Sebuah Kehidupan yang Mengarah Ke Ketiadaan

Banyak manusia menginginkan kebebasan. Tapi, ke mana kebebasan itu mengantar manusia?

Malam itu seseorang bertanya kepadaku, apakah aku tidak ingin bertanya tentang perubahan-perubahan yang ada dalam dirinya, tentang keputusan-keputusan yang dia ambil. Falsafah Jawa mengenal istilah, “Ojo Gumunan, Ojo Kagetan, Ojo Dumeh“.

Aku katakan padanya, “Jika kau ingin bercerita, bercerita saja. Aku tidak sebegitu ingin tahu karena aku menghargai kehidupanmu dan kemampuanmu untuk mengambil pilihan-pilihan”

Dan aku tak pernah heran. Segala yang ada di dunia ini dapat terbaca. Apa yang tampak mata, biasanya dapat kita hubungkan titik-titik penyusunnya. Apa yang terjadi di masa lalu dan segala akumulasinya mengantarkan kita ke masa kini. Tapi, kalau untuk membaca masa depan, itu soal lain dan manusia lebih banyak salahnya.

(Tapi, yang selalu aku heran dan kagumi adalah betapa dunia ini begitu berpola. Betapa satu hal dapat menjadi penyebab bagi lainnya. Membentuk kepastian-kepastian dalam keacakan kejadian)

Selain itu, aku belajar untuk tidak terlalu ingin tahu tentang urusan lain. Entah sejak kapan. Mungkin itu juga terjadi seiring dengan aku yang lebih fokus pada kehidupanku sendiri. Aku ingin memiliki sebuah pemikiran dan pertimbangan yang bebas dari orang-orang kebanyakan. Aku ingin memilih sumber nilaiku sendiri.

Aku selalu kagum dengan orang-orang yang punya pemikirannya sendiri. Mereka yang berani mengambil tindakan karena punya alasan-alasan dan prinsip. Aku selalu menghargai mereka lebih daripada orang-orang yang hanya mengikuti arus belaka.

Tapi, sampai di suatu titik, aku berhenti mengagumi orang-orang ini. Itu adalah titik ketika mereka telah terhanyut dalam pemikirannya sendiri, egonya sendiri, tanpa sadar ke mana pemikiran mereka bermuara.

Meskipun aku berhenti mengagumi kemerdekaan berpikir mereka, bukan berarti aku merasa lebih hebat dari mereka. Aku hanya merasa lebih beruntung.

Dari keberuntungan itu, masih tersisa sedikit pilu. Kepiluan karena belum dapat menjadi apa yang seharusnya. Tapi, setidaknya aku tahu harus ke mana dan mencari ke mana.

Banyak orang berpikir untuk mengambil keputusan sebatas karena penasaran, karena berpikir bahwa hidup hanya sekali dan tak boleh disia-siakan. Andai saja kita mau berpikir lebih jauh lagi,  sebelum memutuskan sesuatu tentu kita akan pikirkan konsekuensi apa saja yang ia bawa di kemudian hari, atau di akhirat nanti.

Dan dengan itu, kita seharusnya rela menjadi pribadi yang lebih baik, meskipun itu berarti melepaskan hal-hal berharga yang selama ini kita pertahankan hidup-hidupan.

Dan, sebuah visi hidup yang melampaui dunia dan akhirat dalam bingkai integritas adalah suatu hal yang langka di zaman ini. Termasuk pada hal-hal yang luarannya dibungkus-bungkus agama.

Rasanya perjalanan menuju pribadi yang ber-integritas itu tak mudah. Tapi, bukankah hidup yang bermakna ini memang perlu diperjuangkan? Ketimbang ia mengarah begitu saja pada kesia-siaan tanpa kita menyadarinya karena kita pikir hidup ini indah-indah dan gampang-gampang saja.

Advertisements

Pria Di Ujung Kebun dan Gadis Kopi

Pada meja kayu di sebuah warung kopi tempat mereka singgah. Tak hanya dua cangkir, tapi dua hati sedang beradu. Dua pribadi keras kepala sedang berbincang. Masing-masing berbincang dengan dirinya sendiri. Yang satu sedang bermasalah dengan kekasihnya. Yang satu lagi bermasalah dengan banyak hal.

Pria itu sedang berada dalam ketidakstabilan. Gadis itu juga. Gadis itu benar-benar tidak stabil. Dan dia tahu bahwa dirinya tidak stabil. Selayaknya spekulasi tentang kesadaran, ia harus selalu melawan pikiran-pikiran di kepalanya. Apakah suara itu adalah dirinya?

Sementara gadis itu berjuang untuk menjalani hidup dengan kesadaran, pria itu entah ada di mana. Terlalu lama ia tenggelam dalam dunianya sendiri. Dia adalah alien di dunia yang begitu familiar. Dia adalah sendiri dalam segala perbincangan seru yang ia perbuat bersama puluhan manusia dalam setiap bulannya. Di berbagai kota. Di berbagai topik.

Soal cinta. Keduanya masih sama-sama punya.

Kekecewaan masing-masing mereka terhadap hidup atau ketidakpuasan pada diri sendiri tak menghalangi mereka untuk memiliki cinta.

Meski keduanya punya penyikapan berbeda.

Gadis itu ingin memperjuangkan cinta. Ia ingin memperjuangkan manusia lain untuk menjadi rumah tempat ia ingin pulang. Tempat ia merindukan penawar atas rasa keterpisahan. Sekalipun ia tahu bahwa tak mudah bagi orang sepertinya untuk menjalin hubungan jangka panjang.

Pria itu? Dia tak tahu lagi soal cinta. Mungkin juga ada perasaan yang membuat ia mau berada di situ. Dengan segala kepeningan yang ia bawa. Demi memandang paras gadis itu untuk kali pertama.

Dari dekat. Menatap mata. Mengamati setiap geriknya.

Lamunannya buyar seketika. Gadis itu mengingatkannya akan sebuah cerita yang pernah diceritakan oleh seseorang yang pernah ia suka. Seseorang yang dulu paling disuka meski sekarang nomor teleponnya sudah dihapus.

Pernah orang itu mengirimkan sebuah pesan singkat padanya. Mengapa pria itu tega menghapus nama orang itu dari daftar kontaknya?

Pria itu ingin sekali menjawab, kau pun tega benar menikah dengan orang lain. Tapi ia hanya diam. Mencintai orang itu selalu menjadi urusannya. Demikian pula segala patah hatinya. Demikian pula segala rasa sepat yang diperolehnya pada saat ia ingin membahagiakan orang itu namun orang itu hanya berkata, I am happy.

Gadis itu bercerita tentang pria di ujung kebun. Pria yang senantiasa mencari kembang yang lebih manis. Melewatkan semua yang manis. Hingga ia tak sadar bahwa dirinya sudah ada di ujung kebun. Tak ada bunga lagi di sana.

Gadis itu menyuruhnya untuk segera memetik bunga itu. Sebelum habis jalan setapak di kebun.

Tapi, pria itu sedang hilang dari dirinya yang duduk di kursi itu. Entah ke mana ia melayang.

Saat malam larut dan peningnya telah meraja, ia putuskan untuk mengantarkan gadis itu pulang. Mungkin untuk tidak bertemu lagi.

Berhari kemudian ia tersadar. Gadis itulah bunga yang sedang ada di hadapannya. Tapi, apa mau dikata? Dia adalah dia. Dan dia adalah dia. Dan mereka tak akan bersama.

