Apa yang Saya Inginkan?

Ada seorang teman yang baru saya kenal beberapa bulan lalu, sering mempertanyakan keotentikan perkataan saya. Apakah saya sedang menjadi diri sendiri? Apakah saya jujur kepada diri saya sendiri? Kata dia kombinasi antara apa yang saya katakan itu aneh. Perkataan dan tindakan saya juga banyak tidak sejalan.

Percakapan dengan orang asing

Kalau sedang suntuk sekali dan butuh cermin baru, saya biasanya berbincang dengan orang yang tidak terlalu dekat atau bahkan asing. Terkadang, kita bisa dapat perspektif baru. Berbicara dengan orang asing, memang terkadang menyakitkan. Mungkin akan ada ruang privat kita yang terusik. Sebab, itulah tugas dari percakapan antara manusia. Mencoba meruntuhkan tembok keterasingan. Dan satu-satunya jalan adalah dengan menerobos pagar-pagar privasi yang ada. Hanya dengan terus menerobos jarak antara dua individu, akan muncul suatu kedekatan pribadi. Dari situ orang asing menjadi teman, sahabat, atau sepasang kekasih.

Namun, berbincang dengan orang asing juga memberikan suatu keluguan atau netralitas. Sebab, si orang asing ini sedang mencoba menerka dan menilai-nilai kepribadian kita. Tidak seperti teman-teman yang sudah kita kenal lama yang umumnya sudah memiliki impresi dan penilaian tertentu tentang identitas kita.

Teman saya ini bilang kalau setiap mengenali seseorang, dia akan mencoba mencari motif si orang ini. Kata dia motif saya tidak dapat ditebak.

Keinginan secara sadar

Kalau ditanya secara sadar, keinginan saya sekarang hanya satu: ingin jadi orang beriman, ingin dapat rahmat Tuhan. Itu saja. Sudah terlalu banyak tanda-tanda di sekeliling bahwa kematian tidak mengingat umur. Terlalu banyak tanda bahwa kehidupan di dunia ini hanya permainan belaka. Dan segala dinamika hidup ini hanya keujian keimanan.

Guru saya mengatakan bahwa tujuan hidup ini sebenarnya satu: hanya mencari ridho ilahi. Tidak ada yang lainnya. Bukan untuk mencari kekayaan, terkenal, kemuliaan, atau hal-hal lainnya. Tapi rupanya kita diberikan permainan di kehidupan dunia ini. Kita diberikan dinamika kehidupan yang sebenarnya merupakan alat untuk meraih ridho Tuhan itu tadi. Kehidupan di dunia ini untuk mencari bekal.

Sekarang, pertanyaannya tinggal bagaimana kita mengarahkan kehidupan kita supaya dapat membawa manfaat bagi semesta alam, sehingga ridho Tuhan itu turun? Bagaimana supaya dalam permainan ini, kita bisa menundukkan ego sehingga kita mematuhi Tuhan? Bagaimana supaya dalam dinamika ini, setiap pergerakan kita mengantarkan diri kita pada kedekatan dengan yang kita tuju, Tuhan itu sendiri.

Realitas fisik

Oke, tentunya dengan sedikit ilmu dan perenungan saja mungkin saya bisa setuju. Saya secara sadar bisa bersepakat bahwa hidup ini untuk mengejar ridho Tuhan sehingga segala aktivitas harusnya berpedoman dan mengarah ke sana. Namun, bagaimana di alam bawah sadar saya? Sudahkah saya mencerminkan semangat itu dalam kehidupan yang saya jalani?

Belum. Saya masih seorang pembangkang. Itulah mengapa tindakan dan perbuatan saya terkadang tidak sejalan. Karena saya masih proses, berhijrah secara spiritual. (Tapi kok rasanya perjalanannya panjang banget ya, bolak-balik terus. haha)

Terkadang saya sedih juga, mengapa dengan segala bekal dan fasilitas yang diberikan Tuhan, saya masih menjadi orang yang lalai. Namun, saya balikkan lagi logika saya. Dengan segala bekal dan fasilitas saja saya masih lalai, bagaimana kalau tidak diberi? Pada akhirnya yang tersisa hanyalah rasa syukur karena saya masih menyadari apa yang salah dalam hidup saya.

Ketika saya galau menghadapi kehidupan, saya memang sedih, dan stres. Tapi, saya selalu sadar bahwa ini semua adalah bagian dari ujian kehidupan. Akan ada rahmat yang turun kalau kita bisa melewati ujian tersebut.

