dua tiga hal yang ingin ditulis. Tapi rasanya sudah terlalu malam, dan terlalu banyak waktu yang saya gunakan untuk merenung-renung. Sekian, dilanjut kapan-kapan. (Sebenarnya tadi sempet nulis di sini beberapa bagian yang akhirnya dipecah menjadi postingan tumblr karena topik bercabang.)

*tambahan: percakapan saya dengan teman seperjuangan di sore hari tadi:

phd

 

 

Puncak Kebijaksanaan Hidup

Dalam falsafah Jawa dikenal istilah “sawang sinawang”. Puncak dari “Sawang Sinawang” (saya rasa) adalah ketika seseorang dengan setulus hati dan kesadaran penuh tidak ingin menukar hidupnya dengan orang lain.

Rasa iri, dan dengki, hilang sudah ketika menyadari bahwa apa yang dilaluinya di masa lalu, kini, dan nanti adalah sebuah perbekalan guna menghadap Sang Pangeran. Bahwa setiap cabaran hidup dan segala kesedihan yang menimpanya adalah suatu alat bagi dirinya untuk mendekat kepada Sang Kuasa. Bahwa dosa-dosa yang telah, sedang, dan akan ia perbuat pun adalah suatu alat bagi dirinya untuk mendekat kepada Sang Kuasa jua. Bahwa setiap kenikmatan yang ia peroleh dari pengabdiannya kepada Tuhan dan sesama adalah tak lebih dari alat untuk mendekat kepada Sang Kuasa. Bahwa segala ilmu yang dipahamkan kepadanya pun tak lebih dari alat untuk mendekat kepada Sang Kuasa.

Kemanusiaannya bersedih hati sejenak. Kemanusiaannya merasakan sakit akibat segala hal (yang terlihat) buruk yang dia lalui. Tapi, diam-diam nuraninya bersemangat. Nuraninya senang menjadi pendosa, sebab ia semakin diingatkan bahwa kemuliaan adalah selendang Tuhan. Nuraninya senang dilanda kesusahan, sebab kesusahan lah yang menjadikan dirinya berpasrah dan berserah total kepada Tuhan.

Kemanusiaannya bersenang hati sejenak. Kemanusiaannya merasakan kegirangan akibat segala hal (yang terlihat) baik yang dia lalui. Tapi, diam-diam nuraninya khawatir. Nuraninya khawatir karena setiap ibadah yang dilakukan membuat ia merasa lebih baik dari orang lain, membuat ia merasa hebat. Nuraninya was-was ketika dilanda kemudahan, sebab segala kemudahan di dunia ini dapat membuatnya lupa diri.

Dan tak peduli seperti apa kehidupannya, dia tak ingin menukar kehidupan ini dengan kehidupan orang lain. Kehidupan Steve Jobs, Bill Gates, Obama, Jokowi atau siapapun. Dia tidak mau menukarnya.

Dia menerima betul takdirnya terlahir sebagai manusia biasa dengan segala kebiasa-biasa-annya. Dia menerima betul takdirnya lengkap atas karunia dan cobaan yang dituliskan langit untuknya. Dia pasrah tak menyerah untuk terus berprasangka baik atas rencana Tuhan. Dia tak berdaya tapi tak lelah memohon dikuatkan untuk terus berjalan di jembatan takwa.

Sebab, pada kehidupannya ini ia hayati segala pengalaman yang ia rasakan. Yang terlepas dari baik dan buruknya, ia temukan makna akan arti kehadiran di dunia.

Sebab pada kehidupannya yang dipenuhi oleh patah hati dan kekecewaan ini, ia akhirnya belajar mengenal Cinta yang Sejati.

Sebab, pada kehidupannya yang dipenuhi kebodohan dan ketidaksempurnaan ini, ia temukan gerbang menuju ilmu sejati.

Sebab, pada kehidupannya yang dipenuhi oleh penilaian orang lain terhadapnya, ia tahu bahwa selalu ada tempat untuk berpulang kembali.

Sebab, pada kehidupannya yang jauh dari kemewahan materi, ia tahu bahwa ada hal-hal berharga yang tak dapat ditukarnya dengan apapun.

