Sebuah Kehidupan yang Mengarah Ke Ketiadaan

Banyak manusia menginginkan kebebasan. Tapi, ke mana kebebasan itu mengantar manusia?

Malam itu seseorang bertanya kepadaku, apakah aku tidak ingin bertanya tentang perubahan-perubahan yang ada dalam dirinya, tentang keputusan-keputusan yang dia ambil. Falsafah Jawa mengenal istilah, “Ojo Gumunan, Ojo Kagetan, Ojo Dumeh“.

Aku katakan padanya, “Jika kau ingin bercerita, bercerita saja. Aku tidak sebegitu ingin tahu karena aku menghargai kehidupanmu dan kemampuanmu untuk mengambil pilihan-pilihan”

Dan aku tak pernah heran. Segala yang ada di dunia ini dapat terbaca. Apa yang tampak mata, biasanya dapat kita hubungkan titik-titik penyusunnya. Apa yang terjadi di masa lalu dan segala akumulasinya mengantarkan kita ke masa kini. Tapi, kalau untuk membaca masa depan, itu soal lain dan manusia lebih banyak salahnya.

(Tapi, yang selalu aku heran dan kagumi adalah betapa dunia ini begitu berpola. Betapa satu hal dapat menjadi penyebab bagi lainnya. Membentuk kepastian-kepastian dalam keacakan kejadian)

Selain itu, aku belajar untuk tidak terlalu ingin tahu tentang urusan lain. Entah sejak kapan. Mungkin itu juga terjadi seiring dengan aku yang lebih fokus pada kehidupanku sendiri. Aku ingin memiliki sebuah pemikiran dan pertimbangan yang bebas dari orang-orang kebanyakan. Aku ingin memilih sumber nilaiku sendiri.

Aku selalu kagum dengan orang-orang yang punya pemikirannya sendiri. Mereka yang berani mengambil tindakan karena punya alasan-alasan dan prinsip. Aku selalu menghargai mereka lebih daripada orang-orang yang hanya mengikuti arus belaka.

Tapi, sampai di suatu titik, aku berhenti mengagumi orang-orang ini. Itu adalah titik ketika mereka telah terhanyut dalam pemikirannya sendiri, egonya sendiri, tanpa sadar ke mana pemikiran mereka bermuara.

Meskipun aku berhenti mengagumi kemerdekaan berpikir mereka, bukan berarti aku merasa lebih hebat dari mereka. Aku hanya merasa lebih beruntung.

Dari keberuntungan itu, masih tersisa sedikit pilu. Kepiluan karena belum dapat menjadi apa yang seharusnya. Tapi, setidaknya aku tahu harus ke mana dan mencari ke mana.

Banyak orang berpikir untuk mengambil keputusan sebatas karena penasaran, karena berpikir bahwa hidup hanya sekali dan tak boleh disia-siakan. Andai saja kita mau berpikir lebih jauh lagi,  sebelum memutuskan sesuatu tentu kita akan pikirkan konsekuensi apa saja yang ia bawa di kemudian hari, atau di akhirat nanti.

Dan dengan itu, kita seharusnya rela menjadi pribadi yang lebih baik, meskipun itu berarti melepaskan hal-hal berharga yang selama ini kita pertahankan hidup-hidupan.

Dan, sebuah visi hidup yang melampaui dunia dan akhirat dalam bingkai integritas adalah suatu hal yang langka di zaman ini. Termasuk pada hal-hal yang luarannya dibungkus-bungkus agama.

Rasanya perjalanan menuju pribadi yang ber-integritas itu tak mudah. Tapi, bukankah hidup yang bermakna ini memang perlu diperjuangkan? Ketimbang ia mengarah begitu saja pada kesia-siaan tanpa kita menyadarinya karena kita pikir hidup ini indah-indah dan gampang-gampang saja.

Advertisements

Jika Kebahagiaan adalah Rumah, Sang Perantau Ingin Segera Pulang

Di jaman serba dan senantiasa terhubung ini, manusia perlu sejenak mengasingkan diri. Manusia perlu memutus segala sambungan yang dimilikinya dengan dunia luar. Supaya ia dapat kembali mengenali dirinya sendiri, sosok yang lama tak berbincang dengannya.

Sosok itu kini sudah berubah menjadi sosok yang asing. Apa yang ia inginkan? Manusia tak tahu. Apa ia berpuas dengan kehidupan yang dia jalani? Manusia tak tahu. Adakah ia merasakan kehangatan cinta dari semesta? Manusia tak tahu.

Malam pun berganti. Pertanyaan yang tak terjawab tentang dirinya sendiri telah membuat manusia tidak tahan dengan kesendirian. Ia lebih paham tata cara bergaul dengan teman-temannya, maka ia lebih memilih untuk berpesta. Manusia lebih nyaman bersama hal-hal yang tampak mata memberikan kenikmatan, meski semu. Maka ia berupaya menjadi seperti apa yang orang lain inginkan tanpa pernah tahu apakah itu yang dia inginkan. Ia menyiksa diri sebab berpikir inilah yang seharusnya dilakukan.

Ketika malam berganti, manusia pun kembali tersadar. Ia tak bisa terus begini.  Manusia perlu menilik kembali makna keberadaan dirinya dan segala hal yang dilakukannya. Semua itu demi memuaskan siapa? Tak ada yang tahu pasti.

Kalau tidak begitu, manusia hanya akan berubah menjadi mesin-mesin yang berpacu dengan perkembangan teknologi dan ekonomi global. Mesin-mesin itu selalu bergerak dengan efektif dan efisien, tak ada sedikit pun waktu dan tenaga yang boleh dibelanjakan untuk hal-hal abstrak yang tidak dapat terkuantifikasi. Apalagi jika hal-hal itu bukan bagian dari rumus pasti untuk menghasilkan angka-angka sakti. Angka-angka yang sudah menjadi ukuran kualitas kehidupan.

Setelah siang ia habiskan dengan peluh, malam kembali datang meski sejenak. Dalam masa-masa rehatnya itu, terlintas pertanyaan jujur dari nurani manusia: benarkah alat ukur ini ekuivalen dengan nilai kehidupan itu sendiri? atau jangan-jangan ukuran tersebut telah menyimpang jauh dari kenyataan hidup yang sejati?

