There Are Exceptions That Prove The Rules

Saya ingin menuliskan sebuah renungan WC yang singkat (meski kalau ditulis rupanya lumayan) tentang pattern recognition dan survival manusia. Ya, agak disambungin dikit juga deh sama kehidupan PhD student dan seputar Artificial Intelligence.

“But heuristics come and go, while theorems last for eternity” -Juergen Schmidhuber

Continue reading “There Are Exceptions That Prove The Rules”

Bias Pikir, Saat Manusia Berpendidikan Pun Gagal Melihat Konteks dan Bangga Dengan Pengetahuan Sopir

Setiap kali membuka facebook rasanya miris. Orang-orang yang kelihatannya berpendidikan tinggi atau jago di suatu bidang rupanya masih banyak yang nggak mengerti konteks.

Misalnya isu sains. Terkadang mereka terbawa pada bias pikir. Sebutlah kasus seorang peneliti alat pembasmi suatu penyakit. Banyak yang lantas berdebat, dan langsung main menyalahkan pemerintah. Padahal kita perlu lihat konten-nya.

Masyarakat Indonesia, termasuk yang pendidikannya tinggi, sering terbawa arus. Saat seseorang sudah playing victim misalnya, orang jadi buta. Masyarakat Indonesia, termasuk kaum terpelajar belum bisa adil dalam pikiran. Belum bisa memisahkan konteks personal dan konteks substansi.

Secara personal tentu saja kita harus respek pada siapapun, apalagi seorang saintis yang publikasi ilmiahnya banyak di-cite. Kita respek dengan kecerdasan beliau dan dedikasi beliau. Kita respek terhadap beliau karena beliau punya kemampuan, punya paten, dan karyanya dipergunakan lembaga luar negeri. Itu satu hal.

Tapi, saat kita menggali, apakah memang alat yang lain yang dibuatnya (beda dengan yang dia patenkan) benar-benar sudah memenuhi standar medis, tentu itu soal lain. Kita tidak bisa mengelabukannya dengan men-share daftar publikasi beliau, paten-paten beliau yang lain. Karena kita akan terjebak pada bias personal si orang tersebut. Bukan melihat dengan jernih apa yang dibuatnya. Seseorang mungkin hebat bikin drone, tapi kalau bikin pesawat kan belum tentu.

Dan karena medis ya ada aturannya. Mungkin akan ada perdebatan dan teori-teori konspirasi tentang bisnis kesehatan. Ya bisa jadi ada. Tapi sekali lagi harus juga dipahami konteksnya, sudahkah orang yang dibela benar-benar teruji alatnya?

Ya untungnya kasus yang heboh-heboh sebelumnya berujung damai yah. Akhirnya ada kejelasan juga bahwa penelitiannya tidak distop.

Banyak hal sih sebenarnya.

Orang Indonesia itu kadang bangga dengan pengetahuan sopir. Hanya bermodal kata-kata yang indah seolah dia tahu betul.

The truth is, kita nggak mungkin jago di semua bidang. Kita mungkin tahu kalau kita hanya sedikit tahu. Dan kita harus paham betul kondisi itu. Jangan karena ngerti dikit, kita sok-sokan tahu segalanya dan tahu kebenaran absolut. Itu nggak benar.

Apalagi kalau soal agama yah. Saya paling serem. Dan sekali lagi, ketidaksukaan saya dengan sikap seseorang bukan berarti membuat saya tidak respek dengan orangnya. Saya tahu banyak kenalan saya (kadang masih keluarga sendiri juga sih) yang baik sekali, suka menolong orang. Di bidangnya pun dia jago. Tapi kalau sudah di facebook seolah paling benar, dan paling ngerti agama. Tapi sepertinya mereka tidak sadar. Mereka mungkin merasa sudah melakukan hal yang mereka anggap benar.

Ya, respek dan berkasih sayang itu kepada seluruh alam. Tapi kalau sudah soal kebenaran ya nggak bisa ditawar ya. Gitu sih harusnya.

