Menemukan Kebaikan Tuhan dari Kemarahan Orang

Baru-baru ini ada yang mengusik pikiran saya yang membuat saya begitu gundah. Fokus pada pekerjaan begitu sulit, padahal saya ada di sana. Tapi pikiran ke mana-mana, hati tercabik-cabik.

Mungkin saya kecewa kepada orang lain. Yang pasti, saya juga kecewa pada diri sendiri. Tapi saya selalu yakin, dan refleksi yang saya tuliskan selama ini di blog ini adalah bekal yang sudah saya siapkan untuk menghadapi hari-hari ini. Hari ketika rasanya saya ingin enyah dari dunia ini. Ingin pergi menyepi entah di mana, tanpa ada seorang pun yang menemui. Saya pun sempat menutup blog ini. Karena merasa agak gimana dengan diri sendiri.

Tapi ya itu tadi, saya tau saat seperti ini akan datang. Meski untuk menjalaninya tetap tidak mudah.

Saat ketika saya harus menghadapi kemunafikan diri sendiri.

Triggernya adalah dia, seorang teman. Seorang teman yang membuat saya pernah ada pasa kebahagiaan dan impian yang begitu menggelora. Cinta kepada wanita? Saya pernah, tapi tak sedalam ini. Dicintai wanita? Tidak kalah sering, tapi tak ada yang [pernah] sedalam dia dalam [pada suatu ketika] mencintai saya. Dia yang membuat saya berpikir, mungkin akan ada orang yang bisa memahami jalan pikiran saya dan bisa diajak berjalan bersama. Dia yang membuat saya ingin sesuatu yang lebih dari sekedar kesendirian.

Dia adalah wanita pertama non-keluarga yang memberikan saya mushaf al-Quran dengan sengaja. Dia adalah wanita pertama yang ingin mendengarkan saya mengaji. Dia wanita pertama yang pernah berkata ingin menunggu saya, menjadikan saya Imam, dan lain-lain.

Tapi benar kata Bapak, hidup adalah misteri. Dan sudah seharusnya kita bersama Yang Maha Misterius. Benar kata Bapak, harusnya saya mulai mendekat, memperbaiki hubungan dengan Tuhan, menjalankan PR sesuai dengan porsinya. Sebab, tanpa itu semua, biji-biji takdir tak akan mekar jadi bunga, meski dia ada di sana, di pekarangan rumah sendiri.

Dan selayaknya kisah-kisah yang penuh hikmah, penyesalan datang di belakang. “Andai saja aku mematuhi hukum Tuhan, mungkin aku sudah bahagia.

Hari ini saya membaca-baca lagi mushaf pemberian dia, buku pemberian dia. Begitu menohok.

Saya masih ingat betapa larutnya saya dalam perasaan bahagia karena menjadi orang yang dia sayang. Setelah tahun demi tahun interaksi yang timbul tenggelam namun selalu ada. Setelah ucapan perpisahan demi perpisahan yang terus diungkapkan namun berujung pertemuan kembali. Setelah menunggu berbulan-bulan untuk menanti sebuah jawaban namun akhirnya mendapatkan “tidak“.

Lalu hingga suatu ketika takdir membawa kami pada sebuah situasi oksimoron. Dan keesokan harinya Tuhan menakdirkan dia untuk menyayangi saya, meski dengan segala keraguan menjadi fondasinya. Saya masih ingat sebuah malam, ketika di sebuah kafe, saya berusaha meyakinkan dia untuk mencoba ini. Hipotesisnya adalah: hanya karena sebuah lagu harus berakhir, bukan berarti kita tak bisa menikmatinya. Dia yang ragu bahwa dua pikiran yang kompleks bisa bersatu, sedangkan saya yang masih merasa dia adalah salah satu orang yang paling nyambung dengan saya. 

Pada akhirnya kami saling berkata pada satu sama lain, mungkin kelak salah satu dari kami akan mematahkan hati yang lain. Tapi, siapa yang bisa mematahkan hati kita selain diri sendiri. Mengapa tidak profesional saja? Perasaan masing-masing urusan masing-masing. Tapi, mari kita coba saja, berdua jadi teman berbincang yang lebih akrab untuk saling mengenal dan saling mengingatkan.

Begitu rencananya. Eskpektasi masing-masing silahkan dikelola. Jodoh urusan Tuhan, tapi bukan berarti tidak diusahakan. Kita boleh bikin rencana.

Lagu itu pun terputar. Musiknya begitu kaya. Ada suka yang begitu menggelora. Disertai palung-palung duka yang bergelombang. Di situlah saya memahami bahwa saya telah larut, persis seperti lagu Dewa 19 yang pernah saya nyanyikan untuknya.

Hari demi hari pun penuh dengan beragam pelajaran hidup. Petualangan bersamanya membuka cakrawala. Ada saja hal-hal kecil yang bisa diperas jadi kebijaksanaan besar. Tentang banyak hal. Dari yang sempit hingga yang luas. Dan memang itulah yang sudah saya rasakan dari sekitar 5 tahun lalu ketika pertama mengenal dia. Itulah yang membuat saya masih ingin tahu hidupnya, dan sesekali mengobrol meski tidak selalu intens.

Tapi, seperti hipotesis saya, lagu yang begitu intens itu pada akhirnya harus berakhir juga. Rasa manusia bukan miliknya. Segala bincang-bincang yang membawa suka harus berakhir. Saya yang begitu dingin sudah meleleh. Tapi dia justru membeku.

