Apa yang Saya Inginkan?

Ada seorang teman yang baru saya kenal beberapa bulan lalu, sering mempertanyakan keotentikan perkataan saya. Apakah saya sedang menjadi diri sendiri? Apakah saya jujur kepada diri saya sendiri? Kata dia kombinasi antara apa yang saya katakan itu aneh. Perkataan dan tindakan saya juga banyak tidak sejalan.

Percakapan dengan orang asing

Kalau sedang suntuk sekali dan butuh cermin baru, saya biasanya berbincang dengan orang yang tidak terlalu dekat atau bahkan asing. Terkadang, kita bisa dapat perspektif baru. Berbicara dengan orang asing, memang terkadang menyakitkan. Mungkin akan ada ruang privat kita yang terusik. Sebab, itulah tugas dari percakapan antara manusia. Mencoba meruntuhkan tembok keterasingan. Dan satu-satunya jalan adalah dengan menerobos pagar-pagar privasi yang ada. Hanya dengan terus menerobos jarak antara dua individu, akan muncul suatu kedekatan pribadi. Dari situ orang asing menjadi teman, sahabat, atau sepasang kekasih.

Namun, berbincang dengan orang asing juga memberikan suatu keluguan atau netralitas. Sebab, si orang asing ini sedang mencoba menerka dan menilai-nilai kepribadian kita. Tidak seperti teman-teman yang sudah kita kenal lama yang umumnya sudah memiliki impresi dan penilaian tertentu tentang identitas kita.

Teman saya ini bilang kalau setiap mengenali seseorang, dia akan mencoba mencari motif si orang ini. Kata dia motif saya tidak dapat ditebak.

Keinginan secara sadar

Kalau ditanya secara sadar, keinginan saya sekarang hanya satu: ingin jadi orang beriman, ingin dapat rahmat Tuhan. Itu saja. Sudah terlalu banyak tanda-tanda di sekeliling bahwa kematian tidak mengingat umur. Terlalu banyak tanda bahwa kehidupan di dunia ini hanya permainan belaka. Dan segala dinamika hidup ini hanya keujian keimanan.

Guru saya mengatakan bahwa tujuan hidup ini sebenarnya satu: hanya mencari ridho ilahi. Tidak ada yang lainnya. Bukan untuk mencari kekayaan, terkenal, kemuliaan, atau hal-hal lainnya. Tapi rupanya kita diberikan permainan di kehidupan dunia ini. Kita diberikan dinamika kehidupan yang sebenarnya merupakan alat untuk meraih ridho Tuhan itu tadi. Kehidupan di dunia ini untuk mencari bekal.

Sekarang, pertanyaannya tinggal bagaimana kita mengarahkan kehidupan kita supaya dapat membawa manfaat bagi semesta alam, sehingga ridho Tuhan itu turun? Bagaimana supaya dalam permainan ini, kita bisa menundukkan ego sehingga kita mematuhi Tuhan? Bagaimana supaya dalam dinamika ini, setiap pergerakan kita mengantarkan diri kita pada kedekatan dengan yang kita tuju, Tuhan itu sendiri.

Realitas fisik

Oke, tentunya dengan sedikit ilmu dan perenungan saja mungkin saya bisa setuju. Saya secara sadar bisa bersepakat bahwa hidup ini untuk mengejar ridho Tuhan sehingga segala aktivitas harusnya berpedoman dan mengarah ke sana. Namun, bagaimana di alam bawah sadar saya? Sudahkah saya mencerminkan semangat itu dalam kehidupan yang saya jalani?

Belum. Saya masih seorang pembangkang. Itulah mengapa tindakan dan perbuatan saya terkadang tidak sejalan. Karena saya masih proses, berhijrah secara spiritual. (Tapi kok rasanya perjalanannya panjang banget ya, bolak-balik terus. haha)

Terkadang saya sedih juga, mengapa dengan segala bekal dan fasilitas yang diberikan Tuhan, saya masih menjadi orang yang lalai. Namun, saya balikkan lagi logika saya. Dengan segala bekal dan fasilitas saja saya masih lalai, bagaimana kalau tidak diberi? Pada akhirnya yang tersisa hanyalah rasa syukur karena saya masih menyadari apa yang salah dalam hidup saya.

Ketika saya galau menghadapi kehidupan, saya memang sedih, dan stres. Tapi, saya selalu sadar bahwa ini semua adalah bagian dari ujian kehidupan. Akan ada rahmat yang turun kalau kita bisa melewati ujian tersebut.

Aneh mungkin, tapi terkadang saya senang kalau hidup saya sedang penuh dinamika. Meskipun terkadang bentuk dinamikanya adalah tidak adanya dinamika itu sendiri. Seperti sekarang-sekarang, saya sedang tidak memiliki motivasi. Saya ingin, tapi saya belum bisa bergerak. Semacam gejala depresi.