Grand Menteng (depan lift di lantai 6), 11 April 2017 (1:39) 

Menghela

Pusaran gelombang kehidupan mengantarkan pada sebuah labirin jiwa. Di sana dijumpai lagi dan lagi, kesalahan yang sama. Serta ketidakmampuan untuk memetik makna atas segala petualangan dan pertempuran yang dilaksanakan. Makna pada letaknya sebagai keduanya: contemplativa dan activa.

Diam sejenak menjadi obat penawar. Meski hanya sesaat. Meski tak pernah benar ia mengobat. Meski tak kunjung bahagia didapat.

Hanyalah hikmah yang mesti ditambat. Dalam momen-momen merasuknya rasa tobat. Pada setiap jengkal penderitaan dan helaan rasa sakit yang entah mengapa terus ditarik dan tak ingin dilepaskan. Supaya berlepas dari segala rasa kuat dan ilusi manusia akan kekuasaan. Kekuasaan untuk mengatur nasib. Dan untuk menjadi langit.

Di tengah pusaran itu terdapat sebuah tenang. Pusat masa labirin yang menjadi labuhan tatkala manusia menemukan jati dirinya. Manusia-manusia yang menemukan makna atas segala penderitaannya. Serta manusia-manusia yang paham akan hakikat kehidupannya.

Tak ada anugerah. Tak ada musibah.

Yang ada hanyalah tantangan. Sebagaimana telah diperjanjikan dan dipersaksikan.

Manusia harus terus jalan. Seraya bersembah, bersujud, untuk memohon penguatan.

Tapi ke mana? Bukankah itu yang Tuhan pertanyakan?

Dan barang tentu Ia selalu punya jawaban

 

Apa yang Saya Inginkan?

Ada seorang teman yang baru saya kenal beberapa bulan lalu, sering mempertanyakan keotentikan perkataan saya. Apakah saya sedang menjadi diri sendiri? Apakah saya jujur kepada diri saya sendiri? Kata dia kombinasi antara apa yang saya katakan itu aneh. Perkataan dan tindakan saya juga banyak tidak sejalan.

Percakapan dengan orang asing

Kalau sedang suntuk sekali dan butuh cermin baru, saya biasanya berbincang dengan orang yang tidak terlalu dekat atau bahkan asing. Terkadang, kita bisa dapat perspektif baru. Berbicara dengan orang asing, memang terkadang menyakitkan. Mungkin akan ada ruang privat kita yang terusik. Sebab, itulah tugas dari percakapan antara manusia. Mencoba meruntuhkan tembok keterasingan. Dan satu-satunya jalan adalah dengan menerobos pagar-pagar privasi yang ada. Hanya dengan terus menerobos jarak antara dua individu, akan muncul suatu kedekatan pribadi. Dari situ orang asing menjadi teman, sahabat, atau sepasang kekasih.

Namun, berbincang dengan orang asing juga memberikan suatu keluguan atau netralitas. Sebab, si orang asing ini sedang mencoba menerka dan menilai-nilai kepribadian kita. Tidak seperti teman-teman yang sudah kita kenal lama yang umumnya sudah memiliki impresi dan penilaian tertentu tentang identitas kita.

Teman saya ini bilang kalau setiap mengenali seseorang, dia akan mencoba mencari motif si orang ini. Kata dia motif saya tidak dapat ditebak.

Keinginan secara sadar

Kalau ditanya secara sadar, keinginan saya sekarang hanya satu: ingin jadi orang beriman, ingin dapat rahmat Tuhan. Itu saja. Sudah terlalu banyak tanda-tanda di sekeliling bahwa kematian tidak mengingat umur. Terlalu banyak tanda bahwa kehidupan di dunia ini hanya permainan belaka. Dan segala dinamika hidup ini hanya keujian keimanan.

Guru saya mengatakan bahwa tujuan hidup ini sebenarnya satu: hanya mencari ridho ilahi. Tidak ada yang lainnya. Bukan untuk mencari kekayaan, terkenal, kemuliaan, atau hal-hal lainnya. Tapi rupanya kita diberikan permainan di kehidupan dunia ini. Kita diberikan dinamika kehidupan yang sebenarnya merupakan alat untuk meraih ridho Tuhan itu tadi. Kehidupan di dunia ini untuk mencari bekal.

Sekarang, pertanyaannya tinggal bagaimana kita mengarahkan kehidupan kita supaya dapat membawa manfaat bagi semesta alam, sehingga ridho Tuhan itu turun? Bagaimana supaya dalam permainan ini, kita bisa menundukkan ego sehingga kita mematuhi Tuhan? Bagaimana supaya dalam dinamika ini, setiap pergerakan kita mengantarkan diri kita pada kedekatan dengan yang kita tuju, Tuhan itu sendiri.

Realitas fisik

Oke, tentunya dengan sedikit ilmu dan perenungan saja mungkin saya bisa setuju. Saya secara sadar bisa bersepakat bahwa hidup ini untuk mengejar ridho Tuhan sehingga segala aktivitas harusnya berpedoman dan mengarah ke sana. Namun, bagaimana di alam bawah sadar saya? Sudahkah saya mencerminkan semangat itu dalam kehidupan yang saya jalani?

Belum. Saya masih seorang pembangkang. Itulah mengapa tindakan dan perbuatan saya terkadang tidak sejalan. Karena saya masih proses, berhijrah secara spiritual. (Tapi kok rasanya perjalanannya panjang banget ya, bolak-balik terus. haha)

Terkadang saya sedih juga, mengapa dengan segala bekal dan fasilitas yang diberikan Tuhan, saya masih menjadi orang yang lalai. Namun, saya balikkan lagi logika saya. Dengan segala bekal dan fasilitas saja saya masih lalai, bagaimana kalau tidak diberi? Pada akhirnya yang tersisa hanyalah rasa syukur karena saya masih menyadari apa yang salah dalam hidup saya.

Ketika saya galau menghadapi kehidupan, saya memang sedih, dan stres. Tapi, saya selalu sadar bahwa ini semua adalah bagian dari ujian kehidupan. Akan ada rahmat yang turun kalau kita bisa melewati ujian tersebut.

Aneh mungkin, tapi terkadang saya senang kalau hidup saya sedang penuh dinamika. Meskipun terkadang bentuk dinamikanya adalah tidak adanya dinamika itu sendiri. Seperti sekarang-sekarang, saya sedang tidak memiliki motivasi. Saya ingin, tapi saya belum bisa bergerak. Semacam gejala depresi.

Tapi saya senang, karena pengalaman seperti ini adalah bagian dari proses kehidupan yang akan mendewasakan saya. Memberikan saya perspektif baru. Dari ‘penderitaan’ itu akan bertambah pula pengetahuan saya. Mungkin bertambah pula teman saya. Bertambah lagi kebijaksanaan hidup saya.

Saya selalu teringat bahwa seorang sufi lebih menyukai hidup yang penuh cobaan ketimbang hidup yang mapan dan nyaman. Hidup yang mapan dan nyaman akan melenakan. Sementara hidup yang penuh kesulitan akan selalu membuat kita mencari apa yang salah, waspada. Jangankan hidup yang nyaman, terkadang di tengah kesulitan hidup pun masih sangat sulit bagi kita untuk mengingat Tuhan. Padahal kita selalu tahu bahwa hanya Tuhan yang bisa menyelamatkan kita.

