Menemukan Kebaikan Tuhan dari Kemarahan Orang

Baru-baru ini ada yang mengusik pikiran saya yang membuat saya begitu gundah. Fokus pada pekerjaan begitu sulit, padahal saya ada di sana. Tapi pikiran ke mana-mana, hati tercabik-cabik.

Mungkin saya kecewa kepada orang lain. Yang pasti, saya juga kecewa pada diri sendiri. Tapi saya selalu yakin, dan refleksi yang saya tuliskan selama ini di blog ini adalah bekal yang sudah saya siapkan untuk menghadapi hari-hari ini. Hari ketika rasanya saya ingin enyah dari dunia ini. Ingin pergi menyepi entah di mana, tanpa ada seorang pun yang menemui. Saya pun sempat menutup blog ini. Karena merasa agak gimana dengan diri sendiri.

Tapi ya itu tadi, saya tau saat seperti ini akan datang. Meski untuk menjalaninya tetap tidak mudah.

Saat ketika saya harus menghadapi kemunafikan diri sendiri.

Triggernya adalah dia, seorang teman. Seorang teman yang membuat saya pernah ada pasa kebahagiaan dan impian yang begitu menggelora. Cinta kepada wanita? Saya pernah, tapi tak sedalam ini. Dicintai wanita? Tidak kalah sering, tapi tak ada yang [pernah] sedalam dia dalam [pada suatu ketika] mencintai saya. Dia yang membuat saya berpikir, mungkin akan ada orang yang bisa memahami jalan pikiran saya dan bisa diajak berjalan bersama. Dia yang membuat saya ingin sesuatu yang lebih dari sekedar kesendirian.

Dia adalah wanita pertama non-keluarga yang memberikan saya mushaf al-Quran dengan sengaja. Dia adalah wanita pertama yang ingin mendengarkan saya mengaji. Dia wanita pertama yang pernah berkata ingin menunggu saya, menjadikan saya Imam, dan lain-lain.

Tapi benar kata Bapak, hidup adalah misteri. Dan sudah seharusnya kita bersama Yang Maha Misterius. Benar kata Bapak, harusnya saya mulai mendekat, memperbaiki hubungan dengan Tuhan, menjalankan PR sesuai dengan porsinya. Sebab, tanpa itu semua, biji-biji takdir tak akan mekar jadi bunga, meski dia ada di sana, di pekarangan rumah sendiri.

Dan selayaknya kisah-kisah yang penuh hikmah, penyesalan datang di belakang. “Andai saja aku mematuhi hukum Tuhan, mungkin aku sudah bahagia.

Hari ini saya membaca-baca lagi mushaf pemberian dia, buku pemberian dia. Begitu menohok.

Saya masih ingat betapa larutnya saya dalam perasaan bahagia karena menjadi orang yang dia sayang. Setelah tahun demi tahun interaksi yang timbul tenggelam namun selalu ada. Setelah ucapan perpisahan demi perpisahan yang terus diungkapkan namun berujung pertemuan kembali. Setelah menunggu berbulan-bulan untuk menanti sebuah jawaban namun akhirnya mendapatkan “tidak“.

Lalu hingga suatu ketika takdir membawa kami pada sebuah situasi oksimoron. Dan keesokan harinya Tuhan menakdirkan dia untuk menyayangi saya, meski dengan segala keraguan menjadi fondasinya. Saya masih ingat sebuah malam, ketika di sebuah kafe, saya berusaha meyakinkan dia untuk mencoba ini. Hipotesisnya adalah: hanya karena sebuah lagu harus berakhir, bukan berarti kita tak bisa menikmatinya. Dia yang ragu bahwa dua pikiran yang kompleks bisa bersatu, sedangkan saya yang masih merasa dia adalah salah satu orang yang paling nyambung dengan saya. 

Pada akhirnya kami saling berkata pada satu sama lain, mungkin kelak salah satu dari kami akan mematahkan hati yang lain. Tapi, siapa yang bisa mematahkan hati kita selain diri sendiri. Mengapa tidak profesional saja? Perasaan masing-masing urusan masing-masing. Tapi, mari kita coba saja, berdua jadi teman berbincang yang lebih akrab untuk saling mengenal dan saling mengingatkan.

Begitu rencananya. Eskpektasi masing-masing silahkan dikelola. Jodoh urusan Tuhan, tapi bukan berarti tidak diusahakan. Kita boleh bikin rencana.

Lagu itu pun terputar. Musiknya begitu kaya. Ada suka yang begitu menggelora. Disertai palung-palung duka yang bergelombang. Di situlah saya memahami bahwa saya telah larut, persis seperti lagu Dewa 19 yang pernah saya nyanyikan untuknya.

Hari demi hari pun penuh dengan beragam pelajaran hidup. Petualangan bersamanya membuka cakrawala. Ada saja hal-hal kecil yang bisa diperas jadi kebijaksanaan besar. Tentang banyak hal. Dari yang sempit hingga yang luas. Dan memang itulah yang sudah saya rasakan dari sekitar 5 tahun lalu ketika pertama mengenal dia. Itulah yang membuat saya masih ingin tahu hidupnya, dan sesekali mengobrol meski tidak selalu intens.

Tapi, seperti hipotesis saya, lagu yang begitu intens itu pada akhirnya harus berakhir juga. Rasa manusia bukan miliknya. Segala bincang-bincang yang membawa suka harus berakhir. Saya yang begitu dingin sudah meleleh. Tapi dia justru membeku.

Saat ketika hari-hari berlalu tanpa ada berbincang dan kabar darinya membuat saya merasa lagu yang diputar adalah Love of My Life. Dia adalah teman. Dia adalah cinta. Tapi dia sudah pergi. Tak sama lagi.

Dan upaya-upaya setelahnya, ketika dilihat ke belakang, adalah pemaksaan yang saya lakukan. Memaksa minyak untuk bersatu dengan air.

(Atau lebih ekstremnya, sudah berubah menjadi nafsu untuk menyayangi. Atau nafsu untuk disayangi? Entahlah. Sepertinya lebih ke yang pertama.)

Tapi, itu karena saya pikir kami sejenis. Sebab di saat-saat kelarutan itu pun saya sering berpikir? Benarkah kami sefrekuensi. Apakah perbincangan begitu panjang itu bisa terjadi jika kami bermasa jenis yang beda?

Saya ingat titik-titik keyakinan itu. Ketika kami melalui banyak dinamika berdua dan seolah dengan kelemahan yang kami punya, kami masih berharap semoga Tuhan melihat upaya keras kami. Semoga Tuhan senang atas momen-momen perjuangan kami. Di titik itu, seolah kami berbeda nol derajat.

Di titik itu rasanya semua konflik yang ada di antara kami hanya saling menguatkan persahabatan yang kami punya. Semakin memahami satu sama lain. Atau memahami bagian-bagian yang tidak kami pahami dari satu sama lain? Yang jelas kami menghargai persahabatan yang kami punya dan berupaya mengisinya dengan nilai-nilai positif. Meskipun pada akhirnya selalu ada noda. Memang tak ada hubungan yang sempurna, lancar-lancar saja kan?

p_20190110_211148

Dulu saya selalu mencari hubungan yang sempurna. Tapi itu tak pernah ada, kata teman saya. Maka saya pun berusaha mempertahankan persahabatan yang (ketika hangat) begitu hangat ini.

Lalu tibalah hari itu. Hari ketika dia, wanita yang mengajari saya untuk bersyukur, bekerja keras, dan tidak perlu mengutuk diri sendiri dalam kemunafikan yang saya punya sebagai role model.. mengatakan bahwa saya munafik dan double standard atas sesuatu yang saya perbuat.

Dia tidak salah.

Ya, saya munafik, bukankah itu yang selama ini saya akui. Tapi kalau saya munafik di sini, bukan berarti saya harus munafik di sana kan? Saya pikir begitu sih. Kesalahan harus diakui, tapi tak boleh diekstensifikasi. Namun, bisa jadi porsi saya melampaui batas jadi lupa diri? [mungkin saya sedang bersekutu dengan malaikat jadi lupa kalau bersekutu dengan setan kalau bahasa ibu saya seperti yang ada di bawah]

Entahlah, ketika dia berkata seperti itu, saya jadi bercermin pada diri sendiri. Saya percaya semua sudah diatur. Apa yang saya lakukan telah dituliskan 50.000 tahun sebelum alam semesta diciptakan.

Dan pastinya Ada yang menggerakkannya berkata demikian. Siapa lagi kalau bukan Tuhan?

Saya jadi memahami sudut pandangnya. Tentunya dia benar dalam sudut pandangnya. Saya pun merasa benar dalam sudut pandang saya. Tapi dua kebenaran pun belum tentu bisa sejalan, terkadang. Masing-masing punya jalannya.

Mungkin benar, saya telah digerogoti ego karena ketidakikhlasan dan rasa takut kehilangan. Terlampau nafsu untuk mencintai sampai-sampai lupa diri dan tergesa-gesa.

p_20190110_210858

Tapi tidak salah juga upaya untuk menyampaikan kebaikan bukan? Sebab saya pikir, saya hanya melakukan apa yang dia pernah pesankan kepada saya. Cara yang dia harapkan tentang bagaimana saya menempatkan diri dari terhadapnya.

Saya pun tersadar. Mungkin orang yang mengatakan itu sudah tertinggal di masa lalu. Jadi saja, saya gagal menempatkan diri, menempatkan rasa, dari apa yang orang di masa kini inginkan.