Segala ukuran-ukuran tentang kehidupan yang dibuat manusia nampaknya telah gagal berfungsi. Angka-angka yang diraih oleh manusia tidak dapat dikonversi menjadi kebahagiaan. Ia mengaku bekerja keras demi keluarga. Namun, saking kerasnya ia bekerja tak lagi ia kenali siapa keluarganya. Ia bekerja demi mimpi yang diagungkan orang-orang. Ketika telah meraih semuanya, ia justru merasa hampa. Justru ia merasa telah kehilangan semuanya.

Pada belahan bumi lain, ada manusia-manusia yang berpikir bahwa dirinya begitu perkasa. Dunia akan ditaklukkannya. Tak akan ada yang dapat menggantikannya. Kemuliaan adalah miliknya. Lantas ketika daya tak lagi berpihak kepadanya. Kuasa atas nasibnya sendiri pun ia tak punya. Semua orang meninggalkannya. Raja-raja terusir dari kerajaannya. Manajer yang dipecat digantikan oleh bekas bawahannya. Selebritis yang dipuja pun ditinggalkan penggemarnya. Bahkan mungkin tak lama lagi, segala keindahan dunia akan pergi darinya.

Atas segala jerih payah perjuangannya dalam menaklukkan dunia, manusia telah membayar harga yang paling mahal. Ia rupanya telah menggadaikan kebahagiaannya. Padahal, kebahagiaan mulanya adalah rumah manusia, tempat ia lahir dan bertumbuh kembang. Rumah yang paling berharga dan akan selalu dirindukan.

Manusia-manusia yang mengaku dewasa selalu saja mengingat masa kanak-kanaknya di kala ia sedang diterpa gelombang kehidupan. Saat mereka teringat betapa kehidupannya terbelenggu oleh pekerjaan. Saat mereka kehilangan dirinya sendiri, dan merasa hampa di tengah keramaian dan hiruk-pikuk metropolitan. Saat mereka ingin dicintai, namun menelan pahitnya kekecewaan atas pengharapan kepada manusia lain. Saat ia melihat seorang bayi yang tertawa meski baru saja terjatuh dari upayanya untuk belajar berdiri. Lantas, terlintas pada benak mereka: alangkah indahnya kehidupan anak-anak kecil itu.

Tak butuh waktu lama untuk menyadari bahwa ada yang dirindukan oleh manusia. Di perut gunung jiwanya, terpendam lava rindu yang menunggu waktu untuk dimuntahkan. Suatu kerinduan yang besar akan kebahagiaan yang sejati. Dan ia selama ini terkekang oleh kerangkeng persepsi yang dicipta-ciptakan oleh manusia sendiri.

Sejenak ia memerlukan keterpisahan. Keterpisahan dari segala ikatan dengan dunia. Dan hanya ada satu yang ia butuhkan. Hanya butuh kejujuran hati untuk mengakui bahwa kebahagiaan adalah rumah tempat mereka ingin kembali. Kebahagiaan untuk dapat bercengkrama dengan diri sendiri. Sebab, telah lama mereka berkelana. Bertahun-tahun mereka berpikir bahwa dengan berkelana mereka akan lebih bahagia. Kini, saat jarum jam menunjuk pada nurani, manusia tahu bahwa yang ia inginkan adalah pulang kepada kebahagiaan.

Dia lelah berkelana, dia ingin pulang ke kebahagiaan.

Aku lelah berkelana, aku ingin pulang. Dan, jika aku harus bekerja, aku akan melakukannya dari rumahku. Aku ingin bekerja dengan bahagia.

*ditulis pada bulan Juli tahun 2015

Creating Values.

Maybe it’s just a long overdue side-notes. Or maybe it isn’t. On this blog, I haven’t written a complete story on how I resigned from PhD programme after 4,5 years surviving all the ups and downs. But I guess, it’s too long to write for now. Now, I just want to redefine work. But work is the thing we mostly do when we do not sleep. So, by defining work, we can then define what does it mean to be alive.

I was frustrated. Even though I quit PhD on my own term; even though I felt so relieved to have pulled the plug, it’s not easy to live a life as a terminal ABD (All-But-Dissertation).  No matter how we can direct our consciousness to arrange a positive narrative about what happened to our life, thinking is a chaotic process where negative thought arises from a pipe (which lies somewhere on imaginary mental system) every now and then.

When that kind of thought arose, I started to feel the so called FOMO. I started to imagine what my friends have achieved while I was busy doing a PhD I couldn’t finish.

Don’t get me wrong. I don’t have any regret to quit my PhD. And I believe I did not waste my resources. The learning curve is there. The realisation of the true meaning of many things. All the experiences was worth it.

Don’t get me wrong. I believe a job is not a career. And value is what matters. Luckily, many people see my values. Many people still trust me.

But of course, that’s never enough. Obviously, human and dissatisfaction can never be fully decoupled. I once thought the only thing we need to learn is self-respect. The virtue of self-respect could save us from feeling useless like a piece of plastic bag. Inner authority is the only thing which can break us free from the prison of other people’s expectation. But then, inner authority is just a pole. On the opposite pole, we need feedback to validate our view towards our self. Otherwise, we would live as a megalomaniac who’s disillusioned about oneself’s greatness.

And, in seeking that validation, our closest people’s alone don’t suffice. It’s no use to hide from the fact that we human, no matter how deep we could grasp the abstraction of a higher meaning of everything—a world outside the Plato’s cave, would still be longing for a this validation from time to time. It’s just humane. We can’t fight it. Fighting it means trying to not be human. And we don’t want to be anything but a sentient creature. It just happens. Or it just ensues?

But life is a box of surprises. 

On that particular day, I attended a meeting where I thought I was about to negotiate something. The night before, I consulted with Dannis on this matter after he received an award from A CEO I never knew before was interested to meet the men behind our YouTube channel. And it’s such a coincidence I was in Jakarta.

I brought nothing. No CV. The guy didn’t know me before. I had to introduce him about myself. He asked me questions. I answered what crossed my mind. No script. No nothing.

And after approximately 30 minutes, out of the blue he asked me to join his machine learning team. It was a crazy offer, right? How come people asked you to join his company based on words? Without any credentials.

It’s absurd. It caught me off guard. Even my Dannis, a CMO of Traveloka was also surprised when I told what happened after the meeting was over. Even a friend who worked as a PM there also surprised.

And, in that moment, I realised there’s nothing I missed out. If only I wanted to take the opportunity, I could as well receive monthly salary not far from friends who’s been nurturing their career in IT world.

Despite of me quitting PhD and having no legit work experience (Can you count a 2,5 months of apprenticeship and just a few tens hours of teaching assistantship as a proper working experience?), there’s a real people, a CEO of a reputable company (even Dannis, who rarely compliment people, said he’s “Jago”) offered me a job!

