Menghela

Pusaran gelombang kehidupan mengantarkan pada sebuah labirin jiwa. Di sana dijumpai lagi dan lagi, kesalahan yang sama. Serta ketidakmampuan untuk memetik makna atas segala petualangan dan pertempuran yang dilaksanakan. Makna pada letaknya sebagai keduanya: contemplativa dan activa.

Diam sejenak menjadi obat penawar. Meski hanya sesaat. Meski tak pernah benar ia mengobat. Meski tak kunjung bahagia didapat.

Hanyalah hikmah yang mesti ditambat. Dalam momen-momen merasuknya rasa tobat. Pada setiap jengkal penderitaan dan helaan rasa sakit yang entah mengapa terus ditarik dan tak ingin dilepaskan. Supaya berlepas dari segala rasa kuat dan ilusi manusia akan kekuasaan. Kekuasaan untuk mengatur nasib. Dan untuk menjadi langit.

Di tengah pusaran itu terdapat sebuah tenang. Pusat masa labirin yang menjadi labuhan tatkala manusia menemukan jati dirinya. Manusia-manusia yang menemukan makna atas segala penderitaannya. Serta manusia-manusia yang paham akan hakikat kehidupannya.

Tak ada anugerah. Tak ada musibah.

Yang ada hanyalah tantangan. Sebagaimana telah diperjanjikan dan dipersaksikan.

Manusia harus terus jalan. Seraya bersembah, bersujud, untuk memohon penguatan.

Tapi ke mana? Bukankah itu yang Tuhan pertanyakan?

Dan barang tentu Ia selalu punya jawaban

 

Tak Termungkinkan

Adalah kerinduan yang menyergapku di waktu-waktu sibuk
Melemparkanku pada warung kaki lima tempatku mengamen puisi
Kuutarakan lirih kepada mereka: Hampa.. kepada sri
Sepi di luar. Sepi menekan mendesak

Seperti paras yang menyerobot masuk tanpa permisi
Rasa yang hilangnya telah lama aku nanti

Tambah ini menanti jadi mencekik
Mencekik akal sehat dari keterpisahan
Desakan-desakan yang terus ada dan tak akan pernah terekspresikan
Sebab ini sepi terus ada. Dan menanti

*(bait-bait yang digaris miring merupakan puisi Hampa karya Chairil Anwar)

Mudik

Huft, akhirnya akan menyempatkan ngeblog lagi.

Lebaran kemarin saya mudik, meskipun hanya cuti 2 hari. Sebelum berangkat sempat salah perhitungan waktu untuk ke airport.Kebingungan, apakah akan ketemu supervisor atau tidak. Tapi akhirnya ketemu supervisor dan untungnya beliau terlihat senang dan mengijinkan saya untuk berlibur dengan tenang sebagaimana saya post di path/tumblr:

Hari ini akhirnya setor draft paper setelah telat 2 minggu. Tadi sempet ragu dan mau kabur aja gausah ketemuan tapi email aja. Soalnya report belom beres juga. Tp timingnya rupanya pas. And It turned out my sup was quite happy about it. Katanya enjoy your celebration.. you’ve been working so hard for the last two months. Find a girlfriend. Katanya schrodinger pas liburan honeymoon ato sama pacarnya balik2 dapet ide banyak. Terus gw disuruh setor 2 ide baru habis liburan.
Untung ketemuan sama doi cepet.. jadi bisa segera ke bandara. Terus karena nggak sempet beli oleh2 pamit ke ibu dan dibilangnya “kita bisa kumpul aja udah disyukuri”

Pas di airport sempet ketipu dengan pergantian gate di changi. Harus jalan dari ujung ke ujung, begitu sampe gate yang bener langsung boarding. Sebelum boarding sempet dikasih tau seorang perempuan tua kalau ada sesuatu yang indah di langit:

Continue reading “Mudik”

Sudut Ribu Urusan

Mereka ributkan laila

Bolehkah aku tertawa?