Mudah-mudahan saja saya tidak seperti itu. Mudah-mudahan kalau saya lalai ada yang segera mengingatkan. (Ya, tapi kalau saya sih nyadar diri aja kelakuan masih kacau hehe.)

APPENDIX – PENGETAHUAN SOPIR

Pengetahuan sopir (chauffeur knowledge) yang dimaksud adalah pengetahuan yang didapat dari memahami kulit luar suatu pengetahuan. Kenapa sopir? Karena suatu ketika sopir Max Planck, saking sering memperhatikan kuliah Max Planck bisa menghapal kuliahnya. Dia pun akhirnya mengajukan diri untuk memberi kuliah. Hadirin terkesima. Tapi, saat ditanya, ya dia nggak paham.

Contoh lagi adalah buku-buku tentang agama. Terutama aspek esoteris dari agama. Kadang saat membaca buku-buku tasawuf, kita tenggelam dalam keindahan isi. Bahasanya renyah dan mudah dicerna. Namun bisa saja, penulisnya sendiri mengakui bahwa dirinya baru sampai kulitnya saja, sedangkan di majelis yang berusaha mengamalkan tasawuf, benar-benar dikupas isinya sampai habis.

Ya, sama dengan Al-Quran ya. Yang benar-benar paham Al-Quran itu maknanya ya Rasulullah S.A.W, yang fisiknya Muhammad bin Abdullah. Karena pengetahuan sejati (wahyu) itu tentu diberikannya secara metafisik.

Oh iya, segala bentuk tulisan di blog ini juga levelnya masih pengetahuan sopir. 😀

 

“Adjacent Possibilities”, Kreativitas, dan Fisika Modern (sebuah pembenaran untuk procrastinating)

Ibu saya pernah bilang kalau terkadang dia bingung, sebenarnya anaknya ini emang agak pintar atau malah bodoh. Kenapa saya suka mikir yang rumit-rumit, kenapa yang simpel-simpel jadi rumit.

Saya juga bingung, dari dulu memang saya suka mikir yang rumit-rumit. Saya selalu ingin mencoba melihat segala sesuatu dari beragam sudut pandang. Semua orang terkadang kesal, kenapa saya suka mempertanyakan hal-hal yang seharusnya tidak perlu dipertanyakan. Tapi kalau mereka tahu, sebenarnya saya justru ingin membuat penyederhanaan atas segala hal yang rumit. Saya selalu ingin bisa mencari segala keterkaitan dari hal-hal yang tidak terkait dan menyimpulkannya dalam suatu framework sederhana. Bukan buat apa-apa, hanya agar saya tahu bahwa kesimpulan yang saya ambil valid, tidak asal ambil dari orang lain. (Ibaratnya pengen haqqul yaqin, nggak sekedar ainul atau ilmul yaqin haha)

Ya, saya paham ada logika linier dimana semuanya jadi mudah, straight to the point. Tapi, ada kalanya kita perlu menjelajah kemana-mana, meskipun akhirnya perpindahan yang kita dapatkan tetap linier. Semua aturan simpel, elegan, tapi berfungsi secara kompleks, sebab dia diterapkan pada suatu sistem yang besar. (ngomong naon)

diambil dari sini: http://www.creativitypost.com/create/tina_seeligs_insights_on_creativity

Dan ini juga saya rasa berhubungan dengan kreativitas dan teori “adjacent possibilities(tentang inovasi oleh Steven Johnson yang dipinjem dari Biologi Kauffman). Bahan bakar dari kreativitas adalah imajinasi, menantang asumsi, mencari keterkaitan dari hal-hal yang sepertinya tidak berhubungan [1]. Saya pun jadi berpikir bahwa mungkin pikiran kita pun bekerja sebagaimana fenomena yang dijelaskan oleh fisika quantum. Continue reading ““Adjacent Possibilities”, Kreativitas, dan Fisika Modern (sebuah pembenaran untuk procrastinating)”

Encoding Evolution?

Since yesterday I have been feeling a bit unwell. Today I decided to take rest at home. During my contemplative moment in the bathroom, some question crossed my mind. How come 23 pairs of chromosomes could pass so much genetic complexity.