Di sana ia akhirnya menemukan apa itu Kebenaran yang senantiasa dicari. Di sana ia temukan bahwa Cahaya ada agar kita dapat melihat apa yang salah dari diri ini. Di sana ia temukan bahwa Cahaya lah satu-satunya yang dapat mengusir kegelapan dan segala rasa takut dan kekhawatiran ini.

Di mana sekarang? Hendak ke mana kita melangkah?

Pertanyaan itu hanya dapat terjawab ketika ada cahaya yang menerangi jiwa kita. Sekotor apa jiwa kita? Bagaimana membersihkannya?

Hal-hal itu telah melampaui unsur fisik. Keberagamaan yang sejati adalah ketika kita memiliki kompas sehingga mata hati kita dapat melihat. Ketika mata hati itu dibuka, kita pun menyadari apa saja yang telah kita lakukan di dunia. Kita mengalami kiamat kecil di mana kita menyadari konsekuensi dari setiap perbuatan yang kita kerjakan.

Dan, ketika mata hati itu terbuka, jangan lagi melihat sesuatu dengan mata zahir. Sebab, sekali kita alihkan mata kita untuk memandang dunia sebagai alam fisik semata, terhijab lagi mata hati kita dari Nur.

Lantas, kembali kita berserah. Tiada yang dapat menyelamatkan kita selain daya-Nya. Lantas tak mampu lagi kita merasa lebih baik dari anjing kudisan sekalipun. Sebab kita seperti ini adalah Kehendak-Nya.

Puncak beragama adalah beserta Tuhan. Manusia pikir itu gampang? Susahnya setengah mati. Karenanya kita harus berlatih. Agar nanti Tuhan hadir ketika kita menyebut-Nya di sakaratul maut. Dan untuk sampai kepada Dzikrullah yang sejati, kita mungkin harus gagal berkali-kali. Lahir baru berkali-kali. Tapi, tak boleh menyerah. Tak boleh menyerah menyusun batu-bata iman. Sehingga kelak tembok tauhid itu kekal dan tak hancur digoda setan akibat telah disemen oleh keikhlasan.

Puncak beragama adalah Cinta. Ketika Tuhan dan Rasul-Nya kita cintai lebih dari apapun. Ketika tak ada lagi yang kita pedulikan. Dan itulah hakikat iman. Kita bukan berbuat baik karena dilihat orang. Bukan pula kita menghindari keburukan karena menyadari bahwa kita ini dijadikan teladan. Bukan demi surga dan neraka.

Tapi cinta adalah kosong jika ia tak termanifestasi. Cinta termanifestasi dengan takwa. Ketika kita dengan sepenuh hati mengikuti jejak langkah rohani dan jasmani Rasul. Dan hanya Tuhan yang berdaya memberikan takwa bagi siapa yang memang hendak mencarinya.

Puncak beragama adalah Ikhlas. Yakni ketika kita mampu melepaskan tuhan-tuhan kecil yang bersemayam di pikiran kita. Mereka yang mengerangkeng jiwa kita sehingga tak dapat terbang untuk menemui Sang Rabb. Mereka yang menghijab kita dari petunjuk-petunjuk Tuhan yang tak kenal tempat dan waktu.

Puncak beragama adalah akhlak. Ketika kita benar-benar memasuki Islam secara kaffah. Tidak pilih-pilih lagi. Di puncak itu, dosa batin dan dosa zahir baik kecil maupun besar menjadi sama saja. Manusia telah melampaui hukum-hukum fiqh dan berada di puncak hakikat akhlak.

Pada akhirnya, semua yang terpisah telah berbaur menjadi satu tak dapat terbeda lagi. Iman Islam Ihsan Ikhlas Dosa Besar Dosa Kecil Dzikir Sholat Zakat dan segalanya telah menjadi hakikat. Hakikat Cahaya. Cahaya itu sendiri. Berhampir dengan-Nya. Hilang Sirna. Tiada Kata. Tiada Rasa. Entah apa yang ada. Sepertinya Segala Ada di Sana.

Tiada ilmu tiada kata. Yang ada adalah Kebenaran itu sendiri. Yang entah bagaimana, dengan cara-Nya, masuk ke dalam hati sanubari kita. Hati sanubari dalam makna sebenar-benarnya.