Padahal, niat saya semata-mata sih kayak di lagu Queen:

Why don’t we give love one more chance?
Love’s such an old-fashioned word
And love dares you to care for
The people on the edge of the night
And love dares you to change our way of caring about ourselves

(Tidakkah kita sadar bahwa kita adalah kita yang sekarang, detik ini, bukan sedetik lalu dan bukan sedetik ke depan?)

Kalau ibu saya:

[3:26 AM, 1/9/2019] Dunia ini ada 3 macam…
Yang 100 % buruk itu setan….
Yang 100 % baik itu malaikat
Yang antara buruk dan baik itulah manusia…..

Karena kadang manusia bisa bersekutu dg setan…tp kadang mendengarkan bisikan malaikat…

Payahnya…ketika seorang anak manusia ini sedang mendengarkan bisikan malaikat…kadang lupa bahwa ia pun pernah bersekutu dg setan…..
[3:31 AM, 1/9/2019] Nek di judulkan gini….

Saat bersekutu dg malaikat kadang jadi lupa jika pernah bersekutu dg setan…..

Maafkan aku,jika mencintaimu dengan cara yg bukan seperti yang kau mau….he he….
[3:37 AM, 1/9/2019]belajar menahlukkan ego itu mmg tidak mudah…perlu terbentur suatu peristiwa demi peristiwa utk sampe pada sebuah kesadaran bahwa masih ada ego yg harus di kendalikan…dan ada kemunafikan yg perlu di luruskan…..

Tapi yg penting kita ada dlm posisi paham bahwa diri kita di jalan yg salah,yg bahaya adl jika kita ‘tidak paham’ bahwa diri kita salah….

Ukuran benar-salah tentu lah bukan nilai2 manusia,tp nilai2 Tuhan yg rujukan nya ada pada Qur’an…..

Yang jelas, kembali lagi. Pasti ada hikmah dibalik semua. Karena orang itu marah dan membenci kita sekalipun, pasti ada pesan Tuhan di sana. Ada izin dari-Nya.

Dan sejujurnya, ketika untuk pertama kalinya saya melihat dia marah. Saya hanya bisa terdiam. Banyak terdiam.

p_20190110_211043

Buat saya, hikmahnya adalah saya jadi lebih terbuka lagi dengan orang tua saya. Orang tua saya bisa menasihati saya. Saya bisa lebih fokus pada diri sendiri, lebih ditampar lagi bahwa memperbaiki akhlak itu harus disegerakan (walaupun ya saya sendiri masih belajar dan merasa stuck, tapi katanya kita harus berprasangka baik pada Tuhan).

Dan kita yang manusia berlumur dosa ini memang perlu menilik kembali betapa kita telah melampaui batas.

No! [But] indeed, man transgresses

Apa-apa yang dia siratkan seolah mengingatkan saya pada apa-apa yang Tuhan katakan. Dan sebenarnya hal-hal ini yang membuat saya galau.

Begitu banyak yang bisa dikaji dari sebuah kejadian. Dari banyak sisi. Dari tema A sampai tema Z.

Dan ini begitu pas sekali untuk mengingat lagi bahwa tak ada manusia yang sempurna dan bebas dari salah sebagaimana difirmankan:

O you who have believed, do not follow the footsteps of Satan. And whoever follows the footsteps of Satan – indeed, he enjoins immorality and wrongdoing. And if not for the favor of Allah upon you and His mercy, not one of you would have been pure, ever, but Allah purifies whom He wills, and Allah is Hearing and Knowing.

24:21

Ini mengingatkan saya lagi tentang cinta yang tak boleh melalaikan.

Say, [O Muhammad], “If your fathers, your sons, your brothers, your wives, your relatives, wealth which you have obtained, commerce wherein you fear decline, and dwellings with which you are pleased are more beloved to you than Allah and His Messenger and jihad in His cause, then wait until Allah executes His command. And Allah does not guide the defiantly disobedient people.”

9:24

Ini mengingatkan saya lagi tentang kemunafikan-kemunafikan yang perlu diluruskan.

And when it is said to them, “Do not cause corruption on the earth,” they say, “We are but reformers.”

Unquestionably, it is they who are the corrupters, but they perceive [it] not.

2:11-12

Mengingatkan juga bahwa sebenarnya kita akan dipertemukan dengan orang-orang yang sejenis.

Evil words are for evil men, and evil men are [subjected] to evil words. And good words are for good men, and good men are [an object] of good words. Those [good people] are declared innocent of what the slanderers say. For them is forgiveness and noble provision.

24:26

Makanya semua indah ketika kita jadi orang baik. Sekeliling kita akan jadi baik.

Begitu pula sebaliknya, kalau ingin jadi orang baik, kita harus mengelilingi diri dengan orang baik, sebab katanya Nabi Ibrahim saja berdoa demikian

Bahkan Ibrahim ‘alaihissalaam tahu, manusia membutuhkan manusia lain untuk mendapatkan dukungan. Anda tidak bisa menggenggam iman Anda sendirian. Anda butuh orang lain untuk mendapat dukungan. Dan dia berdoa kepada Allah, “Ya Allah berikan aku teman orang-orang yang baik.” (26:83)
*kutipan diambil somewhere over the internet

Dan orang-orang yang tidak sejenis pun akan berpisah juga pada akhirnya.

Manusia disatukan/pisahkan oleh nilai2 yg dianut nya. Apa yg terjadi adalah sekedar sebab, itu sekedar dinamika nya sj, akhir nya manusia akan mengelompok dgn yg sejenis… Tdk usah membuang waktu dgn berupaya menyampur minyak dgn air. Wasting time. Air akan tetap air, minyak akan tetap minyak. Air dn minyak bahkan memiliki ” kebenaran nya ” sendiri.

Apa yg terjadi sdh lah pasti terjadi, hanya alasan nya apa dn waktu nya kapan.

Oleh sebab itu tdk perlu ada kebencian antara minyak dan air, gagak dan rajawali, ayam dan merpati, mereka memang sdh pasti begitu..

Penjelasan pun tiada guna krna bukan masalah penjelasan, tetapi ini masalAh jenis…

Kita bersyukur disatukan dgn yg sejenis disinilah Kita merasa nyaman. Demikian pula orang2 lain yg bersyukur bersatu dgn jenis nya..

Siapa yg lebih baik ? Tdk ada yg lebih baik… Bagi Tikus yg terbaik adalah Tikus, bagi marmut yg terbaik adalah marmut

Tikus tdk ingin menikah dgn gadis marmut sekalipun… Demikian sebalik nya

Kita memahami Kita dan Kita memahami […….], tanpa merasa bhw Kita lbh baik… Kita sllu memohon petunjuk dn perlindungan Allah Swt.. Tidaklah layak Kita mrs lebih baik…

Kita terkadang membuang waktu supaya bs bersatu, tdk mungkin itu. Semangka berdaun sirih hanya ada pada lagu.. Atau pada lukisan

Bukan soal kalah menang, soal baik buruk, ini soal jenis… Biarlah Tuhan yg menilai…

Memahami ini penting, agar Kita jernih dan memiliki rasa hormat kepada siapa saja, tdk mrs lebih baik dari siapa saja. Agar Kita juga bertekad kuat menjadi lbh baik dari hari kehari…

Semoga Allah Swt menolong Kita

Tiap hari Kita harus bertanya am I happy dan apakah aku dijalan yg benar ?

Semua konflik terjadi dilakukan oleh orang2 yg merasa benar.. Firaun pun ketika berhadapan dgn Nabi Musa merasa benar… Kita perlu berhati hati benarkah Kita bukan Firaun ? Semoga Allah Swt memberi petunjuk

Iya, air lbh paham pada diri nya, jg minyak lbh paham pd diri nya.

Allahu A’lam

Kita bersyukur dikelilingi orang2 yg kita cintai dn Kita pergi ketempat dimana Kita dicintai…

Jose Mourinho, aku pergi ketempat dimana orang2 menyintai ku… Chelsea..

Ada orang tidak yakin dgn [………….], memang keyakinan tdk bs dipaksakan. Keyakinan adalah dirasakan.. Jd tdk apa apa tdk sepakat dgn [….], tidak berdosa, apalagi salah adab…

Kesimpulan: mari bersyukur, karena Allah Swt telah memberikan yg terbaik dan tetap tawaduk karena hanya dgn rahmat Nya lah Kita bs selamat… Aamiin…
Kutipan fatwa dari guru saya YM Abu yang beberapa objeknya saya hilangkan demi menjaga konteks/relevansi dan substansi

Dan semua ini mengingatkan kembali saya, pada ilham yang saya peroleh pada suatu ketika. Bahwa semua pasti ada maksudnya. Pasti Tuhan sedang mengedel-edel hidup kita supaya dirajutkan yang lebih baik. Supaya kita menjadi lebih baik dan dipertemukan dengan orang-orang yang bisa mengantat kita jadi lebih baik.

Bisa saja jasad-jasadnya sama. Bisa juga tidak sama. Yang penting isinya, dari mana datangnya. Kalau ada kebaikan, sudah pasti datang dari Tuhan. Meski datangnya lewat amarah sekalipun, jika mendatangkan kebaikan, pasti datangnya dari Tuhan.

Meski yang bilang manusia, bisa jadi ada firman Tuhan di dalamnya.

Dia yang dulu ingin diperjuangkan, pada akhirnya ingin dilepaskan. Memang benar segala perasaan, sepatutnya dikembalikan pada Sang Tuhan. Akhirnya masing-masing pribadi harus kembali mencari penyelamatan.