Aneh mungkin, tapi terkadang saya senang kalau hidup saya sedang penuh dinamika. Meskipun terkadang bentuk dinamikanya adalah tidak adanya dinamika itu sendiri. Seperti sekarang-sekarang, saya sedang tidak memiliki motivasi. Saya ingin, tapi saya belum bisa bergerak. Semacam gejala depresi.

Tapi saya senang, karena pengalaman seperti ini adalah bagian dari proses kehidupan yang akan mendewasakan saya. Memberikan saya perspektif baru. Dari ‘penderitaan’ itu akan bertambah pula pengetahuan saya. Mungkin bertambah pula teman saya. Bertambah lagi kebijaksanaan hidup saya.

Saya selalu teringat bahwa seorang sufi lebih menyukai hidup yang penuh cobaan ketimbang hidup yang mapan dan nyaman. Hidup yang mapan dan nyaman akan melenakan. Sementara hidup yang penuh kesulitan akan selalu membuat kita mencari apa yang salah, waspada. Jangankan hidup yang nyaman, terkadang di tengah kesulitan hidup pun masih sangat sulit bagi kita untuk mengingat Tuhan. Padahal kita selalu tahu bahwa hanya Tuhan yang bisa menyelamatkan kita.

Dan lagi-lagi sebenarnya ini semua adalah tentang ujian keimanan, seberapa tangguh dan tidak menyerah kita untuk mencari tali Tuhan, memegangnya erat-erat, meraihnya lagi ketika kita ia lepas. Terus menerus. Kalau hari ini gagal besok coba lagi. Coba terus. Jangan menyerah. Ketika kereta kita keluar dari rel, kembalikan lagi. Itulah perjuangan paling sulit di dunia ini: untuk senantiasa berhampir dengan Tuhan. Itulah jihad.

 

Bagaimana dengan kehidupan PhD saya? Apakah saya menginginkan gelar?

Saya mungkin terlihat atau merasa depresi karena suka merenung di sosmed. Orang-orang mungkin memberikan beragam saran sesuai dengan cara mereka mengukur. Bagi saya, kehidupan PhD pun tidak lain adalah bagian dari dinamika itu. Ini semua bukan lagi soal gelar, uang, atau waktu, melainkan soal pertempuran nilai.

Di sini saya melepaskan segala ambisi-ambisi akan kedigdayaan dan kepercayaan bahwa diri ini berdaya. Ya, mungkin terdengar menyedihkan atau lemah kalau diukur dari omongan motivator atau kebijaksanaan barat. Tapi dari kacamata tauhid, inilah yang benar. Hanya Tuhan yang dapat memampukan kita!

Saya bisa saja quit begitu saja, tapi saya mau ngapain itu nggak jelas. Saya belum minat cari kerja. Kalau quit PhD belum jelas mau ngapain. Mungkin akan ada uang cukup banyak yang bisa dialihkan dari biaya kuliah, tapi nanti akan habis juga. Dan, meskipun sekarang saya sedang berada dalam kondisi tidak punya gairah dan motivasi dan cenderung tidak peduli, dalam pikiran sadar saya, saya masih ingin memberikan diri ini kesempatan.

Sebab, saya sadar bahwa dalam permainan duniawi ini ada manfaat lebih yang bisa diberikan ke orang-orang jika saya berhasil meraih gelar PhD. Tapi tentunya saya tidak tahu apa takdir saya nanti akan dapat PhD atau enggak.

Memang untuk berhenti dari PhD itu butuh keberanian. Tapi, butuh keberanian juga untuk tetap lanjut meskipun tidak ada kepastian akan selesai atau tidak.

 

Tapi, kembali lagi. Lebih luas dari itu, ini soal attitude. Soal pembenahan karakter. Tentunya saya tetap bersyukur dengan apa yang saya peroleh selama 4,5 tahun ke belakang. Begitu banyak pelajaran hidup yang begitu berharga, jauh lebih berharga dari gelar. Sehingga bagi saya, kalau toh saya tidak mendapat gelar PhD, saya sudah siap. Tidak seperti orang-orang yang mendewakan gelar, selama 4,5 tahun ini saya tahu persis bahwa gelar bukan segalanya. Dan, tanpa gelar pun, rupanya masih banyak yang bisa kita lakukan. Dan orang-orang pun tetap percaya dengan potensi dan kapabilitas saya. Masih ada yang mau ngajak bisnis dan lain-lain (meskipun ya ujung-ujungnya belum menjadi, karena tidak semua opportunity mesti diambil). Gelar itu simbol kompetensi. Kita bisa saja punya kompetensi tanpa gelar. Dan kalau orang tahu itu, ya tidak masalah lagi kan gelar-nya apa?