Dan lagi-lagi sebenarnya ini semua adalah tentang ujian keimanan, seberapa tangguh dan tidak menyerah kita untuk mencari tali Tuhan, memegangnya erat-erat, meraihnya lagi ketika kita ia lepas. Terus menerus. Kalau hari ini gagal besok coba lagi. Coba terus. Jangan menyerah. Ketika kereta kita keluar dari rel, kembalikan lagi. Itulah perjuangan paling sulit di dunia ini: untuk senantiasa berhampir dengan Tuhan. Itulah jihad.

 

Bagaimana dengan kehidupan PhD saya? Apakah saya menginginkan gelar?

Saya mungkin terlihat atau merasa depresi karena suka merenung di sosmed. Orang-orang mungkin memberikan beragam saran sesuai dengan cara mereka mengukur. Bagi saya, kehidupan PhD pun tidak lain adalah bagian dari dinamika itu. Ini semua bukan lagi soal gelar, uang, atau waktu, melainkan soal pertempuran nilai.

Di sini saya melepaskan segala ambisi-ambisi akan kedigdayaan dan kepercayaan bahwa diri ini berdaya. Ya, mungkin terdengar menyedihkan atau lemah kalau diukur dari omongan motivator atau kebijaksanaan barat. Tapi dari kacamata tauhid, inilah yang benar. Hanya Tuhan yang dapat memampukan kita!

Saya bisa saja quit begitu saja, tapi saya mau ngapain itu nggak jelas. Saya belum minat cari kerja. Kalau quit PhD belum jelas mau ngapain. Mungkin akan ada uang cukup banyak yang bisa dialihkan dari biaya kuliah, tapi nanti akan habis juga. Dan, meskipun sekarang saya sedang berada dalam kondisi tidak punya gairah dan motivasi dan cenderung tidak peduli, dalam pikiran sadar saya, saya masih ingin memberikan diri ini kesempatan.

Sebab, saya sadar bahwa dalam permainan duniawi ini ada manfaat lebih yang bisa diberikan ke orang-orang jika saya berhasil meraih gelar PhD. Tapi tentunya saya tidak tahu apa takdir saya nanti akan dapat PhD atau enggak.

Memang untuk berhenti dari PhD itu butuh keberanian. Tapi, butuh keberanian juga untuk tetap lanjut meskipun tidak ada kepastian akan selesai atau tidak.

 

Tapi, kembali lagi. Lebih luas dari itu, ini soal attitude. Soal pembenahan karakter. Tentunya saya tetap bersyukur dengan apa yang saya peroleh selama 4,5 tahun ke belakang. Begitu banyak pelajaran hidup yang begitu berharga, jauh lebih berharga dari gelar. Sehingga bagi saya, kalau toh saya tidak mendapat gelar PhD, saya sudah siap. Tidak seperti orang-orang yang mendewakan gelar, selama 4,5 tahun ini saya tahu persis bahwa gelar bukan segalanya. Dan, tanpa gelar pun, rupanya masih banyak yang bisa kita lakukan. Dan orang-orang pun tetap percaya dengan potensi dan kapabilitas saya. Masih ada yang mau ngajak bisnis dan lain-lain (meskipun ya ujung-ujungnya belum menjadi, karena tidak semua opportunity mesti diambil). Gelar itu simbol kompetensi. Kita bisa saja punya kompetensi tanpa gelar. Dan kalau orang tahu itu, ya tidak masalah lagi kan gelar-nya apa?

Dan, semangat untuk menata diri itulah yang penting. Sebab, kalau saya mampu menata diri, mungkin saya akan bisa mendapat gelar PhD dan menjadi siap untuk menyongsong tanggung jawab dengan amanah yang baru itu. Bagaimana saya menjadi orang yang lebih rajin dan lebih persisten, tidak malas-malasan (Oiya, nantinya saya ingin menulis postingan tentang Islam kaffah yang rupanya bertentangan dengan malas-malasan). Kalau saya mengundurkan diri dari studi PhD dengan karakter acak adut, itu lebih tidak enak ketimbang saya berupaya mati-matian sampai akhir, sampai mentok meski tidak dapat gelar PhD. 

Sebab, karakter itulah tujuan utama kita, bukan?

Takdir yang pasti datang

Sementara takdir saya akan PhD atau enggak itu belum tentu. Yang sudah pasti datang takdirnya kelak itu kematian. Rasanya setiap harinya ada saja berita duka. Bahwa mati nggak nunggu tua, dan macem-macem jalannya. Di situlah yang harus benar-benar kita persiapkan.

Kemarin saya diberi tahu, cara gampang mengukur kita di surga atau neraka. Hitung saja waktu kita untuk mengerjakan mana yang wajib, sunnah, makruh, dan haram. Kalau banyak yang haram ya neraka. Simpel.

Di situlah saya jadi merinding. Sementara waktu ini lebih banyak untuk hal-hal haram atau melalaikan wajib. Seram sekali.

Dan di sinilah perjuangan betul, untuk menyelaraskan karakter kita dengan karakter yang dimau Tuhan. Dan, dalam proses itu tentu ada gap antara perkataan dan perbuatan. Kalau tidak ada gap, tentu saya sudah jadi insan kamil.

Supaya kelak ketika rohani ini kembali, dia bisa kembali ke jalan yang benar. Sebab akal ini akan mati dan menjadi tanah. Tak bisa kita berdialektika dengan malaikat.

Sebenarnya masih ada satu dua tiga hal yang ingin ditulis. Tapi rasanya sudah terlalu malam, dan terlalu banyak waktu yang saya gunakan untuk merenung-renung. Sekian, dilanjut kapan-kapan. (Sebenarnya tadi sempet nulis di sini beberapa bagian yang akhirnya dipecah menjadi postingan tumblr karena topik bercabang.)

*tambahan: percakapan saya dengan teman seperjuangan di sore hari tadi:

phd

 

 

Puncak Kebijaksanaan Hidup

Dalam falsafah Jawa dikenal istilah “sawang sinawang”. Puncak dari “Sawang Sinawang” (saya rasa) adalah ketika seseorang dengan setulus hati dan kesadaran penuh tidak ingin menukar hidupnya dengan orang lain.

Rasa iri, dan dengki, hilang sudah ketika menyadari bahwa apa yang dilaluinya di masa lalu, kini, dan nanti adalah sebuah perbekalan guna menghadap Sang Pangeran. Bahwa setiap cabaran hidup dan segala kesedihan yang menimpanya adalah suatu alat bagi dirinya untuk mendekat kepada Sang Kuasa. Bahwa dosa-dosa yang telah, sedang, dan akan ia perbuat pun adalah suatu alat bagi dirinya untuk mendekat kepada Sang Kuasa jua. Bahwa setiap kenikmatan yang ia peroleh dari pengabdiannya kepada Tuhan dan sesama adalah tak lebih dari alat untuk mendekat kepada Sang Kuasa. Bahwa segala ilmu yang dipahamkan kepadanya pun tak lebih dari alat untuk mendekat kepada Sang Kuasa.

Kemanusiaannya bersedih hati sejenak. Kemanusiaannya merasakan sakit akibat segala hal (yang terlihat) buruk yang dia lalui. Tapi, diam-diam nuraninya bersemangat. Nuraninya senang menjadi pendosa, sebab ia semakin diingatkan bahwa kemuliaan adalah selendang Tuhan. Nuraninya senang dilanda kesusahan, sebab kesusahan lah yang menjadikan dirinya berpasrah dan berserah total kepada Tuhan.