And if to take it a little bit further, is it possible that mutation in genes could make so much difference between the parents and the off-springs and set the whole chain of evolution in motion?

Now, I don’t have sufficient knowledge on Biology to make any comment regarding this matter. In fact, Biology has always been my least favorite subject. But nowadays I started to develop some interest in Biology at particular topics, for example: how to make sure the next generation of human being could have sufficient intelligence to keep our civilization progressive [1], and why it is said that our the genes could encode particular magical stuffs such as (mating-partner choice, trauma, and so on)

However, since I am studying Electrical Engineering, I think it’s possible to generate so much data by using only a set of input. Using combinatorial logic circuit alone, the result is already amazing. Let’s say we have 5 inputs. We can generate the output by using combination of 3 of them, 2 of them or 4 of them, or two of them combined by another two of them and so on. Moreover, we can use sequential circuit too, and furthermore do some filtering and adaptation to generate random things, or modelling the thing just like AR, MA, or ARMA, etc. And about the mutation, we can look at it as if fault occurs in some of the circuit, then we can learn it by using Fault Dictionary Table and map the evolution tree.

Having finished my things, I started to open wikipedia, looking for some basic knowledge on DNA stuffs [2]. Unfortunately, reading those names of protein revives my trauma of Biology. But I found some interesting fact:

In a paper published in Nature in January, 2013, scientists from the European Bioinformatics Institute and Agilent Technologies proposed a mechanism to use DNA’s ability to code information as a means of digital data storage. The group was able to encode 739 kilobytes of data into DNA code, synthesize the actual DNA, then sequence the DNA and decode the information back to its original form, with a reported 100% accuracy. The encoded information consisted of text files and audio files. A prior experiment was published in August 2012. It was conducted by researchers at Harvard University, where the text of a 54,000-word book was encoded in DNA.”

Now, I have a lot of things in mind after encountering this ah-ha moment, yet I don’t want to make this one a long post. In conclusion, again, I felt so amazed how a complexity could be generated by a simple rule, a simple ideology to set an endless development: evolution.

Some references that I’d like to put here:

[1] http://www.psychologytoday.com/blog/the-imprinted-brain/201002/identical-genetically-different-and-why-you-can-thank-your-mother-yo

[2] http://en.wikipedia.org/wiki/DNA

Klaster Pertemanan, Jalan Inovasi, dan Tantangan Beristiqomah

Seperti biasa, sehari-harinya pikiran saya selalu menghasilkan banyak topik yang kalau mau dijabanin satu topik bisa jadi sangat panjang. Maka di sini saya mau mencoba memeras intisarinya saja karena tidak ada waktu buat menulis semuanya (biar ga kebanyakan post juga di satu hari). Ini cuman tiga topik aja.  Continue reading “Klaster Pertemanan, Jalan Inovasi, dan Tantangan Beristiqomah”

My Microteaching Session

I’d like to share a story of my micro-teaching session. This microteaching activity is a part of summative evaluations in HWG702 – University Teaching for Teaching Assistants. This course is both the one I like the most and I hate the most. The content of the subject itself is very interesting for me. It mostly talks about how people actually learn, how to facilitate an ideal learning process.

What I felt when I was entering each class was the feeling of enthusiasm since many concepts are based on psychological perspective; and you know, I once really wanted to major in psychology (however, my parents weren’t supportive of this plan). The only thing which I most hate is a pile of assignments given in this course.

Actually, there is a lot that I want to write about the content of the course (pedagogical training) but, in this post I just want to share my experience on doing the microteaching. (I first started to write this post on 8th of November but haven’t managed to continue it till tonight) Continue reading “My Microteaching Session”

Kita Punya Segalanya untuk Menang?

Katakanlah saya gagal move on, tapi sampai sekarang saya masih banyak berpikir tentang ITB. Saya masih terjebak pada kehidupan saya yang lama, memikirkan betapa lambatnya ITB bergerak jika dibandingkan ‘rekan-rekannya’. Masih terbelalak mata saya ketika mengecek, h-index dari petinggi-petinggi kampus. Agak ironis mendengar selama ini merekalah yang meneriakkan ITB sebagai world class research university.