Dan, semangat untuk menata diri itulah yang penting. Sebab, kalau saya mampu menata diri, mungkin saya akan bisa mendapat gelar PhD dan menjadi siap untuk menyongsong tanggung jawab dengan amanah yang baru itu. Bagaimana saya menjadi orang yang lebih rajin dan lebih persisten, tidak malas-malasan (Oiya, nantinya saya ingin menulis postingan tentang Islam kaffah yang rupanya bertentangan dengan malas-malasan). Kalau saya mengundurkan diri dari studi PhD dengan karakter acak adut, itu lebih tidak enak ketimbang saya berupaya mati-matian sampai akhir, sampai mentok meski tidak dapat gelar PhD. 

Sebab, karakter itulah tujuan utama kita, bukan?

Takdir yang pasti datang

Sementara takdir saya akan PhD atau enggak itu belum tentu. Yang sudah pasti datang takdirnya kelak itu kematian. Rasanya setiap harinya ada saja berita duka. Bahwa mati nggak nunggu tua, dan macem-macem jalannya. Di situlah yang harus benar-benar kita persiapkan.

Kemarin saya diberi tahu, cara gampang mengukur kita di surga atau neraka. Hitung saja waktu kita untuk mengerjakan mana yang wajib, sunnah, makruh, dan haram. Kalau banyak yang haram ya neraka. Simpel.

Di situlah saya jadi merinding. Sementara waktu ini lebih banyak untuk hal-hal haram atau melalaikan wajib. Seram sekali.

Dan di sinilah perjuangan betul, untuk menyelaraskan karakter kita dengan karakter yang dimau Tuhan. Dan, dalam proses itu tentu ada gap antara perkataan dan perbuatan. Kalau tidak ada gap, tentu saya sudah jadi insan kamil.

Supaya kelak ketika rohani ini kembali, dia bisa kembali ke jalan yang benar. Sebab akal ini akan mati dan menjadi tanah. Tak bisa kita berdialektika dengan malaikat.

Sebenarnya masih ada satu dua tiga hal yang ingin ditulis. Tapi rasanya sudah terlalu malam, dan terlalu banyak waktu yang saya gunakan untuk merenung-renung. Sekian, dilanjut kapan-kapan. (Sebenarnya tadi sempet nulis di sini beberapa bagian yang akhirnya dipecah menjadi postingan tumblr karena topik bercabang.)

*tambahan: percakapan saya dengan teman seperjuangan di sore hari tadi:

phd

 

 

Samudera Ketunggalan dan Pertempuran Nilai

“Ma, ini tuh kayak pacaran sembilan tahun sama cewek yang kita nggak suka-suka amat gitu. Yang kita udah berusaha buat suka, tapi nggak bisa.”

Jumat, 6 Mei 2016. Sore hari sebelum perbincangan itu terjadi, saya sedang makan bubur kacang hijau di kantin. Minggu-minggu ke belakang banyak sekali yang berbincang dengan saya seputar studi saya. Seperti diwawancarai lagi rasanya, tentang mengapa saya ambil PhD.

Sebenarnya ceritanya agak panjang dan saya sudah menulis draft lagi tentang detailnya (draft lain, meski nggak tahu juga apa suatu saat akan selesai atau tidak, akan di-post atau tidak). Kalau mau disingkat pakai bahasa gaul, “I’m in a deep sh*t right now.” Saya ada di tumpukan kotoran akibat perbuatan saya sendiri.

Tapi, sore itu saya tersadar akan banyak hal. Dan segala hal itu bercampur aduk dan bermuara pada satu. Continue reading “Samudera Ketunggalan dan Pertempuran Nilai”

There Are Exceptions That Prove The Rules

Saya ingin menuliskan sebuah renungan WC yang singkat (meski kalau ditulis rupanya lumayan) tentang pattern recognition dan survival manusia. Ya, agak disambungin dikit juga deh sama kehidupan PhD student dan seputar Artificial Intelligence.

“But heuristics come and go, while theorems last for eternity” -Juergen Schmidhuber

Continue reading “There Are Exceptions That Prove The Rules”

Do-Your-Homework attitude: PhD bukan bimbel bro

Sekali-kali pengen curhat tentang kehidupan sebagai mahasiswa PhD tahun keempat yang punya junior. Dan ini sedikit banyak ada hubungannya sama culture shock antara Singapura dan Indonesia.