Kemanusiaannya bersenang hati sejenak. Kemanusiaannya merasakan kegirangan akibat segala hal (yang terlihat) baik yang dia lalui. Tapi, diam-diam nuraninya khawatir. Nuraninya khawatir karena setiap ibadah yang dilakukan membuat ia merasa lebih baik dari orang lain, membuat ia merasa hebat. Nuraninya was-was ketika dilanda kemudahan, sebab segala kemudahan di dunia ini dapat membuatnya lupa diri.

Dan tak peduli seperti apa kehidupannya, dia tak ingin menukar kehidupan ini dengan kehidupan orang lain. Kehidupan Steve Jobs, Bill Gates, Obama, Jokowi atau siapapun. Dia tidak mau menukarnya.

Dia menerima betul takdirnya terlahir sebagai manusia biasa dengan segala kebiasa-biasa-annya. Dia menerima betul takdirnya lengkap atas karunia dan cobaan yang dituliskan langit untuknya. Dia pasrah tak menyerah untuk terus berprasangka baik atas rencana Tuhan. Dia tak berdaya tapi tak lelah memohon dikuatkan untuk terus berjalan di jembatan takwa.

Sebab, pada kehidupannya ini ia hayati segala pengalaman yang ia rasakan. Yang terlepas dari baik dan buruknya, ia temukan makna akan arti kehadiran di dunia.

Sebab pada kehidupannya yang dipenuhi oleh patah hati dan kekecewaan ini, ia akhirnya belajar mengenal Cinta yang Sejati.

Sebab, pada kehidupannya yang dipenuhi kebodohan dan ketidaksempurnaan ini, ia temukan gerbang menuju ilmu sejati.

Sebab, pada kehidupannya yang dipenuhi oleh penilaian orang lain terhadapnya, ia tahu bahwa selalu ada tempat untuk berpulang kembali.

Sebab, pada kehidupannya yang jauh dari kemewahan materi, ia tahu bahwa ada hal-hal berharga yang tak dapat ditukarnya dengan apapun.

Di sana ia akhirnya menemukan apa itu Kebenaran yang senantiasa dicari. Di sana ia temukan bahwa Cahaya ada agar kita dapat melihat apa yang salah dari diri ini. Di sana ia temukan bahwa Cahaya lah satu-satunya yang dapat mengusir kegelapan dan segala rasa takut dan kekhawatiran ini.

Di mana sekarang? Hendak ke mana kita melangkah?

Pertanyaan itu hanya dapat terjawab ketika ada cahaya yang menerangi jiwa kita. Sekotor apa jiwa kita? Bagaimana membersihkannya?

Hal-hal itu telah melampaui unsur fisik. Keberagamaan yang sejati adalah ketika kita memiliki kompas sehingga mata hati kita dapat melihat. Ketika mata hati itu dibuka, kita pun menyadari apa saja yang telah kita lakukan di dunia. Kita mengalami kiamat kecil di mana kita menyadari konsekuensi dari setiap perbuatan yang kita kerjakan.

Dan, ketika mata hati itu terbuka, jangan lagi melihat sesuatu dengan mata zahir. Sebab, sekali kita alihkan mata kita untuk memandang dunia sebagai alam fisik semata, terhijab lagi mata hati kita dari Nur.

Lantas, kembali kita berserah. Tiada yang dapat menyelamatkan kita selain daya-Nya. Lantas tak mampu lagi kita merasa lebih baik dari anjing kudisan sekalipun. Sebab kita seperti ini adalah Kehendak-Nya.

Puncak beragama adalah beserta Tuhan. Manusia pikir itu gampang? Susahnya setengah mati. Karenanya kita harus berlatih. Agar nanti Tuhan hadir ketika kita menyebut-Nya di sakaratul maut. Dan untuk sampai kepada Dzikrullah yang sejati, kita mungkin harus gagal berkali-kali. Lahir baru berkali-kali. Tapi, tak boleh menyerah. Tak boleh menyerah menyusun batu-bata iman. Sehingga kelak tembok tauhid itu kekal dan tak hancur digoda setan akibat telah disemen oleh keikhlasan.

Puncak beragama adalah Cinta. Ketika Tuhan dan Rasul-Nya kita cintai lebih dari apapun. Ketika tak ada lagi yang kita pedulikan. Dan itulah hakikat iman. Kita bukan berbuat baik karena dilihat orang. Bukan pula kita menghindari keburukan karena menyadari bahwa kita ini dijadikan teladan. Bukan demi surga dan neraka.

Tapi cinta adalah kosong jika ia tak termanifestasi. Cinta termanifestasi dengan takwa. Ketika kita dengan sepenuh hati mengikuti jejak langkah rohani dan jasmani Rasul. Dan hanya Tuhan yang berdaya memberikan takwa bagi siapa yang memang hendak mencarinya.

Puncak beragama adalah Ikhlas. Yakni ketika kita mampu melepaskan tuhan-tuhan kecil yang bersemayam di pikiran kita. Mereka yang mengerangkeng jiwa kita sehingga tak dapat terbang untuk menemui Sang Rabb. Mereka yang menghijab kita dari petunjuk-petunjuk Tuhan yang tak kenal tempat dan waktu.

Puncak beragama adalah akhlak. Ketika kita benar-benar memasuki Islam secara kaffah. Tidak pilih-pilih lagi. Di puncak itu, dosa batin dan dosa zahir baik kecil maupun besar menjadi sama saja. Manusia telah melampaui hukum-hukum fiqh dan berada di puncak hakikat akhlak.

Pada akhirnya, semua yang terpisah telah berbaur menjadi satu tak dapat terbeda lagi. Iman Islam Ihsan Ikhlas Dosa Besar Dosa Kecil Dzikir Sholat Zakat dan segalanya telah menjadi hakikat. Hakikat Cahaya. Cahaya itu sendiri. Berhampir dengan-Nya. Hilang Sirna. Tiada Kata. Tiada Rasa. Entah apa yang ada. Sepertinya Segala Ada di Sana.

Tiada ilmu tiada kata. Yang ada adalah Kebenaran itu sendiri. Yang entah bagaimana, dengan cara-Nya, masuk ke dalam hati sanubari kita. Hati sanubari dalam makna sebenar-benarnya.

20/4/2016

Tak Termungkinkan

Adalah kerinduan yang menyergapku di waktu-waktu sibuk
Melemparkanku pada warung kaki lima tempatku mengamen puisi
Kuutarakan lirih kepada mereka: Hampa.. kepada sri
Sepi di luar. Sepi menekan mendesak

Seperti paras yang menyerobot masuk tanpa permisi
Rasa yang hilangnya telah lama aku nanti

Tambah ini menanti jadi mencekik
Mencekik akal sehat dari keterpisahan
Desakan-desakan yang terus ada dan tak akan pernah terekspresikan
Sebab ini sepi terus ada. Dan menanti

*(bait-bait yang digaris miring merupakan puisi Hampa karya Chairil Anwar)

Prasangka Terhadap Makhluk, Cermin Prasangka Kepada Tuhan

Baru saja saya tersadar tentang hal ini.

Suatu hari seorang teman bertanya kepada saya, apa yang biasa saya obrolkan dengan ibu saya. Ada suatu kerinduan di hatinya untuk dapat berbincang dengan ibunya. Menariknya, kerinduan ini muncul lebih besar ketika dia sendiri telah menjadi seorang ayah.

