Harus Kemana Pak Sarjana?

Beberapa waktu ke belakang, rasanya cukup heboh pemberitaan di media mengenai mobil listrik. Ada pula yang salah satu artikel yang berisi curahan hati “anak-anak Habibie” (saya jadi teringat istilah, “Jangan mengaku anak Bung Karno apabila tidak kiri”). Sering juga saya melihat, di halaman rumah facebook saya, orang-orang berbagi artikel tentang Habibie dan gagasannya tentang teknologi. Salah satu yang menarik bagi saya adalah ketika ada yang mengungkapkan tentang gagasan Habibie seputar nilai tambah. Digambarkan dengan perbandingan harga berapa ton beras setara dengan satu pesawat.

Hal ini mengingatkan saya pada buku Jejak Pemikiran BJ Habibie yang belum tuntas saya baca. Di situ dijelaskan konsep pengembangan IPTEK yang coba diusung oleh Pak Habibie. Di buku tersebut dibahas pula bagaimana diperlukannya integrasi antara perguruan tinggi, industri, serta pemerintah. Serta yang tak kalah penting dibahas di buku ini adalah pemikiran beliau mengenai pengembangan SDM. Beliau menempatkan SDM pada suatu posisi yang penting, lebih dari sekedar komoditas. Saya agak lupa bagaimana kalimat pastinya, yang jelas Pak Habibie memandang bahwa pengembangan SDM adalah investasi terbaik dari suatu bangsa. Tak hanya soal hard skill tapi juga tentang karakternya. Mungkin hal ini pulalah yang melandasi banyaknya program beasiswa yang dicanangkan oleh beliau di masa lalu.

Sampai saat ini saya masih sering bertanya-tanya, sebenarnya apa sih yang bisa saya lakukan? Bagaimana agar keberadaan saya di dunia ini memberikan dampak meskipun kecil. Sementara kawan-kawan saya sudah banyak yang memberikan dampak, saya masih terdiam di sini. Sementara teman saya dengan gagahnya membagi foto piala yang ia menangkan dari lomba technopreneurship dan bahkan berkesempatan untuk mempresentasikan gagasannya di depan wakil presiden dan idola saya, Pak Habibie. Sementara saya, masih terdiam di sini dipusingkan oleh banyak hal-hal personal.

wirausaha muda mandiri

Bro Afin dengan senyum kemenangannya.. Metlamet Don Afin dan Om Teguh, jangan lupa traktiran. (Sumber gambar = http://www.antarafoto.com/bisnis/v1358409011/wirausaha-muda-mandiri)

Lalu saya melihat ke belakang. Kadang kita begitu yakin sekaligus tidak yakin sama sekali tentang masa depan kita dan terkadang lupa bahwa dunia berubah dan kita harus menjadi adaptif.

Flashback

Ketika itu di lantai 55 Gedung Energi. Saya sebagai orang berpendidikan paling rendah dan berpengalaman paling minim tentu saja mencoba sesopan mungkin. Continue reading “Harus Kemana Pak Sarjana?”

Menanti Universitas Generasi Ketiga di Indonesia

*lagi-lagi tulisan tidak akan seberat judulnya

Kebetulan beberapa hari yang lalu salah seorang teman saya berkicau seperti ini di twitter:

apalah awak ini, seorang @rousyan. mana ingat kau apa jabatanku dan fungsiku di MWA? wakil mahasiswa dihilangkan saja tidak ada yang peduli

Entah saya yang terlalu lebay atau melankolis, saya pribadi jadi berintrospeksi. Saya pribadi merasa tidak banyak kontribusi yang saya lakukan selama menjadi anggota MWA. Dan melalui postingan ini, ijinkan saya sekali lagi mencoba membagi wawasan yang saya dapatkan.

Itebeh jadul (sumber)

Pendidikan adalah hal yang sangat vital bagi pembangunan bangsa. Suatu bangsa didefinisikan oleh manusia-manusia, dan melalui senjata bernama pendidikan lah manusia-manusia tersebut dibangun. Nah, tentunya seiring dengan berkembangnya peradaban, alat yang digunakan untuk mengasah manusia ini pun berkembang.

