Definisi Talenta serta Pertanyaan Bagaimana (Paralelisme Karir dan Cinta)

Dua minggu lalu saya bertemu dua orang teman Apprentice. Yakni Dannis (Traveloka) dan Imul (IBM). Dan seperti biasalah, ngobrol sama mereka isinya selalu sok serius tapi banyak ketawanya. Continue reading “Definisi Talenta serta Pertanyaan Bagaimana (Paralelisme Karir dan Cinta)”

Advertisements

Alang-alang Dudu Aling-aling Margining Kautaman

Beberapa hari lalu setelah berbincang selama dua jam dengan seorang teman, dia meminta saya memberikan satu kutipan untuk bisa membesarkan hatinya. Saya pun menyuruh dia untuk googling dengan keywords “rumi sorrow prepares you for joy”. Continue reading “Alang-alang Dudu Aling-aling Margining Kautaman”

c-lari-ty

Magisnya Olah Raga

Sejak di Singapura, saya kembali menemukan kenikmatan berolahraga. Hal itu dimulai saat saya sedang depresi sejak akhir semester pertama. Saya kembali menemukan olah raga sebagai hal yang saya nanti setiap saat. Waktu itu setiap sabtu saya bermain bola. Hari-hari lain hanya menjadi pengisi waktu sebelum bermain futsal lagi yang hanya dua jam. Selain itu saya juga sempat ke gym untuk beberapa bulan, dan juga bermain basket.

Entah ya, sejak kapan saya jadi malas berolahraga. Rasa-rasanya sejak tingkat dua kuliah di ITB. Padahal waktu SD saya bener-bener hobi banget berpetualang dengan sepeda/roller blade dan bermain bola berjam-jam. Saya juga hobi berenang waktu SMP sampai SMA. Mungkin karena impian saya untuk jadi Tsubasa selalu gagal kali ya. Waktu SD saya gagal masuk tim. Waktu SMP gagal masuk ekskul bola (padahal saya merasa pas seleksi main saya bagus, dan bahkan kapten bolanya waktu itu juga mengakui saya jago. Waktu itu saya jadi bek dan sempet tackle bersih doi di kotak penalti). Yah gitu deh, akhirnya udah gak minat lagi. Merasa nggak bisa lagi jadi kayak di Whistle!.

Tapi sebenernya yah, ada yang magis dari olah raga. Saya curiga ini ada hubungannya dengan Mind-Body Connection, dengan NLP. Saat berolahraga, semangat dan kesegaran, serta dinamisasi koordinasi tubuh ikut membebaskan dan menyegarkan pikiran. Segala stress hilang untuk beberapa saat. Dan, tentunya beberapa saat ini yang adalah momentum untuk kembali mendayagunakan working memory kita untuk fokus pada hal-hal positif. (Teorinya begitu ya, mensana in corporesano).

Makanya hari ini saya lari. Pokoknya akhir-akhir ini kalo udah suntuk banget saya mending lari deh. Lari aja pake sepatu futsal butut yang udah bikin jempol ganti kuku berkali-kali setiap tahun.

Family and Priority

Beres lari, seperti biasa, saya mencari vending machine untuk membeli green tea lalu duduk di bench di salah satu blok. Hari ini dengan sayup-sayup suara imam tarawih, saya melihat satu keluarga yang hendak bepergian dengan mobil. Dua anaknya yang masih kecil masih asyik naik scooter. Orang tuanya sudah ngingetin untuk stop. Kakaknya (cewek sekitar 6/7 tahun) masih asyik main, jadi adiknya (cowok masih 4/5 tahun) juga nggak berhenti main. Sampai akhirnya Bapaknya nyetop mereka pas sampai di ujung trotoar. Lalu mereka naik mobil. Bapaknya masukin scooternya ke bagasi,

Dan karena baru-baru ini baru namatin buku family wisdom jadi kepikiran aja dengan cara-cara ideal yang ditulis di sana. Mungkin itu adalah kebijaksanaan-kebijaksanaan yang ideal jika dilaksanakan ya. Agar setiap kepala keluarga menjadi leader bagi dirinya sendiri dan keluarga, lalu mendidik anak agar punya visi yang lebih dari sekedar dirinya sendiri. Memperhatikan dan memberi reward dan banyak hal lainnya.