But, maybe, that doesn’t give a whole perspective to this crazy job offer story.

On my way home, I kept analysing how did it happen exactly? There must be an explanation, even for a crazy random occurrence.

Surely, the guy see values in me, in us.

One thing for sure, our channel was gaining his attention. Our works project our values.

That’s the first one. Secondly, he gained some sort of trust hearing my stories. Mind you, we discussed random stuffs from youtube channel to machine learning stuffs, from normative things up to my personal experience.

I guess, storytelling is an underrated skills that could lend you a job without sending a CV. A great storytelling could make a CEO wants to hire a guy he barely know about for 30 minutes.

Your value is only as good as your storytelling.

But you can’t just make up good stories. Well, maybe you can make up good stories. Make people clicked the bait. But then, it won’t last forever.

If there’s one thing I believe can get us out from an improbable situation: it’s honesty. Honesty is the last wall protecting our decency as a human being. To be honest about our mistakes and flaws.

I literally told him I do not have any particular skills for the job he’s offering. I simply do not own the skillets. I told him my research was not going pretty well, and that’s why I quit. And after it’s been said he asked that question where I was not sure how to react. And the second time he asked again, he asked me to consider and I agreed.

Absurd isn’t it?

But maybe, there’s something. Something with my stories that added up. Making a compelling story to gain his trust.

I did tell him I was once worked on NLP related stuffs. I did tell him my supervisor still believed that I’d become a PhD one day.

Maybe. That added up.

Oh, one more thing. There’s a question. A question that had never been asked so blatantly to me, as far as I could recall. “Are you a child prodigy?”

I’m not sure, I answered.

And once again, I was reminded, the most important thing in life is to create value. In fact, creating value is what a business does! But then, the world develops and now many people have a job even thought they don’t create an actual value. Some create value but so far below what they potentially could achieve. Some create value for the company but not for himself.

Some has lost the meaning of work itself.

Is surviving life so impossibly tough that it has to cost a man a meaning to his work?

There’s no easy answer to it. And the hard truth won’t be easy to comprehend. Not for those who’s not humble enough to realise his/her powerlessness.

And then I continued this journey, believing that now is the right time to jump in. To fulfil what’s been put aside for a long time. To make a bet. To start creating values I want to create.

It’s so silly sometimes life dictates us to live a life doesn’t suit our ideal concept of it. But that’s life. It’s what it’s.

No matter where you are. No matter how old or young you are. No matter what kind of job you have or (not) have; even when you’re jobless. It doesn’t matter whether you gain money or not. It doesn’t matter what others have achieved. All you have to do is to build up your craftsmanship. Bring up some good work! Never stops to create values!

And good things will happen…

 

 

The Place.. where discontent fills the content of consciousness

People like me never belong to any particular city. It seems strange for everywhere I go, I feel both familiar and strange. When I meet people, I feel like I know them while at the same time I realise I know nothing about them.

Sometimes we think, we’ve grown wiser. More mature than before. Maybe we do change. But that change is too miniscule to drive a permanent transformation. It seems like all our efforts couldn’t oust the old neuron pathways that make up bad habits and degrading traits. It is simply not enough.

Failure to commit equals failure to start. In this life, we can do anything, but we can’t do everything. There’s always a catch. We must have some form of consistency. We can’t go 1 in the morning, and turn 0 again in the afternoon.

Yet, every place brings discontents. And it’s up to us whether we’re going to let that discontentment filling up our consciousness with no empty space left. It’s easier to let them take the throne, orchestrate a coup to the wisest superego. It takes no energy.

But, to keep order in our chaotic consciousness, it requires energy. Lots of it. At the end of the day, we must not forget what brings us here. It’s the mother of all good emotions. Gratitude.

This place is the place you were longing to be at some time ago. Maybe a decade ago, two years, a month, yesterday, or maybe.. a moment ago.

So, stop for a moment. Stop your mind from wandering wherever it wants to go. Stay at this place for some time. Enjoy the scenery. For it is the place you were once longing to be.

Pria Di Ujung Kebun dan Gadis Kopi

Pada meja kayu di sebuah warung kopi tempat mereka singgah. Tak hanya dua cangkir, tapi dua hati sedang beradu. Dua pribadi keras kepala sedang berbincang. Masing-masing berbincang dengan dirinya sendiri. Yang satu sedang bermasalah dengan kekasihnya. Yang satu lagi bermasalah dengan banyak hal.

Pria itu sedang berada dalam ketidakstabilan. Gadis itu juga. Gadis itu benar-benar tidak stabil. Dan dia tahu bahwa dirinya tidak stabil. Selayaknya spekulasi tentang kesadaran, ia harus selalu melawan pikiran-pikiran di kepalanya. Apakah suara itu adalah dirinya?

Sementara gadis itu berjuang untuk menjalani hidup dengan kesadaran, pria itu entah ada di mana. Terlalu lama ia tenggelam dalam dunianya sendiri. Dia adalah alien di dunia yang begitu familiar. Dia adalah sendiri dalam segala perbincangan seru yang ia perbuat bersama puluhan manusia dalam setiap bulannya. Di berbagai kota. Di berbagai topik.

Soal cinta. Keduanya masih sama-sama punya.

Kekecewaan masing-masing mereka terhadap hidup atau ketidakpuasan pada diri sendiri tak menghalangi mereka untuk memiliki cinta.

Meski keduanya punya penyikapan berbeda.

Gadis itu ingin memperjuangkan cinta. Ia ingin memperjuangkan manusia lain untuk menjadi rumah tempat ia ingin pulang. Tempat ia merindukan penawar atas rasa keterpisahan. Sekalipun ia tahu bahwa tak mudah bagi orang sepertinya untuk menjalin hubungan jangka panjang.

Pria itu? Dia tak tahu lagi soal cinta. Mungkin juga ada perasaan yang membuat ia mau berada di situ. Dengan segala kepeningan yang ia bawa. Demi memandang paras gadis itu untuk kali pertama.

Dari dekat. Menatap mata. Mengamati setiap geriknya.

Lamunannya buyar seketika. Gadis itu mengingatkannya akan sebuah cerita yang pernah diceritakan oleh seseorang yang pernah ia suka. Seseorang yang dulu paling disuka meski sekarang nomor teleponnya sudah dihapus.

Pernah orang itu mengirimkan sebuah pesan singkat padanya. Mengapa pria itu tega menghapus nama orang itu dari daftar kontaknya?