Sebagai PhD student, kita bahkan sulit yah mau ngerjain riset sendiri. Kadang teaching duty yang di atas kertas enteng kayak cuman bikin soal-soal atau cuman jadi asisten tukang debug di lab juga bisa nguras waktu dan pikiran. Terus belum kalau disuruh bantuin penyelenggaraan konferensi. Udah gitu kalau lagi mau ngerjain riset sendiri, kadang pengetahuan kita kurang. Harus baca-baca terus. Belum kalau frustrasi karena apa yang dipikir bakal jalan ternyata nggak jalan. Eh lama nggak ada perkembangan, tau-tau nemu salahnya dimana. Continue reading “Do-Your-Homework attitude: PhD bukan bimbel bro”

Bahasa Matematika dan Cerita tentang Rumah Terakhir yang Dibuat Tukang Kayu

Ini sudah minggu ketiga sejak saya terlambat merevisi paper. Ya, masih paper yang sama, yang sudah dibuat dari tahun pertama saya di sini. Rasanya masih banyak sekali kekurangan dari apa yang saya kerjakan. Dan karena saya perfeksionis, saya benar-benar ingin memastikan apakah sekarang ini yang saya kerjakan sudah benar atau belum. Namun, tetap saja, selalu ada keterbatasan.

Bahasa Matematika

Di dunia PhD, dengan supervisor yang sudah tenured, dan lebih sibuk mengurusi administrasi, saya benar-benar bekerja dengan independen. Supervisor benar-benar percaya. Kalau saya bilang implementasi saya benar, dan hasilnya memang masuk akal, maka beliau percaya. Kalau saya bilang salah, beliau juga percaya. Tiga minggu lalu saya disuruh membuat revisi. Saya bilang kalau ada yang belum bisa saya verifikasi. Dia bilang lihat beberapa hari lagi, kalau memang tidak bisa ya terpaksa kita kurangi kontennya.

Entahlah, senior saya selalu bilang bahwa pemahaman kita lah yang berkembang. Kita bukan salah memahami. Hanya saja di tingkatan itu, pemahaman kita memang baru sampai segitu. Tiga minggu ini saya benar-benar studi literatur dan benar-benar membaca satu persatu paper-paper yang saya download. Hal ini belum terjadi sebelumnya. Sebab di sini saya benar-benar mulai ngeh bahwa matematika adalah bahasa sains. Setiap paper punya caranya sendiri-sendiri untuk mengungkapkan apa yang dimilikinya. Dan terkadang meski maksudnya sama, penggunaan simbol dan model matematisnya bisa berbeda.

Dan di sini juga kelemahan saya. Supervisor saya menyuruh saya membenahi lagi bahasa matematika yang saya gunakan. Padahal kalau dilihat dari tampilan yah, paper saya udah keliatan ngeri a.k.a banyak rumusnya. Dalam 2,5 halaman terdapat 46 equation dengan macam-macam simbol. Dan di antara yang bilang ngeri adalah Mas Tegoeh. Keliatan ngeri dari luar, tapi ternyata esensinya masih kurang. Masih ada hal-hal yang belum saya jelaskan.

Tapi bahasa matematika itu penting sekali. Karena dia menentukan bagaimana orang lain nanti akan menerjemahkan metode kita atau bahkan mereplikasinya. Implementasi yang saya lakukan misalnya, salah karena saya mengikuti sebuah paper yang formulasi matematikanya kurang tepat. Misleading.

Ini sudah benar-benar penghujung tahun ketiga dan saya belum punya paper apa-apa. Sebenarnya ada beberapa kerjaan lain yang sudah bisa ditulis. Tapi kalau satu ini nggak selesai ya nggak bisa mulai. Sementara itu ada beberapa hal berat yang bahkan implementasinya aja belum jalan a.k.a masih belum tahu apakah hipotesisnya akan berjalan atau enggak meskipun dari studi literatur harusnya jalan. Dan selain itu gara-gara baca-baca banyak paper dalam tiga minggu ke belakang, saya jadi kepikiran banyak ide. Tapi, entahlah, waktu yang saya punya juga tinggal sedikit.

Sebenarnya, supervisor saya bilang kalau sekarang bukan waktunya banyak-banyak baca, tapi lebih banyak kerja. Tapi saya pikir, percuma saya banyak kerja kalau salah kan? Dalam hal ini saya mungkin termasuk yang risk-aversing. Meskipun jadinya kerjanya lambat. Memang ada juga teman yang menyarankan, salah atau benar kirim aja papernya, kalau keterima kan untung buat kitanya. Kalau pun memang salah, nanti bakal ada yang ngebenerin. Tapi, kalau kita udah tau salah masa iya tetep dikirim?

Huft, semester lalu padahal supervisor saya yakin kalau saya bekerja dengan performa seperti saat itu, mungkin saya bisa lulus kurang dari 4 tahun. Tapi sekarang ini rasanya progressnya minim sekali. Memang benar, terkadang penderitaan itu muncul karena kita tidak bisa meraih apa yang seharusnya bisa kita raih.