Tapi saya senang, karena pengalaman seperti ini adalah bagian dari proses kehidupan yang akan mendewasakan saya. Memberikan saya perspektif baru. Dari ‘penderitaan’ itu akan bertambah pula pengetahuan saya. Mungkin bertambah pula teman saya. Bertambah lagi kebijaksanaan hidup saya.

Saya selalu teringat bahwa seorang sufi lebih menyukai hidup yang penuh cobaan ketimbang hidup yang mapan dan nyaman. Hidup yang mapan dan nyaman akan melenakan. Sementara hidup yang penuh kesulitan akan selalu membuat kita mencari apa yang salah, waspada. Jangankan hidup yang nyaman, terkadang di tengah kesulitan hidup pun masih sangat sulit bagi kita untuk mengingat Tuhan. Padahal kita selalu tahu bahwa hanya Tuhan yang bisa menyelamatkan kita.

Dan lagi-lagi sebenarnya ini semua adalah tentang ujian keimanan, seberapa tangguh dan tidak menyerah kita untuk mencari tali Tuhan, memegangnya erat-erat, meraihnya lagi ketika kita ia lepas. Terus menerus. Kalau hari ini gagal besok coba lagi. Coba terus. Jangan menyerah. Ketika kereta kita keluar dari rel, kembalikan lagi. Itulah perjuangan paling sulit di dunia ini: untuk senantiasa berhampir dengan Tuhan. Itulah jihad.

 

Bagaimana dengan kehidupan PhD saya? Apakah saya menginginkan gelar?

Saya mungkin terlihat atau merasa depresi karena suka merenung di sosmed. Orang-orang mungkin memberikan beragam saran sesuai dengan cara mereka mengukur. Bagi saya, kehidupan PhD pun tidak lain adalah bagian dari dinamika itu. Ini semua bukan lagi soal gelar, uang, atau waktu, melainkan soal pertempuran nilai.

Di sini saya melepaskan segala ambisi-ambisi akan kedigdayaan dan kepercayaan bahwa diri ini berdaya. Ya, mungkin terdengar menyedihkan atau lemah kalau diukur dari omongan motivator atau kebijaksanaan barat. Tapi dari kacamata tauhid, inilah yang benar. Hanya Tuhan yang dapat memampukan kita!

Saya bisa saja quit begitu saja, tapi saya mau ngapain itu nggak jelas. Saya belum minat cari kerja. Kalau quit PhD belum jelas mau ngapain. Mungkin akan ada uang cukup banyak yang bisa dialihkan dari biaya kuliah, tapi nanti akan habis juga. Dan, meskipun sekarang saya sedang berada dalam kondisi tidak punya gairah dan motivasi dan cenderung tidak peduli, dalam pikiran sadar saya, saya masih ingin memberikan diri ini kesempatan.

Sebab, saya sadar bahwa dalam permainan duniawi ini ada manfaat lebih yang bisa diberikan ke orang-orang jika saya berhasil meraih gelar PhD. Tapi tentunya saya tidak tahu apa takdir saya nanti akan dapat PhD atau enggak.

Memang untuk berhenti dari PhD itu butuh keberanian. Tapi, butuh keberanian juga untuk tetap lanjut meskipun tidak ada kepastian akan selesai atau tidak.

 

Tapi, kembali lagi. Lebih luas dari itu, ini soal attitude. Soal pembenahan karakter. Tentunya saya tetap bersyukur dengan apa yang saya peroleh selama 4,5 tahun ke belakang. Begitu banyak pelajaran hidup yang begitu berharga, jauh lebih berharga dari gelar. Sehingga bagi saya, kalau toh saya tidak mendapat gelar PhD, saya sudah siap. Tidak seperti orang-orang yang mendewakan gelar, selama 4,5 tahun ini saya tahu persis bahwa gelar bukan segalanya. Dan, tanpa gelar pun, rupanya masih banyak yang bisa kita lakukan. Dan orang-orang pun tetap percaya dengan potensi dan kapabilitas saya. Masih ada yang mau ngajak bisnis dan lain-lain (meskipun ya ujung-ujungnya belum menjadi, karena tidak semua opportunity mesti diambil). Gelar itu simbol kompetensi. Kita bisa saja punya kompetensi tanpa gelar. Dan kalau orang tahu itu, ya tidak masalah lagi kan gelar-nya apa?

Dan, semangat untuk menata diri itulah yang penting. Sebab, kalau saya mampu menata diri, mungkin saya akan bisa mendapat gelar PhD dan menjadi siap untuk menyongsong tanggung jawab dengan amanah yang baru itu. Bagaimana saya menjadi orang yang lebih rajin dan lebih persisten, tidak malas-malasan (Oiya, nantinya saya ingin menulis postingan tentang Islam kaffah yang rupanya bertentangan dengan malas-malasan). Kalau saya mengundurkan diri dari studi PhD dengan karakter acak adut, itu lebih tidak enak ketimbang saya berupaya mati-matian sampai akhir, sampai mentok meski tidak dapat gelar PhD. 