Continue reading “Prasangka Terhadap Makhluk, Cermin Prasangka Kepada Tuhan”

Samudera Ketunggalan dan Pertempuran Nilai

“Ma, ini tuh kayak pacaran sembilan tahun sama cewek yang kita nggak suka-suka amat gitu. Yang kita udah berusaha buat suka, tapi nggak bisa.”

Jumat, 6 Mei 2016. Sore hari sebelum perbincangan itu terjadi, saya sedang makan bubur kacang hijau di kantin. Minggu-minggu ke belakang banyak sekali yang berbincang dengan saya seputar studi saya. Seperti diwawancarai lagi rasanya, tentang mengapa saya ambil PhD.

Sebenarnya ceritanya agak panjang dan saya sudah menulis draft lagi tentang detailnya (draft lain, meski nggak tahu juga apa suatu saat akan selesai atau tidak, akan di-post atau tidak). Kalau mau disingkat pakai bahasa gaul, “I’m in a deep sh*t right now.” Saya ada di tumpukan kotoran akibat perbuatan saya sendiri.

Tapi, sore itu saya tersadar akan banyak hal. Dan segala hal itu bercampur aduk dan bermuara pada satu. Continue reading “Samudera Ketunggalan dan Pertempuran Nilai”

Pencarian Spiritual Manusia Tak Bertuhan

Tentang buku “Waking Up: A Guide to Spirituality Without Religion” dari Sam Harris, seorang neo-ateis yang cukup vokal dalam memerangi agama, terutama Islam. [Neo-ateis yang saya maksudkan di sini mengacu pada tokoh-tokoh intelektual barat (seperti biolog Richard Dawkin, fisikawan Lawrence Krauss, jurnalis Christopher Hitchens)  yang begitu mengedepankan rasio dengan konsekuensi: gencar “mempromosikan” ateisme (walaupun kata “promosi” tidak sepenuhnya tepat)]. Dia sendiri adalah seorang filsuf dan neuroscientist lulusan Stanford dan UCLA. Buku yang ditulisnya sendiri lebih seperti memoar pencariannya akan kebenaran (lebih banyak kontemplasinya daripada sainsnya).

Continue reading “Pencarian Spiritual Manusia Tak Bertuhan”

Kekasih Tak Akan Membiarkanmu Kehujanan

Matilah aku! Aku harus segera mendapatkan taksi. Sudah jauh-jauh datang kemari, apakah aku akan melewatkan perjanjian ini? Hanya demi berbagi riak tawa duniawi, aku habiskan waktuku di situ.

Maka aku pun menuju pintu keluar. Rupanya hujan. Banyak orang berjejer di depan pintu. Aku tanya kepada petugas keamanan, di mana taxi stand? Ia menjawab, di situ Mas, tapi yang menunggu sudah banyak. Aku pikir deretan orang itu, yang jumlahnya mungkin mencapai puluhan, sedang menunggu sesuatu. Tak kusadari, rupanya mereka sedang menunggu yang sama. Ya, puluhan orang itu menunggu taksi!

Continue reading “Kekasih Tak Akan Membiarkanmu Kehujanan”

Khauf dan Raja’

Sepulang jumatan lalu. Saya bilang Tuhan punya rencana. Lantas teman bicara saya mengatakan “Tuhan nggak berencana seperti manusia. Strictly speaking, kalau bilang Tuhan berencana buat saya kafir. Saya udah pernah bahas itu di Salman dulu.


 

Ya, secara implisit saya mungkin dibilang kafir. Tetapi, mungkin tidak sesederhana itu juga. Mari kita runut.

Percakapan Itu

Jadi awalnya begini. Di bus jumatan saya duduk sebelah dengan seseorang yang kebetulan satu almamater dan jauh lebih tua dari saya. Awalnya sapa-menyapa biasa tentang riset PhD. Dia nyeletuk, “Apa masalahnya, masih muda, belum berkeluarga, apa kendalanya emang?”

Saya bilang saja, “Saya mencari makna hidup,” sembari tertawa.

“Wah bagus-bagus. Tapi PhD gimana. Penting mana?”

“Gelar PhD nggak ada artinya kalau kita nggak tau makna hidup”

Entah bagaimana saya lupa, akhirnya muncul celetukan darinya, “Muda foya-foya, tua kaya-raya, mati masuk surga.” Entahlah, kali itu saya lelah dengan ungkapan itu. Bahasa kerennya: baper; risih. Memangnya masuk surga tidak perlu usaha. Justru di beberapa hadits disebutkan bahwa di antara dari tujuh yang mendapat lindungan Allah di hari akhir adalah mereka yang sedari muda sudah menyibukkan diri dengan ibadah.

%{Secara personal saya tahu hadits itu dari lama, tapi baru benar-benar merasa bahwa itu penting ya sekarang-sekarang ini. Dulu saya agak skeptis dengan keberagamaan yang berpusat pada ritual saja. Bahkan, ke-bebal-an umat beragama membuat saya lebih ngefans dengan para ateis dan agnostik. Selain itu, berada di lingkungan yang kurang baik pun menggeser pikiran, tindakan, dan kebiasaan saya ke hal-hal yang tidak baik.

Namun, setiap orang memiliki momen-momen titik baliknya. Terkadang tidak hanya satu, tetapi banyak. Tidak langsung berubah, tapi berproses. Dari kejadian yang dialami, orang-orang yang ditemui. Hingga akhirnya saya tersadar bahwa umur tidak ada yang tahu. Kalau tidak sungguh-sungguh dari sekarang, sejak kesadaran itu ada, kapan lagi mau memulai? Berat memang, tapi semua orang harus memulai dari suatu titik. 

Terkadang ada pula rasa iri tentang ampunan Tuhan yang begitu luas. Bayangkan, seorang ahli maksiat, kalau sebelum meninggal saja dia mendapatkan ampunan-Nya, selesai sudah semua urusan. Tapi ya tentu syarat dan ketentuan berlaku. Sebaliknya ahli ibadah pun bisa menjadi fasik di akhir hayat dan meninggal suul khotimah. Tapi, tentunya itu adalah bukti bahwa ada pengecualian yang membuktikan bahwa ada ketentuan umum yang berlaku.

Semakin meningkat kualitas diri kita, ujian pasti akan semakin besar. Tentu hal ini kadang bikin jiper orang-orang muda. Bagaimana mungkin orang yang puluhan tahun mengabdi di jalan Tuhan, mengambil Allah dan Rasul dan Ulama Warasatul Anbiya sebagai pemimpin, namun masih bisa juga lari dari cahaya dan mengambil setan sebagai pemimpin? Tapi, katanya, tentu kita punya senjata yang sudah lebih bagus pula untuk mengalahkan ujian-ujian tersebut.Maka, dikatakanlah bahwa orang yang sedari muda menyibukkan diri dengan beribadah akan mendapat lindungan-Nya. Sebab masa muda adalah masa krusial untuk membangun senjata dan menangkis-nangkis godaan.%}

Kembali ke topik pembicaraan. Lantas, teman diskusi saya mengatakan sesuatu yang kontennya kurang lebih: masuk surga atau neraka itu urusan Tuhan saja. Saya memahami bahwa dalam suatu konteks hal itu mungkin benar (seperti yang saya bahas di post tentang pelacur yang masuk surga). Tapi, ketika kita berbicara langsung, kita dapat melihat indikasi-indikasi pemikiran seseorang. Kita dapat melihat, rasa apa yang dibawa seseorang ketika mengatakan itu.