Saat ketika hari-hari berlalu tanpa ada berbincang dan kabar darinya membuat saya merasa lagu yang diputar adalah Love of My Life. Dia adalah teman. Dia adalah cinta. Tapi dia sudah pergi. Tak sama lagi.

Dan upaya-upaya setelahnya, ketika dilihat ke belakang, adalah pemaksaan yang saya lakukan. Memaksa minyak untuk bersatu dengan air.

(Atau lebih ekstremnya, sudah berubah menjadi nafsu untuk menyayangi. Atau nafsu untuk disayangi? Entahlah. Sepertinya lebih ke yang pertama.)

Tapi, itu karena saya pikir kami sejenis. Sebab di saat-saat kelarutan itu pun saya sering berpikir? Benarkah kami sefrekuensi. Apakah perbincangan begitu panjang itu bisa terjadi jika kami bermasa jenis yang beda?

Saya ingat titik-titik keyakinan itu. Ketika kami melalui banyak dinamika berdua dan seolah dengan kelemahan yang kami punya, kami masih berharap semoga Tuhan melihat upaya keras kami. Semoga Tuhan senang atas momen-momen perjuangan kami. Di titik itu, seolah kami berbeda nol derajat.

Di titik itu rasanya semua konflik yang ada di antara kami hanya saling menguatkan persahabatan yang kami punya. Semakin memahami satu sama lain. Atau memahami bagian-bagian yang tidak kami pahami dari satu sama lain? Yang jelas kami menghargai persahabatan yang kami punya dan berupaya mengisinya dengan nilai-nilai positif. Meskipun pada akhirnya selalu ada noda. Memang tak ada hubungan yang sempurna, lancar-lancar saja kan?

p_20190110_211148

Dulu saya selalu mencari hubungan yang sempurna. Tapi itu tak pernah ada, kata teman saya. Maka saya pun berusaha mempertahankan persahabatan yang (ketika hangat) begitu hangat ini.

Lalu tibalah hari itu. Hari ketika dia, wanita yang mengajari saya untuk bersyukur, bekerja keras, dan tidak perlu mengutuk diri sendiri dalam kemunafikan yang saya punya sebagai role model.. mengatakan bahwa saya munafik dan double standard atas sesuatu yang saya perbuat.

Dia tidak salah.

Ya, saya munafik, bukankah itu yang selama ini saya akui. Tapi kalau saya munafik di sini, bukan berarti saya harus munafik di sana kan? Saya pikir begitu sih. Kesalahan harus diakui, tapi tak boleh diekstensifikasi. Namun, bisa jadi porsi saya melampaui batas jadi lupa diri? [mungkin saya sedang bersekutu dengan malaikat jadi lupa kalau bersekutu dengan setan kalau bahasa ibu saya seperti yang ada di bawah]

Entahlah, ketika dia berkata seperti itu, saya jadi bercermin pada diri sendiri. Saya percaya semua sudah diatur. Apa yang saya lakukan telah dituliskan 50.000 tahun sebelum alam semesta diciptakan.

Dan pastinya Ada yang menggerakkannya berkata demikian. Siapa lagi kalau bukan Tuhan?

Saya jadi memahami sudut pandangnya. Tentunya dia benar dalam sudut pandangnya. Saya pun merasa benar dalam sudut pandang saya. Tapi dua kebenaran pun belum tentu bisa sejalan, terkadang. Masing-masing punya jalannya.

Mungkin benar, saya telah digerogoti ego karena ketidakikhlasan dan rasa takut kehilangan. Terlampau nafsu untuk mencintai sampai-sampai lupa diri dan tergesa-gesa.

p_20190110_210858

Tapi tidak salah juga upaya untuk menyampaikan kebaikan bukan? Sebab saya pikir, saya hanya melakukan apa yang dia pernah pesankan kepada saya. Cara yang dia harapkan tentang bagaimana saya menempatkan diri dari terhadapnya.

Saya pun tersadar. Mungkin orang yang mengatakan itu sudah tertinggal di masa lalu. Jadi saja, saya gagal menempatkan diri, menempatkan rasa, dari apa yang orang di masa kini inginkan.

Padahal, niat saya semata-mata sih kayak di lagu Queen:

Why don’t we give love one more chance?
Love’s such an old-fashioned word
And love dares you to care for
The people on the edge of the night
And love dares you to change our way of caring about ourselves

(Tidakkah kita sadar bahwa kita adalah kita yang sekarang, detik ini, bukan sedetik lalu dan bukan sedetik ke depan?)

Kalau ibu saya:

[3:26 AM, 1/9/2019] Dunia ini ada 3 macam…
Yang 100 % buruk itu setan….
Yang 100 % baik itu malaikat
Yang antara buruk dan baik itulah manusia…..

Karena kadang manusia bisa bersekutu dg setan…tp kadang mendengarkan bisikan malaikat…

Payahnya…ketika seorang anak manusia ini sedang mendengarkan bisikan malaikat…kadang lupa bahwa ia pun pernah bersekutu dg setan…..
[3:31 AM, 1/9/2019] Nek di judulkan gini….

Saat bersekutu dg malaikat kadang jadi lupa jika pernah bersekutu dg setan…..