Mungkin seperti itu idealnya. Selama ini banyak yang bertanya, gimana sih saya dididik oleh orang tua saya. Banyak yang mengartikan saya ini sukses dan contoh yang seimbang atau apa lah. Saya sendiri nggak pernah merasa gitu ya (apalagi kalau mau introspeksi diri.. buset, tampilannya aja kali yang bisa bikin orang mikir gitu ya). Dan memang ibu saya selalu mengajarkan kalau kita ini bukan apa-apa, kita ini beruntung aja. Semuanya terserah Tuhan. Dan ibu saya juga kalau ditanya selalu mencoba buat bilang kalau banyak orang lain yang lebih sukses (dan memang faktanya demikian).

Kami bukan keluarga yang sering berkumpul bersama-sama. Yang sering kasih-kasih kado atau apa. Saya selalu merasakan keluarga saya itu berbeda. Saya nggak pernah dipaksa harus les ini itu, belajar ini itu, nilai harus bagus blablabla. Saya selalu didukung sih ya, mau saya dulu dagang mainan, bikin komik, bikin desain atau apa, mau ikut kelas aksel, apapun itu kecuali kalau saya mau jadi pengacara, politikus karir, dan psikolog (dulu sih gitu gatau sekarang). Tapi rasanya yang paling penting adalah orang tua kami selalu memberikan kepercayaan, selalu mengingatkan bahwa yang penting itu urusan dengan Tuhan, dan juga terkadang keras saat dibutuhkan (dipaksa ke surau lah, dipaksa bersilaturahim lah, dan hal-hal lain).

Entahlah, mungkin memang doa orang tua kami yang membuat kami-kami bisa berkembang seperti ini ya. Mendapat banyak kemudahan dan keajaiban kecil dalam hidup. Tapi ya bayarannya mungkin mahal dibandingkan orang-orang lain yang punya kehidupan yang relatif normal. Orang-orang sekitar ibu saya juga pasti paham betapa tidak normalnya keluarga kami dan individu anggotanya.

Saya juga kadang mikir, kalau berkeluarga kelak, bagaimana agar saya kelak bisa mendidik anak saya agar punya nilai-nilai positif tanpa mereka harus merasakan ‘metode’ yang sama. Mungkin saja memang apa yang ada di buku family wisdom itu benar ya. Dan semuanya memang harus dimulai dengan menjadikan keluarga sebagai prioritas dulu, dan harus ditanamkan dalam hati.

Sudah banyak buku-buku dan kisah-kisah di era modern ini yang mengungkap betapa hampanya orang-orang yang sukses dalam bisnis dan bergelimang materi, tapi tidak meraih kepuasan dan kebahagiaan karena mungkin banyak menelantarkan keluarganya. Dan saya rasa, beruntunglah kita-kita yang paham itu sedari muda.

Clarity Precedes Mastery

Saya sedang terobsesi dengan kata-kata di buku ini. Memang kalau mau apa-apa harus jelas dulu, apa yang dimau. Dan untuk tau apa yang sebaiknya kita mau, memang tak jarang harus belajar dari pemikir-pemikir hebat, dari buku-buku, dan juga kitab suci. Dengan terus mencari ilmu, banyak membaca, berdiskusi, pikiran kita akan berkembang dan kita bisa berdiri di atas bahu sang raksasa, membuat kita jadi lebih tinggi.

Kalau dipikir-pikir, pengetahuan itu terus berkembang. Tapi kebijaksanaan isinya itu-itu aja. Kebijaksanaan itu berubah-ubah bentuknya jadi berbagai pengetahuan yang dikumpulkan dari pengalaman-pengalaman umat manusia dari jaman manusia bisa menulis. Dan di dunia yang berkembang dengan cepat itu, kita memang perlu diam sejenak untuk mempelajari kebijaksanaan yang diakumulasi oleh umat terdahulu. Dengannya kita jadi paham ke mana harus bertindak.

