Sedikit Catatan tentang Wisuda Kemarin

Menjadi mahasiswa adalah suatu pilihan sekaligus keberuntungan. Sebagai minoritas, mahasiswa adalah masa dimana seseorang mendapatkan begitu banyak fasilitas lebih. Menjadi mahasiswa itu merdeka. Menjadi mahasiswa itu boleh salah, toh masih belajar. Menyandang status mahasiswa tak jarang membuat seseorang berlaku seenak jidat, merasa bahwa dirinya hebat dan lain sebagainya.

Tapi, status mahasiswa bukanlah status abadi. Jika bisa memilih, tentunya saya akan memilih untuk selamanya menyandang status mahasiswa. Menjadi mahasiswa begitu nyaman, begitu banyak memberikan kemudahan. Namun sayang, tidak seperti ini roda kehidupan berputar. Ada yang namanya batas waktu, ada yang namanya keadilan. Dan akhir dari garis waktu tersebut bernama wisuda.

Saya dan IBMers

Ya, setelah perjuangan yang begitu panjang, dan berbagai aktivitas luar biasa yang saya geluti di kampus, akhirnya saya harus melepas status sebagai mahasiswa. Setelah status mahasiswa ini membawa saya kepada berbagai pengalaman luar biasa, mulai dari seminar satelit, membuat macet eskalator mall, hingga dipanggil menjadi saksi ke kantor polisi, akhirnya status ini hangus juga. Dari yang semula gelar sarjana akan diberikan secara resmi kepada saya tanggal 7 April 2012, akhirnya saya menjalani sebuah seremoni bernama wisuda pada tanggal 14 April 2012.

Ketakutan yang aneh

Sejujurnya pergelutan pemikiran saya mengenai wisuda sendiri sudah berlangsung sejak lama. Tak jarang saya berpikir untuk tidak ikut wisuda. Sejujurnya ada beberapa alasan pribadi yang membuat saya takut untuk wisuda. Aneh ya? Tapi faktanya demikian. Semenjak tingkat dua, saya selalu berharap kelak saya tidak perlu ikut wisuda. Toh, wisuda ini hanya sekedar seremoni. Salaman dengan rektor? Yah sejujurnya saya sudah terlalu sering salaman dengan rektor. Lagipula, saya juga bingung, kenapa orang tua harus susah-susah mengikuti prosesi wisuda yang berbelit-belit dan membosankan. Continue reading “Sedikit Catatan tentang Wisuda Kemarin”

Tentang Gagal dan Sukses Di Kampus

Siapa bilang orang yang sukses adalah orang yang tidak pernah gagal? Siapa bilang kegagalan itu buruk?

Kegagalan adalah anugerah, sebab kita diberikan pembelajaran ekstra. Jika kita bisa menyikapi kegagalan dengan positif, maka kita akan dapat menjadi sosok yang lebih tangguh dari sebelumnya. Persis seperti suku Saiya di komik Dragon Ball yang bertambah kuat jika hampir mati. Persis seperti apa yang dikatakan oleh dosen saya,

“What doesn’t kill you will make you stronger”

Segala kegagalan, selama kita masih hidup setelah kegagalan itu, akan bisa membuat kita jauh lebih kuat juga kita berhasil melewatinya. Saya sendiri merasakan hal itu di kampus. Mulai dari ditolak cewek, mengulang mata kuliah, gagal dalam pemilihan, gagal dalam lomba, semuanya membuat saya menjadi pribadi yang lebih tangguh, dan lebih kuat dari sebelumnya.

Dahulu, boleh dibilang hidup saya perfect. Kegagalan minor tidak pernah berarti dalam kehidupan saya, dan tak pernah mengusik zona nyaman. Saya pun terlena. Menduduki bangku kuliah, saya yang masih merasa sombong dengan hidup yang sempurna, mulai  menerima akibatnya. Segala usaha yang kurang membuat saya gagal. Dan bahkan saya gagal di bidang akademik. Dimulai dari ip semester pertama yang jauh dari target saya, lalu semangat saya yang mulai hilang untuk berkuliah. Saya bahkan merasa ingin pindah. Saya terlalu perfeksionis. Dan parahnya, ketika saya tidak berhasil mencapai kesempurnaan tersebut, saya memilih untuk lari.

Hasilnya adalah tingkat dua saya yang hancur. Bahkan semester empat saya lalui dengan NR dibawah 2.00. Itu adalah suatu pukulan yang berat buat saya. Ditambah lagi, mimpi saya untuk menjadi sesuatu pun gagal, dan juga ada beberapa masalah keluarga yang saya alami. Saat itu, saya merasa dunia sedang terjungkir balik. Saya merasa kecil, lemah, dan begitu terkungkung dalam keterbatasan. Saya ingin lari. Saya ingin memulai lembaran baru di kampus lain, dimana saya masih bisa mendapatkan ip yang sempurna, dimana saya ingin mendapatkan teman-teman baru yang belum memiliki asumsi apapun tentang saya, dimana saya bisa memulai mimpi-mimpi baru.