Miris lihat mereka terus mencari

Tanpa tahu syarat yang mesti dilakoni

 

Sebelum mulutku lebar terbuka, bergegas aku ambil kaca

Di sudut tempat beribu urusan digantungkan

Aku tak jadi tertawa

Sebab aku pun tak lebih baik dari mereka

 

Justru aku terduduk nestapa

Pada pengetahuan yang tersekap dalam diam

Tak bergerak meski dalam kesadaran

 

23714

IMG_20140720_120742

Nyanyian Lukisan Tak Bertuan

pada lukisan tak bertuan

tergoreskan lirik-lirik rupa berpola

disusun secara manis dalam irama

jikalau Tuan sanggup merasakan

warna-warni padanya tak pernah diam

mereka bernyanyi dengan caranya sendiri

membunyikan nada-nada yang tak tertangkap mata dan telinga

menyiratkan pesan langit kepada sanubari

sekiranya Tuan punya segumpal hati yang peka

dapatlah niscaya, meraba dan memahami

nyanyian dari lukisan tak bertuan

Continue reading “Nyanyian Lukisan Tak Bertuan”

Kerinduan

Ada rasa rindu yang menyeruak
Menyelinap dalam sekejap

Rindu ini asing
Terkadang ia memecah malam hening
Sesekali menikam di siang bolong
Menciptakan ruang yang kosong
Pada jiwa, dalam dada
Menyisakan aku yang seolah terluka
Oleh sesal karena telah menyia-nyiakannya

Saat kemarin ia menghampiri
Aku tak sempat menyadari
Bahwa dia begitu berarti

Bukankah aku punya banyak kenangan bersamanya?
Dengannya aku temukan pintu kebenaran
Setiap tahun ia datang, mengetuk pintu pertaubatan
Tapi yang lalu rasanya menyisakan sendu
Dan entah sudah sejak berapa minggu
Aku merindu

Tuhan, aku masih ingin bertemu dengannya
Lima puluh, enam puluh, atau mungkin tujuh puluh lagi kesempatan
Dan jika Engkau berkenan
Ijinkan aku untuk menyapanya dengan ramah
Penuh syahdu dalam penghayatan
Berkarya nyata dalam kesalehan
Jikalau tidak demikian
Tentu aku akan tersiksa selamanya dalam kerinduan
Bisa bertemu dengannya
Tanpa bisa berbuat nyata
Merugi di dunia

Rindu yang sekejap
Oleh manusia naif ini
Semoga terbalas lunas
Saat kita bertemu lagi

Singapura, 10 Februari 2014

Bisikan Tahun Baru

Semalam
Merayap dengan padat ledakan demi ledakan
Di angkasa
Untung bukan sangkakala yang sebabkan semua gegap gempita
Jika tidak, sirna sudah jasad tak lagi ada tawa

Masih
Deras hujan belum letih membasahi tanah
Beradu dengan bau ikan asin entah darimana asalnya
Mengakifkan seluruh indera
Menampar, menyadarkan bahwa

Kita mesti berburu
Selagi masih ada waktu
Tuk basuh masa lalu
Memerasnya dengan pertaubatan
Membilasnya dengan kebaikan
Menghubungkan dua titik hitam
Menarik sekali lagi goresan
Pada satu garis keimanan

Masih, dan akan terus selamanya
Kita belajar untuk memahami kehidupan
Masih, dan akan terus selamanya
Kita berperang dan berkawan dengan kesadaran
Supaya tertunduk kepala kita sembari jalankan
Hidup dengan kesungguhan meski ia bukan sungguhan

Mereka bilang Islam adalah fikir dan dzikir dalam perkalian
Sedang ilmu dan amal menghasilkan keimanan
Mereka bilang hidup itu untuk bergembira
Tiada guna kita khawatir soal dunia
Sebab lima puluh kali seharusnya
Dalam sehari kita memuja
Sembari bekerja di sela antara
Maka doa adalah sarana
Mencari keridhoan Sang Pencipta