Sebab, karakter itulah tujuan utama kita, bukan?

Takdir yang pasti datang

Sementara takdir saya akan PhD atau enggak itu belum tentu. Yang sudah pasti datang takdirnya kelak itu kematian. Rasanya setiap harinya ada saja berita duka. Bahwa mati nggak nunggu tua, dan macem-macem jalannya. Di situlah yang harus benar-benar kita persiapkan.

Kemarin saya diberi tahu, cara gampang mengukur kita di surga atau neraka. Hitung saja waktu kita untuk mengerjakan mana yang wajib, sunnah, makruh, dan haram. Kalau banyak yang haram ya neraka. Simpel.

Di situlah saya jadi merinding. Sementara waktu ini lebih banyak untuk hal-hal haram atau melalaikan wajib. Seram sekali.

Dan di sinilah perjuangan betul, untuk menyelaraskan karakter kita dengan karakter yang dimau Tuhan. Dan, dalam proses itu tentu ada gap antara perkataan dan perbuatan. Kalau tidak ada gap, tentu saya sudah jadi insan kamil.

Supaya kelak ketika rohani ini kembali, dia bisa kembali ke jalan yang benar. Sebab akal ini akan mati dan menjadi tanah. Tak bisa kita berdialektika dengan malaikat.

Sebenarnya masih ada satu dua tiga hal yang ingin ditulis. Tapi rasanya sudah terlalu malam, dan terlalu banyak waktu yang saya gunakan untuk merenung-renung. Sekian, dilanjut kapan-kapan. (Sebenarnya tadi sempet nulis di sini beberapa bagian yang akhirnya dipecah menjadi postingan tumblr karena topik bercabang.)

*tambahan: percakapan saya dengan teman seperjuangan di sore hari tadi:

phd

 

 

Inner Imbalance

Jadi, sejak minggu lalu saya mumet. Kayak motion/travel sickness a.k.a mabok perjalanan tapi berkepanjangan. Setelah beberapa hari cuman nggelepar di rumah dan rasanya pengen berhenti saja dari segala kehidupan di Singapura ini, akhirnya saya berangkat ke kampus. Tapi itu pun nggak kuat. Sorenya ke dokter. Konon katanya inner ear imbalance. Bisa agak lama.

Saya pun mengabari ibu saya. Ibu saya bertanya, kok bisa dokternya bilang gitu? Ya tentunya dokternya punya ilmu dan dia juga menggunakan abduksi dan ngecek-ngecek juga kan pas meriksa. Apakah pandangan saya jadi kabur, apakah jalan saya stabil, apakah telinga saya kotor, dll.

Nah, sampailah pada kesimpulan ibu saya bahwa sebenarnya hidup saya ini sedang tidak jelas karena ketidakseimbangan antara unsur keduniaan dan spiritual. Saya pun bertanya balik pada ibu saya, Lha, mama ngertinya dari mana coba kalo gak seimbang?

Ibu saya menjawab dengan bercanda, “Ma’rifat..”

Kebetulan akhir-akhir ini saya dan orang tua sering bercanda dengan istilah ma’rifat. Asal-muasalnya karena ada seorang mantan anggota grup diskusi ibu saya yang kalau ngobrol suka bawa-bawa kaji-kaji tinggi.

Cerita-cerita mistik tingkat tinggi itu memang ada bagi para kekasih-Nya yang memang sudah begitu dekat dan kenal dengan-Nya. Itu adalah suatu kemuliaan yang diberikan Tuhan kepada kekasih-Nya. Nah, orang awam kayak kita gini tentu terpesona dan terpana dengannya. Tapi, terkadang manusia jadi terobsesi dengan cerita-cerita aneh itu sendiri dan melupakan muara sesungguhnya: ke-Tuhan-an itu sendiri.

Padahal, bagi para kekasih-kekasih-Nya, mereka tidak mencari cerita hebat, dan kemuliaan. Mereka menjadi Guru, dan mencari murid itu semata-mata dengan rahmat Allah. Kalau mereka bisa memilih, mungkin mereka nggak mau seperti itu. Dan mereka juga nggak dengan mudahnya menceritakan itu ke sembarang orang. Yang perlu digaris bawahi lagi, mereka tidak akan melanggar syariat. Apa yang keluar dari cerita-cerita ma’rifat yang mereka alami ya syariat-syariat juga. Yang mereka ajarkan ya syariat. Maka dari itu, ujung-ujungnya ya kita harus merujuk pada syariat.