Dulu saya selalu tertekan ya saat orang sering bahas-bahas soal PhD usia muda, atau yang mengira saya super pinter dan super jago. Saya nggak pernah merasa gitu. Tapi yaudah lama-lama dimaknai sebagai warna dari kehidupan aja. Dari sisi-sisi positif yang membuat kita bisa lebih bersyukur.

Lagian yah beberapa saat lalu tiba-tiba saja saya jadi kepikiran tentang esensi hidup. Selain karena sedang baca buku ‘family wisdom from the monk who sold his ferrari’ (yang premis awalnya adalah seorang wanita karir mengalami near-death experience lalu menyadari bahwa keluarga adalah prioritas utama dalam hidup), kemarin juga ada teman yang bercerita kalau waktu umur 5-10 tahun dia selalu ngeliat dari mana matahari terbit di hari jumat. Takut kalau kiamat. Jadi ingat juga kalau Letto pernah bilang, “apa kau pernah takut mati? sama”

Rumah Terakhir yang Dibuat Tukang Kayu

Ya, semua harus dihitung dari tujuan akhir kita kan. Apa rencana kita. Kita mau fokus ke mana. Berdasarkan apa yang saya pelajari di ilmu engineering selama ini, semuanya sistem punya keterbatasan. Makanya kita harus punya filter. Pilih mana yang harus kita fokuskan. Nah, bagi umat Islam sendiri fokus kita ya sudah pasti akhirat. Kehidupan dunia ini hanya main-main belaka. Saat tiba-tiba tersadar hal ini saya agak sedih. Rasanya ingin kembali melakukan perjalanan spiritual yang bisa mendekatkan saya dengan Tuhan.

Di buku ini juga diceritakan bahwa kita nggak bisa menjalani kehidupan dengan salah di satu bidang, tapi melakukan dengan benar di bidang lain. Hidup itu suatu kesatuan yang utuh. Dan kita harus terus jujur dan berkomitmen dengan apa yang memang sudah kita janjikan. Kita harus selaras antara tindakan dengan ucapan dan nilai-nilai yang kita anut. Hanya jika kita berintegritaslah, kita bisa dipercaya. Dan hanya jika kita bisa dipercaya, kita bisa menjadi memimpin dengan penuh cinta.

Ada kisah tentang tukang kayu yang oleh seorang kontraktor diminta untuk berjanji bahwa setiap ada proyek untuk bikin rumah, ia harus membuat rumah tersebut seolah-olah ini adalah proyek terpenting yang pernah diberikan kepadanya. Setiap proyek harus dikerjakan dengan dedikasi, perhatian, dan cinta. Banyak proyek dikerjakan dengan baik, persis seperti yang diminta selama bertahun-tahun. Suatu hari tukang kayu ini ingin pensiun. Ia ingin rumah yang baru saja selesai ini menjadi rumah terakhirnya.

Saat mengungkapkan keinginannya ini kepada bosnya, bosnya minta maaf dan berharap dia bisa menyelesaikan satu rumah lagi sebelum pensiun. Demi menghargai bosnya, akhirnya tukang kayu mengiyakan. Tetapi karena ia sudah buru-buru ingin pensiun, rumahnya dikerjakan dengan terburu-buru tidak dengan seluruh keahliannya. Pojokannya dipotong dengan material yang kurang bagus. Pokoknya semua cara cepat yang dia tahu, dia pakai.

Setelah beberapa minggu kemudian, rumahnya selesai. Dia lapor ke bosnya. Bosnya lalu memberikan kunci rumahnya kepada dia dan berkata bahwa ini hadiah perpisahan untuknya karena sudah berdedikasi selama ini. Tukang kayu terkejut menyadari bahwa ini adalah rumahnya. Jika tahu bahwa ini akan jadi rumahnya, pastilah dia akan memberikan yang terbaik yang dia punya.

Ya, memang benar kata orang Jawa, kudu eling lan waspada.

One of a Kind (Cerita Sekitaran Oktober)

“Gue cerita ke temen gue tentang lo yang dapet QE deketan sama waktu cuti.. ‘And then did he still go?’ ‘He went back anyway’ Kata dia ‘one of a kind'”

Reidinar Juliane (nggak verbatim sih)

 

I have not yet written anything related to my QE in this blog although I managed to post some at tumblr:

Ya ya ya.. Sudah lama tidak menulis di sini yah, meskipun sebenarnya selalu kepikiran untuk menulis di sini. Sebenarnya ini karena saya menerapkan suatu standar (yang sebenarnya sangat subjektif aja sih) untuk tulisan yang dimuat di blog ini. Sementara tumblr saya relatif lebih rendah standarnya (bener-bener tempat curhat), jadi kalau sedang tidak ada kesempatan, saya lebih memilih untuk menulis di tumblr.