Ya, saya berpikir untuk kabur dan berlari. Saya berpikir untuk meninggalkan apa yang saya mulai. Saya sempat berpikir untuk menjadi pecundang yang berpikir bahwa dirinya sudah kalah, padahal sisa waktu yang ada masih banyak. Jika diibaratkan bermain billiard bola delapan, saya sudah ingin quit ketika lawan sudah memasukkan empat bola, dan saya belum memasukkan satu bola pun. Padahal toh saya masih bisa menang. Saya tidak memiliki daya juang. Mungkin saat itulah saat dimana saya mengalami down yang parah.

Beruntung. Lingkungan saya, terutama ibu dan eyang, selalu memotivasi saya. Kebetulan mereka selalu menyuruh saya untuk belajar bersyukur, dan salah satu cara untuk bersyukur adalah dengan tidak pernah berhenti berjuang. Peperangan melawan rasa malas, melawan ego, dan pesimisme adalah peperangan yang mulia. Jika kita hanya lari dari suatu keadaan yang buruk tanpa berusaha memperbaikinya, maka ketika ada di lingkungan yang baru pun kita hanya akan menjadi sampah. Dan lebih jauh lagi, sebenarnya, ini semua bukan tentang mengejar nilai yang tinggi, bukan tentang mendapatkan citra dan pengakuan di mata manusia, melainkan bagaimana kita bisa berjuang dalam ber-Tuhan. (jadi inget notes curcol http://www.facebook.com/note.php?note_id=62026805519_ dan http://www.facebook.com/note.php?note_id=104647870519)

Dan ya, waktu itu saya akhirnya mulai berpikir, ini adalah tentang perjuangan. Ini adalah tentang proses, bukan hasil. Bisa saja seseorang meraih hasil yang bagus karena memang dari awal dia tidak pernah berbuat kesalahan. Tapi, seseorang yang bisa bangkit dari kegagalan memiliki nilai tersendiri. Bangkit dari kegagalan dan keterpurukan itu bukan hal yang mudah. Di sinilah karakter sejati seseorang diuji. Dan bahkan Tuhan sendiri telah mengatakan bahwa setiap orang yang mengaku beriman, pasti akan diuji.

Ya, terkadang di dunia ini Tuhan menguji kita dengan kegagalan. Dia buat seluruh mimpi kita hangus. Dia jauhkan kita dari orang yang kita sayangi. Dia ambil apa yang selama ini terus menerus ada di pikiran kita, segala hal yang kita pikirkan siang dan malam, dari kepala kita. Diberikan oleh-Nya kegagalan, meskipun terkadang kita melakukan semua dengan benar, hanya untuk menguji, seberapa kita percaya akan Dia, seberapa kita bisa mengabdi kepada-Nya dan senantiasa mengingat-Nya.

Tapi, jika dipikir-pikir, sebenarnya kita perlu meninjau, apakah proses yang kita lakukan sudah benar atau belum. Kegagalan dengan kesalahan itu ternyata berbeda. Kegagalan adalah suatu kondisi ketika kita sudah berusaha melakukan yang terbaik tapi rencana kita tetap tidak membuahkan hasil. Sedangkan kesalahan adalah ketika kita belum berusaha maksimal. Meskipun keduanya berbeda, keduanya tetap merupakan ujian dari Tuhan.

Jika yang terjadi sesungguhnya adalah yang pertama, yang menjadi tantangan adalah, masihkah kita berprasangka baik kepada Tuhan? Jika yang terjadi adalah yang kedua, bisakah kita belajar dari kesalahan tersebut dan menjadi pengabdi yang lebih baik?

Hasil itu bukanlah akhir dari usaha. Gagal atau sukses dalam berusaha sebenarnya sama saja. Yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana kita bisa menyikapi kegagalan atau kesuksesan dalam mengerjakan rencana kita? Masihkah kita bisa berbagi dengan sesama baik itu di masa kita sedang di atas, maupun di bawah? Bagaimana kita bisa berbagi meskipun kita sendiri masih kekurangan? Bagaimana kita bisa tetap berbuat baik? Bagaimana kita bisa berbagi hikmah dengan sesama manusia?

Maka sejak saat itu, saya berubah.

Saya menjalani hidup dengan mental yang baru. Buat saya kesuksesan bukanlah pencapaian. Kesuksesan adalah sebuah kondisi mental dimana saya dapat menyikapi segala hal dengan positif dan menjalani hidup dalam suka cita. Dan, saat itu ada satu misi yang saya emban:

Saya harus jadi trainer SSDK

Saya ingin mahasiswa baru mendapatkan motivasi, tidak hanya dari orang yang selam hidup di kampus selalu lempeng dalam akademik dan tidak pernah terpuruk. Ya, saya ingin memberikan motivasi kepada mereka bahwa, hidup tak selamanya mudah. Bahwa roda tak selalu di atas, namun kita selalu bisa bangkit.