Clarity. Sebelum mau meraih atau menjadi ahli di suatu bidang, harus jelas dulu apa tujuan akhirnya, bagaimana milestonenya, dan bagaimana mencapai milestone itu. Percuma kan kita heboh-heboh tapi lari di tempat.

Tapi hidup itu memang soal revisi yah. Kalau dari kecil kita merasa passion kita main bola. Terus kerjaan kita main bola terus. Terus kita jadi nggak pernah mengeksplorasi olah raga lain. Eh udah agak tua, kita nyoba main voli. Eh, rupanya main voli lebih asik dari main bola loh. Lalu ganti ‘passion’.

Mungkin setelah menemukan satu clarity. Kita akan bergerak ke arah clarity yang lain, atau clarity yang lebih dalam.

Control Trap

Saya agak terkejut yah waktu tadi habis makan siang bareng grup beberapa alumni ITB, Delphin bilang kalau dia mulai berpikir bekerja untuk perusahaan consulting kayak Ernst & Young. Omaigod, saya pikir orang seperti Delphin bener-bener passionnya mutlak di bidang riset. Sebenarnya pikiran saya nggak salah sih. Dia memang passionnya bener-bener tulen di riset. Tapi kalau misalnya mau jadi profesor susah dan kerja riset susah (apalagi bidangnya radar), dia jadi mulai mikir gimana kalau kerja di consulting firm gitu.

Memang ya, nasihat paling overrated itu ‘follow your passion’. Kadang orang tuh sebenernya bukan mau follow passion, tapi cuman pengen autonomi seluas-luasnya meski nggak punya kompetensi. Cuman gak mau diatur. Pengennya punya kontrol penuh terhadap diri sendiri. Padahal tanpa kompetensi, jadinya dia nggak bisa ngasih nilai tambah untuk masyarakat. Dan tanpa itu, masyarakat nggak akan mau bayar dia untuk pekerjaan yang sesuai passion itu.  Dan tanpa pekerjaan yang bisa menyupport hidup, gimana kita mau survive bray. Itu yang menurut Cal Newport sebagai 1st control trap.

Sulit ya. Saya jadi ngeri. Delphin yang super kompeten aja masih serem gak dapet gawe di sesuai passion. Lah saya, boro-boro mikir abis lulus mau ngapain bre.

Sekarang yang susah kan orang-orang model jack of all trades gini. Maunya banyak kompetensi pas-pasan. Kadang saya mikir lagi apa bakat saya sebenarnya ya. Huft.

Tadi juga pas duduk di bench saya jadi mikir. Apa aja ya cita-cita saya waktu dulu. Apa nyerah aja ya. Terus saya jadi ingat. Paulo Coelho juga di biografinya sering banget mau menyerah jadi penulis. Einstein juga awalnya jadi pegawai paten dulu, jalannya panjang sebelum dia bisa jadi profesor. Steve Jobs, awalnya hampir jadi monk kali, kalo bukan karena butuh duit mungkin dia gak akan bikin apple. Dan macam-macam. Terlalu dini untuk menyerah kayaknya. Jalani aja dulu deh dengan selaw bin santai kayak di pantai.

Mindful Life

Di penghujung hari rasanya lagi-lagi yang penting itu hidup kita by design. Dirancang supaya seimbang untuk kesehatan fisik, mental dan spiritual. Kadang, karena kita hanyut dalam rutinitas, kita jadi lupa apa-apa yang penting.

  • kaya sebelum miskin
  • lapang sebelum sempit
  • sehat sebelum sakit
  • muda sebelum tua
  • hidup sebelum mati

Mungkin agak telat sih ya. Tapi saya bener-bener pengen memulai hidup yang lebih sehat jiwa raga. Lebih bijak dalam bertindak biar pas tua gak menyesal. Dan mungkin bakal butuh waktu lagi untuk mencari clarity resolusi konkritnya.