Maafkan aku,jika mencintaimu dengan cara yg bukan seperti yang kau mau….he he….
[3:37 AM, 1/9/2019]belajar menahlukkan ego itu mmg tidak mudah…perlu terbentur suatu peristiwa demi peristiwa utk sampe pada sebuah kesadaran bahwa masih ada ego yg harus di kendalikan…dan ada kemunafikan yg perlu di luruskan…..

Tapi yg penting kita ada dlm posisi paham bahwa diri kita di jalan yg salah,yg bahaya adl jika kita ‘tidak paham’ bahwa diri kita salah….

Ukuran benar-salah tentu lah bukan nilai2 manusia,tp nilai2 Tuhan yg rujukan nya ada pada Qur’an…..

Yang jelas, kembali lagi. Pasti ada hikmah dibalik semua. Karena orang itu marah dan membenci kita sekalipun, pasti ada pesan Tuhan di sana. Ada izin dari-Nya.

Dan sejujurnya, ketika untuk pertama kalinya saya melihat dia marah. Saya hanya bisa terdiam. Banyak terdiam.

p_20190110_211043

Buat saya, hikmahnya adalah saya jadi lebih terbuka lagi dengan orang tua saya. Orang tua saya bisa menasihati saya. Saya bisa lebih fokus pada diri sendiri, lebih ditampar lagi bahwa memperbaiki akhlak itu harus disegerakan (walaupun ya saya sendiri masih belajar dan merasa stuck, tapi katanya kita harus berprasangka baik pada Tuhan).

Dan kita yang manusia berlumur dosa ini memang perlu menilik kembali betapa kita telah melampaui batas.

No! [But] indeed, man transgresses

Apa-apa yang dia siratkan seolah mengingatkan saya pada apa-apa yang Tuhan katakan. Dan sebenarnya hal-hal ini yang membuat saya galau.

Begitu banyak yang bisa dikaji dari sebuah kejadian. Dari banyak sisi. Dari tema A sampai tema Z.

Dan ini begitu pas sekali untuk mengingat lagi bahwa tak ada manusia yang sempurna dan bebas dari salah sebagaimana difirmankan:

O you who have believed, do not follow the footsteps of Satan. And whoever follows the footsteps of Satan – indeed, he enjoins immorality and wrongdoing. And if not for the favor of Allah upon you and His mercy, not one of you would have been pure, ever, but Allah purifies whom He wills, and Allah is Hearing and Knowing.

24:21

Ini mengingatkan saya lagi tentang cinta yang tak boleh melalaikan.

Say, [O Muhammad], “If your fathers, your sons, your brothers, your wives, your relatives, wealth which you have obtained, commerce wherein you fear decline, and dwellings with which you are pleased are more beloved to you than Allah and His Messenger and jihad in His cause, then wait until Allah executes His command. And Allah does not guide the defiantly disobedient people.”

9:24

Ini mengingatkan saya lagi tentang kemunafikan-kemunafikan yang perlu diluruskan.

And when it is said to them, “Do not cause corruption on the earth,” they say, “We are but reformers.”

Unquestionably, it is they who are the corrupters, but they perceive [it] not.

2:11-12

Mengingatkan juga bahwa sebenarnya kita akan dipertemukan dengan orang-orang yang sejenis.

Evil words are for evil men, and evil men are [subjected] to evil words. And good words are for good men, and good men are [an object] of good words. Those [good people] are declared innocent of what the slanderers say. For them is forgiveness and noble provision.

24:26

Makanya semua indah ketika kita jadi orang baik. Sekeliling kita akan jadi baik.

Begitu pula sebaliknya, kalau ingin jadi orang baik, kita harus mengelilingi diri dengan orang baik, sebab katanya Nabi Ibrahim saja berdoa demikian

Bahkan Ibrahim ‘alaihissalaam tahu, manusia membutuhkan manusia lain untuk mendapatkan dukungan. Anda tidak bisa menggenggam iman Anda sendirian. Anda butuh orang lain untuk mendapat dukungan. Dan dia berdoa kepada Allah, “Ya Allah berikan aku teman orang-orang yang baik.” (26:83)
*kutipan diambil somewhere over the internet

Dan orang-orang yang tidak sejenis pun akan berpisah juga pada akhirnya.

Manusia disatukan/pisahkan oleh nilai2 yg dianut nya. Apa yg terjadi adalah sekedar sebab, itu sekedar dinamika nya sj, akhir nya manusia akan mengelompok dgn yg sejenis… Tdk usah membuang waktu dgn berupaya menyampur minyak dgn air. Wasting time. Air akan tetap air, minyak akan tetap minyak. Air dn minyak bahkan memiliki ” kebenaran nya ” sendiri.

Apa yg terjadi sdh lah pasti terjadi, hanya alasan nya apa dn waktu nya kapan.

Oleh sebab itu tdk perlu ada kebencian antara minyak dan air, gagak dan rajawali, ayam dan merpati, mereka memang sdh pasti begitu..

Penjelasan pun tiada guna krna bukan masalah penjelasan, tetapi ini masalAh jenis…

Kita bersyukur disatukan dgn yg sejenis disinilah Kita merasa nyaman. Demikian pula orang2 lain yg bersyukur bersatu dgn jenis nya..