Sekarang berguru radar aja susah kok. Padahal masih bisa diuji di lab. Gimana mau berguru spiritual cara ghaib?

Nah, kembali ke cerita tadi. Mungkin ibu saya benar. Setiap orang memiliki dosis dan jatahnya masing-masing. Bagi sebagian orang, mungkin tanpa dosis spiritual pun mereka bisa menjalani hidup dengan “baik-baik” saja. Mungkin bagi saya tidak, saya juga tidak tahu.

Tapi, tentang aspek ini sendiri saya juga bingung. Mungkin benar bahwa saya ini sudah punya semangat spiritual, tapi secara fisik saya masih belum mampu. Masih jauh dan bahkan menyimpang dari semangat spiritual itu sendiri. Dalam artian, saya telah menjadikan spiritualitas sebagai top of mind saya. Tapi, semangat itu belum dapat termanifestasi secara nyata pada syariatnya, pada kelakuan saya sehari-harinya.

Ya, mungkin itulah ketidakseimbangan pada diri saya. Terkadang saya berkhayal. Mungkin ini semua pada hakikatnya adalah sebuah panggilan alam, sebuah panggilan sayang dari Tuhan yang senantiasa tidak saya hiraukan.

Sementara saya terus mendustai hari pembalasan dan berbuat melampaui batas. Sementara saya tak kunjung beriman dalam arti sebenar-benarnya iman.

Tapi, tentu saja pertarungan itu belum selesai. Semakin hari, semakin saya resapi betapa kita telah berada di jaman yang rusak. Dan saya menjadi bagian dari kerusakan-kerusakan itu sendiri.

Kalau kita mau jalani agama dengan benar. Rasanya kita ini seperti mesin usang yang sudah siap dibuang saja. Sudah terlalu rusak untuk diperbarui. Namun, rupanya kehidupan tak seperti itu. Kita hanya punya satu jiwa dalam hidup ini yang harus kita jaga kebersihannya. Nggak bisa dilempar aja terus diganti sama yang baru. Dan toh, pada akhirnya yang akan menyucikan jiwa kita ya Tuhan sendiri. Kita, mana punya daya dan upaya. Mengutip kata-kata seorang Guru yang masyhur,

“Kau pikir kau bisa habis dosa tanpa berhampir dengan Tuhan?”

Ya, setelah itu ibu saya bilang saya dzikir-dzikir aja. Itu pun saya masih malas rasanya. Saya bilang, “Ma, mama aja dong yang doain..

Tapi, katanya nggak bisa. Kalau soal urusan dunia memang kita bisa saling membantu. Tapi, urusan akhirat ya masing-masing. Urusannya ya langsung ke atas.

Ujung-ujungnya, memang ini adalah proses kehidupan yang harus saya lalui. Saat ini (dan mungkin seterusnya) khauf dan raja saya kepada Tuhan memang sedang diuji. Ketika saya mendapatkan episode hidup sebagai seorang yang rajin beribadah, bagaimana saya memandang diri saya dan orang lain? Bagaimana saya terhadap Tuhan? Sebaliknya, ketika saya mendapatkan episode hidup sebagai seorang yang malas beribadah dan rajin bermaksiat, apakah harap dan takut saya pada Tuhan berubah? Apa saya jadi tak percaya lagi dengan pertolongan-Nya?

Dalam segala permasalahan hidup pun begitu. Apakah kita selalu dapat mengambil hikmah dan berkah atas semua yang dialami? Ridho-kah kita kepada takdir yang dipinjamkan kepada kita ini. Kita nggak punya kehidupan ini. Tapi, kita harus berbuat berdasarkan perasaan bahwa takdir itu milik kita. Sebab dengannya lah ayat Quran yang mengatakan bahwa Tuhan tidak akan mengubah suatu kaum kecuali mereka mengubahnya sendiri dapat termanifestasi.

Jika tidak, kita akan terjebak dalam merasa cukup sehingga tidak produktif. Kalau ada yang ditakutkan Lee Kwan Yew, terhadap warga Singapura adalah complacency. Merasa puas diri. Padahal dalam Islam juga sebenarnya diajarkan tentang menjadi rajin dan menjadi bermanfaat.

Tapi di sisi lain, kembali lagi, bahwa semua itu semata untuk mengejar ridho Tuhan. Syariat yang kita jalankan ini tidak ada artinya jika tidak diridhoi Tuhan. Karena ridho Tuhan ada pada syariat ini lah, kita laksanakan dia. Kita harus bergenggam dengan tali itu.

Lain-lain itu hiasan saja. Dan berkat proses-proses hidup yang saya alami inilah, saya jadi mendapatkan banyak pelajaran baik seputar marifat yang tulen. Bahwa inti semuanya ya gimana hubungan ke atas. Gelar, pangkat, harta, dan lain-lain itu hanya pernak-pernik saja.