Pria itu ingin sekali menjawab, kau pun tega benar menikah dengan orang lain. Tapi ia hanya diam. Mencintai orang itu selalu menjadi urusannya. Demikian pula segala patah hatinya. Demikian pula segala rasa sepat yang diperolehnya pada saat ia ingin membahagiakan orang itu namun orang itu hanya berkata, I am happy.

Gadis itu bercerita tentang pria di ujung kebun. Pria yang senantiasa mencari kembang yang lebih manis. Melewatkan semua yang manis. Hingga ia tak sadar bahwa dirinya sudah ada di ujung kebun. Tak ada bunga lagi di sana.

Gadis itu menyuruhnya untuk segera memetik bunga itu. Sebelum habis jalan setapak di kebun.

Tapi, pria itu sedang hilang dari dirinya yang duduk di kursi itu. Entah ke mana ia melayang.

Saat malam larut dan peningnya telah meraja, ia putuskan untuk mengantarkan gadis itu pulang. Mungkin untuk tidak bertemu lagi.

Berhari kemudian ia tersadar. Gadis itulah bunga yang sedang ada di hadapannya. Tapi, apa mau dikata? Dia adalah dia. Dan dia adalah dia. Dan mereka tak akan bersama.

Grand Menteng (depan lift di lantai 6), 11 April 2017 (1:39) 

Menghela

Pusaran gelombang kehidupan mengantarkan pada sebuah labirin jiwa. Di sana dijumpai lagi dan lagi, kesalahan yang sama. Serta ketidakmampuan untuk memetik makna atas segala petualangan dan pertempuran yang dilaksanakan. Makna pada letaknya sebagai keduanya: contemplativa dan activa.

Diam sejenak menjadi obat penawar. Meski hanya sesaat. Meski tak pernah benar ia mengobat. Meski tak kunjung bahagia didapat.

Hanyalah hikmah yang mesti ditambat. Dalam momen-momen merasuknya rasa tobat. Pada setiap jengkal penderitaan dan helaan rasa sakit yang entah mengapa terus ditarik dan tak ingin dilepaskan. Supaya berlepas dari segala rasa kuat dan ilusi manusia akan kekuasaan. Kekuasaan untuk mengatur nasib. Dan untuk menjadi langit.

Di tengah pusaran itu terdapat sebuah tenang. Pusat masa labirin yang menjadi labuhan tatkala manusia menemukan jati dirinya. Manusia-manusia yang menemukan makna atas segala penderitaannya. Serta manusia-manusia yang paham akan hakikat kehidupannya.

Tak ada anugerah. Tak ada musibah.

Yang ada hanyalah tantangan. Sebagaimana telah diperjanjikan dan dipersaksikan.

Manusia harus terus jalan. Seraya bersembah, bersujud, untuk memohon penguatan.

Tapi ke mana? Bukankah itu yang Tuhan pertanyakan?

Dan barang tentu Ia selalu punya jawaban

 

Apa yang Saya Inginkan?

Ada seorang teman yang baru saya kenal beberapa bulan lalu, sering mempertanyakan keotentikan perkataan saya. Apakah saya sedang menjadi diri sendiri? Apakah saya jujur kepada diri saya sendiri? Kata dia kombinasi antara apa yang saya katakan itu aneh. Perkataan dan tindakan saya juga banyak tidak sejalan.

Percakapan dengan orang asing

Kalau sedang suntuk sekali dan butuh cermin baru, saya biasanya berbincang dengan orang yang tidak terlalu dekat atau bahkan asing. Terkadang, kita bisa dapat perspektif baru. Berbicara dengan orang asing, memang terkadang menyakitkan. Mungkin akan ada ruang privat kita yang terusik. Sebab, itulah tugas dari percakapan antara manusia. Mencoba meruntuhkan tembok keterasingan. Dan satu-satunya jalan adalah dengan menerobos pagar-pagar privasi yang ada. Hanya dengan terus menerobos jarak antara dua individu, akan muncul suatu kedekatan pribadi. Dari situ orang asing menjadi teman, sahabat, atau sepasang kekasih.

Namun, berbincang dengan orang asing juga memberikan suatu keluguan atau netralitas. Sebab, si orang asing ini sedang mencoba menerka dan menilai-nilai kepribadian kita. Tidak seperti teman-teman yang sudah kita kenal lama yang umumnya sudah memiliki impresi dan penilaian tertentu tentang identitas kita.

Teman saya ini bilang kalau setiap mengenali seseorang, dia akan mencoba mencari motif si orang ini. Kata dia motif saya tidak dapat ditebak.

Keinginan secara sadar

Kalau ditanya secara sadar, keinginan saya sekarang hanya satu: ingin jadi orang beriman, ingin dapat rahmat Tuhan. Itu saja. Sudah terlalu banyak tanda-tanda di sekeliling bahwa kematian tidak mengingat umur. Terlalu banyak tanda bahwa kehidupan di dunia ini hanya permainan belaka. Dan segala dinamika hidup ini hanya keujian keimanan.

Guru saya mengatakan bahwa tujuan hidup ini sebenarnya satu: hanya mencari ridho ilahi. Tidak ada yang lainnya. Bukan untuk mencari kekayaan, terkenal, kemuliaan, atau hal-hal lainnya. Tapi rupanya kita diberikan permainan di kehidupan dunia ini. Kita diberikan dinamika kehidupan yang sebenarnya merupakan alat untuk meraih ridho Tuhan itu tadi. Kehidupan di dunia ini untuk mencari bekal.

Sekarang, pertanyaannya tinggal bagaimana kita mengarahkan kehidupan kita supaya dapat membawa manfaat bagi semesta alam, sehingga ridho Tuhan itu turun? Bagaimana supaya dalam permainan ini, kita bisa menundukkan ego sehingga kita mematuhi Tuhan? Bagaimana supaya dalam dinamika ini, setiap pergerakan kita mengantarkan diri kita pada kedekatan dengan yang kita tuju, Tuhan itu sendiri.

Realitas fisik

Oke, tentunya dengan sedikit ilmu dan perenungan saja mungkin saya bisa setuju. Saya secara sadar bisa bersepakat bahwa hidup ini untuk mengejar ridho Tuhan sehingga segala aktivitas harusnya berpedoman dan mengarah ke sana. Namun, bagaimana di alam bawah sadar saya? Sudahkah saya mencerminkan semangat itu dalam kehidupan yang saya jalani?