*postingan ini mulai ditulis tanggal 4 November, sebelum postingan yang At-Takatsur tapi ga selesai-selesai. Haha*

Alhamdulillah setelah melalui 5 bulan yang begitu intens, tekanan yang sangat tinggi, akhirnya saya bisa lulus Qualifying Exam dan menjadi Ph.D candidate. Saya terkadang masih takjub sendiri dengan pencapaian ini. Apalagi selama dua tahun fokus saya adalah kuliah. Makanya saya sangat ingin melanjutkan tulisan saya yang ini sebagai bentuk syukur saya karena telah diberi kekuatan untuk berjalan sejauh ini. Iya, goal akhirnya sih saya pengen bikin memoar perjalanan PhD saya cem-cem ‘PhD Grind’ atau ‘Singapore Lost Son’, bahkan Dannis (CMO Traveloka) sudah siap jadi editornya :))

Apalagi, saat kemarin saya bertemu teman-teman kuliah beberapa bilang kalau mereka suka baca blog saya. Ya, mungkin kalau saya bisa bertemu mereka setiap hari, saya pasti akan cerita secara langsung. Tapi karena kami semua sudah berpencar-pencar, jadi ya blog ini sebagai media saya berbagi cerita dengan kalian (kyaa kyaa), termasuk curhat-curhat nggak penting.

Warning, ini postingan super TLDR banget!

[Postingan yang Anda Tunggu-tunggu] Karena PhD student pun ada yang nasakom (1)

“Wanjir, epic kalo nanti ternyata Fikri jadi rektor ITB pernah IP 1,5 apalagi kalo jadi capres, gua siap kasih testimoni, dulu Fikri stress IP 1,5 jalan dari takashimaya ke old town udah sempet memikirkan karir ke depan sebagai instruktur gym, bikin band indie.” Bombom a.k.a Muhammad Arif di Orchard Sabtu Malam, 7 Juni 2014

Karena PhD student pun ada yang nasakom (1)

-kisah yang anda pikir fiksi, padahal 92% nyata-

Dua hari lalu saya mendadak teringat sebuah quote dibawah yang terjadi setelah latihan UATM:

Screenshot_2014-06-12-14-08-37-1

Ya, sebenarnya masih ragu tiap mau nulis tentang ini karena hal itu juga. Selain itu kan hidup saya sendiri kayak baru mulai gitu, masih banyak halangan dan rintangan yang akan saya hadapi dalam pengembaraan mencari kitab suci. Tapi seperti wahyu yang saya dapatkan setelah ujian terakhir selesai, saya merasa tetap perlu menuliskannya. Karena kalau enggak dimulai bisa aja ga akan pernah ditulis ujung-ujungnya. Selain itu rasanya semalam saya mendapatkan semacam pertanda (ada yang komen di postingan cerita nasakom saya pas S1) sehingga saya putuskan menulis cerita ini. Dan demi menyampaikan cerita yang utuh, maka akan ada grafik GPA(IP) saya pada seri tulisan ini.

Semester 1

Mencetak Rekor: The worst performance they’ve ever seen

Awal Mula

Detail tentang bagaimana akhirnya saya menjadi PhD student akan saya ceritakan di lain post (bisa dibilang salah satu pertimbangan penting saya dalam meng-accept offer dari NTU adalah kisah PhD Grind), yang jelas di awal saya menjadi PhD student di EEE NTU saya mengenal dua orang PhD student lainnya yang seangkatan. Kami sama-sama mengikuti rekrutmen yang di-organize oleh Mas Tegoeh yang merupakan dosen di School of Mechanical and Aerospace Engineering(MAE). Mereka adalah Mbak Fitri (TI UGM 2006-MAE) yang merupakan dosen, dan Delphine (Telekomunikasi ITB 2008-EEE) yang highest GPA di angkatannya. Sedangkan saya sendiri adalah mantan nasakom yang secara tak terduga bisa diterima di program direct PhD.

Salah satu orang yang pertama saya kenal di sini bernama Afin (FT ITB 2003, Mechanical Engineering NUS). Dia bilang pada saya bahwa sudah tepat ambil PhD dan di Singapura, nanti kalau jadi menteri juga cucok lah kalo punya PhD, dan bagusnya di Singapura bakal diajarin nulis dengan bagus. Selain itu di sini kita masih bisa bangun network sama orang-orang penting di Indonesia, pokoknya dia bilang bahwa Singapura ini akan jadi salah satu titik penting dalam kehidupan saya. Kita banyak ngobrolin wacana-wacana kebangsaan, riset, dan teknologi yang disertai impian konyol seperti punya kastil dan naik macan, jadi presiden yang nanti kerjanya nyamperin wapres pas lagi sibuk terus main gitar buat nyemangatin, mau bikin ereksiometer, virtual reality yang enggak-enggak. Hingga akhirnya saya bertanya soal tips-tips ujian dan mendapatkan nilai. Kata Afin sih woles aja karena gak jauh beda lah sama di ITB. Santai aja. Dan sebagai orang yang gak pernah taktik, kalau orang bilang woles aja mah saya akan sangat menyangat woles.