Beruntung saya di sini, saya bisa melihat semuanya dari sisi lain. Betapa tertinggalnya ITB, bahkan dari universitas muda tetangga sebelahnya, NTU, tempat saya kuliah saat ini. Dari mulai penerapan e-learning untuk perkuliahan, kemampuan branding, dan kerjasama internasional yang dihasilkan.

Entah karena gagal move on, entah karena cinta? atau mungkin karena di sini pun saya banyak bertemu dengan alumni ITB? Saya masih sering menuliskan tentang ITB di blog saya, membicarakan ITB pada diskusi makan siang dan malam (membandingkan ITB jaman saya dengan jaman-jaman para senior). Masih ingat pula, saya sempat-sempatnya membuat grup ITB pecinta satelit, meskipun pada akhirnya saya sudah tidak sempat lagi meramaikannya.

Ingin suatu saat saya kembali lagi ke ITB, melakukan sesuatu bersama mahasiswa. Melakukan hal seperti ini misalnya:

Mungkin juga alasannya simpel, banyak benih khayalan yang pernah saya tanam di ITB. Tak sedikit hal-hal itu mulai terwujud satu demi satu meskipun saya hanya bisa menonton.

Pernah saya mendapatkan sebuah cerita dari seniro, pada sidang terbuka mahasiswa baru, seorang mahasiswa baru (2005) bertanya seperti ini:

“Kapan ya, MIT jadi ITB-nya Amerika?” Continue reading “Kita Punya Segalanya untuk Menang?”

Model-Dependant Realism – Dibalik Hukum, Sains, dan Agama

*kayaknya tulisan ini rada panjang dibanding biasanya

Sebagai orang yang dididik di sekolah bernafaskan agama Islam sejak SD sampai SMA, saya dipaksa untuk mempelajari mata pelajaran ISMUBA [Al-Islam, Kemuhammadiyahan (yang ini SMP dan SMA, dan Bahasa Arab]. Iya, dulu saya juga suka mengeluh, kenapa sih, saya udah harus belajar pelajaran yang umum masih aja ditambahin sama pelajaran yang lain-lain. Dan terkadang saya juga berpikir, emangnya segitu ngaruhnya ya efek adanya kurikulum ini? Kok kayaknya murid-murid di sekolah saya tetep aja bandel-bandel.

Spirit Beramal

Well, kalau kata mama saya yang bulan lalu lagi heboh-hebohnya mau reuni silver bersama teman-teman SMAnya (SMA tempat mama bersekolah merupakan yang juga dimasuki oleh Om Aris dan saya, dan beberapa guru yang pernah mengajar mereka juga pernah mengajar saya, bahkan tukang parkirnya pun masih sama), entah kenapa setelah sekian lama rupanya pelajaran-pelajaran tadi meninggalkan bekas. Mama bilang teman-temannya yang dulu sepertinya biasa-biasa aja dan kayak nggak ada semangat pergerakannya, sekarang terlihat punya sesuatu yang berbeda. Iya, biar bagaimanapun perjuangan dan pergerakan yang diorganisasikan oleh KH Ahmad Dahlan membekas di alam bawah sadar.

Saya ingat, salah satu janji pelajar muhammadiyah yang selalu dibacakan setiap upacara berbunyi: “sanggup melangsungkan amal usaha.Muhammadiyah”. Mungkin karena dibaca berulang-ulang, jadi bertahun-tahun setelah lulus pun masih ada bekasnya. Dan memang di sekolah Muhammadiyah ditanamkan sedikit ‘arogansi’ bahwa amal usaha Muhammadiyah tersebar di berbagai penjuru dalam berbagai bentuk (sekolah, rumah sakit, universitas, dll).