Belum. Saya masih seorang pembangkang. Itulah mengapa tindakan dan perbuatan saya terkadang tidak sejalan. Karena saya masih proses, berhijrah secara spiritual. (Tapi kok rasanya perjalanannya panjang banget ya, bolak-balik terus. haha)

Terkadang saya sedih juga, mengapa dengan segala bekal dan fasilitas yang diberikan Tuhan, saya masih menjadi orang yang lalai. Namun, saya balikkan lagi logika saya. Dengan segala bekal dan fasilitas saja saya masih lalai, bagaimana kalau tidak diberi? Pada akhirnya yang tersisa hanyalah rasa syukur karena saya masih menyadari apa yang salah dalam hidup saya.

Ketika saya galau menghadapi kehidupan, saya memang sedih, dan stres. Tapi, saya selalu sadar bahwa ini semua adalah bagian dari ujian kehidupan. Akan ada rahmat yang turun kalau kita bisa melewati ujian tersebut.

Aneh mungkin, tapi terkadang saya senang kalau hidup saya sedang penuh dinamika. Meskipun terkadang bentuk dinamikanya adalah tidak adanya dinamika itu sendiri. Seperti sekarang-sekarang, saya sedang tidak memiliki motivasi. Saya ingin, tapi saya belum bisa bergerak. Semacam gejala depresi.

Tapi saya senang, karena pengalaman seperti ini adalah bagian dari proses kehidupan yang akan mendewasakan saya. Memberikan saya perspektif baru. Dari ‘penderitaan’ itu akan bertambah pula pengetahuan saya. Mungkin bertambah pula teman saya. Bertambah lagi kebijaksanaan hidup saya.

Saya selalu teringat bahwa seorang sufi lebih menyukai hidup yang penuh cobaan ketimbang hidup yang mapan dan nyaman. Hidup yang mapan dan nyaman akan melenakan. Sementara hidup yang penuh kesulitan akan selalu membuat kita mencari apa yang salah, waspada. Jangankan hidup yang nyaman, terkadang di tengah kesulitan hidup pun masih sangat sulit bagi kita untuk mengingat Tuhan. Padahal kita selalu tahu bahwa hanya Tuhan yang bisa menyelamatkan kita.

Dan lagi-lagi sebenarnya ini semua adalah tentang ujian keimanan, seberapa tangguh dan tidak menyerah kita untuk mencari tali Tuhan, memegangnya erat-erat, meraihnya lagi ketika kita ia lepas. Terus menerus. Kalau hari ini gagal besok coba lagi. Coba terus. Jangan menyerah. Ketika kereta kita keluar dari rel, kembalikan lagi. Itulah perjuangan paling sulit di dunia ini: untuk senantiasa berhampir dengan Tuhan. Itulah jihad.

 

Bagaimana dengan kehidupan PhD saya? Apakah saya menginginkan gelar?

Saya mungkin terlihat atau merasa depresi karena suka merenung di sosmed. Orang-orang mungkin memberikan beragam saran sesuai dengan cara mereka mengukur. Bagi saya, kehidupan PhD pun tidak lain adalah bagian dari dinamika itu. Ini semua bukan lagi soal gelar, uang, atau waktu, melainkan soal pertempuran nilai.

Di sini saya melepaskan segala ambisi-ambisi akan kedigdayaan dan kepercayaan bahwa diri ini berdaya. Ya, mungkin terdengar menyedihkan atau lemah kalau diukur dari omongan motivator atau kebijaksanaan barat. Tapi dari kacamata tauhid, inilah yang benar. Hanya Tuhan yang dapat memampukan kita!

Saya bisa saja quit begitu saja, tapi saya mau ngapain itu nggak jelas. Saya belum minat cari kerja. Kalau quit PhD belum jelas mau ngapain. Mungkin akan ada uang cukup banyak yang bisa dialihkan dari biaya kuliah, tapi nanti akan habis juga. Dan, meskipun sekarang saya sedang berada dalam kondisi tidak punya gairah dan motivasi dan cenderung tidak peduli, dalam pikiran sadar saya, saya masih ingin memberikan diri ini kesempatan.

Sebab, saya sadar bahwa dalam permainan duniawi ini ada manfaat lebih yang bisa diberikan ke orang-orang jika saya berhasil meraih gelar PhD. Tapi tentunya saya tidak tahu apa takdir saya nanti akan dapat PhD atau enggak.

Memang untuk berhenti dari PhD itu butuh keberanian. Tapi, butuh keberanian juga untuk tetap lanjut meskipun tidak ada kepastian akan selesai atau tidak.

 

Tapi, kembali lagi. Lebih luas dari itu, ini soal attitude. Soal pembenahan karakter. Tentunya saya tetap bersyukur dengan apa yang saya peroleh selama 4,5 tahun ke belakang. Begitu banyak pelajaran hidup yang begitu berharga, jauh lebih berharga dari gelar. Sehingga bagi saya, kalau toh saya tidak mendapat gelar PhD, saya sudah siap. Tidak seperti orang-orang yang mendewakan gelar, selama 4,5 tahun ini saya tahu persis bahwa gelar bukan segalanya. Dan, tanpa gelar pun, rupanya masih banyak yang bisa kita lakukan. Dan orang-orang pun tetap percaya dengan potensi dan kapabilitas saya. Masih ada yang mau ngajak bisnis dan lain-lain (meskipun ya ujung-ujungnya belum menjadi, karena tidak semua opportunity mesti diambil). Gelar itu simbol kompetensi. Kita bisa saja punya kompetensi tanpa gelar. Dan kalau orang tahu itu, ya tidak masalah lagi kan gelar-nya apa?

Dan, semangat untuk menata diri itulah yang penting. Sebab, kalau saya mampu menata diri, mungkin saya akan bisa mendapat gelar PhD dan menjadi siap untuk menyongsong tanggung jawab dengan amanah yang baru itu. Bagaimana saya menjadi orang yang lebih rajin dan lebih persisten, tidak malas-malasan (Oiya, nantinya saya ingin menulis postingan tentang Islam kaffah yang rupanya bertentangan dengan malas-malasan). Kalau saya mengundurkan diri dari studi PhD dengan karakter acak adut, itu lebih tidak enak ketimbang saya berupaya mati-matian sampai akhir, sampai mentok meski tidak dapat gelar PhD. 

Sebab, karakter itulah tujuan utama kita, bukan?

Takdir yang pasti datang

Sementara takdir saya akan PhD atau enggak itu belum tentu. Yang sudah pasti datang takdirnya kelak itu kematian. Rasanya setiap harinya ada saja berita duka. Bahwa mati nggak nunggu tua, dan macem-macem jalannya. Di situlah yang harus benar-benar kita persiapkan.