Happy ramadhan all!

Renungan tentang Impak: Saat Harper Lee hendak menerbitkan buku baru

Selama ini saya kagum dengan Harper Lee, yang satu-satunya novelnya begitu berpengaruh dan tak lekang oleh zaman. Berita bahwa ia akan menerbitkan buku baru yang sebenarnya adalah karyanya yang pertama (dan ternyata To Kill a Mockingbird adalah versi sudut pandang Scout waktu kecil) membuat saya teringat perbincangan saat menjelang jumatan dengan seorang profesor.

Seperti biasa obrolan dimulai dengan topik apakah saya jadi mempublikasikan paper pertama saya (yang jawabannya masih sama: belum). Lalu berlanjut ke masalah h-index dan kutipan publikasi. Di dunia ini ada ilmuwan-ilmuwan yang mempublikasikan sedikit karya tapi memiliki impak yang sangat besar. Tentu hal ini berbeda dengan orang yang membuat banyak sekali karya tapi yang punya impak besar hanya beberapa dan tentunya dengan orang yang banyak karya tapi tidak berimpak. Maka saat orang bertanya, “Siapa Einstein di era kini?” diciptakanlah algoritma dan metric khusus yang disebut Einstein Index.

Salah satu kalimat yang berkesan dari salah satu biografi Einstein yang saya baca adalah,

Even Einstein couldn’t organize revolution every year.

Ya. Sejenius-jeniusnya orang pun ada batasnya. Tidak berkali-kali mereka membuat suatu breakthrough yang benar-benar gila. Tapi, apalagi orang-orang yang biasa saja? Sama halnya dengan cerita yang dibesar-besarkan tentang betapa orang-orang jenius itu retard di masa mudanya. Itu hanyalah fragmen kecil yang kita tahu dari hidup mereka. Kita mungkin tidak tahu dengan utuh bagaimana perjuangan mereka hingga menjadi bermanfaat untuk ummat manusia. Continue reading “Renungan tentang Impak: Saat Harper Lee hendak menerbitkan buku baru”

Hakikat Berbisnis

Ini adalah salah satu topik yang dari dulu ingin saya catat. Banyak buku mengajarkan kita untuk menerapkan akhlak yang baik, ibadah-ibadah formal, serta bersedekah dalam berbisnis. Namun, kalau kata Guru saya, sebenarnya kita berbisnis itu ya untuk berakhlak mulia. Bukan sebaliknya, kita berakhlak untuk berbisnis. Berbisnis itu untuk silaturahmi, bukan sekedar silaturahmi untuk berbisnis.

#lurus

Kita harus meniatkan segala tindak-tanduk kita untuk mengejar ridho Tuhan semata. Begitu idealnya. Dalam urusan apapun yang kita jalani, apapun pekerjaan kita, apapun peranan kita, kita harus niatkan itu sebagai bentuk penghambaan kepada ilahi.

Sehingga, di situlah kita melakukan yang terbaik bagi siapapun dengan niat mengerjakan perintah Tuhan: saling mengenal, saling tolong-menolong, dan memakmurkan bumi. 

Berbisnis, bukanlah untuk keren-kerenan, pencitraan, atau bahkan mengejar harta semata. Dan, karena berbisnis adalah suatu manifestasi pengabdian kepada Tuhan, iapun harus dilakukan dengan cara-cara yang baik pula. [ada artikel menarik yang saya temukan: http://alfaizin.tumblr.com/post/64478182217/lurus-lah]

#sudut pandang

Saya teringat dulu waktu saya sedang mengikuti program Apprenticeship di IBM, rasanya kok saya menjadi buruh dan instrumen kapitalis yah? Lalu Mas Ivandeva memberikan saya suatu sudut pandang lain. Misalnya kalau kita posisi kita di bagian Business Partner , esensinya sebenarnya adalah memajukan bisnis lokal itu sendiri.