Oh iya dari awal sampai sini juga sempet ngobrol sama elektro 06: Bombom, Aria, Baim, dan Kevin Jo. Waktu itu Kevin Jo berencana resign. Saat itu dia juga sempet bertanya apakah saya yakin mau ambil Ph.D, banyak yang setelah setahun udah cabut. “Tapi ya nanti lo lihat lagilah kalo udah setaun, mungkin aja lo cocok, mungkin aja ga cocok tapi ngerasa udah nanggung juga,” begitu kalimat pamungkasnya.

Sementara itu terkadang saya masih galau soal pilihan hidup yang saya buat. Benarkah mau ambil Ph.D? Apalagi topiknya radar yang saya sama sekali nggak punya basic . Terus kan saya ambil direct Ph.D, kadang mikir, harusnya master dimana dulu kek biar bisa jalan-jalan. Terus saya nanya Delphin apa motivasi dia dan dia jawab dia memang mau jadi dosen atau researcher, jadi lebih baik ambil Ph.D langsung. Oh iya sempet saya keceplosan bilang gini, “Hmm, apa gue jelek-jelekin aja nilai gue yah, biar downgrade jadi master?” Di kemudian hari saya tersadar bahwa nggak perlu dijelek-jelekin juga nilai saya sudah jelek sendiri. Hahaha

Tensor: Setelah 9 Bulan Tidak Bimbingan

Tensor: Setelah 9 Bulan Tidak Bimbingan

Rabu (28/5) yang lalu saya bertemu supervisor untuk mendiskusikan riset setelah 9 bulan lamanya hiatus. Bukan karena nunggu supervisor melahirkan, sebab beliau adalah seorang lelaki. Penyebabnya adalah karena sesuatu yang akan saya jelaskan di postingan mendatang. 😀

Profesor blusukan ke lab

Pertemuan itu terjadi setelah hari kamis (22/5) sebelumnya profesor mampir ke lab dan menanyakan progres saya. Waktu itu saya bilang bahwa saya sedang mengerjakan sesuatu sembari menunjukkan simulasi yang terus berjalan di matlab (padahal sebenarnya sedang browsing atau youtube-an :D, simulasi matlab hanya kedok)

“How long have you been here, is it one and a half”

“It’s about two years”

“So is this your third or fourth semester?”

“Fourth”

“Any progress? We must discuss next week. Write a summary of what you’ve done”

“Okay”

“Next week after monday, we’ll discuss”

Lalu sudah beliau kembali berlalu. Maklum beliau termasuk orang sibuk karena juga merupakan Deputy Head of Division. Oh iya, kenapa after monday, sebab hari seninnya (26/5) ada talk tentang Memristor dari Prof. Leon Chua (iya saya pengen cerita tentang talk-nya di lain kesempatan). Tentu saja setelah itu saya langsung merasa ancaman a.k.a stress karena belum ada progress. Lihat tuh, supervisor aja sampai lupa saya udah berapa lama di sini.

Saya ingat, biasanya hari sabtu dan minggu itu termasuk dalam hitungan hari oleh profesor. Dulu pernah saya mengajukan cuti untuk hari senin pada hari kamis sore (tepat saat jam kantor beres). Lalu beliau bilang, “You still have 4 days, make some progress and write a technical report”. Saya pun lalu berencana untuk mengerjakan di hari sabtu dan minggu. Apalagi hari jumat (23/5) nya saya sempat diskusi dengan seorang post-doc, dan dia bilang dia sudah mengimplementasikan hal yang juga ingin saya implementasikan dengan data real dan berfungsi. Jadi saya pikir dengan memperbaiki bagian yang itu saya bisa melaporkan sebuah progress ke supervisor. Oh iya, jumat itu saya juga ulang tahun. Tapi ya hari tetap saja seperti biasa. Bahkan senior saya sampai nanya pas di lab,

“Today is your birthday, so is there any special arrangement?”