Kemarin saya diberi tahu, cara gampang mengukur kita di surga atau neraka. Hitung saja waktu kita untuk mengerjakan mana yang wajib, sunnah, makruh, dan haram. Kalau banyak yang haram ya neraka. Simpel.

Di situlah saya jadi merinding. Sementara waktu ini lebih banyak untuk hal-hal haram atau melalaikan wajib. Seram sekali.

Dan di sinilah perjuangan betul, untuk menyelaraskan karakter kita dengan karakter yang dimau Tuhan. Dan, dalam proses itu tentu ada gap antara perkataan dan perbuatan. Kalau tidak ada gap, tentu saya sudah jadi insan kamil.

Supaya kelak ketika rohani ini kembali, dia bisa kembali ke jalan yang benar. Sebab akal ini akan mati dan menjadi tanah. Tak bisa kita berdialektika dengan malaikat.

Sebenarnya masih ada satu dua tiga hal yang ingin ditulis. Tapi rasanya sudah terlalu malam, dan terlalu banyak waktu yang saya gunakan untuk merenung-renung. Sekian, dilanjut kapan-kapan. (Sebenarnya tadi sempet nulis di sini beberapa bagian yang akhirnya dipecah menjadi postingan tumblr karena topik bercabang.)

*tambahan: percakapan saya dengan teman seperjuangan di sore hari tadi:

phd

 

 

Inner Imbalance

Jadi, sejak minggu lalu saya mumet. Kayak motion/travel sickness a.k.a mabok perjalanan tapi berkepanjangan. Setelah beberapa hari cuman nggelepar di rumah dan rasanya pengen berhenti saja dari segala kehidupan di Singapura ini, akhirnya saya berangkat ke kampus. Tapi itu pun nggak kuat. Sorenya ke dokter. Konon katanya inner ear imbalance. Bisa agak lama.

Saya pun mengabari ibu saya. Ibu saya bertanya, kok bisa dokternya bilang gitu? Ya tentunya dokternya punya ilmu dan dia juga menggunakan abduksi dan ngecek-ngecek juga kan pas meriksa. Apakah pandangan saya jadi kabur, apakah jalan saya stabil, apakah telinga saya kotor, dll.

Nah, sampailah pada kesimpulan ibu saya bahwa sebenarnya hidup saya ini sedang tidak jelas karena ketidakseimbangan antara unsur keduniaan dan spiritual. Saya pun bertanya balik pada ibu saya, Lha, mama ngertinya dari mana coba kalo gak seimbang?

Ibu saya menjawab dengan bercanda, “Ma’rifat..”

Kebetulan akhir-akhir ini saya dan orang tua sering bercanda dengan istilah ma’rifat. Asal-muasalnya karena ada seorang mantan anggota grup diskusi ibu saya yang kalau ngobrol suka bawa-bawa kaji-kaji tinggi.

Cerita-cerita mistik tingkat tinggi itu memang ada bagi para kekasih-Nya yang memang sudah begitu dekat dan kenal dengan-Nya. Itu adalah suatu kemuliaan yang diberikan Tuhan kepada kekasih-Nya. Nah, orang awam kayak kita gini tentu terpesona dan terpana dengannya. Tapi, terkadang manusia jadi terobsesi dengan cerita-cerita aneh itu sendiri dan melupakan muara sesungguhnya: ke-Tuhan-an itu sendiri.

Padahal, bagi para kekasih-kekasih-Nya, mereka tidak mencari cerita hebat, dan kemuliaan. Mereka menjadi Guru, dan mencari murid itu semata-mata dengan rahmat Allah. Kalau mereka bisa memilih, mungkin mereka nggak mau seperti itu. Dan mereka juga nggak dengan mudahnya menceritakan itu ke sembarang orang. Yang perlu digaris bawahi lagi, mereka tidak akan melanggar syariat. Apa yang keluar dari cerita-cerita ma’rifat yang mereka alami ya syariat-syariat juga. Yang mereka ajarkan ya syariat. Maka dari itu, ujung-ujungnya ya kita harus merujuk pada syariat.

Sekarang berguru radar aja susah kok. Padahal masih bisa diuji di lab. Gimana mau berguru spiritual cara ghaib?

Nah, kembali ke cerita tadi. Mungkin ibu saya benar. Setiap orang memiliki dosis dan jatahnya masing-masing. Bagi sebagian orang, mungkin tanpa dosis spiritual pun mereka bisa menjalani hidup dengan “baik-baik” saja. Mungkin bagi saya tidak, saya juga tidak tahu.

Tapi, tentang aspek ini sendiri saya juga bingung. Mungkin benar bahwa saya ini sudah punya semangat spiritual, tapi secara fisik saya masih belum mampu. Masih jauh dan bahkan menyimpang dari semangat spiritual itu sendiri. Dalam artian, saya telah menjadikan spiritualitas sebagai top of mind saya. Tapi, semangat itu belum dapat termanifestasi secara nyata pada syariatnya, pada kelakuan saya sehari-harinya.

Ya, mungkin itulah ketidakseimbangan pada diri saya. Terkadang saya berkhayal. Mungkin ini semua pada hakikatnya adalah sebuah panggilan alam, sebuah panggilan sayang dari Tuhan yang senantiasa tidak saya hiraukan.

Sementara saya terus mendustai hari pembalasan dan berbuat melampaui batas. Sementara saya tak kunjung beriman dalam arti sebenar-benarnya iman.

Tapi, tentu saja pertarungan itu belum selesai. Semakin hari, semakin saya resapi betapa kita telah berada di jaman yang rusak. Dan saya menjadi bagian dari kerusakan-kerusakan itu sendiri.

Kalau kita mau jalani agama dengan benar. Rasanya kita ini seperti mesin usang yang sudah siap dibuang saja. Sudah terlalu rusak untuk diperbarui. Namun, rupanya kehidupan tak seperti itu. Kita hanya punya satu jiwa dalam hidup ini yang harus kita jaga kebersihannya. Nggak bisa dilempar aja terus diganti sama yang baru. Dan toh, pada akhirnya yang akan menyucikan jiwa kita ya Tuhan sendiri. Kita, mana punya daya dan upaya. Mengutip kata-kata seorang Guru yang masyhur,

“Kau pikir kau bisa habis dosa tanpa berhampir dengan Tuhan?”

Ya, setelah itu ibu saya bilang saya dzikir-dzikir aja. Itu pun saya masih malas rasanya. Saya bilang, “Ma, mama aja dong yang doain..