Namun, pada akhirnya saya bersyukur dan meyakini segala pertemuan pasti ada maksudnya. Kalau tidak, tentu malam ini saya tidak bisa mengaji ayat-ayat ini bukan, di al-Quran yang dibelikan olehnya.

p_20190110_211025

*ditulis kemarin malam, waktu blog ini saya buka lagi ke public.

**atas apa yang terjadi, saya sudah meminta maaf dan dia pun memaafkan.

 

Perziarahan Ke Silicon Valley

Saya adalah seseorang yang sangat jarang melakukan perjalanan untuk sekedar berlibur. Kebanyakan dari perjalanan yang saya lakukan bersifat perziarahan ataupun untuk hal-hal yang penting.

Memang, beberapa kali orang-orang juga menyuruh saya berlibur atau sekedar jalan-jalan ke tempat baru. Katanya sih, refreshing itu perlu. Beberapa orang ingin berkeliling dunia, berpetualang. Dulu saya pernah juga sih untuk saat yang singkat, ingin berpetualang. Tapi, lebih ke mencicipi tinggal dan berkarya di berbagai negara, bukan sekedar mengunjungi tempat-tempat wisata. Hanya saja, pada akhirnya saya merasa bahwa petualangan saya adalah petualangan yang lain. Beberapa bilang ke saya bahwa ini terjadi karena saya belum merasakan asyiknya berjalan-jalan.

Nah, beberapa waktu lalu saya mendapatkan kabar bahwa saya harus bepergian ke Amerika Serikat, tepatnya di negara bagian California, di daerah Mountain View. Ketika memberi tahu teman saya, mereka bilang ini keren, kenapa saya nggak excited?

Saya bersyukur dan sangat bersemangat tentang acara yang akan saya jalani. Bahkan, saya berharap banyak. Tapi, kalau boleh jujur, soal perjalanannya sendiri memang tidak terlalu membawa excitement. Mungkin ya karena saya bukan orang yang doyan traveling? Mungkin juga karena ada banyak hal yang terus dipikirkan.

Dan, beberapa orang melihat dari sisi kerennya atau tampilan seolah-oleh suksesnya. Saya sendiri lebih merasa ini adalah bagian dari keprihatinan dalam menjalankan misi hidup, yakni membuat startup edukasi yang sedang saya jalani.

Saya percaya semua sudah ditakdirkan. Semua sudah digariskan. Tuhan punya rencana. Kita miskin papa, tapi Tuhan Maha Kaya. Saya sendiri mengisi hari-hari saya bergelut supaya iman bisa nggak tipis-tipis amat. Karena katanya, untuk memperbaiki hidup, kita harus memperbaiki hubungan dengan Tuhan terlebih dahulu.

Beberapa orang mungkin merasa: loh harusnya kita ikhtiar dulu kan baru tawakal? Tapi di titik tertentu dalam perjalanan hidup seseorang, akan ada masa di mana dia tahu bahwa nilai ikhtiarnya itu tidak ada apa-apanya sebenarnya. Sebab daya untuk berikhtiar pun sebenarnya dari Tuhan. Dan daya untuk bertawakkal pun begitu.

Beberapa minggu sebelum hari keberangkatan ke US adalah masa yang hectic buat saya. Untungnya visa sudah terurus (oiya ngurus visanya cukup ribet, tapi alhamdulillah dapat visa setelah harus menjelaskan tentang startup kita/pitching ke pewawancara). Selain banyak urusan personal dan profesjonal, saya juga harus berziarah sekaligus bertakziah ke Medan.

Adalah sebuah kesedihan, yang hingga kini masih saja membawa air mata. Sebab seseorang yang membuat saya tidak bisa tidak percaya lagi pada Tuhan dan agama, telah berlindung. Adalah suatu kesedihan yang sampai sekarang berobati karena saya belum dapat menjadi murid yang shiddiq. Semua orang kalau ditanya, tentu ingin berbakti dan membantu guru spiritualnya, Ulama-ulama pewaris Nabi. Sementara sebenarnya, menjalankan PR saja sulit sekali. Kata seorang Syekh, kalau kita bisa ngerjain PR kita saja, sebenarnya sudah sangat meringankan mereka.

Saya pun dalam masa ini merasa menjalani kehidupan startup itu sangat menantang. Berat, kalau mau realistis. Apalagi jadi seorang CEO. Padahal startup ini masih kecil. Apalagi jadi seorang pewaris tugas para Nabi. Tak terbayang seperti apa beratnya. Tak heran, di Al-Quran pun disebutkan demikian.

Saya adalah orang yang percaya dengan takdir dan hukum Tuhan. Bahwa ketika ada sesuatu yang tidak lancar, itu bisa terjadi karena dosa-dosa yang menghalangi kita dari rahmat. Dan ketika itu terjadi, itu adalah bagian dari ketentuan dan ketetapan yang telah digariskan.

Saya beruntung, Tuhan masih memberkati sehingga ada saja kemudahan dalam perjalanan ini.

Tapi, kalau ada satu kesimpulan dari perjalanan kali ini yang begitu membekas di benak saya bahkan sedari pertama menginjakkan kaki di San Fransisco adalah:

Di manapun kita berada, Tuhannya sama.

Saya mungkin sedang berziarah ke Silicon Valley, tempat di mana perusahaan-perusahaan teknologi pengubah dunia terlahir. Kalau dari dulu Silicon Valley itu hanya sekedar cerita-cerita belaka, atau film-film aja, atau denger-denger aja, sekarang saya udah bener-bener ngerasain udara dingin winter-nya sampai tangan jadi kering dan mengunjungi kantor Google, Apple, kampus Stanford.

Bahasanya sih haqqul yaqin ya. Dan dalam pengalaman itu benar-benar saya merasa bahwa semua ini adalah kehendak Tuhan, Tuhan yang sama di mana pun, kapan pun.

Dulu pernah waktu di Singapura, saya berkhayal untuk menjadikan Amerika Serikat sebagai persinggahan berikutnya. Sempat apply conference tapi direject. Sempat berkhayal mau postdoc di sana atau bahkan ambil MBA kalau PhD saya lulus. Dan bahkan dulu ada teman yang secara random ngajakin saya dateng info session dari GSB Stanford.

Dan akhirnya, Tuhan memberikan saya liburan, tanpa saya minta. Saya dikirimkan juga teman-teman perjalanan yang membuat saya benar-benar merasakan liburan. Bahkan termasuk berkunjung ke kamus Stanford.

Oh iya, di proses perjalanan ini saya menemukan orang-orang yang tulus sekali. Melihat ketulusan mereka saja saya sampai menangis, kenapa ada orang setulus ini? Ada kebaikan-kebaikan yang luar biasa yang dilakukan. Memang orang baik itu ada banyak betul di dunia ini. Dan lagi-lagi, itu adalah kerjanya Tuhan. Untuk menunjuki kita bahwa ada orang yang jauh lebih ringan tangan dari kita. Untuk menunjuki bahwa kita benar-benar masih jauh dari baik.

Tak lupa juga, saya merasakan jumatan di sini. Khutbah jumatnya pun luar biasa: tentang mensyukuri nikmat-nikmat dari Tuhan yang sering tidak kita sadari saking banyaknya. Dan juga tentang kezuhudan yang hakiki dari kisah Nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman memohon kepada Tuhan untuk diberikan segalanya, diberikan kerajaan yang tak tertandingi. Namun, itu tidak pernah membuatnya lupa untuk taat dan kufur nikmat. Keluhan semut-semut saja diperhatikan.

Ya, pada akhirnya kebijaksanaannya itu tadi. Di manapun di dunia ini, di pusat peradaban pun, Tuhannya sama. Hukum yang berlaku sama. Sama-sama kebaharuan yang fana. Dan dalam perziarahan kali ini lagi-lagi saya diingatkan tentang Ia Yang Satu, dan kewajiban-kewajiban yang terlupa.

Saya jadi ingat sebuah prinsip yang sudah mulai terlupa: bahwa oleh-oleh terbaik dari sebuah perjalanan adalah ketika keimanan kita bertambah. Semoga saja, perjalanan ini akan menggoreskan lagi satu garis keimanan sehingga kelak keimanan ini tak lagi dapat terhapus meski ada banyak kelalaian yang dilakukan

Mulai ditulis di pesawar, 8 Desember 6:18 -7:07 waktu San Fransisco

Di atas laut Bering, antara Gulf of Anadyr dab Norton sound

It used to be

the air that I breathe.

There were those times when I thought I would never ever stop writing. To pour all my hearts and thoughts out. To bring abstractions which collide in my head to the realm of words; to form a puzzle that would left me befuddled to understand why it had to be written that way.

How cruel is the universe of possibilities? After all, it is the quantum mechanics which triggered the Einstein to wonder whether God plays with dices.

Just like a dice rolling in our mind. Deciding whom to say hi. Or when should we offer a small kindness. Or that hesitation or inaction to say happy birthday to friends. Or when should we drop a message, the important one which gets delayed for (God knows) whatever reason.

In this digital world where everything is recorded and accessible and the imminent danger of datageddon sounds not too much of a fiction.

Yesterday was the night that I wish I had recorded a conversation with a friend. Because I think the only way to make the world understand my truest take on many things about something or someone

But, an event triggers another event. Corollaries. And before long, it would become a series of events that bring someone from a to z, from b to c.