Saya sendiri sampai sekarang masih terkagum dengan sosok Ahmad Dahlan yang begitu inspiratif dan bisa membuat sesuatu yang bertahan puluhan tahun, gerakan yang masif. Dan sebenarnya, yang saya tangkap dari Ahmad Dahlan bukanlah bentuk arogansi sebagaimana yang sering saya dengar dari cerita guru saya (bahwa Muhammadiyah merupakan organisasi pembaharu, dan mungkin punya pemahaman Islam yang murni, jauh dari takhayul, bid’ah, dan khurafat), tapi justru perwujudan Islam dalam membangun peradaban dan menolong sesama. Kesan ini saya tangkap dari kisah pengajian Ahmad Dahlan yang mengulang bahasan surat Al-Maun berkali-kali hingga waktu yang lama dan para jamaah sampai bosan, hingga ada yang bertanya mengapa diulang-ulang. Simpel sih, sebab Al-Maun mengajarkan untuk menyantuni fakir miskin dan anak yatim.

Bukan soal menghapal ilmunya, tapi bagaimana mengamalkannya dalam tindakan nyata.

Dibalik Hal-hal yang ‘taken for granted’ Continue reading “Model-Dependant Realism – Dibalik Hukum, Sains, dan Agama”

[Fisika Sosial] Hukum Newton dalam Perjalanan Hidup Manusia

Di sini saya hanya ingin berbagi dengan sedikit hal yang ada di kepala saya beberapa hari ke belakang.

Ada satu dua hal yang membuat saya lebih banyak kembali mempelajari hal-hal yang sangat basic, seperti Fourier Transform, Euler Identity, dan Deret Matematika. Dari situ ada sedikit rasa kesal dalam diri saya. Kenapa sih, saya tidak belajar ini semua dari dulu? Bukankah sebenarnya ada cerita menarik dibalik hal-hal basic tersebut? Kenapa saya tidak bisa melihatnya sih?

Ya, tapi percuma menyesal. Toh yang penting, apapun yang terjadi ke depannya, saya telah mendapatkan banyak pelajaran. Dan dari banyaknya pelajaran tersebut, saya jadi bisa belajar lebih banyak dalam waktu yang singkat, berakselerasi. Lalu tiba-tiba saya teringat dengan hukum Newton.

Hukum Newton 

1. Jika resultan (jumlah total) Gaya yang bekerja pada sebuah benda adalah nol, maka benda tersebut akan tetap diam atau bergerak dengan kecepatan konstan.

(sumber gambar http://en.wikipedia.org/wiki/Newton%27s_laws_of_motion )

2. Percepatan yang dialami suatu benda akan searah dan berbanding lurus dengan Gaya yang dialaminya, serta berbanding terbalik dengan massanya. Bisa juga dikatakan bahwa total Gaya yang dialami merupakan turunan dari momentum linear benda tersebut terhadap waktu.

\mathbf{F} = m\,\frac{\mathrm{d}\mathbf{v}}{\mathrm{d}t} = m\mathbf{a},

(sumber gambar http://en.wikipedia.org/wiki/Newton%27s_laws_of_motion )

3. Ketika benda pertama memberikan Gaya kepada benda kedua, benda kedua akan memberikan Gaya dengan besar yang sama namun dalam arah berlawanan kepada benda pertama.

Fa,b adalah gaya-gaya yang bekerja pada A oleh B, dan Fb,a adalah gaya-gaya yang bekerja pada B oleh A.

(sumber http://id.wikipedia.org/wiki/Hukum_gerak_Newton)

Jadi secara kasar bisa dibilang bahwa Gaya adalah yang membuat sesuatu berubah. Sedikit catatan juga, Hukum Newton ini merupakan pendekatan yang bagus jika kecepatan yang terlibat jauh lebih kecil dari kecepatan cahaya. Jika kecepatannya lebih cepat dari kecepatan cahaya, konon katanya Teori Relativitas merupakan pendekatan yang lebih tepat.

Lalu, bagaimana analoginya dalam perjalanan hidup kita?

Tentu teman-teman pernah merasakan hal seperti ini. Di tengah perjalanan hidup yang terlihat-lihat mulus saja, kita merasa nyaman. Kita terbiasa untuk menjalani kebiasaan-kebiasaan kita (entah itu baik entah itu buruk). Kita terbiasa dengan pola yang ada dalam hidup kita, menghindari hal-hal yang kita takuti dan melakukan hal-hal yang memang sudah menjadi rutinitas.