%{Tentu saja intuisi saya bisa salah bisa benar. Apalagi kami belum pernah berdiskusi tentang agama sebelumnya. Berbeda dengan kalau saya berdiskusi dengan sahabat saya di kuliah misalnya, yang meskipun pemahaman kami berbeda, kami tahu suhu masing-masing. Percakapan ini terjadi tanpa informasi apriori mengenai sejauh mana latar belakang pemahaman satu sama lain. Dan kejadian yang akan saya ceritakan di sini hanya berlangsung di perjalanan dari Masjid menuju Kampus yang hanya beberapa kilometer. Tapi yang jelas ada pelajaran di baliknya.%}

Saya bilang, “Nggak bisa gitu Mas, urusan akhirat itu harus diselesaikan di dunia.”

Dia bilang, “Woh, nggak bisa gitu. Surga neraka itu suka-suka Tuhan. Pernah dengar khauf dan raja’ nggak?”

Lantas saya bilang tahu. Tapi tentunya ada rukun dan syarat yang mesti kita penuhi. Dia bilang, kita harus bedakan dulu antara ranah Tuhan dan ranah manusia. Semua ini suka-suka Tuhan. Manusia ya hanya bisa berencana, tapi Tuhan yang ujung-ujungnya menenentukan.

Kemudian saya bilang, kalau Tuhan punya rencana yang baik untuk kita tapi kita tidak memenuhi rukun dan syarat-nya, ya nanti rencana itu tidak akan menjadi kenyataan. Lantas dia mengatakan bahwa Tuhan tidak berencana, bagi Tuhan Kun Fayakun, apa yang terjadi ya terjadi. Tuhan tidak seperti manusia yang berencana, karena kalau Tuhan punya rencana artinya dia tidak mengetahui apakah itu akan terjadi atau tidak.

Saya bilang tidak begitu dong, justru Tuhan punya blueprint atas apa yang akan diciptakan. Analoginya seperti pada pembangunan di suatu negara. Ketika ada gedung dibangun, itu ada perencanaannya. Bukan karena tidak tahu akan terjadi atau enggak, tapi karena menginginkan itu untuk terjadi. Saya lantas bertanya, “Jadi ketika Tuhan bilang ke malaikat bahwa akan diciptakan manusia di muka bumi, Tuhan tidak sedang berencana?”

Dengan lantangnya dia menjawab nggak! Jadi ya jadi. Saya sebenarnya agak takut memperpanjang kronologis ini, karena bisa jadi sudah tidak tepat lagi. Yang jelas muncul-lah kata-kata tersebut. “Tuhan nggak berencana. Strictly speaking, kalau bilang Tuhan berencana buat saya kafir. Saya udah pernah bahas itu di Salman dulu.

%{Sampai di sini saya hanya bisa geleng-geleng saja. Refleks. Dan hanya bisa bilang, hati-hati loh Mas. Setiap kali berhadapan dengan situasi ini, saya selalu teringat kisah Abu Bakar yang ditinggalkan Rasulullah ketika ia menanggapi orang yang mencelanya. Kata Guru saya, kita tidak boleh berdebat. Bagusnya, kita ungkapkan pandangan kita. Dia ungkapkan pandangan dia. Kalau tidak ketemu ya sudah. Karena kalau ngotot-ngototan yang bermain sudah ego, sudah setan. Sekalipun kita ada yang di jalan benar, ketika hati kita bersambungnya pada selain-Nya, maka hanya akan membawa kerugian. Tidak ada faedahnya.

Tapi, prakteknya memang sulit meski kita sudah menyadarinya. Sebab di satu sisi kita punya keinginan untuk membuat pemahaman orang lain sama dengan kita. Karena kita berpikir bahwa orang lain ini bisa celaka dengan pemahaman itu. Tapi, saya sudah belajar dari pengalaman sebelum-sebelumnya bahwa kita tidak bisa memaksakan paham kita kepada orang lain. Jangankan kepada sopir taksi yang baru kita temui, kepada keluarga sendiri saja tidak bisa. Namun, kembali, kalau Tuhan menghendaki, pertemuan yang tak terduga pun dapat mengantarkan kita ke jalan menuju Hidayah. %}

Dan bagi Tuhan, menurutnya, semau Dia, tidak ada baik dan buruk. Ya saya bilang bisa saja, Tuhan kan Maha Menepati Janji, Tuhan terbatas oleh apa yang dijanjikan-Nya. Lantas dibalasnya lagi, loh berarti Tuhan terbatas dong. Sekarang kalau kita sudah beribadah lantas Tuhan mau masukkan kita ke neraka gimana?  “Bukan begitu, Tuhan punya hak prerogatif. Itu exception, bukan base rules,” jawab saya.

%{ Saat mengingat pembicaraan ini, saya jadi teringat bahwa saya pun pernah berpikir seperti apa yang Mas ini pikir. Dan alasan saya menggunakan kata “Tuhan terbatas oleh apa yang dijanjikan-Nya,” itu karena saya teringat obrolan dengan seorang teman di masa lampau. Dan persis seperti tanggapan Mas ini lah saya menanggapi teman saya. Nanti di bawah, hal ini akan saya eksplorasi. %}

Lalu keluarlah perkataan bahwa secara semantik ketika mengatakan bahwa Tuhan berencana itu kafir. Lantas perbincangan pun masih berlanjut meski tidak kemana-mana. Menurut pemahamannya Tuhan hanya memberikan guideline, tapi ya suka-suka Dia. Yang saya tangkap seolah pemahamannya lebih cenderung ke Jabariyah. Saya juga sebenarnya agak takut terjebak dalam ego. Dan akhirnya si Mas harus turun lebih dahulu ke kantornya. Saat itu saya sebenarnya sedang ingin membahas masalah paham Jabariyah dan Qadariyah.

Rencana Tuhan

Setelah perbincangan itu, saya jadi berpikir. Mungkinkah saya yang salah? Mungkin pemahaman saya kurang pas? Saya pun lalu mengecek Al-Hadid (dan juga baca tafsirnya di sini) dan beberapa hadits:

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. Al Hadid: 22-23)

Allah mencatat takdir setiap makhluk 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.”

“Hendaklah engkau tahu bahwa sesuatu yang ditakdirkan akan menimpamu, tidak mungkin luput darimu. Dan segala sesuatu yang ditakdirkan luput darimu, pasti tidak akan menimpamu.”

Tentu hal ini menggambarkan bahwa Tuhan sebenarnya punya rencana. Lantas, kita ingat kembali Ar-Ra’du ayat 11:

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Jadi rupanya, takdir kita itu tidak bisa ujug-ujug berubah. Kita sebagai yang menjalaninya harus melengkapi rukun dan persyaratannya. Memang, Tuhan itu Maha berkehendak. Jadilah maka jadilah. Tapi, kita juga mengetahui bahwa jadilah maka jadilah itu terejewantahkan pula di hukum alam, pada ketentuan yang berlaku. Ada mekanismenya. Tuhan mau menciptakan manusia, jadilah maka jadilah! Tapi kok dibuat dari tanah? Mengapa nggak ujug-ujug jadi manusia aja? Bisa saja kita bertanya seperti itu kan, tapi tidak penting juga mencari jawabannya.