Dan hasilnya.. Tuhan mengabulkan doa saya. Akhirnya saya berhasil menjadi co-trainer untuk penerimaan mahasiswa baru. Nah, mungkin di sana semua orang mengira bahwa setiap yang menjadi trainer itu selalu ber-IP bagus dan tidak pernah dapet IP jelek. Pada saat training, kebetulan ada mahasiswa yang bertanya tentang bagaimana kalau kita gagal. Saya yakin rekan saya juga tidak pernah menyangka kalau saya pernah mendapatkan ip dibawah 2.00. Tapi saya rasa, saya perlu menceritakan ini buat mereka. Maka dari itu saya ceritakan sedikit tentang bagaimana cara untuk bangkit dari keterpurukan. Saya yakin, perlu ada contoh dari orang sukses yang pernah gagal. Jika semua orang sukses tidak pernah gagal, siapa yang bisa menjadi teladan bagi orang-orang gagal untuk bangkit dari keterpurukannya?

40515_415430599842_4364628_n

Foto bareng para trainer

Sekarang, kalau teringat masa-masa itu, saya hanya bisa tersenyum. Betapa Tuhan tahu bahwa keterpurukan itulah yang saya butuhkan agar saya bisa menjadi seperti sekarang 🙂

Sekarang boleh dibilang, apa yang menjadi visi saya tercapai. Saya mendapatkan ip di atas tiga, memperoleh beberapa penghargaan selama berkuliah, serta mendapatkan banyak kesempatan untuk belajar di organisasi yang saya ikut. Saya yakin semua ini ada hikmah dan kaitannya dengan tujuan penciptaan saya. Dan yang terpenting adalah, saya mulai belajar untuk lebih mengenal Tuhan 🙂

Dan pada akhirnya saya puas telah menimba ilmu di kampus ITB. Puas karena saya telah belajar banyak tentang kehidupan. Di sini saya tidak hanya belajar menjadi mahasiswa yang bisa mengerjakan ujian, mengerjakan tugas akhir dan lulus saja. Di kampus ini saya banyak belajar tentang bagaimana menjadi seorang manusia, dan segala pembelajaran yang saya dapatkan telah merubah definisi sukses dan gagal di kepala saya 🙂

Beberapa Keping Mimpi yang Tercecer di Kampus

*postingan diedit lagi pas lihat foto-fotonya ga bisa dibuka. tapi udah lupa juga fotonya apa aja 😦 akhirnya diganti video youtube aja deh

Di tahun ketiga saya, entah angin mana yang membawa saya, pada akhirnya saya bersama teman-teman yang saya kumpulkan ada pada sebuah keluarga baru. Di keluarga baru itu, kami berbagi gagasan tentang mahasiswa ITB yang semakin kreatif, imajinatif dan visioner. Yang kami bicarakan di situ bukan lagi banyak ribut tentang hal yang selama ini sering diperdebatkan, seperti masalah diksi, esensi, dan tujuan. Yang banyak kami bicarakan di sana adalah hal-hal gila. Ide gila.

Satu hal yang hingga kini saya imani dan yakini. Gagasan dan mimpi adalah awal dari segalanya. Saya sendiri tak pernah menduga bahwa gagasan-gagasan yang waktu itu saya temui, begitu mempengaruhi hidup saya. Sampai akhirnya ketika lulus, saya menyadari bahwa banyak di antara pencapaian penting saya adalah berkat pertemuan saya dengan ide dari mahasiswa-mahasiswa yang telah lebih dahulu meninggalkan kampus ini.

Ketika pertama kali saya didaulat menjadi Presiden I3M, saya mendapatkan warisan berupa ide-ide proyek yang direkomendasikan untuk dilanjutkan. Di antaranya adalah proyek “Multitouch-Screen”, “CampusChannel” dan “Inspire”. Ya, tiga proyek itu adalah proyek “lungsuran” yang sudah antah berantah keadaannya. Anggota proyek yang sudah berkelana entah kemana, atau pimpinan proyeknya susah dihubungi, dan kami saat itu benar-benar kesulitan untuk mem-follow up proyek lungsuran tersebut.

Tapi, ternyata memang benar, mimpi adalah kunci untuk menaklukkan dunia. Mimpi memberikan energi yang lebih bagi seorang manusia. Bagi seseorang yang bisa memiliki pandangan ke depan, mimpi bukanlah omong kosong. Mimpi adalah sebuah gagasan dengan tahapan pencapaian yang jelas. Nyata. Mimpi adalah masa depan yang bisa diprediksi. Dan masa depan ummat manusia, ditentukan oleh mimpi-mimpi yang ada saat ini. Peradaban ditentukan oleh apa yang sedang dikerjakan para ilmuwan, insinyur, sosiolog, pengusaha, pemerintah, dan seluruh lapisan masyarakat pada tempatnya masing-masing.

Continue reading “Beberapa Keping Mimpi yang Tercecer di Kampus”

7 Kesalahan Fatal Seputar Pembuatan Buku Tugas Akhir

Kebetulan saya baru saja mencetak dan menjilid tugas akhir. Ada beberapa pelajaran berharga yang saya ambil dari proses pembuatan buku tugas akhir ini. Saya rasa hal ini perlu saya share di sini agar tidak ada lagi orang-orang yang bernasib sama seperti saya. Inilah, 7 kesalahan fatal seputar pembuatan buku tugas akhir.