Lalu, misalnya ada yang bilang mengapa kok mahal sekali (kapitalis) ya karena kita harus tetap bisa menjaga kualitas, menjaga service kita, makanya ada harga. Nah, dengan sudut pandang seperti itu, kita bisa menemukan makna. Dan dengan meniatkan itu sebagai bentuk beribadah, kita tidak menjadi budak kapitalis, tapi kita niatkan untuk menjadi kacungnya Tuhan. Semua tergantung sudut pandang banget sih memang, tergantung niat kita. Mungkin kalau yang sekarang dapat rezekinya di perusahaan asing, Tuhan sedang menakdirkan belajar dan mungkin perannya lagi gitu. Kalau ke depannya dikasih peran yang lebih baik, lebih ideal dengan idealisme, yasudah disyukuri saja.

#berbagi

Saya mendapatkan cerita. Ini tentang orang yang sebenarnya sudah baik, tapi masih bisa menjadi lebih baik lagi. Seorang pengusaha yang lurus sudah mendapatkan ijin untuk mengelola sumber daya alam di suatu daerah. Semua sudah siap. Entah sudah berapa M lah yang sudah digelontorkan untuk membangun perusahaan itu. Calon pembeli juga sudah ada. Namun akhirnya belum goal juga terkendala deal dengan warga. Dan dia gak pake premanisme untuk deal itu.

Di sinilah sebenarnya dibutuhkan mental berani berbagi. Kebanyakan orang kekeuh ingin mempertahankan yang namanya kepemilikan dalam berbisnis. Padahal jika semangat berbaginya lebih, mungkin bisnisnya bisa lebih maju. Misalnya, dengan memberikan para pegawai saham, sehingga punya rasa kepemilikan terhadap perusahaan. Mungkin kepemilikan si pemilik bisnis jadi berkurang, keuntungan pun dibagi-bagi, tapi toh di sini para pegawai jadi lebih semangat bekerja, bisnis bisa lebih maju.. dan rezeki bisa dibagi lebih proporsional.

Nah sesuai ilustrasi di paragraf awal, mungkin saja problem deal-deal-an dengan warga bisa saja diatasi dengan mengalah. Mengorbankan keuntungan atau kepemilikan, dengan bayaran berupa keamanan jangka panjang untuk bisnis tersebut sebab warga sekitar punya rasa memiliki.

Tentu saja memang lebih hebat lagi kalau sudah di level social business seperti yang dilakukan oleh Muhammad Yunus, dimana bisnisnya memang tidak diniatkan mengejar profit, tapi memang mengejar target sosial. 

Subhanallah.

#arogansi

Berhubung teman-teman yang saya kenal banyak yang bisnis tentu saja saya banyak berbincang dengan mereka. Ada yang sudah tersohor karena sering dapat penghargaan, masuk koran dll. Ada juga yang tidak terliput media tapi nilai proyek yang ditangani sudah orde juta USD. Ada juga yang selow-selow saja dapet lumayan. Ada yang bisnisnya jalan-jalan aja anteng-anteng aja, gak heboh-heboh, biasa aja. Dan banyak model lainnya.

Terkadang waktu ngobrol dengan teman-teman ini saya bisa merasakan ada beberapa yang di saat tertentu, mereka berbicara dengan arogansi. Ya mungkin mereka mengungkapkan fakta. Tapi kita selalu bisa merasakan, kapan fakta itu sudah dibumbui arogansi. 

Orang yang pencitraan mungkin saja melakukan itu sebagai marketing. Tapi itu tidak membuat orang yang tidak melakukan pencitraan bisa berbangga karena tidak melakukan pencitraan misalnya, dan merendahkan yang sering nongol di media. Tapi ya mungkin sudut pandang lainnya adalah, dia sedang memotivasi bahwa sebenarnya yang nongol di media terlihat keren gak sekeren itu. Ya saya sih kembali lagi ya, setiap orang punya perannya masing-masing.