Dan, makin ke sini makin terasa betapa taawudz itu punya arti yang mendalam.

Sekian. Semoga tulisannya tidak membingungkan. Kalau malah bikin bingung ya di-skip aja.

*lama nggak nulis di sini. Sebenarnya selalu banyak yang pengen ditulis, tapi kadang ngerasa takut menjadi orang munafik. Karena mengatakan yang tidak dikerjakan. Tapi, kalau dipikir-pikir lebih baik ditulis sih. Semua orang juga berproses kan? 

Sebab, pada akhirnya tak peduli mau seperti apa rasanya kita ini, tempat kita ingin berpulang ya cuman kepada Dia kan?

 

 

On The Verge of Perfect Incompleteness

We revere super-quality in a person, yet we like to be around humble people. It is the humanity, the flaw that goes hand in hand with the beauty, and the energy brought by those people that makes us feel comfortable being around them.

We adore people who make history. The inventor of the integrated circuit and algebra, those thinkers and physicists who gave us myriad of perspectives on viewing the world. We adore the maniac in them. Their persistence in materializing their ambitions along with all their surreal talents. All those extraordinary qualities never stop to light up our brain for some adoration. What a crazy way of thinking! They are the legends. Fiction that made it to become the fact. Imagination that happened to swim across the imaginary axis to become the real part of life.

We love their stories. Their maniac stories. Our world wouldn’t be the same without them.

But, when it comes to what kind of person that we want to interact with in our daily lives, we prefer someone who can make our presence meaningful. They are people who acknowledge us and give us a real support. They may not as ‘super’ as those maniac who keep telling us to chase our passion, dream big, and not settle. They may only give us a simple cliche advice. Maybe, they are just another ordinary people. But we like to be around them. And when they are not there, we miss them.

We love them. The person. Not their stories. Our life is incomplete without them.

Well, the world may not be the same without the first kind of people. But, our lives may not be the same without the second.

And now, we have to think for ourselves: what kind of people we want to be? what kind of people that we can be? what kind of people the world needs us to be?

Last draft sebelum ngelanjutin: 21 Aug 2015

Puncak Kebijaksanaan Hidup

Dalam falsafah Jawa dikenal istilah “sawang sinawang”. Puncak dari “Sawang Sinawang” (saya rasa) adalah ketika seseorang dengan setulus hati dan kesadaran penuh tidak ingin menukar hidupnya dengan orang lain.

Rasa iri, dan dengki, hilang sudah ketika menyadari bahwa apa yang dilaluinya di masa lalu, kini, dan nanti adalah sebuah perbekalan guna menghadap Sang Pangeran. Bahwa setiap cabaran hidup dan segala kesedihan yang menimpanya adalah suatu alat bagi dirinya untuk mendekat kepada Sang Kuasa. Bahwa dosa-dosa yang telah, sedang, dan akan ia perbuat pun adalah suatu alat bagi dirinya untuk mendekat kepada Sang Kuasa jua. Bahwa setiap kenikmatan yang ia peroleh dari pengabdiannya kepada Tuhan dan sesama adalah tak lebih dari alat untuk mendekat kepada Sang Kuasa. Bahwa segala ilmu yang dipahamkan kepadanya pun tak lebih dari alat untuk mendekat kepada Sang Kuasa.

Kemanusiaannya bersedih hati sejenak. Kemanusiaannya merasakan sakit akibat segala hal (yang terlihat) buruk yang dia lalui. Tapi, diam-diam nuraninya bersemangat. Nuraninya senang menjadi pendosa, sebab ia semakin diingatkan bahwa kemuliaan adalah selendang Tuhan. Nuraninya senang dilanda kesusahan, sebab kesusahan lah yang menjadikan dirinya berpasrah dan berserah total kepada Tuhan.

Kemanusiaannya bersenang hati sejenak. Kemanusiaannya merasakan kegirangan akibat segala hal (yang terlihat) baik yang dia lalui. Tapi, diam-diam nuraninya khawatir. Nuraninya khawatir karena setiap ibadah yang dilakukan membuat ia merasa lebih baik dari orang lain, membuat ia merasa hebat. Nuraninya was-was ketika dilanda kemudahan, sebab segala kemudahan di dunia ini dapat membuatnya lupa diri.

Dan tak peduli seperti apa kehidupannya, dia tak ingin menukar kehidupan ini dengan kehidupan orang lain. Kehidupan Steve Jobs, Bill Gates, Obama, Jokowi atau siapapun. Dia tidak mau menukarnya.