Sesungguhnya pada saat itulah hukum newton pertama bekerja. Ketika kita terperangkap dalam pola tersebut, sesungguhnya tidak ada Gaya atau semacam Dorongan yang bekerja pada diri kita. Artinya ya kita hidup dalam diam atau dalam lembam. Atau dengan kata lain tidak ada perkembangan.

Nah, tidak bisa dipungkiri, ketika akan lebih mudah untuk berjalan seperti biasanya dengan arah yang sama sampai akhirnya kita menabrak tembok. Seperti dalam hidup, akan lebih mudah bagi kita untuk terjebak dalam zona nyaman sampai akhirnya ada ‘sesuatu’ yang menyentil atau mengingatkan kita. Sesuatu itu bisa berupa permasalahan, musibah, atau kejutan hidup yang tak terduga. Sakit sih memang, tapi dari situ kita banyak belajar.

Ketika hal itu terjadi, tak jarang kita justru terfokus pada tembok tersebut. Saat hal itu terjadi kita justru lebih suka mengutuk masalah yang ada, padahal hal itu justru menyebabkan masalah tersebut mengutuk kita, seperti hukum newton yang ketiga. Padahal daripada terus-terusan mendorong tembok (padahal temboknya juga mendorong/menahan kita), bukankah lebih baik kita berjalan ke arah yang lain? Oh iya, saya jadi ingin berbagi sedikit apa yang saya lihat di newsfeed facebook beberapa minggu lalu:

Di Afrika, teknik / cara berburu monyet begitu unik. memungkinkan sipemburu menangkap monyet dalam keadaan hidup-hidup tanpa cedera sedikitpun.
Cara menangkapnya sederhana saja – pemburu hanya menggunakan toples berleher panjang & sempit. Toples itu diisi kacang yg telah diberi aroma.
Tujuannya untuk mengundang monyet-monyet dtg. Setelah diisi kacang, toples-toples itu ditanam dalam tanah dgn menyisakan mulut toples dibiarkan tanpa tutup.
Para pemburu melakukannya disore hari. Besoknya, mereka tingal meringkus monyet-monyet yg tangannya terjebak di dalam botol tak bisa dikeluarkan.
Kok, bisa ?
Monyet-monyet itu tertarik pada aroma yg keluar dari setiap toples. Mereka mengamati lalu memasukkan tangan untuk mengambil kacang-kacang yg ada di dalam.
Tapi karena menggenggam kacang, monyet-monyet itu tidak bisa menarik keluar tangannya.
Selama mempertahankan kacang-kacang itu, selama itu pula mereka terjebak. Toples itu terlalu berat untuk diangkat.
Jadi, monyet-monyet itu tidak akan dapat pergi ke mana-mana!
Mungkin kita akan tertawa melihat tingkah bodoh monyet-monyet itu.
Tapi, tanpa sadar sebenamya kita mungkin sdg menertawakan diri sendiri.
Ya, kadang kita bersikap seperti monyet-monyet itu.
Kita mengenggam erat setiap permasalahan yg kita miliki layaknya monyet mengenggam kacang.
Kita sering menyimpan dendam, tak mudah memberi maaf, tak mudah mengampuni. Mulut mungkin berkata ikhlas, tapi bara amarah masih ada di dalam dada.
Kita tak pernah bisa melepasnya.?
Bahkan, kita bertindak begitu bodoh, membawa “toples-toples” itu ke mana pun kita pergi.
Dgn beban berat itu, kita berusaha untuk terus berjalan.
Tanpa sadar, kita sebenarya sdg terperangkap penyakit kepahitan yg parah.?
Sebenarnya monyet-monyet itu bisa selamat jika mau membuka genggaman tangannya & kita pun akan selamat dari sakit hati jika sebelum matahari terbenam kita mau melepas semua perasaan negatif terhadap siapapun.