Apa itu Universitas Generasi Ketiga? Continue reading “Menanti Universitas Generasi Ketiga di Indonesia”

Masih Tentang MWA dan Tata Kelola Perguruan Tinggi

Jadi pada suatu ketika saya baru saja bangun dari tidur. Saya membuka tablet saya, dan ada notifikasi dari facebook. Setelah saya cek, rupanya ada yang menulis sesuatu di wall saya. Beliau adalah Yorga, Menteri Kebijakan Nasional di KM ITB. Saya yang masih mengumpulkan nyawa mencoba memahami apa isi tulisan dia. Mimpi apa saya, kenapa saya, mahasiswa awam yang lagi culun ini dikirim wall oleh pejabat kampus.

Saya membaca tulisan tersebut beberapa kali, sampai akhirnya saya sadar, pertanyaannya berat pisan. Ini dia skrinsutnya:

Lalu, dimulailah diskusi tentang ITB, UU Dikti, Badan Hukum, dan MWA. Saya sendiri langsung buka-buka file lama lagi, maklum sekarang kepala sudah terisi hal-hal yang lain. Nah, beginilah asyiknya diskusi di facebook. Continue reading “Masih Tentang MWA dan Tata Kelola Perguruan Tinggi”

Catatan yang Tak Pernah Selesai

Bumi Medika Ganesha, 28 Maret 2012 2:33

Tak terasa, 7 April 2011 telah lama berlalu. Hari itu begitu berkesan bagi saya. Di hati itu, seorang PJS Ketua Kongres mengirimkan message facebook yang berisi surat keputusan kongres bahwa saya telah resmi menjabat sebagai PJS MWA Wakil Mahasiswa Periode 2011.

Tanpa terasa, waktu berjalan begitu cepat membawa banyak perubahan yang tidak terduga sebelumnya. Mulai dari saya yang berencana lulus Oktober 2011, MWA yang direncanakan akan berakhir di bulan September 2011, serta wacana mengenai akan disahkannya RUU PT di tahun tersebut. Setelah di bulan Januari 2012 lalu saya lulus sidang tugas akhir, kini status saya adalah calon wisudawan April 2012. Sejujurnya, saya sudah membayangkan dari bulan Februari 2012, bahwa perubahan ini terlalu cepat dan tak terduga sehingga apa yang saya takutkan kini terjadi. Yakni, MWA masih ada dan belum ada yang akan menggantikan saya meskipun saya sudah akan wisuda.

 Tak apa, ini merupakan bagian dari dinamika kemahasiswaan yang harus dihadapi. Dan, melalui tulisan ini saya hendak berbagi tentang sedikit pembelajaran, dan menceritakan sedikit cerita seru selama saya menjabat menjadi PJS MWA Wakil Mahasiswa 2011.

Pemira yang Gagal

Berbeda dengan MWA Wakil Mahasiswa beberapa tahun ke belakang, saya tidak mengikuti rangkaian pemira KM ITB. Pemira KM ITB di kala itu telah gagal memilih MWA Wakil Mahasiswa yang baru. Tidak seperti tahun sebelumnya, kali ini Presiden tak lagi diduetkan dengan MWA Wakil Mahasiswa. Entahlah, ketika itu kalau saya tidak salah dengar, alasannya adalah ranah kerja keduanya berbeda, dan juga karena sistem tersebut akan menghalangi calon presiden atau calon MWA yang tidak punya pasangan.

Alasan pertama mungkin benar. Ranah kerja keduanya berbeda, MWA WM merupakan representasi dari mahasiswa ITB di MWA sedangkan Presiden merupakan pimpinan eksekutif KM ITB. Keduanya memang berbeda, namun sangat berkaitan erat. Segala kebijakan yang dibuat di MWA akan memberikan pengaruh bagi KM ITB. Sedangkan yang memiliki wewenang untuk memimpiin dan mengkoordinasikan seluruh lembaga di KM ITB adalah kabinet.