Dia menerima betul takdirnya terlahir sebagai manusia biasa dengan segala kebiasa-biasa-annya. Dia menerima betul takdirnya lengkap atas karunia dan cobaan yang dituliskan langit untuknya. Dia pasrah tak menyerah untuk terus berprasangka baik atas rencana Tuhan. Dia tak berdaya tapi tak lelah memohon dikuatkan untuk terus berjalan di jembatan takwa.

Sebab, pada kehidupannya ini ia hayati segala pengalaman yang ia rasakan. Yang terlepas dari baik dan buruknya, ia temukan makna akan arti kehadiran di dunia.

Sebab pada kehidupannya yang dipenuhi oleh patah hati dan kekecewaan ini, ia akhirnya belajar mengenal Cinta yang Sejati.

Sebab, pada kehidupannya yang dipenuhi kebodohan dan ketidaksempurnaan ini, ia temukan gerbang menuju ilmu sejati.

Sebab, pada kehidupannya yang dipenuhi oleh penilaian orang lain terhadapnya, ia tahu bahwa selalu ada tempat untuk berpulang kembali.

Sebab, pada kehidupannya yang jauh dari kemewahan materi, ia tahu bahwa ada hal-hal berharga yang tak dapat ditukarnya dengan apapun.

Di sana ia akhirnya menemukan apa itu Kebenaran yang senantiasa dicari. Di sana ia temukan bahwa Cahaya ada agar kita dapat melihat apa yang salah dari diri ini. Di sana ia temukan bahwa Cahaya lah satu-satunya yang dapat mengusir kegelapan dan segala rasa takut dan kekhawatiran ini.

Di mana sekarang? Hendak ke mana kita melangkah?

Pertanyaan itu hanya dapat terjawab ketika ada cahaya yang menerangi jiwa kita. Sekotor apa jiwa kita? Bagaimana membersihkannya?

Hal-hal itu telah melampaui unsur fisik. Keberagamaan yang sejati adalah ketika kita memiliki kompas sehingga mata hati kita dapat melihat. Ketika mata hati itu dibuka, kita pun menyadari apa saja yang telah kita lakukan di dunia. Kita mengalami kiamat kecil di mana kita menyadari konsekuensi dari setiap perbuatan yang kita kerjakan.

Dan, ketika mata hati itu terbuka, jangan lagi melihat sesuatu dengan mata zahir. Sebab, sekali kita alihkan mata kita untuk memandang dunia sebagai alam fisik semata, terhijab lagi mata hati kita dari Nur.

Lantas, kembali kita berserah. Tiada yang dapat menyelamatkan kita selain daya-Nya. Lantas tak mampu lagi kita merasa lebih baik dari anjing kudisan sekalipun. Sebab kita seperti ini adalah Kehendak-Nya.

Puncak beragama adalah beserta Tuhan. Manusia pikir itu gampang? Susahnya setengah mati. Karenanya kita harus berlatih. Agar nanti Tuhan hadir ketika kita menyebut-Nya di sakaratul maut. Dan untuk sampai kepada Dzikrullah yang sejati, kita mungkin harus gagal berkali-kali. Lahir baru berkali-kali. Tapi, tak boleh menyerah. Tak boleh menyerah menyusun batu-bata iman. Sehingga kelak tembok tauhid itu kekal dan tak hancur digoda setan akibat telah disemen oleh keikhlasan.

Puncak beragama adalah Cinta. Ketika Tuhan dan Rasul-Nya kita cintai lebih dari apapun. Ketika tak ada lagi yang kita pedulikan. Dan itulah hakikat iman. Kita bukan berbuat baik karena dilihat orang. Bukan pula kita menghindari keburukan karena menyadari bahwa kita ini dijadikan teladan. Bukan demi surga dan neraka.

Tapi cinta adalah kosong jika ia tak termanifestasi. Cinta termanifestasi dengan takwa. Ketika kita dengan sepenuh hati mengikuti jejak langkah rohani dan jasmani Rasul. Dan hanya Tuhan yang berdaya memberikan takwa bagi siapa yang memang hendak mencarinya.

Puncak beragama adalah Ikhlas. Yakni ketika kita mampu melepaskan tuhan-tuhan kecil yang bersemayam di pikiran kita. Mereka yang mengerangkeng jiwa kita sehingga tak dapat terbang untuk menemui Sang Rabb. Mereka yang menghijab kita dari petunjuk-petunjuk Tuhan yang tak kenal tempat dan waktu.

Puncak beragama adalah akhlak. Ketika kita benar-benar memasuki Islam secara kaffah. Tidak pilih-pilih lagi. Di puncak itu, dosa batin dan dosa zahir baik kecil maupun besar menjadi sama saja. Manusia telah melampaui hukum-hukum fiqh dan berada di puncak hakikat akhlak.