Siapa yg lebih baik ? Tdk ada yg lebih baik… Bagi Tikus yg terbaik adalah Tikus, bagi marmut yg terbaik adalah marmut

Tikus tdk ingin menikah dgn gadis marmut sekalipun… Demikian sebalik nya

Kita memahami Kita dan Kita memahami […….], tanpa merasa bhw Kita lbh baik… Kita sllu memohon petunjuk dn perlindungan Allah Swt.. Tidaklah layak Kita mrs lebih baik…

Kita terkadang membuang waktu supaya bs bersatu, tdk mungkin itu. Semangka berdaun sirih hanya ada pada lagu.. Atau pada lukisan

Bukan soal kalah menang, soal baik buruk, ini soal jenis… Biarlah Tuhan yg menilai…

Memahami ini penting, agar Kita jernih dan memiliki rasa hormat kepada siapa saja, tdk mrs lebih baik dari siapa saja. Agar Kita juga bertekad kuat menjadi lbh baik dari hari kehari…

Semoga Allah Swt menolong Kita

Tiap hari Kita harus bertanya am I happy dan apakah aku dijalan yg benar ?

Semua konflik terjadi dilakukan oleh orang2 yg merasa benar.. Firaun pun ketika berhadapan dgn Nabi Musa merasa benar… Kita perlu berhati hati benarkah Kita bukan Firaun ? Semoga Allah Swt memberi petunjuk

Iya, air lbh paham pada diri nya, jg minyak lbh paham pd diri nya.

Allahu A’lam

Kita bersyukur dikelilingi orang2 yg kita cintai dn Kita pergi ketempat dimana Kita dicintai…

Jose Mourinho, aku pergi ketempat dimana orang2 menyintai ku… Chelsea..

Ada orang tidak yakin dgn [………….], memang keyakinan tdk bs dipaksakan. Keyakinan adalah dirasakan.. Jd tdk apa apa tdk sepakat dgn [….], tidak berdosa, apalagi salah adab…

Kesimpulan: mari bersyukur, karena Allah Swt telah memberikan yg terbaik dan tetap tawaduk karena hanya dgn rahmat Nya lah Kita bs selamat… Aamiin…
Kutipan fatwa dari guru saya YM Abu yang beberapa objeknya saya hilangkan demi menjaga konteks/relevansi dan substansi

Dan semua ini mengingatkan kembali saya, pada ilham yang saya peroleh pada suatu ketika. Bahwa semua pasti ada maksudnya. Pasti Tuhan sedang mengedel-edel hidup kita supaya dirajutkan yang lebih baik. Supaya kita menjadi lebih baik dan dipertemukan dengan orang-orang yang bisa mengantat kita jadi lebih baik.

Bisa saja jasad-jasadnya sama. Bisa juga tidak sama. Yang penting isinya, dari mana datangnya. Kalau ada kebaikan, sudah pasti datang dari Tuhan. Meski datangnya lewat amarah sekalipun, jika mendatangkan kebaikan, pasti datangnya dari Tuhan.

Meski yang bilang manusia, bisa jadi ada firman Tuhan di dalamnya.

Dia yang dulu ingin diperjuangkan, pada akhirnya ingin dilepaskan. Memang benar segala perasaan, sepatutnya dikembalikan pada Sang Tuhan. Akhirnya masing-masing pribadi harus kembali mencari penyelamatan.

Namun, pada akhirnya saya bersyukur dan meyakini segala pertemuan pasti ada maksudnya. Kalau tidak, tentu malam ini saya tidak bisa mengaji ayat-ayat ini bukan, di al-Quran yang dibelikan olehnya.

p_20190110_211025

*ditulis kemarin malam, waktu blog ini saya buka lagi ke public.

**atas apa yang terjadi, saya sudah meminta maaf dan dia pun memaafkan.

 

Lima

#0

Tidak ada di dunia ini yang perlu dipertahankan mati-matian, kecuali prinsip sejati. Banyak manusia berpikir bahwa mereka meyakini hal ini, tapi itu omong kosong belaka. Diri mereka tidak mencerminkan hal ini.

Dan saya, tidak ingin menjadi orang yang seperti itu. Saya selalu melakukan refleksi dari waktu ke waktu, seberapa kemajuan yang saya sudah buat dan apa-apa yang bisa saya perbaiki. Tidak mudah.

#1

Kehidupan ini adalah permainan belaka. Kita harus siap melepaskan apa yang kita punya sewaktu-waktu. Namun, bukan berarti kita tidak serius dalam melakukan permainan ini. Manusia memang tercipta demikian adanya. Merasakan gairah saat bertarung, saat mendapatkan tantangan.

Saat bertarung dalam berbagai kegiatan yang dijalaninya (bekerja, olah-raga, membaca, dll), manusia mengalami sebuah proses transendensi dalam skala kecil di mana dirinya larut dalam aktivitas tersebut. Ia menjadi fokus pada apa yang dijalaninya saat itu, melupakan hal yang lain, termasuk melupakan dirinya sendiri. Untuk sejenak manusia melupakan masalah-masalah hidupnya dan fokus dengan pertarungannya.

Dalam permainan-permainan itu, terkadang manusia menemukan rival dari sesamanya. Ada perbandingan-perbandingan yang dilakukan untuk semakin menghidupkan pertarungan itu. Ada komparasi, kompetisi. Namun, sejatinya, perbandingan itu bukanlah tujuan, melainkan sekedar sarana. Sarana agar seseorang mampu mendorong dirinya untuk menjadi lebih baik.