At the balcony, facing the night and dimmed city lights, how in the world could I recall a poem. About a hesitation and an answer. Sometimes, we found an answer not in the answer. We read not between the lines, but between something I don’t have the words for. It’s something before the words. Something before the action. It’s the signal in the brain which dictates the mind.

(have I ever told you, some neuroscience research suggest that we don’t have the free will? Perhaps, reductionism camp is right. We’re just signals. )

…[but.. speaking of consciousness]..

So we move from one moment to another. To stop the time is not the question. Everything seems contiguous, in reality, but we can’t separate the border, in our mind. We experience it all at once. To accept life and all its (seemingly) randomness, which in the end will lead us into one determined path.

I used to believe that love is the foundation. Love is the answer. And Love is the reason why this universe was created. In the first place.

But, what do I truly know about it? Maybe, it’s just a piece of chauffeur knowledge. A shallow play of words.

I guess our understanding about love across many levels is evolving.

Isya Tadi

Aku baru tersadar bahwa telah lama aku tak mengingat kematian dengan sungguh-sungguh. Bahwa dunia ini hanyalah sebuah kesementaraan.

Tadi pula aku mencoba membuka lagi al-Quran. Baru mengaji 2 ayat saja, fokusku teralihkan sehingga aku menyudahi. Tapi, ayat yang ku buka adalah al-Mulk ayat 2. Tuhan menciptakan kehidupan dan kematian semata-mata demi ujian.

Memang, terkadang kita tergoda untuk menuduh Tuhan tidak adil dengan segala aturan yang dibuat-Nya. Tapi, kita mau ikut siapa?

Oh iya, aku pikir, janji kita kepada Tuhan adalah janji tertinggi dan terdini. Janji-janji lain seharusnya akan ditimpa oleh janji ini. Janji bahwa kita mau ber-Tuhan tak boleh kalah dari janji-janji kepada manusia.

Aku rasanya ingin sekali memperbaiki hubungan dengan Tuhan. Tadi pun aku kembali berbincang dengan ibu untuk membicarakan ini semua. Dan, aku ingin menulisny di sini sebagai titik awal, niatan, supaya ketika aku membuka tulisan ini, aku jadi teringat lagi. Lalai lagi, ingat lagi, terus seperti itu.

Pernah kukatakan pada sahabatku bahwa mungkin hari ini aku lelah dengan semuanya, tapi suatu saat aku akan melihat ke belakang dan mengerti serta tak akan menyesali upayaku untuk terus mencoba, lagi-dan lagi.

Semoga Tuhan berkenan memberikanku kekuatan untuk mendekat kepada-Nya dan kembali ke rengkuhan serta perlindhungan-Nya.

 

 

Longing for a Loneliness

Dalam detik-detik yang kuhabiskan bergulat dengan pikiran demi pikiran yang menerjang kepalaku, selalu banyak tanya dan reka di sana yang muncul tanpa dimau. Tentang kesulitanku untuk berkompromi dengan pikiran-pikiran dangkal orang lain meski dengan intelijensi yang tinggi, atau tentang mereka-mereka yang tak paham hakikat seni.

Pada akhirnya aku hanya dapat berpuisi, menunggu kelak tiba saatnya untukku benar-benar menyendiri. Berkawan segala sajak-sajak dan melodi di tengah pantai. Di sana aku bisa berdiskusi dengan lawan diskusi yang seimbang bagi pikiranku: pikiranku sendiri. Aku akan mengenakan beragam topi. Topi-nya Camus, topi-nya kaum Jabariyah, atau pun Neo-Atheis. Aku akan tenggelam dalam lautan abstraksi, sebuah ilmu yang menurutku paling tinggi, sebab dia bukan alat. Dia adalah murni imajinasi. Tak terkekang oleh hukum alam maupun keterbatasan alat untuk percobaan.

Aku akan menari persis seperti bagaimana jemariku mengetik tulisan ini tiada henti. Tak ada penghapusan. Tak ada jeda dalam pikiran. Semuanya mengalir bak fluida. Aku bisa tinggi tanpa harus minum yang macam-macam. Memang dari sana adanya pikiranku tercipta. Tercipta sebagai pikiran yang berada di atas rata-rata atas. Tak kenal lelah.

Kadang aku pikir upayaku untuk berdamai dengan alam pikirku telah usai. Ya, mungkin telah usai. Usai sudah kesempatan emas demi emas itu. Usai sudah segala optimisme semu. Namun kelihatannya aku masih belum dapat berdamai dengan manusia. Dengan makhluk lain. Dengan jalan-jalan yang tak pernah aku prediksi lajurnya.

Tapi ku pikir, aku adalah orang paling pesimis di dunia. Aku paling realistis. Kadang ku pikir, ada paham absurdis dalam diriku. Aku tak jarang menganggap semuanya sebagai nirmakna. Tapi, tetap saja aku bermain-main di atasnya.

Sampai hari ini aku tak lelah mencari paralelisme antara semuanya. Antara sains, filsafat, dan agama. Entah sampai kapan otak ini ada lelahnya. Karena pada hakikatnya aku hanya bermain-main dengan pikiran karena itu menyenangkan. Tak ada buku. Tak ada jurnal. Tak ada apa-apa yang berguna yang dihasilkan. Hanya kesenangan saja.

Tapi bukankah memang begitu? Hanya karena kita tidak menemukan makna, bukan tidak mungkin kita bisa menikmatinya.

Aku terkadang berpikir, dunia mungkin lebih enak kalau isinya orang sepertiku semua. Yang menanggapi perasaan dengan profesional. Sebagai riak-riak hidup belaka sebagai makhluk bernama manusia. Aku tak merasa sakit hati. Aku pikir adalah wajar bagi orang lain untuk berkata yang menyakiti. Sebab itu muncul dari kurangnya empati. Memang terkadang aku pun terbawa emosi. Tapi yasudahlah, begitu kan memang sifat manusia?

Jalani dengan profesional saja. Termasuk soal cinta. Adalah biasa jika orang tak membalas pesan kita. Aku pun tak pernah berpikir orang yang ku tanya harus menjawab. Jadi wajar saja kan kalau aku tak berpikir untuk membalas pesan-pesan.

Lagipula aku bukanlah orang yang mencari ketenaran atau pengidolaan. Aku kesal sebenarnya jika diidolakan oleh siapapun itu. Aku hanya menginginkan hubungan yang profesional sesama manusia. Profesi kita manusia. Dan jadilah manusia yang profesional. Tidak perlu bawa-bawa perasaan.

Mencintai pun harus profesional. Cinta saja tak perlu berharap kembali. Sampai detik ini aku tak berekspektasi orang harus mencintaiku. Bagiku jika kelak menikah, pasangan itu hanyalah partner, tak perlu diambil hati. Tinggal dijalani dengan kompromi saja sepanjang visi masih sama.

Sepertinya itu yang banyak kupelajari belakangan ini dari memulai sebuah company. Kompromi-kompromi dan kompromi-kompromi. Pada akhirnya yang membuat kita bertahan adalah tujuan. Dan penting dalam fasa-fasa berat itu untuk tetap bermimpi.

Dulu ku pikir kehebatan sebuah gagasan lah yang dapat mengubah dunia. Rupanya ia sederhana: komitmen dan ketekunan. Itu yang membedakan orang-orang itu dengan orang-orang ‘itu’

Tapi, tetap sih. Kadang aku rindu saja untuk bisa menyendiri. Berpuisi tanpa henti. Menyanyi. Seperti mockingbird. Tanpa ada kompromi. Hanya aku dan diri sendiri.

Hijab dan Kesenangan Sesaat

Setelah sekian lama tidak menulis tentang hal-hal yang berhubungan dengan spiritualitas, malam ini saya tergerak untuk menulis lagi. Menuliskan hal-hal yang selama ini timbul dan tenggelam di pikiran saya dalam bulan-bulan ke belakang.

Kebetulan, saya sedang mengerjakan video tentang self control untuk channel youtube Hutata. Hal yang menarik adalah, adanya kesesuaian antara penelitian ilmiah dengan nilai-nilai Islam kaffah yang saya yakini kebenarannya.

Tentu saja ini termasuk cocoklogi. Saya termasuk orang yang membeda-bedakan antara sains dan agama sesuai dengan konteks. Saya bukan orang yang percaya tentang islamisasi sains untuk sebuah Unified Theory. Untuk hal-hal yang empirik, ya manut sains lah, karena toh agama Islam juga mengajarkan kita untuk riset, untuk melakukan pengamatan a.k.a membuktikan secara empirik. Namun, jelas untuk hal yang ghaib, itu sudah di luar batas empirik. Itu soal keyakinan, bukan kecerdasan dan wawasan saintifik.

Dan, keyakinan, itu soal keberuntungan. Bukan soal daya upaya manusia.

Saya bingung memulai tulisan ini dari mana, mungkin fase awalnya adalah ketika saya tak sengaja diajak sharing ke sebuah pesantren Muhammadiyah. Di situ saya kembali melihat simbol Sang Surya, dan juga foto KH Ahmad Dahlan dan Nyai Ahmad Dahlan. Tentu saja itu adalah nostalgia, apalagi dulu saya beruntung sekali mendapatkan kelas yang dinamai kelas Ahmad Dahlan, kelas percepatan. Dan mungkin, itu adalah titik keberuntungan pertama dalam kehidupan akademik saya.

Di situ, saya mendapatkan banyak pertanyaan seputar belajar. Apa geregetnya belajar? Bagaimana cara mengejar ketertinggalan belajar? Mengapa kita harus belajar matematika?