1. Salah menuliskan nama pada cover

Seberapa penting sih menuliskan nama pada tugas akhir? Tentu saja sangat penting, karena ini adalah tugas akhir Anda, bukan tugas akhir dari orang lain. Oleh karena itu nama dipampang pada cover tugas akhir.

Nah, jangan lupa untuk menulis nama Anda sesuai dengan akta kelahiran. Jika perlu, mintalah notaris untuk mengecek apakah nama yang Anda tuliskan sudah sesuai atau belum. Ini adalah kasus nyata yang saya alami, dimana saya kurang mengetikkan huruf ‘r’ sehingga nama saya tertulis sebagai “Fiki”.

Nama yang tidak sesuai akta

Kenyataan yang sangat menyakitkan adalah saya salah menuliskan nama sendiri pada cover draft Tugas Akhir. Walhasil, saya menjadi bahan tertawaan pada saat sidang berlangsung. Maka dari itu, pelajaran pertama yang paling penting adalah, cermati cover tugas akhir Anda. Cover adalah bagian terpenting dan dilihat pertama kali.

Ingat, ini adalah pelajaran pertama yang sangat vital dan mendasar!

2. Menuliskan nama pacar pada kata pengantar Continue reading “7 Kesalahan Fatal Seputar Pembuatan Buku Tugas Akhir”

Kekuatan Visualisasi

*ditulis pertama kali untuk blog chordeo

Percayakah Anda bahwa visualisasi sebuah ide atau gagasan dapat membantu membuatnya menjadi nyata?

Percayakah Anda bahwa kondisi Anda di masa kini dibentuk oleh pemikiran Anda di masa lalu?

Ade Harnusa, CEO Chordeo

Saya pernah merasakan betul bahwa sebuah gagasan, jika divisualisasikan, akan lebih mudah menjadi nyata. Jika teman-teman pernah membaca buku atau menonton video tentang Law of Attraction, tentu teman-teman memahami bahwa pikiran memiliki energi yang sangat kuat. Pikiran bawah sadar jauh lebih kuat daripada pikiran sadar. Sehingga, apa yang ada dalam pikiran bawah sadar kita akan memiliki daya tarik yang lebih besar dan lebih dapat menarik pikiran tersebut menjadi kenyataan.

Pikiran bawah sadar tidak dapat membedakan imajinasi dan kenyataan. Oleh karena itu, kita tentu sering mendengar sebuah kutipan yang berbunyi

Whether you think you can or can’t, you’re right,”

dari Henry Ford. Maka dari itu, jangan pernah takut untuk bermimpi dan berimajinasi.

Continue reading “Kekuatan Visualisasi”

Indeks Prestasi, itu Privasi?

Kawan-kawan sekalian, beberapa hari yang lalu muncul suatu kehebohan di twitter. Bukan. Kali ini bukan terjadi kehebohan karena trending topics aneh berasal dari Indonesia. Kejadian menggemparkan tersebut adalah munculnya isu bahwa kita dapat melihat Indeks Prestasi seluruh mahasiswa di Indonesia. Wah? Bukankah IP itu privasi?

Ya, IP yang selama ini menjadi privasi dan menggenapi SARA menjadi SARIP kini diumbar dengan bebas. Siapa yang membeberkan info paling privat dari seluruh calon menantu di Indonesia? Jawabannya cukup mengejutkan, informasi tersebut dapat diakses oleh siapapun di sebuah situs pemerintah. Bisa diasumsikan, pemerintah mengambil kebijakan untuk menjadikan IP sebagai informasi yang bebas diakses publik. 😀 Continue reading “Indeks Prestasi, itu Privasi?”

Ajar

Percayakah Anda bahwa kata “ajar” dan “inspirasi” punya hubungan yang sangat dekat?

Ya, saya saat ini seharusnya saya sedang mengerjakan tugas akhir, mempelajari cara membuat aplikasi untuk multi-touch table top. Namun karena sedang penat, saya refreshing sejenak, salah satunya dengan menulis blog. Tulisan kali ini akan mengupas tentang inspirasi yang saya peroleh hari ini, dan inspirasi itu berkaitan erat dengan kata “ajar”.

Cerita dimulai ketika saya menunggu seorang teman di daerah Tubagus Ismail. Saya memarkir motor saya di pinggir jalan. Tiba-tiba seorang anak perempuan mendatangi saya. Anak itu bertanya, “Kak Fikri kan?”.  Saya sangat bingung, saking bingungnya, saya jawab”Iya, siapa ya?”. Ini adalah kelemahan terbesar saya. Dengan muka sangat tidak ramah, nada bicara yang songong, ditambah kebingungan, saya sukses menjadi orang yang sangat arogan.

“Saya yang dulu diajar sama Kak Fikri di ITB,” anak perempuan itu menjawab.

“Hah, ngajar? kapan ya?” saya menjawab dengan kebingungan.