Dan lagi, saya kurang suka saat ada rekan saya yang karena sudah merasa menemukan panggilannya, lantas ngata-ngatain orang lain. Seriously, walaupun mereka adalah sahabat-sahabat saya, saya tidak nyaman dengan itu. Tapi karena saya menghargai personal stance mereka dan tahu karakter mereka, ya saya diamkan saja. Kita tidak bisa mengatur bagaimana cara orang lain berpikir, tapi kita selalu bisa memberikan moral compass sesuai dengan prinsip kita.

Jadi semua orang punya perannnya masing-masing. Kita tidak boleh meremehkan. Pemilik bisnis tidak boleh meremehkan orang-orang yang jadi engineer misalnya. Karena meskipun mereka membayar engineer jauh lebih murah dari profit mereka sekalipun, itu tidak membuat mereka jauh lebih mulia. Sebab tanpa adanya engineer pun bisnis mereka tidak akan jalan.

Kita tidak boleh menghina orang-orang yang memiliki passion berbeda dengan kita. Setiap orang punya kesukaannya masing-masing kok. Dan setiap manusia yang sadar untuk berkarya pasti berguna untuk orang lain di sekitarnya.

#kesimpulan

Ya intinya segala urusan kita di dunia ini harus diniatkan untuk Tuhan. Dilaksanakan dengan cara yang lurus, “wa ta’awanu alalbirri wattaqwa wa laa ta’awanu alal itsmi wal udwaan”,”wa ahalallahul bai’a wa harramarriibaa” (mohon dikoreksi kalau salah, gak ngecek dulu spellingnya).. dan aturan-aturan lain.

Dan jangan sampai kebalik-balik niatnya. Itu kalau mau hidup dengan hakikat yang sejati loh.

Dan ya, karena bos kita Tuhan, ya kita harus senantiasa memberikan dedikasi terbaik kita pada setiap pekerjaan. Kalau belum bisa baik ya harus diupayakan lebih baik lagi.

Next, mungkin saya juga hendak membahas tentang bagaimana peran sifat amanah dan persahabatan bisa mengantarkan kita pada suatu “Lucky Network”. Network jenis ini bukan jenis network yang berisi “important contacts”, ini justru merupakan network yang isinya teman-teman kita yang suatu saat bisa menjadi pintu rezeki kita. Selain itu saya juga ingin mengaitkan antara yang ada di tulisan ini dengan tulisan-tulisan dari buku-buku bisnis yang saya baca (ya tentunya rada akademis karena beberapa dari HBR).

Terakhir, saya hendak menutup catatan ini (yang kebanyakan inspirasinya saya peroleh dari Guru saya dan orang tua saya, dan pengamatan terhadap teman-teman) dengan sebuah kalimat bijak:

Seperti tanaman-tanaman, sekarang pohon kecil ternyata nantinya jadi pohon beringin, sebaliknya ada yang sekarang kelihatannya tanamannya tumbuh subur tapi tidak ada buahnya.

Dilema 20-an: Karir, Passion Khayalan, dan Higher Purpose untuk Pemenuhan Hidup

Dilema 20-an: Karir, Passion Khayalan, dan Higher Purpose untuk Pemenuhan Hidup

“Fik, bisa ditelepon nggak? Kasih gw pencerahan dong, lo lagi mikir apa?” (A)

“Bener Fik, shouldn’t care about living and dying” (B)

“Lo pernah ngerasa kehilangan arah ga sih? Ga punya target hidup? Ga punya temen yang pas buat dicurhatin?” (C)

Baru-baru ini saya sempat berbincang dengan tiga orang teman. Waktunya tidak bersamaan (A paling baru) tapi saya melihat isu yang sebenarnya ada di kepala mereka sama: yakni persimpangan antara profesi dan arah kehidupan.

IMG_20140522_223929

Perubahan kecil pada purpose, memberikan impact besar pada hal-hal di lapisan bawahnya yang lebih teknis [1]

Pada postingan ini saya akan memaparkan perbincangan dengan tiga teman saya pada halaman 2,3, dan 4. Lalu pada halaman 5 saya akan sedikit memberikan refleksi yang bisa saja menyimpulkan sesuatu.