“No, the world moves just like usual”

Lalu saya pun kembali mencoba mengutak-atik program saya tapi tetap tidak jalan. Yah sabtu sama minggu juga sama saja..apa daya, nonton serial lebih menggoda 😀 Begitulah dilema procrastination. Saat stress kita merasa butuh hiburan. Tapi setelah hiburan beres semakin stress karena penyebab stressnya belum kelar :))

(btw sekarang nyobain pake pagination, jadi lanjutannya di next page)

Creating an Engaging Class-Membuat Kuliah Jadi Menyenangkan

Postingan ini akan dibagi menjadi dua part: sesi curhatnya (dalam Bahasa Indonesia), dan sesi berbagi ilmunya (dalam Bahasa Inggris) 😀

I divided this post into two sections: the confiding section (written in Bahasa) and lesson sharing section (written in English).

Part 1

Sedikit curhat saja, semester ini saya baru benar-benar merasakan yang namanya kuliah. Inipun karena dipaksa keadaan. Dalam artian, ga sekedar dateng, tapi ya belajar dulu sebelum masuk kelas, berusaha memperhatikan dosen (meskipun sulit kalau misalnya gadget kita nyala sih :D, kadang juga tetep sambil baca Naruto), bertanya apabila ada yang tidak diketahui, lalu mengulang kembali pelajaran meskipun ujian masih lama.

Hal seperti ini belum pernah saya lakukan sebelumnya. Bukannya bangga (dan sebenarnya sedih), tapi saya dulu waktu S1 males-malesan sekali (lebih semangat ngerjain hal-hal lain). Jaman TPB saya masuk 3 besar orang yang paling sering bolos di kelas kalkulus 06. Dan saya sangat jarang kuliah (kecuali yang butuh absensi :D), ada yang saya cuman masuk dua kali selama satu semester (satunya ujian pula). Dan akhirnya sesalnya ya sekarang, kenapa dulu saya nggak disiplin, nggak pernah berusaha maksimal jadi nggak pernah tau bates saya seberapa.

Nah, pada kuliah Graduate Teaching for Teaching Assistant semester lalu (yang diakhiri dengan praktek mengajar), hal ini menjadi topik pembahasan. Seperti apa sih kelas yang interaktif? How to make an engaging class?

Tenggarong

Kalau tidak salah, pada diskusi di kelas akhirnya saya bercerita tentang kelas Media Interaktif yang pernah saya ambil jaman kuliah di ITB. Kelas ini merupakan kelas yang diselenggarakan oleh prodi DKV.

Saya pun menceritakan bahwa di kelas itu kami selalu diberikan contoh-contoh dengan membawa permainan-permainan tradisional dan dipertontonkan video-video contoh media interaktif. Selain itu kami juga dibagi ke dalam beberapa group untuk akhirnya membuat aplikasi. Ini dia anggota goup saya beserta program studinya: Continue reading “Creating an Engaging Class-Membuat Kuliah Jadi Menyenangkan”

Kembali Ke Kehidupan Absurd Bersama dengan Lagu Indonesia Jaman Dulu

Kembali Ke Kehidupan Absurd Bersama dengan Lagu Indonesia Jaman Dulu

Chapter 1 Prolog Si Introvert

Hari ini saya merasa mulai kembali ke kehidupan saya yang seperti semula. Yang absurd.

Asalnya saya masih pengen menjalani peran sebagai makhluk pemikir introvert yang nyaman dalam kesendirian. Iya, beberapa bulan ke belakang saya males banget ketemu orang dan lebih suka baca buku atau merenung sendirian. Makan pun lebih nyaman kalau sendirian, dan sebisa mungkin menghindari interaksi yang bikin saya awkward dan ga enak hati kalau mau menyudahi atau kabur. Continue reading “Kembali Ke Kehidupan Absurd Bersama dengan Lagu Indonesia Jaman Dulu”

Archifest – Experience Market @ Dhoby Ghaut Green

This event took place about two weeks ago (Oct 12th, 2013). I was going to this event because my friends’ consulting firm designed the market.

On Thursday, one of them (Robbi) told me he was in Singapore and asked me if I have free time to meet up. So I met them and had a quite long conversation on many topics. It turned out that Adi was also there (Adi was my group-mate in freshmen orientation at ITB back then). I also met Opi, she’s also from architecture department. As usual, mostly we talked about our current activities, what we’d done after graduated from ITB, and what we’re gonna do in the future. It’s a normal conversation between college friends who barely hold bachelor degree for one, two, or three years.

Photo: Sahabat arsitek beraksi

Robbi was checking the bamboo construction. The handymen worked fast but not quite carefully, some bolts needed to be fasten up.

At that night, I had a dinner with them and the event organizer. It’s a nice experience to have a discussion with people from creative community in Singapore.

On Saturday, I went to the event with Ronggo. Here are some photos of it: Continue reading “Archifest – Experience Market @ Dhoby Ghaut Green”