Dan kelak garis demi garis yang tergores
Akan menebal dan tak dapat terhapuskan
Membekas tak hanya di luar namun juga di dalam
Hingga kita siap menjadi bejana yang bersih
Siap menampung air hujan tetap jernih
Sebab telah dituliskan cetak biru diri
Sebuah permata akan jadi permata
Dan ulat remeh kelak terbang menjadi kupu jelita
Yang terbang mematuhi keridhoan Sang Raja

Dengar dan taat
Semoga kelak kita tak perlu memasuki surga lagi
Di akhirat

Bekasi, 1 Januari 2014

Sajak-sajak Lama di Facebook

Gara-gara satu dua hal saya jadi membuka-buka notes facebook saya. Saya menemukan banyak sajak yang dulu saya tulis di sana. Kalau dibaca-baca lagi, rasa-rasanya saya waktu itu sedang bergejolak-bergejolaknya, seorang pemuda berusia sekitar 17 tahun yang sedang mencari banyak hal.. Tak jarang komentar-komentar saya pun sangat emosional dan temperamental. Malu sih bacanya, tapi ya “kalo dulu nggak gitu, ya sekarang nggak gini.”

Berhubung ini bener-bener saya yang nulis, sok aja sih kalo ada yang suka sajaknya terus pengen dipost di blognya sendiri atau dimana. Tapi ya, at least cantumin link-nya biar kita sama-sama bisa belajar menghargai diri sendiri aja sih.. kalau inspirasi dan kebijaksanaan mah sebenarnya memang tercecer dimana-mana, bukan saya juga yang punya.. 😀 Continue reading “Sajak-sajak Lama di Facebook”

Rapat dan Erat

ramah sapanya, berbekas luka

dia coba untuk membasuhnya

dibalik gembira, ada ribuan cerita 

dan mereka pun tak pernah bersuara

 

jatuh terhenti, bangkit berlari

t’lah dia hapus kata letih

menebar kasih, memunggungi perih

enggan, tak mau dia merintih walau  harus tertatih

 

canggung perhatian, bersalah dalam

sayang, sayangnya tiada tersimpulkan meski tersampaikan

sekarang amarah lewat sudah, duka sirna punah

cintanya kini melimpah ruah tanpa ada yang membantah

sela hatinya rapat

kokoh, jiwanya kuat

hanya harapan yang dia genggam erat

sebab keyakinannya telah tertambat

 

 

*’Rapatdan ‘Eratberputar-putar di kepala pada ruang-ruang di Singapura, 5 – 7 Oktober 2013

Tanda

Tanda itu ada dimana-mana. Setiap kata, setiap benda, setiap tekstur yang bisa diraba.

Hari ini pun, ketika aku menjawab pertanyaan sampai kapan, aku menjawabnya dengan aku menunggu tanda.

Di saat yang sama, aku kembali tersadar bahwa tanda itu tak perlu ditunggu, sebab mereka selalu ada. Hanya saja aku tak tahu, tanda yang mana!

Aku cari di kolong logika, kebenaran tidak pernah tersisa. Ia selalu kalah oleh berbagai pertentangan yang tak ada habisnya.

Pola itu tak pernah berhenti, selalu demikian adanya.

Di saat ragu mulai merasuk, tanda yang ada semakin nyata.

Ia bukan masuk lewat logika, tapi lewat rasa. Sebab logika ku pasti akan menolaknya! Logika ku tak pernah menemukan satu jawaban dengan seribu kepastian. Logikaku selalu memberikan seribu jawaban dengan satu ketidakpastian.

Ia juga sering masuk bukan lewat orang lain, tapi lewat perkataanku sendiri di masa silam. Sebab kita pernah mendapatkan jawabannya di masa lampau tapi lupa mencantumkannya pada tas di punggung kita!

Tanda, benarkah ini semua tanda?

Karena bukankah hal sepalsu, serapuh, dan seabstrak kehidupan duniawi adalah bagian dari perjalanan yang sebenarnya?

Ini bukan tentang berbuat, lalu masa bodoh dengan hasilnya. Ini tentang perjuangan, sedikit dari yang kita lakukan pun bermakna!