Jika teman-teman mahasiswa mengharapkan ada dampak yang signifikan dari adanya mahasiswa di MWA, maka seharusnya MWA WM dan kabinet haruslah memiliki hubungan yang sangat erat. Harus ada konsistensi dari KM ITB dalam memperjuangkan aspirasi mahasiswa. Tidak heran, sebelum ini Presiden dan MWA Wakil Mahasiswa sempat dijabat oleh orang yang sama. Namun, ketika seseorang merangkap dua jabatan ini, ia haruslah memiliki skill manajemen yang baik dan bisa menempatkan diri dengan baik.

Kantin Salman 3:52

Sedangkan alasan kedua, bisa jadi relevan bisa jadi tidak. Apabila pemisahan keduanya justru mempersulit organisasi dalam mencapai tujuannya maka saya rasa alasan itu tidak relevan. Namun, apabila memang setelah pemisahan tidak terjadi permasalahan, seharusnya pemisahan tersebut tidak perlu dilakukan.

Faktanya adalah pemilu MWA WM mengalami kegagalan. Sedangkan menurut isu terkini kala itu, MWA akan segera berakhir pada September 2011. Oleh karena itu, akhirnya kongres memutuskan untuk menunjuk saya sebagai PJS MWA Wakil Mahasiswa periode 2011.

MWA Belajaran

Dari awal 

Keresahan

Catatan ini tak pernah selesai. Sama seperti petualangan saya yang belum selesai. Sama halnya dengan saya yang masih penasaran tentang banyak hal, tentang kemahasiswaan, tentang ITB, tentang Pendidikan, tentang Hukum, tentang Republik Indonesia. Namun, batas waktunya sudah tiba, selesai atau tidak selesai, catatan itu harus saya kumpulkan. Saya harus memulai sekolah baru, dengan kelas yang baru, pelajaran yang baru. Namun spirit dan roh ke-ITB-an tak boleh padam. Semua pelajaran dan kebijaksanaan yang dapat di masa lalu akan terus saya bawa dalam diri saya.

Semoga kelak catatan ini bisa selesai..

Catatan PJS MWA – 1 Februari 2012 (1)

Perjalanan hari ini dimulai dengan mengantarkan sepupu saya yang sedang berkunjung ke Bandung. Dia bersama kawan-kawan dari HMTI Universitas Brawijaya kebetulan mampir ke Bandung setelah ekskursi. Saya mendapatkan banyak cerita tentang kemahasiswaan terpusat di UB yang nampaknya mendapatkan support yang cukup banyak untuk kegiatan-kegiatannya. Bahkan untuk acara sekelas pemilu raya saja rektoratnya pun menyumbang dana. Selain itu, untuk beasiswa, kemahasiswaan terpusatnya memiliki kekuatan untuk menentukan siapa yang berhak mendapatkan beasiswa. Ya, saya rasa ada beberapa poin dari kemahasiswaan UB yang tidak dimiliki oleh kemahasiswaan ITB.

Setelah selesai mengantarkan sepupu saya dan kawannya ke Tokema dan berkunjung ke MTI ITB untuk menjalin network, saya mengantarkan mereka menuju angkot Cisitu, sebab mereka harus kembali ke Cihampelas untuk bertemu dengan kawan-kawannya. Saya yang kebetulan sudah ada janji untuk melihat RKA untuk kemahasiswaan di Direktorat Perencanaan pun langsung meluncur ke Gedung Annex dengan mencegat angkot Caheum-Ledeng.

Baru berjalan sebentar, angkot sudah harus berhenti, harus ngetem untuk mencari penumpang di gerbang belakang ITB. Dan, tanpa dinyana, saya bertemu dengan Inta dari Kominfo Kabinet.

“Mau ke mana ta?”

“Mau ke Ganyang tapi gue males jalan. Hehe”

“Gimana kabar Kominfo”

“Sekarang lagi nyiapin biar bisa nendang di akhir”

“Yazeek, nendang”

“Iya kan. Kan bulan-bulan awal adaptasi dulu, terus ya di akhir harus ada sesuatu yang nendangnya.”