Oh iya sebelum itu saya ingin berbagi komik trivia tentang kebahagiaan. Sumbernya dari sini: http://buttersafe.com/2012/08/16/the-seasick-squid/

The Seasick Squid

Tentang Punggawa Perubahan dan Sindrom 25, Teori IMP vs DRTK

Dari yang saya amati kalau bertemu dengan sesama anak ITB biasanya yang diomongin masuk 2 kategori: cinta atau obrolan mengawang. Bukannya obrolan seputar cinta tidak mengawang apalagi bagi para pejuang cinta yang sering patah hati atau gak enak karena mematahkan hati tapi kalau obrolan seputar idealisme agar supaya (redundan sekali) kita bisa bikin perubahan di dunia itu jauh lebih mengawang dari obrolan tentang cinta yang selalu tak terjangkau dan tak konklusif.

Contoh obrolan absurd yang mengawang di bus:

“Menurut lo gue cocok nggak jadi Menteri Pemberdayaan Wanita?”

“Enggak, lo cocoknya jadi Menteri Akhlak dan Cinta”

“Wanjir kalo gue menteri akhlak, hancurlah moral bangsa. Gue mau jadi Menristek aja”

“Lo nggak cocok jadi Menristek. Menristek tuh harusnya kayak Mabok”

“Lah Habibie aja jadi Menristek”

“Habibie kan geek”

“Serius lo, Habibie geek, ngapain jadi menteri coba?”

“Ya itu karena disuruh”

Oke, sebelum memberikan potongan-potongan lain. Siapa sebenarnya orang yang saya ajak diskusi? Dia seseorang berinisial IMP, seseorang yang membuat teori (sebut aja teori biar keren, sebenernya cuman khayalan filosofis) Tiga Kesempatan:

bahwa sebenarnya kita selalu diberi kesempatan 3 kali untuk memutar waktu pada suatu kejadian

namun aturannya, ketika kita memutar waktu, kita akan lupa akan hal itu

Sama seperti saya, IMP dengan teori-teori Fisika Sosial-nya adalah orang yang punya keinginan terpendam untuk masuk jurusan psikologi. Semasa kuliah, dia adalah sparring partner dengan jam terbang perdebatan paling tinggi yang mencakup berbagai tema di berbagai tempat dan kota. Dan kami lebih sering tidak mencapai kesepakatan bersama.

Nah berhubung saya lagi malas nulis, tapi karena saya habis quiz dan pengen refreshing, saya bikin aja notulensi singkat mengenai diskusi kami.

Tipe Kepribadian Pemimpin

Jadi di sini kita sedikit ngebahas gimana seorang leader bisa rise to power. Continue reading “Tentang Punggawa Perubahan dan Sindrom 25, Teori IMP vs DRTK”

Permainan yang Kita Hindari

*ditulis menjelang ketemu salah satu big boss!

“Kenapa lo selalu berpikir bahwa sama dia, lo akan mengacaukan semuanya seperti yang udah-udah? Kenapa nggak mikir kalo kali ini lo akan lebih baik buat dia?”

Amanda Kasella

Pertanyaan itu membuat saya kaget. Kejadiannya sudah dua tahun lalu sih, tapi mendadak terlintas di kepala. Dan meskipun kata-kata itu konteksnya cinta-cintaan, tapi postingan ini justru lebih fokus pada cita-cita dan pengembangan diri.

Harus saya akui, saya punya rasa takut. Tidak mengakuinya sama saja berkata tidak cacingan tapi gatalnya tetap terasa di dubur. Biarpun banyak yang bilang saya adalah risk-taker, saya pribadi merasa dulu saya orangnya play safe. Saya tidak berani berusaha lebih, karena takut mendapatkan hasil yang sama saja.

Saya takut kalah. Saya takut apabila saya berusaha lebih tapi hasilnya sama saja. Makanya saya menghindar dari beberapa permainan (ya, hidup kan isinya cuman permainan).