Tapi, di situ, yang lebih menohok adalah pertanyaan yang berhubungan dengan nilai-nilai agama. Seperti, bagaimana untuk bersikap bodo amat terhadap lingkungan yang tak sesuai dengan nilai-nilai kita? Bahkan seorang ustad pun bertanya kepada saya, bagaimana untuk meyakinkan keponakannya supaya memilih kuliah jangan ngekos di kota tertentu karena takut mudharat pergaulannya? Kepala sekolahnya juga bertanya, seperti apa murid yang ideal.

Tentu saja di situ saya menceritakan hal-hal yang saya anggap benar. Bukan hal-hal yang saya jalani. (Meskipun dengan itu, saya berisiko menambah-nambah dosa: mengatakan hal yang tidak saya lakukan; saya tidak punya pilihan lain bukan? sebab menghalangi orang lain dari suatu ilmu yang bisa kita sampaikan juga merupakan dosa — memang begitu cara Tuhan untuk “membuat kita memilih secara sadar karena tidak punya pilihan” untuk menggerakkan langkah demi langkah menuju kebaikan.)

Pada ujungnya, memang hidup ini lagi-lagi pertempuran nilai. Saya ceritakan saja kisah Nabi Nuh.

Tapi, ngomong-ngomong soal lingkungan sih ya, rupanya menurut penelitian, self-control, atau kemampuan orang untuk memegang teguh nilai-nilainya itu punya batasan. Batasnya adalah lingkungan.

Orang yang lahir dari lingkungan yang baik, punya kemampuan self-control yang lebih baik. Dan jadi ya, besar kemungkinannya, orang yang terlahir dari keluarga miskin, akan berkembang menjadi orang yang tidak memikirkan manfaat jangka panjang. Mereka lebih memikirkan manfaat jangka pendek.

Saya jadi berpikir, mungkin keberanian saya untuk quit PhD juga tak lepas dari bagaimana saya dibesarkan. Dari kecil saya selalu mendapatkan pengakuan tentang kepintaran dan keluasan wawasan. Sehingga, saya merasa mengakhiri PhD saya adalah hal yang oke. Itu tidak membuat saya menjadi orang yang kurang pintar. Saya tidak mencari-cari pengakuan bahwa saya pintar dengan gelar atau apa.

Dan itu, juga rupanya hal yang harus saya syukuri. Karena nggak sedikit yang tujuannya jadi doktor, atau profesor, untuk pride. Dan dengan itu, dia jadi nggak seberapa bertanggung jawab dengan perannya. Dan mungkin, ini yang terjadi di Indonesia. Ketika sebuah professorship dianggap sebagai puncak. Karena apa? Karena di Indonesia langka. Indonesia miskin doktor, sehingga para doktornya lebih mengejar immediate gratification seperti itu. (mungkin analoginya agak nggak pas, dan saya belum bisa menjelaskan runtut saat ini, tapi di pikiran saya gitu deh, ada kaitannya)

Hal yang saya syukuri lagi adalah, kesadaran tentang nilai. Saya sempat berbincang dengan seseorang teman yang masih tinggal di Singapura Di situ barulah saya sadar lagi. Menjadi doktor bukan berarti seseorang punya attitude yang bikin orang nyaman, entah itu soal kepedulian sosial, maupun kebersihan.

Ngomong-ngomong soal kebersihan, saya juga tadinya termasuk orang yang bodo amat soal kebersihan. Kalau lagi di rumah, saya agak stress karena dituntut bersihan. Terus rada gatel kenapa sih, dikit-dikit harus dibersihin?

Tapi, semenjak tinggal di Bogor dan memulai start-up, saya jadi semakin menyadari tentang kebersihan. Kalo nggak bersih itu capek. Dan risih banget ngeliat orang-orang yang gak ngebersihin mejanya.

Karena ujung-ujungnya saya yang lebih banyak tinggal di kantor, dan saya banyak ngepel, dan saya yang lebih sering ngebuang sampah. Di situ saya jadi lebih punya sense of risih tentang ketidakbersihan. Yaaaa, walaupun dengan banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan, ujung-ujungnya saya masih harus bertahan dengan segala kekotoran ini.

Di tengah lingkungan seperti ini, saya nggak boleh menyerah. Jangan sampe saya jadi orang yang nggak peduli juga.

Seorang temen cerita (kami pernah tinggal bersama), bahwa sekarang housemates dia parah. Ignorant parah. Dengan level ketidakbersihan dan ketidakrapian saya saja, apa yang dia alami sekarang lebih parah.

Jadi nih ya, kalau di rumah (bersama keluarga), saya itu udah termasuk orang paling nggak peduli soal kebersihan dan soal segala yang terjadi di rumah. Tapi, segitu-gitunya saya, rupanya bekas housemate saya merasa dalam konteks ini, saya lebih baik daripada teman rumahnya yang sekarang. Setidaknya dulu kita ada jadwal piket mingguan, lalu saya masih sering sikat-sikat kamar mandi. Kalau mau ada tamu, saya beres-beres. Setidaknya saya masih punya malu (ah, soal malu ini pengen saya bahas lagi).

Teman saya ini bilang, karena lingkungannya kayak gitu, lama-lama dia jadi nggak tahan juga. Jadi ikut-ikutan ignorant.

Oh iya, menurut penelitian, salah satu aktivitas yang bisa membuat kita fokus pada manfaat jangka panjang daripada jangka pendek adalah dengan bersyukur. Dengan menulis gratitude journal. Dengan bersyukur juga, rupanya kita jadi lebih sabar.

Kadang saya pikir, ini adalah kebiasaan yang sudah saya tanamkan melalui blogging. Menulis di blog adalah kesempatan saya untuk merefleksikan sesuatu. Dan itu kebiasaan yang selama beberapa bulan terakhir hilang.

Rupanya memang sih, karena itu, saya jadi lebih emosian. Saya merasa saya benci segala hal dan melihat semua dari sudut pandang negatif semata. Segala isi dunia yang keliatan negatifnya aja. Kurang bersyukur, kurang sabar.

Lalu saya melihat lagi diri saya sendiri yang dulu, yang rajin menulis blog. Saya dulu memang tidak pernah ragu melakukan hal-hal yang bertentangan dengan pendapat umum, hal-hal yang aneh, karena saya paham manfaat jangka panjangnya.

Jujur saja, semenjak berhenti menulis blog, saya kehilangan militansi untuk mempertahankan nilai-nilai jangka panjang itu tadi. Padahal itu adalah investasi terbesar yang bisa dilakukan oleh seorang manusia.

Oh iya, terkadang saya merasa bersyukur, tapi terkadang merasa jemu dengan apa yang diberikan Tuhan pada hidup saya. Karea itu adalah cobaan sekaligus anugerah. Diberikan contoh kehidupan dengan standar yang tinggi.

Kadang saya lelah sekali. Lelah sekali mencoba berjuang di jalan menuju Tuhan yang seperti ini. Lelah dengan hidup. Lelah dengan standar itu.

Dalam beberapa bulan ke belakang (dasar memang bisikan setan) nggak sedikit saya berpikir bahwa saya mau berhenti saja mencoba jadi orang baik. Mau jadi orang yang b aja. Menurunkan standar. Mau jadi kayak orang kebanyakan aja yang hidupnya simpel.

Saya pernah setengah bersumpah di suatu hari. Hari itu panas. Amal dan perbuatan saya memang rendah. Niat saya juga tidak penuh. Dan ketika berjalan kaki itu, saya memupuk niat: setelah ini saya akan berhenti menapaki jalan ini. Saya ingin jadi orang duniawi, seduniawi-duniawinya saja lah.

Tapi, justru di situ tepat ketika saya datang, saya mendapatkan lagi pelajaran: buah dan tanaman saja senantiasa berdoa supaya bisa dipersembahkan kepada Allah dan kekasihnya. Di situ teringat lagi saya pada sebuah khutbah jumat ketika menjalani suluk di Makassar: bahwa seekor anjing saja merasa malu berjalan di samping Junaedi Al Baghdadi, tapi bagi Junaedi Al-Baghdadi, itu adalah pertanda bahwa untuk berjalan dengan anjing saja dia tak pantas, apalagi dengan Allah.

Dan di situ cerita berikutnya masih sejalan juga perihal perziarahan. Intinya sih sudah sekelas wali saja, masih harus dibawa oleh gurunya, untuk dapat menghadap ke gurunya gurunya. Lalu di mana tempat kita sebagai orang awam penuh dosa ini? Mau gaya-gayaan? Apa yang kita cari.

Maka di situ saya jadi paham tentang perkataan bahwa meniti jalan ini itu berat sekali. Sungguh tidak mudah. Karena kalau mudah, nggak adalah ayat yang mengatakan qalillan ma tasykuruun. Ya karena memang seperti itu hukum-Nya.

Jadinya memang yang paling penting adalah tidak menyerah untuk mencoba jadi orang baik. Walaupun terasa berat sekali. Saya selalu teringat kutipan yang menyebutkan bahwa kita tidak boleh berputus asa. Kalau lagi berbuat dosa, bisa aja itu adalah dosa terakhir yang kita lakukan. Dan, kita nggak tau itu.

Sebab, yang namanya penghindaran dari dosa memang hanya terjadi kalau rahmat Tuhan turun. Tidak ada manusia yang segitu hebatnya ga berbuat dosa, tanpa campur tangan Tuhan.