20/4/2016

Tak Termungkinkan

Adalah kerinduan yang menyergapku di waktu-waktu sibuk
Melemparkanku pada warung kaki lima tempatku mengamen puisi
Kuutarakan lirih kepada mereka: Hampa.. kepada sri
Sepi di luar. Sepi menekan mendesak

Seperti paras yang menyerobot masuk tanpa permisi
Rasa yang hilangnya telah lama aku nanti

Tambah ini menanti jadi mencekik
Mencekik akal sehat dari keterpisahan
Desakan-desakan yang terus ada dan tak akan pernah terekspresikan
Sebab ini sepi terus ada. Dan menanti

*(bait-bait yang digaris miring merupakan puisi Hampa karya Chairil Anwar)

Prasangka Terhadap Makhluk, Cermin Prasangka Kepada Tuhan

Baru saja saya tersadar tentang hal ini.

Suatu hari seorang teman bertanya kepada saya, apa yang biasa saya obrolkan dengan ibu saya. Ada suatu kerinduan di hatinya untuk dapat berbincang dengan ibunya. Menariknya, kerinduan ini muncul lebih besar ketika dia sendiri telah menjadi seorang ayah.

Continue reading “Prasangka Terhadap Makhluk, Cermin Prasangka Kepada Tuhan”

Samudera Ketunggalan dan Pertempuran Nilai

“Ma, ini tuh kayak pacaran sembilan tahun sama cewek yang kita nggak suka-suka amat gitu. Yang kita udah berusaha buat suka, tapi nggak bisa.”

Jumat, 6 Mei 2016. Sore hari sebelum perbincangan itu terjadi, saya sedang makan bubur kacang hijau di kantin. Minggu-minggu ke belakang banyak sekali yang berbincang dengan saya seputar studi saya. Seperti diwawancarai lagi rasanya, tentang mengapa saya ambil PhD.

Sebenarnya ceritanya agak panjang dan saya sudah menulis draft lagi tentang detailnya (draft lain, meski nggak tahu juga apa suatu saat akan selesai atau tidak, akan di-post atau tidak). Kalau mau disingkat pakai bahasa gaul, “I’m in a deep sh*t right now.” Saya ada di tumpukan kotoran akibat perbuatan saya sendiri.

Tapi, sore itu saya tersadar akan banyak hal. Dan segala hal itu bercampur aduk dan bermuara pada satu. Continue reading “Samudera Ketunggalan dan Pertempuran Nilai”

Pencarian Spiritual Manusia Tak Bertuhan

Tentang buku “Waking Up: A Guide to Spirituality Without Religion” dari Sam Harris, seorang neo-ateis yang cukup vokal dalam memerangi agama, terutama Islam. [Neo-ateis yang saya maksudkan di sini mengacu pada tokoh-tokoh intelektual barat (seperti biolog Richard Dawkin, fisikawan Lawrence Krauss, jurnalis Christopher Hitchens)  yang begitu mengedepankan rasio dengan konsekuensi: gencar “mempromosikan” ateisme (walaupun kata “promosi” tidak sepenuhnya tepat)]. Dia sendiri adalah seorang filsuf dan neuroscientist lulusan Stanford dan UCLA. Buku yang ditulisnya sendiri lebih seperti memoar pencariannya akan kebenaran (lebih banyak kontemplasinya daripada sainsnya).

Continue reading “Pencarian Spiritual Manusia Tak Bertuhan”

Kekasih Tak Akan Membiarkanmu Kehujanan

Matilah aku! Aku harus segera mendapatkan taksi. Sudah jauh-jauh datang kemari, apakah aku akan melewatkan perjanjian ini? Hanya demi berbagi riak tawa duniawi, aku habiskan waktuku di situ.

Maka aku pun menuju pintu keluar. Rupanya hujan. Banyak orang berjejer di depan pintu. Aku tanya kepada petugas keamanan, di mana taxi stand? Ia menjawab, di situ Mas, tapi yang menunggu sudah banyak. Aku pikir deretan orang itu, yang jumlahnya mungkin mencapai puluhan, sedang menunggu sesuatu. Tak kusadari, rupanya mereka sedang menunggu yang sama. Ya, puluhan orang itu menunggu taksi!

Continue reading “Kekasih Tak Akan Membiarkanmu Kehujanan”