Pada akhirnya, semua yang terpisah telah berbaur menjadi satu tak dapat terbeda lagi. Iman Islam Ihsan Ikhlas Dosa Besar Dosa Kecil Dzikir Sholat Zakat dan segalanya telah menjadi hakikat. Hakikat Cahaya. Cahaya itu sendiri. Berhampir dengan-Nya. Hilang Sirna. Tiada Kata. Tiada Rasa. Entah apa yang ada. Sepertinya Segala Ada di Sana.

Tiada ilmu tiada kata. Yang ada adalah Kebenaran itu sendiri. Yang entah bagaimana, dengan cara-Nya, masuk ke dalam hati sanubari kita. Hati sanubari dalam makna sebenar-benarnya.

20/4/2016

Tak Termungkinkan

Adalah kerinduan yang menyergapku di waktu-waktu sibuk
Melemparkanku pada warung kaki lima tempatku mengamen puisi
Kuutarakan lirih kepada mereka: Hampa.. kepada sri
Sepi di luar. Sepi menekan mendesak

Seperti paras yang menyerobot masuk tanpa permisi
Rasa yang hilangnya telah lama aku nanti

Tambah ini menanti jadi mencekik
Mencekik akal sehat dari keterpisahan
Desakan-desakan yang terus ada dan tak akan pernah terekspresikan
Sebab ini sepi terus ada. Dan menanti

*(bait-bait yang digaris miring merupakan puisi Hampa karya Chairil Anwar)

Prasangka Terhadap Makhluk, Cermin Prasangka Kepada Tuhan

Baru saja saya tersadar tentang hal ini.

Suatu hari seorang teman bertanya kepada saya, apa yang biasa saya obrolkan dengan ibu saya. Ada suatu kerinduan di hatinya untuk dapat berbincang dengan ibunya. Menariknya, kerinduan ini muncul lebih besar ketika dia sendiri telah menjadi seorang ayah.

Continue reading “Prasangka Terhadap Makhluk, Cermin Prasangka Kepada Tuhan”

Intermission: From Sickness To Across-Paradigms View

I’ve been sick for the last two weeks. I was confined in my bedroom for most of the times. (I just realised, I did write “most of the times” instead of “most of the time” unconsciously).

I used to see being sick as a means for God to teach us something apart from purifying our sins. And now I see being sick as more than that. Maybe not ‘that more’, but I am digging deeper through the meaning of our existence and our attitude as God’s servant. Especially, demise of a friend, whom I ever met in person only for four times, feels like the part of a greater lesson in a grandeur picture of my life.

I know, I might sound overusing big words. But, that depicts how I feel. I feel so small compared to the greater plan of The Book. It looks like I have 5% free will, yet 95% of my life was ruled by The Will.

Sometimes  I feel freedom is overrated. People crave for freedom until they are trapped inside the freedom dogma. Yet,  many don’t realise, our realising that a greater law overrules us could lead us enamoured.

Normally I’d be quite concerned, but the truth is discovering one’s life has already been predetermined is ironically liberating.

Above quote is taken from a tv series that I watch. [SPOILER ALERT FOR THIS PARAGRAPH]. Legends of Tomorrow. It is a series on the adventure of a band of superheroes traveling through space and time. Ironically, they found that free will only exists on the so called “vanishing point”. So, every heroic scenes they made up ’till that moment of realisation were not caused by their agencies.

But, it’s true. In flow theory, one of the primary tasks to achieve flow is to seek a greater picture. To find some niche to move, so our psychological energy could flow seamlessly. And in science itself, some scientists try to get out of our anthropocentric view of life.

As for me, when I got sick, I must learn to let go of many things. To rethink that my time is limited. And as I understood more about time’s scarcity, I should learn to use it carefully should the power be provided. But, then during those powerless moments I realised one more thing: I need to be happy. I need to be grateful.

Only during those times, I could feel a grain of such transcendence. Many people said that true heaven is where or when you’re with God. Some sufi even sang, “Should I bring the water from heaven to extinguish the hell fire? Or should I live in hell as long as God with me”

What’s the point of having the whole universe if remembrance of God was absent inside our heart? In this short worldly life, what’s the point of having everything a man wants if God is not pleased to you? After all, we’re the prisoner of whom we seek approval to.

So, it’s ok to be ‘sick’ as long as you are with God. But, here comes the paradox. In the companion of God, there lies the cure of every ‘sickness’.

Ok enough for spiritual-philosophical sub-theme.

As for my study, I realised that I have a concern towards education. Should I connect the dots right now, trying to produce a flipped-based classroom is an interesting idea for me. How I like to learn about how people learn. How I like to create such a youtube channel. How I aspire to better Indonesia’s education.

Yet, I know PhD is a good leverage. Many of my aspirations could be easier to materialise if I get a PhD. So must continue my struggle to finish it. I couldn’t look back. I couldn’t care less about what my supervisor will say, what the world will say. It’s about me trying to pull out the best in me to defend my life’s value.