Demikian pula soal hidayah, amar maruf nahi munkar dan lain-lain. Itu bukan karena jagonya orang berdakwah. Tapi, karena memang seorang dai itu sekedar jadi “tangan” dari Tuhan. Saya baru baca-baca lagi ikhtisar Ihya’, di sana disebutkan bahwa kita memang bisa dapet anugerah kalau kita jadi jalan seseorang menemukan hidayah kalau kita melakukan apa yang kita sampaikan.

Saya beberapa bulan ke belakang sempat berpikir (ketika terasa lelah berjalan), saya ingin bilang ke teman saya, “Cuy, lo pokoknya ambil jalan ini, gw yakin 100% jalan ini benar. Biar kata gw udah nggak bersurau lagi, pokoknya lo harus ke surau”

Tapi, lucu juga sih kalo saya bener-bener seperti itu. Saya pikir kalau itu terjadi saya akan dapet pahalanya, tapi kalo berdasar ikhtisar ihya’ tadi, gak sesimpel itu juga ya. Kedua, ya gimana lah itu bakal terjadi? Mau meyakinkan orang tapi kita sendiri tidak menjalaninya?

Ini mengingatkan saya pada nasihat orang tua saya. Kalau ditanya soal keyakinan, orang akan lebih dari 100%, tapi soal ketaatan … Saya juga sering diingatkan, kalau lagi ada kesempatan berbuat baik, lakukan. Siapa tau itu yan bisa jadi penolong buat kita. Selagi ada kelapangan, selagi ada niat berbuat baik, kita lakukan. Kita nggak tahu umur kita kapan selesainya. Kita nggak tau juga amal kita mana yang jadi penolong.

Saya merasa bahwa sekeras apapun kita berusaha lari dari Tuhan, petunjuk Tuhan itu selalu saja menemukan jalan menuju kita, meski terkadang kita masih terhijab darinya. Niat hati mau ngapain, iseng-iseng, tiba-tiba ngobrol sama orang asing, nggak taunya nyambung, ujung-ujungnya ngobrolin Tuhan.

Ada saja celah untuk itu. Tapi, yang saya heran, kenapa sepertinya hidayah itu efisiensinya rendah. Mungkin karena terhijab. Konon katanya yang bikin kita nggak bisa berinteraksi dengan al-Quran itu ya karena hijab dari maksiat-maksiat. Selain itu hijab itu macem-macem, termasuk hijab pula orang yang menunggu syariatnya perfect dulu. Sibuk dengan hal sepele soal kesempurnaan wudhu tapi jadinya malah nggak solat misalnya.

Memang setan itu pinter banget sih cari celah.

Saya termasuk orang yang super cuek. Dan kadang mindset saya adalah, untuk apa saya mikirin apa kata orang. Makanya kadang saya juga gak terlalu peduli hal-hal sesimpel ramah tamah, atau bales-balesin whatsapp atau pesan dari orang.

Kadang ada celetukan dari temen:

“Lo sholat lah ke mesjid. Si X lagi menilai lo tauk”

Reaksi pertama saya adalah: buset, ngapain gw ke mesjid demi penilaian orang, picik banget pikiran lo. Gw gak akan ke mesjid cuman demi penilaian orang doang

Tapi, semakin direnung-renungkan, ada yang salah dengan pola pikir saya. Dan itu senada dengan apa yang saya peroleh dari whatsapp kiriman ortu saya (potongannya saja):

Pikiran dan Hati ku hanya Terfokus pada…,
Siapa yang Menggerakkan Lidah mereka Sehingga Mencaci-maki aku,
Siapa yang Menggerakkan Jiwa nya Sehingga Memusuhi aku,
Siapa yang Menggerakkan Hati nya Sehingga Membenci aku dan
Siapa yang Menggerakkan Pikiran nya Sehingga membuat Mulut nya Menghujat aku…”

Petruk : “Dia itu Siapa, Mo..?”

Semar : “DIA-lah GUSTI ALLAH YANG MAHA PENCIPTA.
DIA-lah SEBAGAI MAHA YANG BERKUASA Atas Segala Sesuatu Yang Sudah, Yang Belum, Yang Sedang dan Yang Akan Terjadi.

Ya Hanya DIA-lah Satu²nya yang memberi Kemampuan dan Kekuatan pada Orang² itu Sehingga…
Lidahnya bisa Mencaci-maki,
Jiwanya bisa Memusuhi,
Pikirannya bisa Membenci dan…
Bibirnya bisa Menghujat Diri ini.
Tanpa-NYA Tentu Mustahil bisa Terjadi.

Sehingga aku Beranggapan, Sebenarnya Cacian, Kebencian, Permusuhan​ dan Hujatan itu Sengaja Dihadirkan GUSTI ALLAH Agar…
Jiwaku Menjadi KUAT Melewati RINTANGAN Dan…
Hati ku Menjadi HEBAT Tatkala Menghadapi UJIAN.

Jadi, adalah SALAH BESAR jika aku Menyalahkan Orang² itu Apalagi Membalasnya. Oh… Bagiku itu tidak perlu, bahkan aku Berkeyakinan bahwa Segala Sesuatu yang Terjadi pada Kehidupan ini Tidak Mungkin Terjadi Secara Tiba², Semua Sudah Diatur Sedemikian Rupa olehNYA,

Maka Apapun Kenyataan yang aku Terima kemarin, Hari ini atau Suatu Hari nanti, Tidak ada Kata Sia², bahkan Dibalik Semua itu, pasti ada Hikmah Terbaik yang bisa merubah Kehidupanku agar menjadi Lebih Baik dari Sebelumnya.
Karena aku tahu, Sesungguhnya GUSTI ALLAH itu MAHA BAIK.

Jadi kesimpulannya, kenapa sih kita melihat bahwa itu adalah perkataan makhluk? Kenapa kita tidak melihatnya sebagai pesan/tanda dari Tuhan. Dan bukankah ke manapun wajah kita menghadap, di situ wajah Tuhan?

Selalu ada sisi positif yang bisa disyukuri. Dan untuk beberapa bulan ke belakang, saya lebih memandang hidup dari sudut pandang yang gelap. Hati saya isinya kebencian dan kemarahan saja terhadap orang-orang dan segala kejadian.

Padahal ada cara lain, yang lebih simpel yang lebih enak.

Dan, kalau teringat tausiyah guru saya, sebenarnya menjadi baik itu lebih simpel dan lebih enak. Nggak susah. Nggak ribet. Emang bener sih, kadang kita membuat hidup kita jadi runyam, padahal ada sudut pandang yang lebih positif dalam melihat kejadian.

Dan hal ini secara teori simpel banget, tapi aplikasinya susah sekali. Butuh keluasan hati dan kerendahan hati, untuk bisa begitu.

Untuk memandang bahwa setiap orang adalah pembawa pesan bagi kita dari Tuhan. Bahwa setiap kejadian adalah hidayah yang masih menyapa kita sebelum hayat ini pergi.

Dan, yang lebih menyedihkan dari semua ini adalah ketika kita tahu bahwa hidayah itu ada dan seolah ada jarak, ada hijab antara hidayah itu dengan diri kita sehingga belum dapat menyambutnya.

Tapi sebenernya memang di situ inti dari mujahadah. Inti dari perjuangan hidup yang sejati yang sebenar-benarnya. Perjuangan nilai. Bagaimana kita tetap bertahan di jalan yang benar meski kita menyadari ada yang salah dari diri kita. Bukan berarti kita harus berhenti. Saya pernah juga dinasihati: masa kalah sama setan?

Ngomong-ngomong soal lingkungan, sekarang ini lingkungan kita nggak cuman manusia sih isinya. Kita sering lupa bahwa internet, segala berita yang ada di sana juga merupakan “teman” atau sahabat kita. Bangun tidur aja yang dicari koneksi internet.

Dan entah ya, Tuhan memang punya cara misterius. Di tengah kegalauan saya meniti jalan ini, saya sempat berpikir lagi, kayaknya butuh nih ngobrol-ngobrol lagi sama temen saya.

Udah beberapa minggu ini, kemalasan mengalahkan tekad saya untuk pergi menyepi dan bertafakkur. Termasuk juga karena nggak janjian sama temen. Dan kadang, udah ada panggilan kedua yang tak terduga dari Tuhan pun kita lewatkan begitu saja.

Dan ini mungkin panggilan ketiga. Atau mungkin keseribu? Karena 997 panggilannya bahkan tidak saya sadari/hitung? Tiba-tiba saja sahabat saya menghubungi dan bertanya apakah weekend ini saya akan di Bogor saja atau bagaimana. Memang betul, ketika kita punya sahabat yang bisa membuat kita lebih mendekat dengan Tuhan, kita harus pegang erat-erat.

Karena ya itu tadi, berdasarkan penelitian terbaru, kita jadi tahu, bahwa efek pengendalian diri itu ga ada artinya dibanding lingkungan. Makanya lagi-lagi Tuhan bilang, besertalah bersama shadiqin, karena ya mereka yang mampu menyelamatkan kita dari lemahnya diri ini dan pandainya setan.

Step back. Step back. To be able to think forward for the long game. Itu adalah salah satu dinamika dalam ber-startup ria. Saking banyaknya kerjaan, kadang lupa untuk berpikir strategic.

Nggak heran, dibilangnya bertafakur. sejenak bisa lebih guna dari ibadah seribu tahun lamanya ya.