Wajar. itulah realitasnya. Semua butuh waktu untuk adaptasi dan belajar sebelum akhirnya bisa melakukan sesuatu. Dan untuk organisasi kemahasiswaan timbul satu masalah. Permasalahannya adalah bagaimana untuk mempersingkat waktu tersebut. Sebab, waktu yang dimiliki dalam satu kepengurusan kemahasiswaan hanyalah satu tahun untuk setiap periodenya. Yang menjadi perhatian di sini adalah bagaimana agar transfer ilmu yang baik serta kematangan pribadi dari pengurus suatu organisasi dapat membantu mempercepat masa adaptasi sehingga pengurus tersebut akhirnya ahli dan dapat membuat sebuah gebrakan. Dan ini pula yang membuat kebijakan rektorat mengenai rotasi pegawai menjadi aneh. Setiap kali di-rotasi tentu akan ada waktu yang dibutuhkan untuk beradaptasi sebelum pegawai dapat perform dengan bagus.

Continue reading “Catatan PJS MWA – 1 Februari 2012 (1)”

Mengapa Amanah itu Diberikan kepada Saya?

Pertanyaan di atas diungkapkan pada khotbah jumat pagi tadi. Pernahkah Anda mempertanyakan, mengapa Anda mendapatkan peranan tertentu sebagai seorang manusia? Misalnya, mengapa dari jutaan pemuda, Anda terpilih menjadi mahasiswa? Mengapa Anda bisa terpilih menjadi bagian dari 18% yang dapat mengenyam perguruan tinggi?

Lalu ketika Anda dipercaya menjadi ketua tugas kelompok, pernahkah Anda bertanya, mengapa Anda? Ketika dipercaya memegang jabatan pada suatu organisasi, pernahkah Anda mempertanyakan satu pertanyaan itu. Mengapa amanah itu diberikan kepada saya?

Sampai detik ini saya masih teringat masa-masa ketika saya akhirnya menjadi PJS MWA Wakil Mahasiswa. Terkadang saya tidak bisa menjawab pertanyaan sesimpel itu, “Fik, kenapa sih lo mau jadi MWA? Kenapa harus elo?”

Tembok Alasan

Kalau boleh menjawab dengan akal, tentunya saya bisa menjawab dengan lancar. Ya, kebetulan dulu saya sempat berpikir bisa melakukan sesuatu sebagai seorang MWA Wakil Mahasiswa. Saya yang sebelumnya menjabat sebagai Presiden Inkubator Ide dan Inovasi Mahasiswa melihat bahwa banyak hal yang bisa disinergikan antara mahasiswa ITB dengan rektorat, alumni, dan stakeholder. Banyak sekali potensi yang ada di kemahasiswaan, dan untuk bisa melahirkan solusi dari potensi tersebut, mahasiswa tidak bisa sendiri. Dari pemikiran tersebut, saya memang sempat memiliki intensi ke arah sini.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, saya merasa bahwa saya bukanlah sosok pemimpin yang cukup baik. Dari segi kematangan pribadi dan integritas, saya masih sangat kurang. Setengah tahun keberjalanan kepengurusan saya di I3M, saya merasa bahwa itu adalah akhir kontribusi struktural saya di KM ITB . Saya merasa ironi, di satu sisi saya berbicara inovasi, tetapi di sisi lain saya sendiri belum merasa sudah bisa membuat inovasi. Saya pun bekerja keras untuk itu, saya memilih untuk bisa lebih mendalami disiplin ilmu saya, Teknik Elektro. Selain itu, selama dipercaya memegang jabatan struktural di berbagai organisasi, saya merasa banyak kekurangan. Skill komunikasi dan kepemimpinan saya masih begitu kurang, belum lagi pribadi saya yang masih belum matang. Atas dasar inilah, saya mulai melupakan intensi untuk menjadi MWA Wakil Mahasiswa. Continue reading “Mengapa Amanah itu Diberikan kepada Saya?”

Seburuk itu kah Pengembangan Karakter Mahasiswa ITB? (2)

Kebetulan tadi sore saya habis mendatangi pertemuan informal dengan MWA ITB. Dan di sana terjadi beberapa diskusi seputar masalah pengembangan karakter mahasiswa ITB. Ketika mencoba brainstorming kondisi existing dari pembangunan karakter mahasiswa ITB, ada beberapa hal yang menjadi sorotan:

Mau jadi apa sih?