“Iya yang dulu ngajar di ITB, yang main itu loh”

“Hmm, bentar kapan ya?” yang ada di pikiran saya adalah, saya tidak pernah mengajar, yang pernah saya lakukan adalah memberikan training. Oh, iya, mungkin anak ini waktu SSDK kebagian saya sebagai co-trainernya. Tapi, kalau dilihat-lihat, dia masih kecil, nggak mungkin anak kuliahan. Hmm, saya juga tidak pernah mengajar sebagai guru les. Sampai akhirnya, saya tersadar dengan frasa terakhir yang dilontarkan anak perempuan itu. Ya, saya pernah ikut meramaikan program adik asuh dari HME ITB, tapi saya hanya mau kebagian ice breaking. Saya bukan orang yang sangat serius sehingga saya hanya mengajarkan mereka bermain senam otak dan beradu menyanyikan lagu “Burung Kakak Tua” dan “Topi Saya Bundar”. Dialog di pikiran saya ini berlangsung sangat singkat, hingga akhirnya saya bisa mengatakan, “Oh iya! Iya iya! Wah, tapi kan saya udah jarang dateng.. ”

Saya mengisi ice breaking dengan brain gym. Waktu itu kegiatan adik asuh ini bertempat di kos Nursita Setiawati (EP 09). Makasih tempatnya ya Sita, Makasih juga buat Pengmas HME, dan Makasih Syakur yang udah ngajak saya dateng 🙂

Yang membuat saya kaget adalah tiba-tiba anak perempuan itu memperlakukan saya seperti guru. Apa yang dilakukannya saat itu membuat saya teringat masa SD. Di masa SD, yang namanya guru itu selalu dihormati dan hal itu dibuktikan dengan sebuah tindakan nyata yang sangat simpel, salim. Masih segar di ingatan saya ketika saya selalu menyalimi guru-guru saya tiap setelah berbaris masuk kelas pada masa SD. Dan di luar itu, pasti saya selalu menyalami guru yang bertemu di mana pun. Masih sangat segar di ingatan saya momen dimana mama atau eyang putri atau bude-bude saya berkata, “Salim dong sama bu guru,” ketika sedang bertemu bu guru, baik itu di rumah, di mall, dimanapun.

Dan jujur, yang ada di pikiran saya adalah sebuah pertanyaan apakah saya dianggap sebagai seorang guru oleh anak ini. Kalau iya, saya merasa sangat cupu. Continue reading “Ajar”

Biarkan ITB Hangus di Tahun 2015

Sebenarnya sampai sekarang pun kondisi tubuh saya masih belum fit. Sejak dimintai keterangan di Poltabes di hari kamis, saya menjumpai bintik merah di tangan saya. Dokter bilang saya kena campak. Walhasil, beberapa hari ini saya terkurung di kamar kos. Mungkin ini adalah rekor terlama saya di kamar kos. Jujur saya bosan dan sesekali waktu membuka laptop hanya untuk membuka email, twitter, facebook, dan messenger.

Sudah beberapa hari ini saya melewatkan beberapa agenda yang sudah saya jadwalkan. Rapat TEDxBandung, kuliah, bimbingan TA, foto bareng I3M, Sekolah Inovator Muda, Sekolah Bakat SKHOLE bersama HME, dan rapat sesuatu bersama Pambudi dan Agung. Semuanya saya lewatkan hanya karena saya sakit. Tapi bersyukur, di TEDxBandung saya punya Reza AE08 yang sangat bisa saya andalkan, di I3M saya masih punya banyak orang-orang hebat yang siap memback-up saya. Alhamdulillah. Hal ini membuat saya semakin yakin bahwa kemahasiswaan itu yang real adalah manusia-manusianya. Apa yang kita lakukan di kala menjadi mahasiswa sesungguhnya bukan hanya bagaimana agar kita dapat berbuat sesuatu ketika mahasiswa, tetapi bagaimana agar kita mampu melakukan sesuatu setelah lulus.

ITB dibakar atau kebakaran mungkin bias membuat heboh banyak orang. Isu  ini cukup membuat panas kampus. Isu ini cukup membuat kepala K3L menjadi sosok yang perhatian kepada mahasiswa-mahasiswa ITB pada saat kami memberikan keterangan di kantor polisi. Isu ini juga konon mengancam keberadaan mahasiswa untuk bisa tetap berada di kampus di malam hari. Tapi, entah mengapa di pikiran saya ada satu isu yang terus menerus hinggap. Isu ini adalah terbakarnya kampus ITB di tahun 2015.

Saya yakin di tahun 2015 nanti ITB akan terbakar habis-habisan. Tentu saja bukan terbakar gedungnya, tetapi terbakar semangatnya. Di tahun 2015 saya membayangkan akan terjadinya Kobaran Api dalam berkarya. Di saat itu, mahasiswa ITB sudah tidak kagok lagi untuk berkolaborasi satu sama lain. Antara orang-orang tua yang mengurusi institusi ITB dan anak-anak muda yang menyandang status sebagai mahasiswa ITB tidak lagi kagok untuk berkomunikasi, beradu argument, dan mengaku salah apabila memang salah. Sebuah bayangan yang sangat manis apabila nanti setiap dosen pasti menjadi dosen pembimbing dari proyek kolaborasi mahasiswanya.