At least, that’s what I’m up for now. I couldn’t lie to myself. Despite of my realisation of greater purpose, I don’t like this array processing field that much. But, I know I like seeing across paradigms. I like seeing parallelism across many interdisciplinary fields. I am the nexus of interdisciplinary. I am the anti-discipliner. Or whatever you call it.

And now, as I was given the chance to learn a bit deeper on this field, so let it be. I must try to grow more enthusiasm. And everything must be started with the sense of gratitude. A greater part. Because life is not always centered in me. (How ironic, I just said that I am the nexus of blablabla.. ok never mind, for the night is dark and full of terror. It’s almost 2 AM mind you!)

Anyway, in case you don’t understand regarding “across paradigms” stuff. It refers to Kuhn’s structure of scientific revolution. Here’s the story. I was doing some ‘research’ on internet balkanization. Then, I found a paper on a mathematical model of IT user agencies that will determine whether internet/IT will create a global village or balkanized cyberspaces. There, they argue that voluntary balkanization could harm our society due to over-specialisation. They also use Kuhn’s term to build their arguments.

And yeah everything is about parallelism. Everything we build is based on our pattern recognition. Our model of knowledge. Our scientific paradigm. Everything is interconnected. Yet, as it was said: it is not easy to see across paradigms from within. One must release the kraken.

Additional notes:

I gained so much lesson by creating a YouTube channel. And more importantly, I still think that we need to have Indonesian version of the science stuffs channel. Why? Because I believe the world is not as flat as what Thomas Friedman says. Not because I bought Pankaj Ghemawat’s book, but because I believe its argument is closer to our condition (and it is still related to cultural/natural balkanization). At the end of the day, globalization that we have nowadays is not truly borderless. And culture owns a big stake in our learning process.

Samudera Ketunggalan dan Pertempuran Nilai

“Ma, ini tuh kayak pacaran sembilan tahun sama cewek yang kita nggak suka-suka amat gitu. Yang kita udah berusaha buat suka, tapi nggak bisa.”

Jumat, 6 Mei 2016. Sore hari sebelum perbincangan itu terjadi, saya sedang makan bubur kacang hijau di kantin. Minggu-minggu ke belakang banyak sekali yang berbincang dengan saya seputar studi saya. Seperti diwawancarai lagi rasanya, tentang mengapa saya ambil PhD.

Sebenarnya ceritanya agak panjang dan saya sudah menulis draft lagi tentang detailnya (draft lain, meski nggak tahu juga apa suatu saat akan selesai atau tidak, akan di-post atau tidak). Kalau mau disingkat pakai bahasa gaul, “I’m in a deep sh*t right now.” Saya ada di tumpukan kotoran akibat perbuatan saya sendiri.

Tapi, sore itu saya tersadar akan banyak hal. Dan segala hal itu bercampur aduk dan bermuara pada satu. Continue reading “Samudera Ketunggalan dan Pertempuran Nilai”

Pencarian Spiritual Manusia Tak Bertuhan

Tentang buku “Waking Up: A Guide to Spirituality Without Religion” dari Sam Harris, seorang neo-ateis yang cukup vokal dalam memerangi agama, terutama Islam. [Neo-ateis yang saya maksudkan di sini mengacu pada tokoh-tokoh intelektual barat (seperti biolog Richard Dawkin, fisikawan Lawrence Krauss, jurnalis Christopher Hitchens)  yang begitu mengedepankan rasio dengan konsekuensi: gencar “mempromosikan” ateisme (walaupun kata “promosi” tidak sepenuhnya tepat)]. Dia sendiri adalah seorang filsuf dan neuroscientist lulusan Stanford dan UCLA. Buku yang ditulisnya sendiri lebih seperti memoar pencariannya akan kebenaran (lebih banyak kontemplasinya daripada sainsnya).

Continue reading “Pencarian Spiritual Manusia Tak Bertuhan”

Kekasih Tak Akan Membiarkanmu Kehujanan

Matilah aku! Aku harus segera mendapatkan taksi. Sudah jauh-jauh datang kemari, apakah aku akan melewatkan perjanjian ini? Hanya demi berbagi riak tawa duniawi, aku habiskan waktuku di situ.

Maka aku pun menuju pintu keluar. Rupanya hujan. Banyak orang berjejer di depan pintu. Aku tanya kepada petugas keamanan, di mana taxi stand? Ia menjawab, di situ Mas, tapi yang menunggu sudah banyak. Aku pikir deretan orang itu, yang jumlahnya mungkin mencapai puluhan, sedang menunggu sesuatu. Tak kusadari, rupanya mereka sedang menunggu yang sama. Ya, puluhan orang itu menunggu taksi!

Continue reading “Kekasih Tak Akan Membiarkanmu Kehujanan”