Adalah suatu kesia-siaan saat perbandingan ini dijadikan sebagai suatu titik akhir. Bodoh sekali jika manusia menjadikan perbandingan dan kompetisi dengan sesama sebagai titik akhir. Hal itu membuat dirinya kurang bersyukur dan banyak mengeluh.

Padahal, segala permainan di dunia ini kita jalani dalam rangka bersyukur.

Adalah suatu kesalahan besar pula bagi seorang manusia jika saat menyadari bahwa hidup ini adalah permainan belaka, ia justru menghindari permainan itu. Bekerja adalah sebuah sarana bagi kita untuk menjalankan misi hidup yang sejati. Dan, selama ada di dunia, kita pasti tidak lepas dari permainan itu. Memang begitu adanya.

Selama hidup di dunia, kita butuh makan.

#2

Saya tidak menyukai sikap menyalah-nyalahkan masa lalu. Banyak orang sebenarnya terjebak di masa lalu, tapi tidak sadar. Saya juga seperti itu. Dulu parah sekali bahkan, tapi sepertinya sekarang sudah berkurang intensitasnya. Dan makanya saya benar-benar tidak suka dengan sikap seperti ini.

Sikap menyalah-nyalahkan masa lalu membuat kita lembam dalam menyikapi apa yang ada sekarang. Terlalu banyak alasan yang dibuat-buat manusia sehingga ia tidak mau mengembangkan diri. Padahal, segala pembenaran tersebut justru merupakan penghalang bagi manusia untuk memperbaiki diri.

Banyak orang memiliki kecerdasan yang cukup untuk membaca hasil penelitian bahwa orang yang memiliki growth mindset adalah orang-orang yang dapat memaksimalkan potensinya. Pola pikir ini berbasisikan pada sebuah keyakinan bahwa kesuksesan seseorang diukur dari upayanya, bukan semata karena bawaan lahir.

Tapi, orang-orang yang cukup cerdas untuk mengetahui pola pikir ini perlu melakukan reality check. Apakah mereka benar-benar yakin dengan pola pikir ini? Jika iya, mengapa mereka harus mengukur segala sesuatu dengan hal yang sudah kadaluarsa seperti, IQ? Mengapa mereka sibuk mempertanyakan apakah mereka cukup pintar atau tidak?

Semua soal usaha, mau atau tidak mau saja. Perkara kalau hasil akhir itu tetap ditentukan oleh hal-hal yang bersifat bawaan lahir, ya itu sudah hukumnya. Tapi, yang paling penting adalah memberikan diri kita kendali atas sesuatu.

Ketika kita menyalahkan apa yang terjadi dalam kehidupan kita pada faktor yang tidak dapat kita ubah, itu sama saja dengan membuat diri kita tidak berdaya. 

#3

Saya belajar banyak dari perjalanan studi doktoral saya. Saya berusaha untuk terus bertahan di dalam tekanan. Sering yang menciptakan tekanan adalah ketakutan-ketakutan dan pikiran kita sendiri.

Menjalani studi doktoral adalah membiasakan diri dengan kegagalan. Kegagalannya ya tetap menyakitkan. Berbulan-bulan setelah simulasi kita baru tahu bahwa ada kesalahan. Bertahun-tahun menjalani riset tapi hasilnya belum kelihatan.

Memang mudah untuk mengatakan, bagus kan yang penting sekarang sudah tahu salahnya di mana? Tapi kita tahu diri kita tidak benar-benar siap menerima itu. Kita manusia, kita perlu menerima emosi yang muncul dalam diri kita sewaktu-waktu. Kita terima saja kedatangan mereka.

Namun, setelah itu kembali ingat ke aturan #0, tidak ada yang perlu dipertahankan mati-matian di dunia ini. Termasuk studi doktoral. Termasuk citra diri kita di mata manusia lain. Termasuk segala ekspektasi kita.

Maka, dengan melalui proses-proses itu seseorang dapat menerima betul bahwa kesalahan yang mereka perbuat adalah bagian dari proses belajar.

Dan, saat itu terjadi sudah tidak jaman lagi menyalah-nyalahkan masa lalu.

Saya sendiri sering menjadikan blog saya sebagai sarana bagi diri saya untuk menerima emosi-emosi yang timbul. Tapi bukan berarti saya senantiasa mengikat diri saya dengan pengalaman-pengalaman itu. Memang, ada kalanya berbagi empati itu bagus. Tapi ketika itu membuat kita mengasosiasikan diri kita dengan keluhan dan hal-hal yang negatif, itu tidak baik.

Kita perlu mengakui adanya perasaan-perasaan tidak enak yang kita rasakan. Tapi kita tak perlu berpegang kepada mereka. Kita harus lepaskan.

Dan saya benar-benar tidak suka sikap menggandoli perasaan-perasaan seperti ini. Mereka hanya sementara, jangan dibuat-buat supaya jadi abadi.

#4

Mengakusisi pola pikir serta kebiasaan baru tidaklah mudah. Tidak ada yang instan. Butuh waktu, dan butuh masa transisi. Tapi, ketika perubahan itu terjadi, maka hidup kita akan berubah.

Dan, dengan itu kita tidak akan menjadi seperti orang gila yang berharap hidupnya lebih baik dari waktu ke waktu, tapi terus-terusan menjalani hidup dengan sikap yang sama.