Tapi, katanya nggak bisa. Kalau soal urusan dunia memang kita bisa saling membantu. Tapi, urusan akhirat ya masing-masing. Urusannya ya langsung ke atas.

Ujung-ujungnya, memang ini adalah proses kehidupan yang harus saya lalui. Saat ini (dan mungkin seterusnya) khauf dan raja saya kepada Tuhan memang sedang diuji. Ketika saya mendapatkan episode hidup sebagai seorang yang rajin beribadah, bagaimana saya memandang diri saya dan orang lain? Bagaimana saya terhadap Tuhan? Sebaliknya, ketika saya mendapatkan episode hidup sebagai seorang yang malas beribadah dan rajin bermaksiat, apakah harap dan takut saya pada Tuhan berubah? Apa saya jadi tak percaya lagi dengan pertolongan-Nya?

Dalam segala permasalahan hidup pun begitu. Apakah kita selalu dapat mengambil hikmah dan berkah atas semua yang dialami? Ridho-kah kita kepada takdir yang dipinjamkan kepada kita ini. Kita nggak punya kehidupan ini. Tapi, kita harus berbuat berdasarkan perasaan bahwa takdir itu milik kita. Sebab dengannya lah ayat Quran yang mengatakan bahwa Tuhan tidak akan mengubah suatu kaum kecuali mereka mengubahnya sendiri dapat termanifestasi.

Jika tidak, kita akan terjebak dalam merasa cukup sehingga tidak produktif. Kalau ada yang ditakutkan Lee Kwan Yew, terhadap warga Singapura adalah complacency. Merasa puas diri. Padahal dalam Islam juga sebenarnya diajarkan tentang menjadi rajin dan menjadi bermanfaat.

Tapi di sisi lain, kembali lagi, bahwa semua itu semata untuk mengejar ridho Tuhan. Syariat yang kita jalankan ini tidak ada artinya jika tidak diridhoi Tuhan. Karena ridho Tuhan ada pada syariat ini lah, kita laksanakan dia. Kita harus bergenggam dengan tali itu.

Lain-lain itu hiasan saja. Dan berkat proses-proses hidup yang saya alami inilah, saya jadi mendapatkan banyak pelajaran baik seputar marifat yang tulen. Bahwa inti semuanya ya gimana hubungan ke atas. Gelar, pangkat, harta, dan lain-lain itu hanya pernak-pernik saja.

Dan, makin ke sini makin terasa betapa taawudz itu punya arti yang mendalam.

Sekian. Semoga tulisannya tidak membingungkan. Kalau malah bikin bingung ya di-skip aja.

*lama nggak nulis di sini. Sebenarnya selalu banyak yang pengen ditulis, tapi kadang ngerasa takut menjadi orang munafik. Karena mengatakan yang tidak dikerjakan. Tapi, kalau dipikir-pikir lebih baik ditulis sih. Semua orang juga berproses kan? 

Sebab, pada akhirnya tak peduli mau seperti apa rasanya kita ini, tempat kita ingin berpulang ya cuman kepada Dia kan?

 

 

On The Verge of Perfect Incompleteness

We revere super-quality in a person, yet we like to be around humble people. It is the humanity, the flaw that goes hand in hand with the beauty, and the energy brought by those people that makes us feel comfortable being around them.

We adore people who make history. The inventor of the integrated circuit and algebra, those thinkers and physicists who gave us myriad of perspectives on viewing the world. We adore the maniac in them. Their persistence in materializing their ambitions along with all their surreal talents. All those extraordinary qualities never stop to light up our brain for some adoration. What a crazy way of thinking! They are the legends. Fiction that made it to become the fact. Imagination that happened to swim across the imaginary axis to become the real part of life.

We love their stories. Their maniac stories. Our world wouldn’t be the same without them.

But, when it comes to what kind of person that we want to interact with in our daily lives, we prefer someone who can make our presence meaningful. They are people who acknowledge us and give us a real support. They may not as ‘super’ as those maniac who keep telling us to chase our passion, dream big, and not settle. They may only give us a simple cliche advice. Maybe, they are just another ordinary people. But we like to be around them. And when they are not there, we miss them.

We love them. The person. Not their stories. Our life is incomplete without them.

Well, the world may not be the same without the first kind of people. But, our lives may not be the same without the second.

And now, we have to think for ourselves: what kind of people we want to be? what kind of people that we can be? what kind of people the world needs us to be?

Last draft sebelum ngelanjutin: 21 Aug 2015

Puncak Kebijaksanaan Hidup

Dalam falsafah Jawa dikenal istilah “sawang sinawang”. Puncak dari “Sawang Sinawang” (saya rasa) adalah ketika seseorang dengan setulus hati dan kesadaran penuh tidak ingin menukar hidupnya dengan orang lain.

Rasa iri, dan dengki, hilang sudah ketika menyadari bahwa apa yang dilaluinya di masa lalu, kini, dan nanti adalah sebuah perbekalan guna menghadap Sang Pangeran. Bahwa setiap cabaran hidup dan segala kesedihan yang menimpanya adalah suatu alat bagi dirinya untuk mendekat kepada Sang Kuasa. Bahwa dosa-dosa yang telah, sedang, dan akan ia perbuat pun adalah suatu alat bagi dirinya untuk mendekat kepada Sang Kuasa jua. Bahwa setiap kenikmatan yang ia peroleh dari pengabdiannya kepada Tuhan dan sesama adalah tak lebih dari alat untuk mendekat kepada Sang Kuasa. Bahwa segala ilmu yang dipahamkan kepadanya pun tak lebih dari alat untuk mendekat kepada Sang Kuasa.

Kemanusiaannya bersedih hati sejenak. Kemanusiaannya merasakan sakit akibat segala hal (yang terlihat) buruk yang dia lalui. Tapi, diam-diam nuraninya bersemangat. Nuraninya senang menjadi pendosa, sebab ia semakin diingatkan bahwa kemuliaan adalah selendang Tuhan. Nuraninya senang dilanda kesusahan, sebab kesusahan lah yang menjadikan dirinya berpasrah dan berserah total kepada Tuhan.

Kemanusiaannya bersenang hati sejenak. Kemanusiaannya merasakan kegirangan akibat segala hal (yang terlihat) baik yang dia lalui. Tapi, diam-diam nuraninya khawatir. Nuraninya khawatir karena setiap ibadah yang dilakukan membuat ia merasa lebih baik dari orang lain, membuat ia merasa hebat. Nuraninya was-was ketika dilanda kemudahan, sebab segala kemudahan di dunia ini dapat membuatnya lupa diri.