Saya sudah mulai melihat bibit-bibit dari kenyataan di masa depan ini. Dahulu waktu saya baru masuk ITB, jarang terdengar adanya proyek kolaborasi. Sekarang? Kata-kata kolaborasi dan inovasi mulai didengungkan, seperti ITB-Satelit, OpenSparc Community, Proyek PLTMH beberapa himpunan, dan lainnya.Proyek-proyek kolaborasi mulai dikerjakan meskipun mungkin hasilnya belum terlihat nyata.  Wadahnya pun sudah banyak, ada I3M, Ganesha Rescue, SKHOLE, Ganesha Hijau, dan lain-lain. Yang jelas, saya yakin, angkatan-angkatan muda di ITB sudah tidak asing lagi dengan kata-kata kolaborasi dan inovasi.

Selain itu, mimpi sebagai world class university pun bukan tidak mungkin tercapai, karena mahasiswa ITB sangat berpotensi untuk menjadi mahasiswa berprestasi mendunia. Tapi bagi saya, masih banyak PR yang harus dikerjakan untuk dapat mencapai taraf ini. Boro-boro mau berprestasi, kadang kita tidak diberikan fasilitas yang memadai untuk mau melakukan penelitian. Dana untuk mengikuti lomba saja sangat susah mencarinya, dana buat TA? Hmmm.. Jujur, bagi saya dan kawan-kawan saya, mencari dana untuk penelitian masih susah. Entah memang tidak ada sumber dananya, atau memang sumber dana itu ada tapi kami tidak tahu cara mendapatkannya. Atau mungkin juga, sumber dana yang ada sudah dialokasikan untuk acara-acara besar seperti pameran karya yang sepi pengunjung, dan pentas seni yang penontonnya sangat membludak.

Di tahun 2015, bukan tidak mungkin ITB meraih kejayaan. Kejayaan yang ada di bayangan saya adalah ketika mahasiswa-mahasiswanya prestatif, baik di kancah local, maupun nasional.  Kelak di tahun 2015, setiap mahasiswa ITB setidaknya memiliki satu project penelitian atau pengabdian masyarakat yang ia kerjakan bersama teman-temannya. Dan setiap project itu pasti dibimbing oleh dosen. Diskusi rutin dengan dosen membahas project tersebut akan terjadi selama pengerjaan project. Jika project tersebut merupakan project yang bersifat pengabdian masyarakat, berkunjung ke masyarakat yang disasar merupakan rutinitas dari para mahasiswa ITB. Wow, saat itu dekat dengan rakyat bukanlah sekedar jargon. Dan ketika hal itu terjadi, mencari proposal PKM bukanlah hal yang mudah, pihak Lembaga Kemahasiswaan tinggal memberikan kabar kepada Badan Eksekutif dari KM ITB, lalu badan eksekutif tersebut akan mengumumkan ke seluruh himpunan dan unit, lalu…. BUM. Ratusan proposal PKM pun terkumpul. Dan saat itu, semua orang sudah punya pemikiran yang sama “PIMNAS mah, pasti ITB juaranya, mulai dari PKMP sampai PKMM, dari PKM AI sampai PKM GT”.

2015, system manajemen informasi dan pengetahuan di kampus ITB sudah sangat bagus. Organisasi kemahasiswaan dapat menjadi organisasi yang sangat progresif.Tidak ada lagi kesalahan menahun yang terjadi. Wow. Dan manajemen informasi dalam berkarya pasti sudah sangat baik di masa itu. Induk organisasi kemahasiswaan ITB telah memiliki catalog permasalahan bangsa, dan himpunan serta unit kegiatan mahasiswa ITB berlomba-lomba mencari ide untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Ide-ide tersebut akan terus dikawal dan diinkubasi hingga akhirnya bisa menjadi sebuah karya nyata. Setelah karya nyata itu ada, induk organisasi kemahasiswaan itb lagi-lagi akan menyambungkan karya tersebut agar bisa bermanfaat bagi masyarakat. Wow, saat itu bergerak bersama rakyat bukan jargon belaka, tetapi sudah menjadi budaya.  Futsal bersama pedagang di sekitar ITB pun menjadi santapan sebulan sekali para mahasiswa. Belum lagi, informasi-informasi seputar perlombaan yang ada di ITB, dokumentasi karya-karya mahasiswa, database donatur proyek penelitian dan pengabdian masyarakat, hingga database angel investor yang siap memodali bisnis anak ITB, semuanya akan sangat mudah diakses oleh setiap mahasiswa ITB. Wow. Saat itu pasti mahasiswa ITB berbondong-bondong mengikuti lomba-lomba di kancah internasional . Kalau sekarang di kalangan anak HME ada pikiran, “Wah, siapa ya yang tahun ini jadi finalis LSI Design Contest, siapa yang akan ke Okinawa,” karena setiap tahunnya ITB selalu meloloskan wakil di final International LSI Design Contest, bukan tidak mungkin setiap jurusan punya pemikiran yang sama untuk lomba keprofesian internasional sesuai program studinya masing-masing. EDAN!