#5

Banyak orang bilang melakukan perencanaan adalah hal yang sulit. Hal yang membutuhkan pemikiran orde tinggi. Tidak semua orang sadar bahwa penting untuk merencanakan mana hal yang penting dan mana yang tidak.

Namun, rupanya hal yang tidak kalah pentingnya adalah menjalani masa kini dengan baik sesuai rencana tersebut.

Saya sendiri sampai sekarang masih berusaha mengubah banyak hal dari diri saya. Tentu dari waktu ke waktu saya gagal menjadi diri ideal yang saya inginkan. Tapi, saya melihat kemajuan di sana. Maka, saya berupaya mengupayakan fokus saya pada masa kini.

Mungkin saja sudah dua minggu saya gagal melaksanakan apa yang saya targetkan. Tapi, kuncinya adalah tidak menyerah dalam berusaha. Hari ini berusaha lagi, yang penting tidak menyerah sedari dalam pikiran.

Itulah yang disebut fokus pada sekarang. Bukan kemarin. Bukan mendatang. Dalam konteks kehidupan secara utuh, dunia dan akhirat.

 

Megatron, tentang Layar Segede Gaban

Loh, aku dengar sekarang di sana ada layar. Layar yang segedhe gaban. Ada di depan, dipampang di tempat yang dulunya sih baligho. Konon diputar sebuah parodi dari video yang paling ditonton di situs pemutar video paling heboh di dunia.

Loh, loh, loh. Benarkah ini? Bukankah ini si megatron yang dulu diimpi-impikan. Bukankah ini yang dari dulu kita cita-citakan. Punya tiga layar di masing-masing jalur. Sebuah alat yang diharapkan cukup heboh untuk bisa mencuci otak anak-anak kampus gadjah duduk yang terlalu menunjukkan gading-gading Ganesha. Ah, bukankah gading ganesha patah sebelah?

Loh, kok bisa ya. Dulu impian itu ada, sempat dikubur dalam-dalam karena mereka bilang masih jutaan tahun cahaya lagi. Ah, tapi kami tidak menyerah, kami tidak menyerah, kami tidak menyerah. Bukankah karena itu kita buat semuanya dari nol. Kanal kampus yang setiap tahun didengungkan tapi rupanya sulit untuk mempertahankan, membuatnya lebih bagus.

Loh, akhirnya kan tongkat estafetnya sempat ada di saya. Lalu saya ajak teman demi teman untuk buat sesuatu. Kami kumpulkan setiap elemen dari ITB. Unit film yang konon katanya jarang ikut berdiskusi pun ikut pada acara itu. Focus Group Discussion. Sebuah grup diskusi yang menyiapkannya butuh perdebatan panjang, demi membuat diskusi yang tak sekedar asal. Mencari data, menebak-nebak apa pikiran orang-orang.. hingga akhirnya sepakat. Kita butuh media untuk mencerdaskan? Tapi, bagaimana caranya?

Lalu tersebutlah kisah Faikar yang pernah kerja praktek di stasiun televisi. Mereka bilang untuk bikin berita tetap ada, kita butuh dana. Dijuallah paket-paket berita. Dengan maksud. Ah! Ternyata semua yang ada di dunia ini punya maksud. Kenapa lalu tak kita buat saja media kita sendiri dengan maksud baik.

Lalu ide pun tarik menarik. Loh, akhirnya timnya mulai jalan lagi, hidup lagi. Video-video karya dibuat. Kampus mulai akrab dengan dokumentasi karya menarik. Apresiasi mulai ada untuk mereka yang berprestasi. Baligho-baligho mulai ramai, meskipun saya tak pernah sekalipun tercantum dalam baligho. Video-video mulai ramai, dan untung akhirnya saya pernah ikut bikin video.

Dan akhirnya saya keluar dari permainan. 

Dan akhirnya saya melihat dari kacamata yang lebih lebar.

Pasang surut ide terus terjadi, namun suatu saat ia akan terwujud, entah kapan, entah siapa. Ah, jadi tak ada salahnya bermimpi ya?

Lalu saya keluar seorang diri mencari kehangatan. Rupanya di luar dingin. Saya pandangi rembulan yang bersinar dengan begitu bulatnya. Ah, jadi ingat cerita tentang rembulan. Bagaimana kekaguman seseorang tentang rembulan dapat menyelamatkannya dari hidup yang sia-sia menjelang kematian. Bagaimana rembulan membantunya menjawab pertanyaan-pertanyaan. Ah, tapi itu kan kisah fiktif.

Tak pernah ada mimpi yang setinggi bintang. Tak ada yang bisa menggapai bintang. Eh, mimpi seperti ini mungkinkah terwujud? Loh tapi kan itu megatron, layar yang segede gaban.

Lalu saya kembali dengan secangkir kopi mendidih. Berpikir begitu banyak tugas menumpuk. Lanjut lagi, malam masih panjang.

Kecut

Aku tersudut dalam ambang batas antara puncak dan dasar. Satu tepukan kecil dapat membuatku terbang ke angkasa maupun jatuh dalam jurang tanpa batas. Kecut dan masam. Tak pernah ada satu hal pun di dunia ini yang memuaskan dengan sebegitunya. Tak pernah ada puncak tertinggi, sebab matahari tak pernah terjangkau. Namun, tak pernah ada yang lebih dalam. Karena ini sudah yang paling buruk. Tak ada jurang yang lebih dalam selain takut, cemas, dan tanpa harapan.