Di sinilah yang saya maksud bahwa Tuhan punya rencana yang baik, tapi kalau kita tidak berupaya menjadi baik, ya tidak akan menjadi baik. Lantas ada pula yang mengatakan bahwa baik buruk itu relatif ukurannya. Ya baik itu yang diridhoi Tuhan, sebab kita Muslim. Dan Tuhan, sebenarnya tidak merencanakan hal yang buruk bagi kita, tapi kita malah menjerumuskan diri kepada keburukan.

Mengapa bisa begitu? Karena kita dikaruniai kebebasan untuk memilih. Tidak seperti malaikat yang taat 100%, kita memang punya dua potensi (baru-baru ini saya menuliskan juga di tumblr). Tapi, ketika kita telah memilih sesuatu, tentu muncul konsekuensi. Seperti yang digambarkan pada komik di atas. Kita bisa memilih untuk mengangkat kaki kanan. Tapi, kalau sudah mengangkat kaki kanan, kita tidak akan bisa mengangkat kaki kiri. 

Dan konsekuensi yang kita terima tidak akan bisa lari dari hukum Tuhan. Baik hukum fisika, maupun metafisika. Baik hukum dunia, maupun hukum akhirat. Karena Tuhannya sama. Dan Tuhan tidak ingkar janji!

Hakikat Hakikat

Sulit memang ketika kita sekedar berfilsafat. Sebab sama halnya dengan sains, filsafat adalah alat untuk mencari kebenaran, bukan kebenaran itu sendiri. Makanya pembahasan mengenai Tuhan dan janji Tuhan seperti hal yang di atas bisa jadi perdebatan tata bahasa. Simbol belaka.

Kalau kita berbicara mengenai hakikat Kebenaran yang sejati, tidak ada yang bisa dibahas di sana. Nabi Musa “Kalimullah” yang sudah diajak berbincang dengan Tuhan saja pingsan ketika Tuhan bertajalli di Gunung. Tuhan itu mukhalafatu lil hawaditsi. Berbeda dengan makhluk. Kalau Tuhan itu mengetahui, berilmu, dan berencana, tentu kita tidak tahu seperti apa itu sebenarnya. Tapi, Tuhan membuat permisalan-permisalan supaya akal manusia yang terbatas ini dapat memahami kebenaran sehingga dapat menjadi taqwa dan memahami kehendak Tuhan. Jadi, kalau kita bilang orang yang mengatakan bahwa Tuhan berencana itu kafir, kenapa nggak kita kafirkan sekalian orang yang bilang bahwa Tuhan mengetahui?

Sekarang, Kebenaran itu begitu Agung dan Tinggi. Akal manusia tak kuasa menjangkaunya. Makanya yang bisa dilakukan hanyalah mendekatinya, menciptakan model-model. Setiap orang punya pemahaman berbeda. Sahabat-sahabat yang dijamin masuk surga pun punya ijtihad pribadinya. Itu semua adalah upaya manusia untuk mendekatkan diri kepada kebenaran. Tapi, tidak menjadikan pemahmannya sebagai Kebenaran yang Sejati. Selama masih ada kata, dan pikiran, ya itu hanya upaya kita yang manusia ini untuk mengungkapkan dan memahaminya. Sebatas yang kita diberikan kekuatan dan pengetahuan oleh-Nya.

Kalau mau tahu realitas sebenarnya dari akhlak Al-Quran seperti apa ya kita saksikan lah pribadi Rasulullah SAW. Tapi, ketika manusianya, Muhammad anak Abdullah wafat, tentu sahabat yang hendak menjelaskan prilaku Nabi seperti apa kepada anaknya yang tidak pernah bertemu Nabi, akan menggunakan deskripsinya sendiri. Dan setiap orang mendeskripsikannya berbeda meski realitas yang disaksikan sama. Kalau kita kekurangan wacana, bisa-bisa kita menganggap kata-kata sebagai realitas kebenaran itu sendiri.

Ranah Kemanusiaan

Nah, sebenarnya saya sepakat juga kita perlu membedakan antara ranah Ke-Tuhanan dengan ranah Kemanusiaan seperti teman diskusi saya. Yang saya kurang sepakat adalah konsekuensinya.

Ketika dikatakan bahwa apa yang diberikan oleh Tuhan hanyalah guideline saja sementara kita beriman atau tidak itu suka-suka dia, menurut saya kurang pas. Sebab, sebagai manusia, yang bisa kita lakukan adalah berupaya semaksimal mungkin mengikuti guideline itu. Karena itu tadi, bisa jadi Tuhan ingin memberikan iman dan takwa kepada kita, tapi kitanya malah terlena dalam kemaksiatan. Ya ngggak akan jadi.

Tapi, kembali lagi. Bukan upaya manusia yang membuat manusia itu menang. Tapi rahmat Tuhan. Di situlah kita kembali lagi ke ranah Ke-Tuhanan. Kedua ranah ini harus dipahami dengan pas. Kalau bahasa sufi-nya dari syariat kita pelajari hakikat, dari hakikat kita kembali laksanakan syariat dengan pemahaman yang utuh. Syariat kita laksanakan dengan harap rahmat dan ketidakberdayaan atas hakikat Ke-Tuhanan dan kemanusiaan.

Jika tidak, ini akan menjadi Khauf (takut) dan Raja’ (harap) yang aneh. Sebab seolah-olah kita pesimis terhadap Tuhan, sehingga membiarkan diri sendiri mengalir begitu saja. Buat apa susah-susah ibadah kalau nanti rahmat Allah nggak turun, masuk neraka juga kok. Dan sebaliknya bisa juga menjadikan kita yang masih bermaksiat ini menjadi optimis yang aneh: ya nggak papa maksiat-maksiat aja, kan nanti diampuni Tuhan, masuk surga, Hore! Sementara Tuhan sudah memberikan guideline. Dan guideline ini jangan diremehkan. Jangan dipandang sebagai sekedar koridor yang boleh ditaati atau tidak tapi kita pandang sebagai hukum yang mutlak harus dipenuhi. Kalau kita pandang remeh, justru kita jadi ignorant, acuh, melakukan pembiaran terhadap jiwa yang kotor sebagaimana dikatakan di surat As-Syams: Qad khooba man dassaha.

Maka kalau kita itu Raja’ betul, kita akan berupaya semaksimal mungkin memenuhi guideline Tuhan, karena kita percaya bahwa Tuhan nanti akan memberi kita kekuatan. Tak peduli seburuk apapun iman kita sekarang.

“Orang berdosa yang mengharap rahmat Allah jauh lebih disayang Allah dari pada orang taat yang berputus asa.” (H.R Ibnu Mas’ud)

Oh iya, jangan salah. Nggak sedikit loh, orang yang taat beribadah tapi sebetulnya berputus asa kepada Tuhan. Setiap hari sholat, tapi takut kalau berdoa. Katanya takut kalau nanti doanya nggak dikabulkan, maka nanti imannya akan hilang. Ini artinya sudah kehilangan yang namanya Roja’. Tidak lagi percaya pada janji Tuhan.

Dan kalau kita bicara di ranah Tuhan, memang tidak ada upaya makhluk itu. Semua daya dan upaya datang dari Tuhan! Termasuk daya dan upaya agar kita bisa menjadi terus istiqomah di jalan-Nya!