2015, semangat para mahasiswa bukan hanya untuk status mahasiswa. Di tahun ini dan tahun-tahun berikutnya, setiap mahasiswa ITB pasti resah. Resah karena mereka masih bingung, apa yang dapat mereka perbuat di dunia nyata nanti. Tidak adanya industri strategis di negara ini menjadi tanda tanya besar bagi mereka. Mereka pun akhirnya aktif mencari tahu dan mengkaji, apa yang membuat bangsa ini tidak punya industry elektronika, otomotif, dan lain-lain. Keresahan itulah yang akhirnya membuat mahasiswa ITB yang saat itu peduli terhadap masa depan bangsa Indonesia, mencari tahu dengan sungguh-sungguh, bagaimana cara memajukan bangsa ini kelak. Apa gunanya kita melakukan hal hebat semasa mahasiswa, jika nanti setelah lulus kita tidak dapat melakukan hal yang lebih hebat lagi?

ah sudah dulu meracaunya, dilanjutkan kapan-kapan

Alumni, Reuni, dan Inovasi

Indonesia Berinovasi. Frasa tersebut merupakan tema kegiatan yang akan dilakukan oleh alumni ITB ’81 memperingati 30 tahun sejak tahun tersebut. Salah satu kegiatan yang akan dilakukan adalah pembangunan Desa Inovasi dengan melibatkan mahasiswa. Oleh karena itu, Kabinet KM ITB dan beberapa himpunan diundang pada 8-1-2011 untuk mengikuti Focus Group Discussion dengan tema kompas inovasi.

Alumni dan Institusi

Besarnya suatu institusi pendidikan tidak lepas dari campur tangan alumninya. Kata-kata inilah yang (katanya) selalu diucapkan oleh rektor ITB dengan berkaca dari MIT, Harvard dan universitas kelas dunia lainnya. Besarnya nama institusi dibangun oleh kebesaran nama masing-masing alumninya. Dan sebaliknya, tak jarang, nama institusi pun ternoda oleh perbuatan tercela yang dilakukan alumninya.

Pada kesempatan kali ini Indosat dan Teknologi Riset Global menyumbangkan lab untuk ITB. Kebetulan Direktur Indosat adalah alumni ITB 81. Saya lupa lab apa yang disumbangkan Indosat, yang jelas TRG menyumbangkan Lab untuk Cloud Computing. Selain menyumbangkan lab tersebut, TRG juga mempropose pembangunan Indonesia Cloud Computing Center untuk Technopark di bekasi. Jadi simpelnya semacam pengen ngetag lahan di sana buat lab riset di bidang cloud computing yang lebih berorientasi bisnis.

Menariknya, Pak Suhono (Ketua Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan ITB, alumni ITB 81) sempat nyeletuk kalau Indosat mau nyumbang sesuatu prosesnya ribet karena Indosat itu PT, harus RUPS, dan lain-lain, sedangkan kalau perusahaan tertutup seperti TRG kalau nyumbang bisa langsung dan bisa disebut sebagai sumbangan alumni 81. Saya pun jadi berpikir, apa yang bisa dilakukan angkatan 2007 kelak?  30 tahun nanti, sebesar apa circle of power dan circle of influence alumni 2007? Berapa entrepreneur? Berapa direktur? Hal ini membuat saya tersadar bahwa apa yang kita lakukan di kampus ini tidak ada apa-apanya dibandingkan apa yang akan kita lakukan setelah lulus. Tentu saja, pada awalnya kita perlu membangun kemandirian diri sendiri terlebih dahulu sebelum bisa berbuat lebih untuk orang lain, atau mungkin melakukannya secara paralel.

Setelah itu dilanjutkan dengan sambutan oleh Ketua Panitia kegiatan ini, Ibu Sofi kalau tidak salah namanya. Setelah itu giliran Pak Hasan dari Wakil Rektor Bidang Komunikasi, Kemitraan, dan Alumni (WRKMA) memberikan sambutan sekaligus meresmikan kegiatan tersebut. Selain itu Pak Hasan juga mengungkapkan kebutuhan utama ITB: beasiswa. Meskipun pembangunan lab dan renovasi ruangan adalah hal yang bagus, tetapi ternyata kebutuhan utama ITB adalah beasiswa. Hal ini terjadi karena memang 50% mahasiswa ITB berasal dari golongan menengah ke bawah. ITB berkomitmen untuk tetap menyelenggarakan pendidikan bagi mereka yang bahkan tidak mampu membayar, selama mereka masih memiliki kemampuan dalam menempuh pendidikan di ITB. Oleh karena itu, dukungan dari alumni-alumni ITB sangat diharapkan.