Jika Anda mahasiswa ITB, tahukah Anda, sebenarnya apa nilai yang diharapkan ada pada diri Anda setelah lulus dari ITB? Tahukah Anda, ITB ini ingin membentuk sarjana yang seperti apa? Jika Anda tidak tahu, lalu sedang apa Anda di ITB? Apakah Anda menjalani proses pendidikan?

Atau anda hanyalah robot yang terdaftar sebagai mahasiswa, hadir di kelas, mendapatkan nilai, lalu lulus, dan tinggal menunggu pekerjaan apa yang membutuhkan Anda, tanpa tahu sebenarnya apa potensi Anda dan Anda ingin menjadi siapa? Continue reading “Seburuk itu kah Pengembangan Karakter Mahasiswa ITB? (2)”

Seburuk itu kah Pengembangan Karakter Mahasiswa ITB? (1)

Ir. Sukarno, idjazah ini dapat robek dan hantjur mendjadi abu disatu saat. Ia tidak kekal. Ingatlah, bahwa satu-satunja kekuatan jang bisa hidup terus dan kekal adalah karakter dari seseorang. Ia akan tetap hidup dalam hari rakjat, sekalipun sudah mati.” -Ir. G. Klopper M.E.

Baru-baru ini sebuah artikel yang berkomentar tentang karakter lulusan ITB sedang menjadi isu yang cukup hangat, setidaknya di kalangan civitas akademika ITB. Mahasiswa, alumni, hingga dosen pun memberikan tanggapan beragam. Di sini saya mencoba menggali sedikit tentang pengembangan karakter mahasiswa ITB dari sudut pandang seorang mahasiswa ITB yang tengah menempuh pendidikan di ITB dan berkesempatan menjadi anggota MWA ITB.

Penting kah? Benarkah ITB Berperan?

Pengembangan karakter mahasiswa selalu menjadi isu penting. Hampir semua pihak secara lisan menyatakan bahwa pengembangan karakter adalah hal terpenting. Rekan-rekan saya sesama mahasiswa menganggap pengembangan karakter itu penting, kata mereka, “untuk itulah ada organisasi kemahasiswaan“. Dosen-dosen pun mengatakan pengembangan karakter itu penting, katanya, “untuk itulah kami berikan tugas yang harus dikerjakan secara berkelompok“. Rektor dan jajarannya juga berkata bahwa pengembangan karakter itu penting, katanya, “untuk itulah kami adakan seminar motivasi.” Dan di MWA ITB sendiri saya sering mendengar kalimat seperti ini, “Kita jangan memikirkan pembangunan infrastruktur terus bu, pengembangan karakter itu harus kita pikirkan. Itu yang terpenting!

Ya. Hampir semua stakeholder ITB mengatakan bahwa pengembangan karakter mahasiswa ITB itu penting. Bahkan pada naskah akademik ART ITB BHMN dituliskan bahwa salah satu hakikat dan peran ITB adalah sebagai berikut:

ITB selain melaksanakan fungsi pendidikan tinggi untuk menghasilkan sumber daya mahasiswa bermutu calon pemimpin bangsa dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, serta ilmu sosial dan kemanusiaan, harus mampu melaksanakan moral force, ikut memberikan kritik sosial dan menjadi bagian integral dan organik dari lingkungan fisik dan sosial. Pengelolaan baru ITB harus memungkinkan ITB mengenal dinamika dan permasalahan yang dihadapi masyarakat, sehingga ITB dapat ikut memandu perubahan budaya bangsa, dan memperkuat kemampuan masyaakat untuk perubahan yang menerus (continuous self renewal).