Tersenyum dengan kecut. Sampai kapan aku mau jadi pengecut. Berkemah tak mampu, mendaki pun terlalu malas. Lemah tak berdaya, keputusasaan menggerogoti tangan-tangan yang ingin diam. Ah, mau tidur saja. Pulang akan aku ke rumah. Menikmati bantal, kasur, makanan yang ada di meja makan. Lalu hari pun akan sama seperti biasanya. Ah, bosan.

Takut. Lawan dari takut adalah harapan. Selama masih ada harapan, kita masih tetap hidup. Mereka bilang itu mimpi, mereka bilang itu lentera jiwa. Tak penting. Mereka bukanlah tujuan. Mereka adalah cara untuk menjalani hidup. Memberi makan harapan. Memberi makan mentari yang ada dalam dada, agar ia tak jadi pengecut. Supaya aku tak lari dari semua ini. Aku ingin mengejar matahari. Aku ingin mengejar ia nya yang tinggi dan tak pernah teraih. Karena dengan itu aku tak akan pernah berhenti menggerak-gerakkan kakiku dalam samudera yang luas ini. Sebab jika iya, aku akan mati. Tenggelam dalam takut, putus asa, dan tanpa harap.

Karena ada haraplah, aku masih mencoba di sini. Meski dalamnya samudera seakan tak berbatas. Meski panjangnya pun tak terukur. Aku tak akan berhenti menjejak-jejak kaki demi udara bebas!

Sebenarnya Bahagia

Apa sebenarnya bahagia? Sampai detik ini jutaan manusia masih mencari bahagia. Dapat ditemui di toko-toko buku, tulisan-tulisan yang menawarkan cara untuk bahagia. Dapat ditemui di semua tempat, detik itu juga manusia bergelut dengan perasaan.

Apa sebenarnya bahagia? Mungkin bahagia itu abstrak, tapi tidak dengan es krim. Sebelas dua belas dengan bahagia, kata mereka. Untuk bisa membeli es krim aku butuh uang. Bekerja, bekerja, dan bekerja. Semuanya demi uang. Sebab uang bisa mengantarkanku pada limit menuju bahagia.

Lelah aku tersesat. Sepertinya tempat ini bukan untukku. Apa yang aku lakukan di sini? Apa sebenarnya bahagia? Bukankah lebih baik aku bermain dan menikmati hidup ku sekarang, buat apa hidup kalau bukan untuk dinikmati. Lalu mereka berhenti bekerja. Mencoba menikmati hidup yang sekarang ini. Mereka ambil gitar, mereka ambil balon, mereka bawa istri dan anak mereka ke pantai.

Apa sebenarnya bahagia? Tak bisakah aku mendapatkan semuanya. Dan mereka pergi ke gua-gua. Berdiam diri dalam hening dan sunyi. Mereka menutup mata mereka dari pemandangan yang dilihat sehari-hari. Bertapa dan bertanya.

Apa sebenarnya bahagia? Mungkinkah aku melihatnya dengan mata hati, jika memang ada yang semacam itu. Mungkinkah dunia ini dijungkir balikkan. Aku tak butuh penggaris yang sama dengan mereka. Aku ingin hidup sebagai aku yang bebas. Aku ingin menemui bahagia sekarang juga. Sekarang juga!

Lalu keluarlah mereka dari gua. Bangkit mereka dari pertapaan. Tapi masih mencari cara untuk menjalani bahagia. Bahagia tanpa kenal waktu. Bahagia dengan alasan permanen. Bahagia yang tak tergantikan dan tak akan pernah selesai.

Hasil perenungan di kamar mandi..

Cinta Abadi

Malam ini, saya kembali terduduk di hadapan sebuah layar. Layar inilah yang telah menjadi cermin perbuatan. Layar ini menampilkan memori yang membuat saya mengenang sejenak berbagai macam ujian yang pernah diberikan kepada saya. Sebagian ujian berhasil saya lampaui dengan susah payah, sebagian lagi gagal saya lalui dan mengakibatkan jatuhnya dosa kepada timbangan hidup saya. Tentu saja ini bukanlah suatu kebanggaan. Menumpuk dosa sangatlah memalukan.

Hidup saya penuh dengan kegagalan. Apakah hidup saya yang penuh kegagalan ini pertanda Tuhan tidak adil? Tidak jarang, kegagalan itu karena usaha saya yang tidak sebanding dengan besarnya mimpi yang saya gantungkan. Tetapi, ada kalanya, kegagalan tersebut lahir dari kerja keras yang tak pernah terbayangkan. Dan, sekali lagi apakah Tuhan tidak adil? Mungkin iya, Continue reading “Cinta Abadi”

Ketika Masalah Harus Dihadapi

“Ketika masalah harus dihadapi,

Ketika hidup menuntut kita untuk lebih berani,

Dan ketika hidup mengharuskan kita untuk berserah diri,

Di situlah pendewasaan ruhani terjadi.”

Waw. Sudah sangat lama saya tidak mengisi blog ini dengan tulisan-tulisan saya mengenai perjalanan hidup, pemikiran, dan serba-serbi hidup. Semoga saja kemampuan saya untuk mengungkapkan pesan melalui tulisan tidak tumpul.