Dan tak peduli seperti apa kehidupannya, dia tak ingin menukar kehidupan ini dengan kehidupan orang lain. Kehidupan Steve Jobs, Bill Gates, Obama, Jokowi atau siapapun. Dia tidak mau menukarnya.

Dia menerima betul takdirnya terlahir sebagai manusia biasa dengan segala kebiasa-biasa-annya. Dia menerima betul takdirnya lengkap atas karunia dan cobaan yang dituliskan langit untuknya. Dia pasrah tak menyerah untuk terus berprasangka baik atas rencana Tuhan. Dia tak berdaya tapi tak lelah memohon dikuatkan untuk terus berjalan di jembatan takwa.

Sebab, pada kehidupannya ini ia hayati segala pengalaman yang ia rasakan. Yang terlepas dari baik dan buruknya, ia temukan makna akan arti kehadiran di dunia.

Sebab pada kehidupannya yang dipenuhi oleh patah hati dan kekecewaan ini, ia akhirnya belajar mengenal Cinta yang Sejati.

Sebab, pada kehidupannya yang dipenuhi kebodohan dan ketidaksempurnaan ini, ia temukan gerbang menuju ilmu sejati.

Sebab, pada kehidupannya yang dipenuhi oleh penilaian orang lain terhadapnya, ia tahu bahwa selalu ada tempat untuk berpulang kembali.

Sebab, pada kehidupannya yang jauh dari kemewahan materi, ia tahu bahwa ada hal-hal berharga yang tak dapat ditukarnya dengan apapun.

Di sana ia akhirnya menemukan apa itu Kebenaran yang senantiasa dicari. Di sana ia temukan bahwa Cahaya ada agar kita dapat melihat apa yang salah dari diri ini. Di sana ia temukan bahwa Cahaya lah satu-satunya yang dapat mengusir kegelapan dan segala rasa takut dan kekhawatiran ini.

Di mana sekarang? Hendak ke mana kita melangkah?

Pertanyaan itu hanya dapat terjawab ketika ada cahaya yang menerangi jiwa kita. Sekotor apa jiwa kita? Bagaimana membersihkannya?

Hal-hal itu telah melampaui unsur fisik. Keberagamaan yang sejati adalah ketika kita memiliki kompas sehingga mata hati kita dapat melihat. Ketika mata hati itu dibuka, kita pun menyadari apa saja yang telah kita lakukan di dunia. Kita mengalami kiamat kecil di mana kita menyadari konsekuensi dari setiap perbuatan yang kita kerjakan.

Dan, ketika mata hati itu terbuka, jangan lagi melihat sesuatu dengan mata zahir. Sebab, sekali kita alihkan mata kita untuk memandang dunia sebagai alam fisik semata, terhijab lagi mata hati kita dari Nur.

Lantas, kembali kita berserah. Tiada yang dapat menyelamatkan kita selain daya-Nya. Lantas tak mampu lagi kita merasa lebih baik dari anjing kudisan sekalipun. Sebab kita seperti ini adalah Kehendak-Nya.

Puncak beragama adalah beserta Tuhan. Manusia pikir itu gampang? Susahnya setengah mati. Karenanya kita harus berlatih. Agar nanti Tuhan hadir ketika kita menyebut-Nya di sakaratul maut. Dan untuk sampai kepada Dzikrullah yang sejati, kita mungkin harus gagal berkali-kali. Lahir baru berkali-kali. Tapi, tak boleh menyerah. Tak boleh menyerah menyusun batu-bata iman. Sehingga kelak tembok tauhid itu kekal dan tak hancur digoda setan akibat telah disemen oleh keikhlasan.

Puncak beragama adalah Cinta. Ketika Tuhan dan Rasul-Nya kita cintai lebih dari apapun. Ketika tak ada lagi yang kita pedulikan. Dan itulah hakikat iman. Kita bukan berbuat baik karena dilihat orang. Bukan pula kita menghindari keburukan karena menyadari bahwa kita ini dijadikan teladan. Bukan demi surga dan neraka.

Tapi cinta adalah kosong jika ia tak termanifestasi. Cinta termanifestasi dengan takwa. Ketika kita dengan sepenuh hati mengikuti jejak langkah rohani dan jasmani Rasul. Dan hanya Tuhan yang berdaya memberikan takwa bagi siapa yang memang hendak mencarinya.

Puncak beragama adalah Ikhlas. Yakni ketika kita mampu melepaskan tuhan-tuhan kecil yang bersemayam di pikiran kita. Mereka yang mengerangkeng jiwa kita sehingga tak dapat terbang untuk menemui Sang Rabb. Mereka yang menghijab kita dari petunjuk-petunjuk Tuhan yang tak kenal tempat dan waktu.

Puncak beragama adalah akhlak. Ketika kita benar-benar memasuki Islam secara kaffah. Tidak pilih-pilih lagi. Di puncak itu, dosa batin dan dosa zahir baik kecil maupun besar menjadi sama saja. Manusia telah melampaui hukum-hukum fiqh dan berada di puncak hakikat akhlak.

Pada akhirnya, semua yang terpisah telah berbaur menjadi satu tak dapat terbeda lagi. Iman Islam Ihsan Ikhlas Dosa Besar Dosa Kecil Dzikir Sholat Zakat dan segalanya telah menjadi hakikat. Hakikat Cahaya. Cahaya itu sendiri. Berhampir dengan-Nya. Hilang Sirna. Tiada Kata. Tiada Rasa. Entah apa yang ada. Sepertinya Segala Ada di Sana.

Tiada ilmu tiada kata. Yang ada adalah Kebenaran itu sendiri. Yang entah bagaimana, dengan cara-Nya, masuk ke dalam hati sanubari kita. Hati sanubari dalam makna sebenar-benarnya.

20/4/2016

Tak Termungkinkan

Adalah kerinduan yang menyergapku di waktu-waktu sibuk
Melemparkanku pada warung kaki lima tempatku mengamen puisi
Kuutarakan lirih kepada mereka: Hampa.. kepada sri
Sepi di luar. Sepi menekan mendesak

Seperti paras yang menyerobot masuk tanpa permisi
Rasa yang hilangnya telah lama aku nanti

Tambah ini menanti jadi mencekik
Mencekik akal sehat dari keterpisahan
Desakan-desakan yang terus ada dan tak akan pernah terekspresikan
Sebab ini sepi terus ada. Dan menanti

*(bait-bait yang digaris miring merupakan puisi Hampa karya Chairil Anwar)