Selamat membuka genggaman tangan …!!:D

Nah, oke, sekarang tinggal analogi dari hukum newton yang kedua. Sebenarnya analogi yang kedua ini simpel. Semakin berat bobot (kualitas) seseorang maka akan dibutuhkan gaya yang lebih untuk mempercepat gerakannya. Dalam sudut pandang yang lain, hal ini mirip juga dengan pepatah yang mengatakan bahwa semakin tinggi sebuah pohon maka semakin kencang angin yang menerpanya. Selain itu analogi hukum kedua ini juga bisa dipandang seperti ini, jika kita ‘memberikan’ bobot yang berat pada masalah kita maka akan semakin sulit bagi kita untuk mendorongnya supaya menjauh dari kita.

Demikianlah kurang lebih uneg-uneg yang hendak saya bagi. Mungkin saja analogi-analoginya tidak pas atau tidak dalam kerangka yang sama untuk masing-masing hukum. Tapi, semoga bermanfaat.

Oh iya, postingan Fisika Sosial ini juga terinspirasi oleh tulisan teman saya Ichsan Mulia Permata:

http://www.facebook.com/notes/ichsan-mulia-permata/dua-domain-dalam-kehidupan-fisika-sosial-1/10150308851139408

http://ichsanmulia.wordpress.com/2011/07/27/momentum-%E2%80%93-fisika-sosial-2/

“…Cahaya di atas cahaya..”

Tentang Life of Pi dan Pencarian

Film Life of Pi dan Gadis Bermeditasi

Beberapa minggu lalu banyak teman saya, menyarankan saya untuk menonton Life of Pi. Entah kenapa tiba-tiba gayung bersambut, saya pun akhirnya menonton Life of Pi sebab kebetulan ada orang yang juga ingin menontonnya. Buat saya pribadi film tersebut bagus, banyak mengungkap realitas yang ada di masyarakat. Tapi, saya masih tidak dapat menangkap bagaimana kisah Pi dapat membuat orang percaya kepada Tuhan. Saya pun bertanya kepada beberapa orang. Bagi beberapa orang, poin utama dari kisah ini adalah ketika ada dua cerita yang diberikan Pi, satu cerita yang di luar akal, satu cerita yang masuk akal. Di situ teman-teman yang saya tanyai pendapatnya berkata bahwa analogi yang diberikan seperti perbedaan “logika Tuhan” dan logika manusia. Jujur saja, kalau seperti itu titik tekannya, saya tidak puas. [http://en.wikipedia.org/wiki/Life_of_Pi]

Beberapa hari setelah saya pertama kali menonton Life of Pi, saya sempat berdiskusi dengan Don Afin tentang Tuhan dalam tinjauan sains atau analogi dalam sains (metafisik yang dianalogikan dengan hukum-hukum fisika). Di situ kami sedikit berbicara tentang konsep bahwa hidup ini sebenarnya hanyalah mimpi. Kebetulan beberapa hari sebelumnya, saya sempat mengalami mimpi tiga lapis, dimana mimpi tersebut rasanya sama seperti kenyataan. Dan bukan tidak mungkin hidup kita ini sebenarnya sesingkat mimpi, tidak nyata, hanya main-main belaka, hanya senda gurau belaka.  [bagi yang ingin mengetahui tentang sains dibalik mimpi mungkin bisa menonton ini http://www.youtube.com/watch?v=XB7HqZc2p2Y]

Malam harinya, setelah makan malam di kantin, saya berjalan menuju lab. Di perjalanan menuju lab, saya ingin buang air dan mencari toilet. Pada saat menuju toilet, saya melihat seorang perempuan bermeditasi di salah satu sudut di kampus. Rasa penasaran saya terbangkitkan. Setelah dari toilet, saya duduk di dekat tempat perempuan tersebut bermeditasi. Tak lama kemudian dia selesai bermeditasi. Saya agak bingung sebenarnya, aneh rasanya, tapi akhirnya saya memberanikan diri untuk mendatanginya dan bertanya apa yang dia lakukan di sana. Dia pun menjawab bahwa dia sedang melakukan meditasi. Dari pertanyaan simpel tersebut kami pun berbincang cukup lama.