Reuni dan Inovasi

Yang namanya reuni pasti penuh dengan canda, tawa, dan kenangan. Hal ini juga yang terjadi pada focus group discussion para alumni tersebut. Beberapa fokus dan bersemangat, namun tidak sedikit yang ngobrol sendiri dan ketawa-ketawa. Saya juga sempat berpikir, ini alumni 81 hebat juga ya, reuni aja masih mikirin inovasi, kalau saya pribadi sampai detik ini masih membayangkan bahwa reuni itu pasti isinya ketawa-ketawa dan cengcengan. Tapi salut, setidaknya mereka semua punya semangat untuk memberikan inovasi bagi negeri ini. Kalaupun di antara beliau-beliau bercanda tawa, pasti itu bukan karena mereka tidak serius dalam menjalankan program ini. Saya hanya bisa berasumsi, sebagai orang yang cerdas, alumni-alumni tersebut mungkin kurang suka dengan hal-hal yang sifatnya masih konseptual seperti FGD, mungkin mereka langsung ingin melakukan tindakan konkretnya. Mungkin.

Melihat inisiatif yang dilakukan oleh ITB 81, saya pun berpikir, apa jadinya kalau setiap angkatan melakukan hal serupa. Setiap tahun pasti ada desa yang dibina dan dikembangkan! Dan, apa jadinya kalau seluruh alumni perguruan tinggi terkemuka di tanah air melakukan hal serupa?

Waaaw!

Belum lagi jika semua kegiatan tersebut melibatkan tenaga segar mahasiswa. Pasti mahasiswa Indonesia benar-benar bisa menjadi mahasiswa -bukan sekedar siswa biasa- yang langsung mengamalkan ilmunya pada kehidupan bermasyarakat. Tentu saja, mahasiswa harus mendapatkan apresiasi yang layak juga, bisa berupa kredit kuliah, dan lain-lain.

Hanya waw dan waw, yang keluar pada saat saya berkhayal. Tapi apa daya, itu semua hanya khayalan jika tidak ada yang mau mencoba mewujudkannya. Siapa yang mau?

Tulisan ini ditulis tanggal 9 Januari 2011. Berita resmi dari ITB bisa dilihat di sini http://www.itb.ac.id/news/3074.xhtml

Kader-isasi 11 Januari

“Kak, kalo kak Faisal udah ngitung segala macemnya, buat apa saya ikut?,” tanya Yuri SI 08.

“Kamu harus ikut biar kamu udah ngerasain gimana ngimplementasiin keprofesian.”

“Lagian, katanya Iwan, ke depannya himpunan bakal fokus ke kegiatan keprofesian dan pengabdian masyarakat. Jadi perlu transfer pengetahuan,” Jawab Faisal SI 07.

Begitulah pelajaran yang bisa saya bagi dari survey PLTMH di Gununghalu.

“Gimana ya kak, sebenernya materi Popope ini udah dari jaman OSKM, terus Osjur, dikasih melulu. Ampe muak. Maksudnya gimana ya, gw tau lah apa yang diomongin, tapi gimana ya cara ngimplementasiinnya?”

“Eh kak, yang tadi bercanda loh,” tutur salah seorang peserta DAT 2011.

Begitulah pelajaran yang bisa saya bagi dari mentoring DAT 2011 di Ciburial.

“Percuma lo ngejar nilai A, kalo akhirnya ga ada nilai tambah di diri lo,” tutur seseorang yang pertama kali mendapatkan nilai D dengan IPKnya yang masih deket cumlaude.

Begitulah pelajaran yang bisa saya bagi dari melihat nilai saya yang sejauh ini kombinasi antara beberapa A, AB, dan satu buah D.

Mental Juara

“Walaupun tidak juara, tetap mengaku juara.”

Quote di atas merupakan sebuah quote dari kakak angkatan saya yang bernama Fuad Fajri mengenai mental juara. Tak terasa, ini sudah kedua kalinya saya menghabiskan malam di Laboratorium IC Design bersama Ardimas, Azhari, dan Fuad Fajri. Malam ini kami memiliki tambahan teman menginap. Teman tersebut adalah Aban yang kemarin baru saja mendaki gunung untuk yang pertama kalinya di tahun 2010 maupun pertama kali dalam hidupnya.

Di laboratorium ini, kami sedang mengerjakan tugas kuliah sekaligus tugas yang diberikan oleh sebuah perlombaan. Tugasnya adalah merancang sebuah image compression and decompression system. Tugas ini dilakukan berkelompok. Ardimas sekelompok dengan Paulus dan Yanwar, sedangkan Azhari bersama Fuad Fajri dan Aban. Saya sendiri tergabung dalam kelompok Rahwana bersama Amril, Bombom, dan Dio Adi. Dio Adi sudah hilang kontak, beberapa kali di sms oleh Amril dan Bombom tetapi tidak membalas. Bombom sendiri kemarin-kemarin sibuk proyek dan dia sendiri hanya mengincar kelulusan untuk mata kuliah ini. Amril sendiri sepertinya sudah tidak antusias karena sebenarnya sks yang dia ambil sudah kelebihan, sebagaimana pengakuan dia:

“Gua sih nggak masalah ini nggak lulus, entar gw ganti sama kuliah yang lain aja” Continue reading “Mental Juara”