Tapi semakin kita takut, maka yang kita takutkan akan terus ada, semakin besar, dan menghantui. Seperti cacingan, kalau tidak minum combantrin ya akan tetap sakit. Hidup akan terus menekan kita. Mau terus lari dan jadi pecundang? Atau mau berjuang, tak peduli kalah menang tapi jadi terhormat karena sudah mau banting tulang?

“Kenapa takut? Lawan dari takut sebenarnya adalah harapan”

Mas Ivandeva

Dan untuk bisa punya harapan, kita hanya perlu Continue reading “Permainan yang Kita Hindari”

Klaster Pertemanan, Jalan Inovasi, dan Tantangan Beristiqomah

Seperti biasa, sehari-harinya pikiran saya selalu menghasilkan banyak topik yang kalau mau dijabanin satu topik bisa jadi sangat panjang. Maka di sini saya mau mencoba memeras intisarinya saja karena tidak ada waktu buat menulis semuanya (biar ga kebanyakan post juga di satu hari). Ini cuman tiga topik aja.  Continue reading “Klaster Pertemanan, Jalan Inovasi, dan Tantangan Beristiqomah”

Apakah Anda Memiliki Puting? (Part 2)

Apakah Anda Memiliki Puting? (Part 2)

Post singkat kali ini adalah panduan memilih jenis puting yang tepat.

#1 Mari kita sebut puting yang palsu sebagai putsi (puting ilusi).

Saat kita mencapai putsi, kita berpikir bahwa kita berada di puncak. Besar kemungkinan kita merasa demikian karena kita baru saja melewati lembah terendah (lendah) dalam hidup kita. Di lembah itu lah biasanya kita merasa menjadi manusia paling hancur, malang, dan paling berduka di dunia.

IMG_20140215_195051

Nah, setelah melewati lendah ini, biasanya ada kecenderungan bahwa hidup kita akan memang menanjak. Sebab memang tanjakan itu ada setelah kita melewati titik terendah bukan? Namun, sayang ketika kita merasa tinggi, ada satu titik dimana kita akan terlena. Merasa hebat. Merasa tak terkalahkan karena berhasil bangkit dari lendah.

Kita merasa sudah mencapai puting, padahal kita masih di putsi. Jalan hidup masih panjang, akan ada banyak putsi-putsi yang lain. 

#2 Jangan memilih putsi sebagai puting

Selain bahaya karena merasa sudah di puting padahal masih berada di putsi, rupanya ada yang lebih mengerikan. Yakni, saat ternyata apa yang kita yakini sebagai puting rupanya hanya sebuah ilusi.

Saya pikir sebuah puting harus seperti mentari. Letaknya jauh tak terjangkau, tapi cahayanya memberi kita harapan dan energi. Memilih puting yang seperti ini tentu akan membuat kita senantiasa berjuang dalam mendaki putsi demi putsi.

Selain konsep puting yang seperti ini, saya percaya juga bahwa puting sebenarnya bukan berbentuk pencapaian. Puting dari seorang manusia bukanlah pencapaian, melainkan kondisi jiwa dan pikiran kita. Dan jika sudah sampai puting, kita harus berhati-hati supaya tidak tergelincir ke lendah lagi.

Sekian posting kali ini.

*Tulisan ini adalah sambungan dari tulisan “Apakah Anda Memiliki Puting?” yang saya tulis lima tahun yang lalu.

Role Model dan Love of Life

Sebagai makhluk sosial, interaksi dengan manusia lain ikut membentuk karakter dan cara kita hidup. Dan saya baru menemukan bahwa ada dua jenis ‘sosok’ yang penting dalam kehidupan kita. Mereka bisa memberikan drive, namun tak jarang mereka juga bisa membuat kita kecewa.

The Role Model

Sadar atau tidak kita selalu memiliki role model. Baik itu orang tua kita atau teman-teman kita, atau tokoh yang kita kagumi. Dengan segala hal positif yang ada pada mereka, kita tumbuh sebagai pengagum mereka. Continue reading “Role Model dan Love of Life”