Yang menarik dari perbincangan tersebut adalah perempuan tersebut pernah katolik dan pernah pula memeluk budhism. Namun, pada akhirnya dia memilih untuk menjadi free-thinker dan tidak memeluk suatu agama pun. Meskipun demikian, dia tetap percaya tentang Tuhan dan bahwa semua makhluk sebenarnya terhubung satu sama lain. Agama bagi dia hanyalah cara menuju Tuhan, dan buat dia sama saja. Dia merasa dengan melakukan meditasi, dia bisa menyatu dengan Tuhan lebih cepat, maka dari itu dia tidak memeluk agama tertentu. Selain itu motivasi lain yang membuat dia bermeditasi adalah trauma masa lalu. Dengan bermeditasi, dia akhirnya dapat menepikan pengalaman buruknya dan membuatnya lebih bahagia. Mencari bahagia.

Ujung Kehidupan

Lalu keesokan harinya tiba-tiba saja saya mendapatkan suguhan yang menarik ketika makan malam. Pada akhirnya saya pun kembali tersadar bahwa ini semua bukan lomba. Ini adalah tentang cara Tuhan mengajarkan berbagai pengalaman yang unik untuk setiap makhluknya. Ada satu cerita pendek yang menarik tentang ini, berjudul The Egg. [http://www.galactanet.com/oneoff/theegg_mod.html]

Kemudian beberapa hari kemudian, saya kembali menonton Life of Pi. Di sini hukum newton bekerja. Jika sebelumnya saya mentraktir orang, kali ini giliran saya yang ditraktir. Satu adegan yang menarik yang berkesan buat saya adalah ketika seekor ikan yang cukup besar berhasil ditangkap oleh Pi. Waktu itu Pi sangat khawatir karena Richard Parker sudah sangat kelaparan. Lalu, Pi berkata kurang lebih seperti ini, “Terima kasih Tuhan, kau menyelamatkanku dalam wujud seekor ikan.”

Ini adalah sebuah hal yang menarik buat saya. Ke-Ikhsan-an seperti inilah yang mungkin kita perlukan. Yakni, ketika segala benda tidak terlihat lagi sebagai benda, melainkan sebagai ‘wajah’ Tuhan. Segala hal membuat kita ingat bahwa kita dan Tuhan sangat dekat. Meskipun terkadang kita tidak mau mendengar ‘suara’ dalam hati kita dan menyerah pada ‘suara’ lain.

Hari demi hari berlalu. Seorang teman tiba-tiba bercerita kepada saya tentang kabar terbaru dalam hidupnya dan bagaimana dia merasa mendapatkan petunjuk Tuhan. Bagi orang-orang yang skeptis, mungkin mereka akan berpendapat bahwa itu hanyalah perasaan saja. Sebenarnya semuanya hanya kebetulan belaka, dan hanya pikiran kita lah yang membuat kita melihat ini semua sebagai petunjuk Tuhan. Tapi, jika berbicara tentang kebetulan, kita mungkin akan berbicara tentang Grand Design dari alam semesta. Ada sebuah film yang bagus untuk ditonton terkait ini http://www.youtube.com/watch?v=FnSEt2BCcRs [pada 11:30 diceritakan tentang Game of Life, sebuah simulasi tentang bagaimana aturan yang simpel pada sistem yang kompleks menghasilkan hasil yang sangat dinamis]

Dan.. pada akhirnya setiap orang harus mencari dengan caranya masing-masing 🙂 Namun memang ada kalanya kita harus berhenti memakai otak. Sebab sebagaimana argumen God of the Gaps [https://www.youtube.com/watch?v=FnSEt2BCcRs], yang menjadi konstrain adalah waktu.

Ah, mari kita sudahi saja racauan hari ini. Alhamdulillah hari ini simulasi sedikit berprogress dan masih bisa ngeblog lagi. Alhamdulillaaah.p(^-^q) p(^-^)q (p^-^)q