Dari situlah, kita menjadi betul-betul Khauf. Kita menjadi takut kalau suatu saat hati kita dibolak-balik oleh Sang Muqallibul Qulub. Kalau-kalau suatu saat kita kembali ke kegelapan. Karena daya dan upaya itu datang dari Allah. Segala ilmu, karunia, rezeki, kenikmatan duniawi (dan termasuk yang kalau orang tasawuf menyebutnya kekasyafan), pada hakikatnya datang dari Tuhan. Kita bekerja dapat rezeki. Pada hakikatnya rezekinya ya dari Tuhan.

“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (Az-Zumar 9)

Ya, tentunya berbeda ya takutnya orang yang memahami dengan yang tidak memahami. Bagi orang yang nggak beriman, dunia ini surga. Senang-senang aja. Bagi mukmin, dunia ini penjara. Takut dan harap-Nya seorang yang shiddiq tentu saja berbeda dengan takutnya orang yang baru mengenal Islam misalnya. Ya kan beda, kalau kita takut terlambat ketemuan dengan orang yang belum dikenal, dengan ketemuan dengan bos, dan dengan ketemuan dengan kekasih.

Maka jangan heran kalau ada orang-orang yang beramalnya mungkin berbeda dari kita. Begitu rajin sholat. Dan cara menjalani dan memandang kehidupan dunia pun beda. Ukuran suksesnya beda. Karena mereka itu berilmu, dan mengetahui betapa pentingnya menghamba, mereka benar-benar rela memberikan semua yang dipunya di jalan Tuhan. Beda dengan kita yang masih orang duniawi.

Tapi di tingkatan manapun, setiap orang harus menjadikan Khauf dan Raja’ sebagai bahan utama muhasabah. Nanti, kalau kita senantiasa bermuhasabah dan dapat menemukan sebuah kesetimbangan dinamis antara Khauf dan Raja’ maka di situlah akan muncul ketenangan hati dari mengingat Tuhan.

Telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abdul Hamid, telah menceritakan kepada kami Ja’far ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Sabit, dari Anas r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. menjenguk seorang lelaki yang sedang menjelang ajalnya, lalu beliau bertanya, “Bagaimanakah perasaanmu sekarang?” lelaki itu menjawab, “Aku berharap dan aku takut (kepada azab Allah).” Maka Rasulullah Saw. bersabda: Tidaklah terhimpun perasaan ini pada kalbu seseorang hamba dalam keadaan seperti ini, melainkan Allah Swt. memberikan kepadanya apa yang diharapkannya dan mengamankannya dari apa yang ditakutinya.

Nah, dengan senantiasa bermuhasabah, nanti akan timbul keinginan untuk bisa menjadi seorang hamba yang utuh. Supaya tidak merugi.

‘Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?’ Sahabat menjawab, ‘Orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak memiliki perhiasan.’ Rasulullah saw. bersabda, ‘Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun ia juga datang dengan membawa (dosa) menuduh, mencela, memakan harta orang lain, memukul (mengintimidasi) orang lain. Maka orang-orang tersebut diberikan pahala kebaikan-kebaikan dirinya. Hingga manakala pahala kebaikannya telah habis, sebelum tertunaikan kewajibannya, diambillah dosa-dosa mereka dan dicampakkan pada dirinya, lalu dia pun dicampakkan ke dalam api neraka. (HR. Muslim)

Demikian pula dengan kaitannya dalam bekerja di dunia. Kalau boleh jujur saya sedang malas-malasnya dengan PhD saya ini (karena beragam faktor)*, tapi saya tahu bahwa malas itu sifat setan. Dan, bekerja keras untuk kehidupan dunia ini adalah kewajiban. Menjadi rahmatan lil alamin adalah kewajiban. Maka peperangan saya setiap hari untuk melawan kemalasan pun menjadi jihad. Tak peduli semuak apapun saya dengan keilmuan Teknik Elektro.

Tapi, akan menjadi sia-sia jika itu semua, jika nanti saya punya kendaraan duniawi yang lebih baik, tapi saya kehilangan kompas hidup. Dan hikmah terbaik dari obrolan di bus jumatan itu adalah, saya jadi belajar lagi tentang agama. Merasa lebih kurang lagi. Dan bobotnya tentu jauuuuuuuuuuuuuuuh lebih besar sekedar PhD.

Lewat pertemuan dengan Mas itu di bus jumatan saya diingatkan dua hal. Kembali lagi serius untuk PhD karena saya tidak punya excuses untuk tidak perform. Dua, saya diingatkan lagi bahwa penting untuk mempelajari Islam secara menyeluruh. Saya dengan gampang membaca buku-buku aneh filsafat, psikologi, sains, dan novel nggak jelas dari sampul ke sampul. Sedangkan untuk textbook perkuliahan, dan al-Quran. Wah jauh deh.

Dan saya mungkin tidak akan bertemu lagi dengan Mas-nya untuk berbincang tentang ini semua. Pun, belum tentu Mas-nya akan membaca tulisan ini. Tapi, kalau nggak ada kejadian ini mungkin saya jadi nggak baca-baca Quran lagi.

Wallahua’lam bishowab.

%{Memang terkadang saya berpikir, mengapa saya tidak jadi seperti orang lain saja ya. Hidup tenang. Kuliah ya kerjakan kuliahnya saja nggak perlu macem-macem. Kalau ada teman ngajak senang-senang atau apa ikut saja lah. Jalan-jalan keliling dunia. 

Tapi, kalau melihat orang sudah menjadi PhD tapi nggak dapet makna kehidupan juga miris. Sudah tua sudah punya anak cucu, tapi belum tahu mau ke mana buat apa? Super pintar dan bermanfaat untuk dunia melalui ilmu, tapi nggak kenal Tuhan buat apa? 

Dan, sebaliknya, miris juga dengan orang-orang Islam yang begitu terbelakang. Seolah menggantungkan rezeki pada Tuhan tanpa berusaha. Seolah lupa dengan perintah untuk menjadi rahmatan lil alamiin.  Lantas membangga-banggakan Islam sebagai rahmatan lil alamin, tanpa berupaya menjadi rahmatan lil alamin itu sendiri, kan lucu. Seperti membanggakan cahaya tapi tidak berjalan ke cahaya itu. Bukankah mengembangkan diri dan berkarya adalah bagian dari pengejawantahan rasa syukur atas anugerah iman? Lantas hanya bisa menjelek-jelekkan mereka yang belum mengenal Islam. Paranoid terhadap kegelapan, padahal yang diperlukan untuk mengusir gelap adalah cahaya. 

Dan sedih juga dengan orang-orang yang bangkrut dan merugi. Mereka yang taat ibadah, tapi di facebook kerjaannya berdebat sama orang misalnya. Nyinyir. Mencemooh. Atau yang ngakunya bawa Islam tapi akhlaknya seperti gimana. Itu kan ngeri. Dan lebih ngeri lagi ketika orang super duper hebat pengabdiannya, tapi putus asa dengan janji Tuhan.

Dan tentu semua itu adalah soal pilihan. Apa yang kita kejar, adalah apa yang akan kita raih. Kalau kita sudah tahu apa yang mau kita kejar, tak perlulah lagi kita pikirkan orang-orang yang tidak tahu itu.

Rabbana la tuzigh quloobana ba’da idh hadaytana wa hab lana milladunka rahmah innaka antal Wahhab.%}

 

*koreksi. Bukan sedang malas-malasnya. Tapi baru saja melewati titik sedang malas-malasnya. Sebab sekarang sudah tidak mempertanyakan lagi PhD penting atau tidak, tidak lagi meresahkan apakah saya menyukai bidang saya yang sekarang atau tidak.