Ya! Hidup memang penuh rutinitas yang harus saya jalani. Menulis adalah yang harus saya lakukan agar rutinitas yang saya kerjakan tidak digerus zaman. Tulisan adalah tempat saya mengabadikan segala bentuk pembelajaran yang telah saya raih di dunia ini. Menulis butuh waktu, mengerjakan rutinitas butuh waktu. Untuk dapat menulis sebuah petualangan yang hebat, kita memerlukan dua hal, yakni petualangan yang hebat itu sendiri, dan penulisan yang hebat tentang petualangan tersebut. Ketika waktu yang dimiliki terbatas, tentunya setiap orang memiliki prioritas. Saya mungkin lebih memilih menjalani petualangan yang hebat dulu, baru menuliskannya di waktu yang saya agak luang. Entahlah, mungkin hal ini juga yang menyebabkan saya terkadang mengulang kesalahan yang pernah saya lakukan di petualangan sebelumnya.

Ya! Inilah hidup! Berbagai permasalahan terjadi, mulai dari skala kecil hingga besar, dari tidak penting sampai yang esensial. Percaya atau tidak, sumber masalaha manusia sebenarnya hanya satu: keinginan. Dari keinginan lah semua bermula. Mulai dari keinginan level rendah sampai keinginan level tinggi. Hmm, sebentar-sebentar. Sepertinya saya salah menggunakan kata-kata. Tidak-tidak. Benar, saya telah menggunakan kata yang benar. Tadinya saya ingin mengganti kata “keinginan” dengan “kebutuhan”, namun sepertinya “keinginan” lebih tepat. Pada dasarnya kebutuhan dan keinginan sama saja. Ketika kita membutuhkan makan, itu berarti kita ingin mempertahankan kehidupan kita. Coba, misalnya kita tidak punya keinginan untuk melanjutkan hidup, mungkin kita tidak pernah merasa membutuhkan makanan. Betul tidak? Ada yang tidak sependapat dengan saya?

Singkatnya, keinginan lah yang telah men-drive kehidupan kita sehingga akhirnya kita memiliki banyak masalah. Pertengkaran dengan teman akibat kita merasa tidak diapresiasi. Rasa sedih karena keluarga kita mungkin tidak seharmonis keluarga lainnya. Kekesalan pada diri sendiri karena tidak mampu meraih prestasi yang maksimal. Rasa iri dan dengki karena orang lain lebih dihormati dari orang lain. Ketika waktu yang kita miliki hanya 24 jam dan kita memiliki banyak tanggung jawab, yang telah kita pilih untuk mengembannya. Itulah contoh masalah yang mungkin kita peroleh di perjalanan kehidupan ini.

Kehidupan ini keras kawan! Dunia ini bukan surga seperti yang pernah diceritakan orang semasa kecil. Di dunia ini masih ada yang namanya penderitaan. Manusia memiliki rasa sedih, rasa kesal, dan berbagai perasaan tidak enak lainnya. Apa yang tidak diinginkan terjadi. Apa yang diinginkan tidak terjadi. Itulah ketetapan yang ada.

Hmm. Sebenarnya siapa yang menetapkan ini semua? Apakah benar Tuhan  “seorang diri” yang menetapkan hal ini? Ataukah sebelum kita diterjunkan ke dunia ini (entah waktu itu kita berada di mana) kita juga turut menetapkan hal ini? Ketika permasalahan yang kita hadapi disebut sebagai ujian hidup, tentunya kita sudah pernah belajar tentang hidup. Sama halnya ketika kita mengerjakan ujian sejarah di sekolah, tentunya kita telah lebih dulu mempelajari tentang sejarah. Apakah mungkin sebelum ujian bernama kehidupan ini diberikan kepada kita, kita sudah mengerti semua jawaban ujian ini? Ya, mungkin kita sedikit lupa akan bahan-bahan ujiannya. 🙂

Entah mengapa saya percaya bahwa ada suatu dzat bernama Tuhan. Awalnya simpel, saya terus-terusan merenung, dan akhirnya serangkaian pemikiran saya memang menjadi komplit dengan adanya konsep Tuhan.  Adanya Ketuhanan telah melengkapi kemanusiaan. Bukan, bukan, lebih tepatnya kemakhlukan. Dan setelah itu, bukti keberadaan Tuhan membuat saya semakin percaya. Saya tenang bila mengingat Tuhan.

Kerasnya kehidupan. Liarnya nafsu dalam jiwa. Permasalahan yang harus saya hadapi. Semuanya menjadi tak berarti ketika saya mengingat Tuhan. Saya yakin hidup ini untuk mencari ridho Tuhan. Buat apa saya bersusah payah mengejar derajat yang tinggi di mata manusia, jika akhirnya Tuhan menolak seluruh pertanggungjawaban saya atas penciptaan. Segala masalah ini, harus terus kita hadapi dengan gagah berani. Tuhan ingin melihat seberapa jauh kita bisa berlari melawan semua rintangan ini. Dan saya yakin, Tuhan telah memiliki ketetapan, dan Tuhan Maha Kuasa menentukan segalanya. Jadi, buat apa saya berpusing-pusing dengan hidup yang cukup saya jalani ini? Toh mau saya pusing, mau saya sakit hati, hidup ya tetap seperti ini. Masalah pasti ada, dan kesempurnaan tidak terjadi. So, lebih baik kita jalani hidup ini dengan gagah berani dan senang hati. Let’s give our best shot!