Hufft, akhirnya menginjak sekitar 2500 kata juga. Lumayan sih sejam nulis ini. Karena memang perlu sih biar nggak berdebu dan biar kotoran hati nggak terus-terusan mengepul.

*sebenarnya kadang saya ngerasa gak pantes nulis tema seperti ini dengan kondisi sekarang ini. tapi ya, siapa tau ini yang justru jadi penolong saya kan?

tempo hari sempet ngobrol juga sih tentang kenapa saya lama nggak nulis. dan di fase sekarang-sekarang ini, kalau lihat tulisan saya yang dulu-dulu juga saya beneran nggak ngerti sih kenapa bisa nulis kayak gitu. ya, mudah-mudahan lah ya..

We Often Forget What Brought Us Here. And Now.

Consistency is hard. It requires focus and commitment. Because we know exactly, apart from the context that in life we might need to pivot, failure to commit equals failure to start.

Before we even realize, a small misadjustment which we initially tolerated has taken its toll. As we walk further, the degree of error is increasing rapidly. When we pause to have a look at how far we are from our goal, we ask to our very self:

What’s the use of all these if we do not [insert something that should have been The Priority but was forgotten] ?

It is tough to think strategically, let alone to execute. I once read an study (but I am just too lazy to google and put the link here) about the tendency of Strategic Kids evolving into Strategic Adults. Strategic thinking is a skill that we need to nurture. And I found that it does not have anything to do with how high your IQ are or how highly educated you are.

Why strategic thinking is hard? Because human tendency is to gain immediate gratification. Will alone is never enough to bypass this wicked nature of human. We need a system. A system to execute and a system to calibrate.

A system to execute means planning. A system to calibrate means reflection. We need to calibrate our direction from time to time, to make sure we make a good investment of our limited resources. And one does not simply realize the cost when the calibration system is broken. The very system that could usher us into progress, the most fundamental part of a Control System.

I am feeling it right now. My system of execution is broken. Mine for calibration is too. I rarely write nowadays. I rarely pour my thought. I rarely crystallize what has been going on with my life, what should I do, what should be the priority.

Now that I am broken, I get back to my resort to gain back my control in life. Blogging.

I once thought that, perhaps, in this chapter of my life, I should do more. Do more and more. More and more and more and more. And no other way.

But I forgot one thing. This skill. This habit is what has been generating most precious value in me. What distinguishes me from other people. My uniquity.

I just barely talked about the Control System of Life. I am yet to discuss the content of my life itself.

But I guess, I would write it down in my book. Sometimes, traditional way to do things are better.

Kembali ke Kartu Skor Batin

Apakah kita lebih memilih untuk menjadi kekasih paling hebat di dunia meski orang-orang berpikir bahwa kita kekasih terburuk? Atau kita lebih memilih untuk menjadi kekasih terburuk tetapi di mata orang lain kita adalah kekasih terbaik?

Ketika memberikan kuliah tentang kesuksesan bisnis, Warren Buffett—seorang ikon sukses dunia—justru memberikan nasihat yang tidak berkaitan dengan bisnis. Ia justru menganjurkan anak-anak muda untuk berupaya menjadi orang baik sebab menjadi orang baik dapat membawa seseorang pada kesuksesan bisnis. Kesuksesan bisnis hanya dapat dicapai jika kita dapat menjalani kehidupan dengan baik, memiliki pola hidup yang sehat baik dalam aspek fisik dan psikologis.

Continue reading “Kembali ke Kartu Skor Batin”

Sebuah Kehidupan yang Mengarah Ke Ketiadaan

Banyak manusia menginginkan kebebasan. Tapi, ke mana kebebasan itu mengantar manusia?

Malam itu seseorang bertanya kepadaku, apakah aku tidak ingin bertanya tentang perubahan-perubahan yang ada dalam dirinya, tentang keputusan-keputusan yang dia ambil. Falsafah Jawa mengenal istilah, “Ojo Gumunan, Ojo Kagetan, Ojo Dumeh“.

Aku katakan padanya, “Jika kau ingin bercerita, bercerita saja. Aku tidak sebegitu ingin tahu karena aku menghargai kehidupanmu dan kemampuanmu untuk mengambil pilihan-pilihan”

Dan aku tak pernah heran. Segala yang ada di dunia ini dapat terbaca. Apa yang tampak mata, biasanya dapat kita hubungkan titik-titik penyusunnya. Apa yang terjadi di masa lalu dan segala akumulasinya mengantarkan kita ke masa kini. Tapi, kalau untuk membaca masa depan, itu soal lain dan manusia lebih banyak salahnya.

(Tapi, yang selalu aku heran dan kagumi adalah betapa dunia ini begitu berpola. Betapa satu hal dapat menjadi penyebab bagi lainnya. Membentuk kepastian-kepastian dalam keacakan kejadian)

Selain itu, aku belajar untuk tidak terlalu ingin tahu tentang urusan lain. Entah sejak kapan. Mungkin itu juga terjadi seiring dengan aku yang lebih fokus pada kehidupanku sendiri. Aku ingin memiliki sebuah pemikiran dan pertimbangan yang bebas dari orang-orang kebanyakan. Aku ingin memilih sumber nilaiku sendiri.

Aku selalu kagum dengan orang-orang yang punya pemikirannya sendiri. Mereka yang berani mengambil tindakan karena punya alasan-alasan dan prinsip. Aku selalu menghargai mereka lebih daripada orang-orang yang hanya mengikuti arus belaka.

Tapi, sampai di suatu titik, aku berhenti mengagumi orang-orang ini. Itu adalah titik ketika mereka telah terhanyut dalam pemikirannya sendiri, egonya sendiri, tanpa sadar ke mana pemikiran mereka bermuara.

Meskipun aku berhenti mengagumi kemerdekaan berpikir mereka, bukan berarti aku merasa lebih hebat dari mereka. Aku hanya merasa lebih beruntung.

Dari keberuntungan itu, masih tersisa sedikit pilu. Kepiluan karena belum dapat menjadi apa yang seharusnya. Tapi, setidaknya aku tahu harus ke mana dan mencari ke mana.

Banyak orang berpikir untuk mengambil keputusan sebatas karena penasaran, karena berpikir bahwa hidup hanya sekali dan tak boleh disia-siakan. Andai saja kita mau berpikir lebih jauh lagi,  sebelum memutuskan sesuatu tentu kita akan pikirkan konsekuensi apa saja yang ia bawa di kemudian hari, atau di akhirat nanti.

Dan dengan itu, kita seharusnya rela menjadi pribadi yang lebih baik, meskipun itu berarti melepaskan hal-hal berharga yang selama ini kita pertahankan hidup-hidupan.

Dan, sebuah visi hidup yang melampaui dunia dan akhirat dalam bingkai integritas adalah suatu hal yang langka di zaman ini. Termasuk pada hal-hal yang luarannya dibungkus-bungkus agama.

Rasanya perjalanan menuju pribadi yang ber-integritas itu tak mudah. Tapi, bukankah hidup yang bermakna ini memang perlu diperjuangkan? Ketimbang ia mengarah begitu saja pada kesia-siaan tanpa kita menyadarinya karena kita pikir hidup ini indah-indah dan gampang-gampang saja.

Jika Kebahagiaan adalah Rumah, Sang Perantau Ingin Segera Pulang

Di jaman serba dan senantiasa terhubung ini, manusia perlu sejenak mengasingkan diri. Manusia perlu memutus segala sambungan yang dimilikinya dengan dunia luar. Supaya ia dapat kembali mengenali dirinya sendiri, sosok yang lama tak berbincang dengannya.

Sosok itu kini sudah berubah menjadi sosok yang asing. Apa yang ia inginkan? Manusia tak tahu. Apa ia berpuas dengan kehidupan yang dia jalani? Manusia tak tahu. Adakah ia merasakan kehangatan cinta dari semesta? Manusia tak tahu.

Malam pun berganti. Pertanyaan yang tak terjawab tentang dirinya sendiri telah membuat manusia tidak tahan dengan kesendirian. Ia lebih paham tata cara bergaul dengan teman-temannya, maka ia lebih memilih untuk berpesta. Manusia lebih nyaman bersama hal-hal yang tampak mata memberikan kenikmatan, meski semu. Maka ia berupaya menjadi seperti apa yang orang lain inginkan tanpa pernah tahu apakah itu yang dia inginkan. Ia menyiksa diri sebab berpikir inilah yang seharusnya dilakukan.

Ketika malam berganti, manusia pun kembali tersadar. Ia tak bisa terus begini.  Manusia perlu menilik kembali makna keberadaan dirinya dan segala hal yang dilakukannya. Semua itu demi memuaskan siapa? Tak ada yang tahu pasti.

Kalau tidak begitu, manusia hanya akan berubah menjadi mesin-mesin yang berpacu dengan perkembangan teknologi dan ekonomi global. Mesin-mesin itu selalu bergerak dengan efektif dan efisien, tak ada sedikit pun waktu dan tenaga yang boleh dibelanjakan untuk hal-hal abstrak yang tidak dapat terkuantifikasi. Apalagi jika hal-hal itu bukan bagian dari rumus pasti untuk menghasilkan angka-angka sakti. Angka-angka yang sudah menjadi ukuran kualitas kehidupan.

Setelah siang ia habiskan dengan peluh, malam kembali datang meski sejenak. Dalam masa-masa rehatnya itu, terlintas pertanyaan jujur dari nurani manusia: benarkah alat ukur ini ekuivalen dengan nilai kehidupan itu sendiri? atau jangan-jangan ukuran tersebut telah menyimpang jauh dari kenyataan hidup yang sejati?