Masih belum percaya bahwa ITB turut berkewajiban mengembangkan karakter mahasiswa ITB? Mari kita lihat pasal 18 dari executive summary RIP ITB:

Kampus ITB adalah sebuah lingkungan yang merupakan tempat terjadinya interaksi kreatif antara peneliti, mahasiswa dan dunia luar kampus (best academic talents). Kampus yang mempunyai lanskap beserta bangunan-bangunannya yang merefleksikan idealism institusi dan dampak terhadap proses pendidikan. Dalam perjalanannya menuju cita-cita ITB World Class University, ITB perlu mewujudkan kampus yang inspiring yang mempunyai kemampuan aktif ‘membangun karakter’ bagi siapapun yang ada di dalamnya. Kampus yang dapat menjadi ‘arena belajar dan berkarya’, yang mampu mengajarkan kepada setiap insan yang ada di dalamnya tentang nilai-nilai kampus yang dicita-citakan oleh visi ITB, yaitu terwujudnya bangsa Indonesia yang cerdas, berdaya juang sangat tinggi dan berbudaya luhur bangsa Indonesia.

Oke, marilah kita asumsikan bahwa ITB seharusnya memiliki andil yang cukup besar dalam pembangunan karakter mahasiswanya, apalagi hal ini diungkapkan pada dasar hukum dan rencana pengembangan ITB.

IQ Tinggi, EQ Rendah

Percayakah teman-teman bahwa kata-kata di atas adalah salah satu yang harus direvisi dari laporan eksekutif ITB 2010? Pada rapat pleno pertama yang saya datangi hal ini dibahas. Fakta ilmiah menunjukkan bahwa ITB menerima masukan berupa pedang yang sangat tajam, yakni manusia Indonesia dengan IQ tinggi, kecerdasan di atas rata-rata. Namun, fakta menggembirakan itu juga dibarengi dengan satu fakta lain yakni, fakta bahwa rata-rata mahasiswa baru memiliki EQ yang rendah. Continue reading “Seburuk itu kah Pengembangan Karakter Mahasiswa ITB? (1)”

Merekam Perjalanan

Januari 2012.

Memasuki tahun baru, setiap orang menemukan momen untuk melakukan introspeksi atas perjalanan hidup selama setahun belakangan. Tahun baru juga menjadi momen untuk merencanakan apa saja yang akan dilakukan setahun ke depan. Bagi saya sendiri tahun 2011 adalah tahun yang istimewa. Sangat banyak pembelajaran hidup yang saya dapatkan dari perjalanan hidup di tahun 2011. Salah satu bab krusial dari perjalanan hidup saya setahun yang lalu adalah menjadi penanggung jawab sementara Majelis Wali Amanat Wakil Mahasiswa ITB (PJS MWA WM).

Menjadi PJS MWA WM adalah salah satu pengalaman terpenting yang saya dapatkan. Wawasan dan pemikiran saya banyak terbuka setelah memegang amanah ini. Hal ini menyebabkan munculnya keinginan untuk bisa mengumpulkan pembelajaran yang saya peroleh, lalu membaginya kepada banyak orang, terutama mahasiswa ITB. Sejak awal menjabat, saya telah berencana untuk membuat kumpulan catatan perjalanan saya selama menjadi PJS MWA WM, apalagi sepertinya saya akan menjadi penutup sejarah MWA WM di kampus ini.

Sayangnya, hingga tahun 2011 berakhir, saya belum bisa menjalankan niat tersebut. Entahlah, mungkin saya memang terlalu sibuk mengurusi hal lain atau memang tekad saya kurang kuat untuk membuat catatan perjalanan tersebut. Yang jelas, saya telah lama menunda rencana ini dengan berpikir, “Nanti aja deh bikinnya, kalau saya udah mau turun.

MWA ITB Wakil Mahasiswa

Kini, tahun masehi telah memasuki hitungan ke 2012. Saya pun kembali tersadar bahwa tidak baik menunda-nunda sesuatu. Sama seperti tugas akhir, jika kita tidak memulai dan terus menunda, maka dia tidak akan pernah selesai. Oleh karena itu saya memutuskan untuk memulai membuat kumpulan catatan perjalanan selama saya menjadi MWA. Tulisan ini yang berjudul “Merekam Perjalanan” akan menjadi tulisan pembuka dari kumpulan catatan ini. Continue reading “Merekam Perjalanan”