Segala ukuran-ukuran tentang kehidupan yang dibuat manusia nampaknya telah gagal berfungsi. Angka-angka yang diraih oleh manusia tidak dapat dikonversi menjadi kebahagiaan. Ia mengaku bekerja keras demi keluarga. Namun, saking kerasnya ia bekerja tak lagi ia kenali siapa keluarganya. Ia bekerja demi mimpi yang diagungkan orang-orang. Ketika telah meraih semuanya, ia justru merasa hampa. Justru ia merasa telah kehilangan semuanya.

Pada belahan bumi lain, ada manusia-manusia yang berpikir bahwa dirinya begitu perkasa. Dunia akan ditaklukkannya. Tak akan ada yang dapat menggantikannya. Kemuliaan adalah miliknya. Lantas ketika daya tak lagi berpihak kepadanya. Kuasa atas nasibnya sendiri pun ia tak punya. Semua orang meninggalkannya. Raja-raja terusir dari kerajaannya. Manajer yang dipecat digantikan oleh bekas bawahannya. Selebritis yang dipuja pun ditinggalkan penggemarnya. Bahkan mungkin tak lama lagi, segala keindahan dunia akan pergi darinya.

Atas segala jerih payah perjuangannya dalam menaklukkan dunia, manusia telah membayar harga yang paling mahal. Ia rupanya telah menggadaikan kebahagiaannya. Padahal, kebahagiaan mulanya adalah rumah manusia, tempat ia lahir dan bertumbuh kembang. Rumah yang paling berharga dan akan selalu dirindukan.

Manusia-manusia yang mengaku dewasa selalu saja mengingat masa kanak-kanaknya di kala ia sedang diterpa gelombang kehidupan. Saat mereka teringat betapa kehidupannya terbelenggu oleh pekerjaan. Saat mereka kehilangan dirinya sendiri, dan merasa hampa di tengah keramaian dan hiruk-pikuk metropolitan. Saat mereka ingin dicintai, namun menelan pahitnya kekecewaan atas pengharapan kepada manusia lain. Saat ia melihat seorang bayi yang tertawa meski baru saja terjatuh dari upayanya untuk belajar berdiri. Lantas, terlintas pada benak mereka: alangkah indahnya kehidupan anak-anak kecil itu.

Tak butuh waktu lama untuk menyadari bahwa ada yang dirindukan oleh manusia. Di perut gunung jiwanya, terpendam lava rindu yang menunggu waktu untuk dimuntahkan. Suatu kerinduan yang besar akan kebahagiaan yang sejati. Dan ia selama ini terkekang oleh kerangkeng persepsi yang dicipta-ciptakan oleh manusia sendiri.

Sejenak ia memerlukan keterpisahan. Keterpisahan dari segala ikatan dengan dunia. Dan hanya ada satu yang ia butuhkan. Hanya butuh kejujuran hati untuk mengakui bahwa kebahagiaan adalah rumah tempat mereka ingin kembali. Kebahagiaan untuk dapat bercengkrama dengan diri sendiri. Sebab, telah lama mereka berkelana. Bertahun-tahun mereka berpikir bahwa dengan berkelana mereka akan lebih bahagia. Kini, saat jarum jam menunjuk pada nurani, manusia tahu bahwa yang ia inginkan adalah pulang kepada kebahagiaan.

Dia lelah berkelana, dia ingin pulang ke kebahagiaan.

Aku lelah berkelana, aku ingin pulang. Dan, jika aku harus bekerja, aku akan melakukannya dari rumahku. Aku ingin bekerja dengan bahagia.

*ditulis pada bulan Juli tahun 2015

Creating Values.

Maybe it’s just a long overdue side-notes. Or maybe it isn’t. On this blog, I haven’t written a complete story on how I resigned from PhD programme after 4,5 years surviving all the ups and downs. But I guess, it’s too long to write for now. Now, I just want to redefine work. But work is the thing we mostly do when we do not sleep. So, by defining work, we can then define what does it mean to be alive.

I was frustrated. Even though I quit PhD on my own term; even though I felt so relieved to have pulled the plug, it’s not easy to live a life as a terminal ABD (All-But-Dissertation).  No matter how we can direct our consciousness to arrange a positive narrative about what happened to our life, thinking is a chaotic process where negative thought arises from a pipe (which lies somewhere on imaginary mental system) every now and then.

When that kind of thought arose, I started to feel the so called FOMO. I started to imagine what my friends have achieved while I was busy doing a PhD I couldn’t finish.

Don’t get me wrong. I don’t have any regret to quit my PhD. And I believe I did not waste my resources. The learning curve is there. The realisation of the true meaning of many things. All the experiences was worth it.

Don’t get me wrong. I believe a job is not a career. And value is what matters. Luckily, many people see my values. Many people still trust me.

But of course, that’s never enough. Obviously, human and dissatisfaction can never be fully decoupled. I once thought the only thing we need to learn is self-respect. The virtue of self-respect could save us from feeling useless like a piece of plastic bag. Inner authority is the only thing which can break us free from the prison of other people’s expectation. But then, inner authority is just a pole. On the opposite pole, we need feedback to validate our view towards our self. Otherwise, we would live as a megalomaniac who’s disillusioned about oneself’s greatness.

And, in seeking that validation, our closest people’s alone don’t suffice. It’s no use to hide from the fact that we human, no matter how deep we could grasp the abstraction of a higher meaning of everything—a world outside the Plato’s cave, would still be longing for a this validation from time to time. It’s just humane. We can’t fight it. Fighting it means trying to not be human. And we don’t want to be anything but a sentient creature. It just happens. Or it just ensues?

But life is a box of surprises. 

On that particular day, I attended a meeting where I thought I was about to negotiate something. The night before, I consulted with Dannis on this matter after he received an award from A CEO I never knew before was interested to meet the men behind our YouTube channel. And it’s such a coincidence I was in Jakarta.

I brought nothing. No CV. The guy didn’t know me before. I had to introduce him about myself. He asked me questions. I answered what crossed my mind. No script. No nothing.

And after approximately 30 minutes, out of the blue he asked me to join his machine learning team. It was a crazy offer, right? How come people asked you to join his company based on words? Without any credentials.

It’s absurd. It caught me off guard. Even my Dannis, a CMO of Traveloka was also surprised when I told what happened after the meeting was over. Even a friend who worked as a PM there also surprised.

And, in that moment, I realised there’s nothing I missed out. If only I wanted to take the opportunity, I could as well receive monthly salary not far from friends who’s been nurturing their career in IT world.

Despite of me quitting PhD and having no legit work experience (Can you count a 2,5 months of apprenticeship and just a few tens hours of teaching assistantship as a proper working experience?), there’s a real people, a CEO of a reputable company (even Dannis, who rarely compliment people, said he’s “Jago”) offered me a job!

But, maybe, that doesn’t give a whole perspective to this crazy job offer story.

On my way home, I kept analysing how did it happen exactly? There must be an explanation, even for a crazy random occurrence.

Surely, the guy see values in me, in us.

One thing for sure, our channel was gaining his attention. Our works project our values.

That’s the first one. Secondly, he gained some sort of trust hearing my stories. Mind you, we discussed random stuffs from youtube channel to machine learning stuffs, from normative things up to my personal experience.

I guess, storytelling is an underrated skills that could lend you a job without sending a CV. A great storytelling could make a CEO wants to hire a guy he barely know about for 30 minutes.

Your value is only as good as your storytelling.

But you can’t just make up good stories. Well, maybe you can make up good stories. Make people clicked the bait. But then, it won’t last forever.

If there’s one thing I believe can get us out from an improbable situation: it’s honesty. Honesty is the last wall protecting our decency as a human being. To be honest about our mistakes and flaws.

I literally told him I do not have any particular skills for the job he’s offering. I simply do not own the skillets. I told him my research was not going pretty well, and that’s why I quit. And after it’s been said he asked that question where I was not sure how to react. And the second time he asked again, he asked me to consider and I agreed.

Absurd isn’t it?

But maybe, there’s something. Something with my stories that added up. Making a compelling story to gain his trust.

I did tell him I was once worked on NLP related stuffs. I did tell him my supervisor still believed that I’d become a PhD one day.

Maybe. That added up.

Oh, one more thing. There’s a question. A question that had never been asked so blatantly to me, as far as I could recall. “Are you a child prodigy?”

I’m not sure, I answered.

And once again, I was reminded, the most important thing in life is to create value. In fact, creating value is what a business does! But then, the world develops and now many people have a job even thought they don’t create an actual value. Some create value but so far below what they potentially could achieve. Some create value for the company but not for himself.

Some has lost the meaning of work itself.

Is surviving life so impossibly tough that it has to cost a man a meaning to his work?

There’s no easy answer to it. And the hard truth won’t be easy to comprehend. Not for those who’s not humble enough to realise his/her powerlessness.

And then I continued this journey, believing that now is the right time to jump in. To fulfil what’s been put aside for a long time. To make a bet. To start creating values I want to create.

It’s so silly sometimes life dictates us to live a life doesn’t suit our ideal concept of it. But that’s life. It’s what it’s.

No matter where you are. No matter how old or young you are. No matter what kind of job you have or (not) have; even when you’re jobless. It doesn’t matter whether you gain money or not. It doesn’t matter what others have achieved. All you have to do is to build up your craftsmanship. Bring up some good work! Never stops to create values!

And good things will happen…